Ilustrasi : Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Apakah ada yang masih ingat dengan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sepuluh tahun lalu? Peristiwa yang dimaksud adalah kejadian yang membawa pengaruh besar untuk kehidupanmu sekarang. Sambil mengingatnya kembali, lima individu berikut ini menceritakan jejak perjalanan hidupnya masing-masing dalam kurun waktu tersebut.


Aswan Pratama

Tahun 2006, saya masih seorang anak SMP. Saat itu, membaca sekaligus mengoleksi komik/manga punya prestise sendiri, rasanya bangga mengoleksi apalagi punya edisi pertama. Kalau koleksi edisinya tidak lengkap dan uang jajan lagi kurang, saya menyewa di tempat penyewaan komik dekat sekolah, sambil menabung untuk beli. Saat itu yang sedang populer adalah manga Naruto, harga pastinya saya lupa mungkin sekitar 12-18 ribuan, saya punya sekitar 40-an edisinya. Sebuah prioritas.

Sepuluh tahun kemudian, semuanya berubah, kesenangannya berkurang, kemudahan membaca dari berbagai situs web khusus manga yang lebih update membuat berpikir untuk membeli komik fisik, di samping itu harga komik sekarang sudah hampir menyentuh 30 ribu untuk satu edisi juga jadi alasannya, di tahun 2006 dulu bisa dapat dua sampai tiga dengan harga itu. Entah karena alasan menuju kedewasaan, jiaah! akhirnya saya memilih pensiun dari dunia mengoleksi komik. Saya sebenarnya menyayangi komik-komik yang saya punya. Daripada berdebu dan rusak saya berikan ke seorang sahabat. Dia mau membayar semuanya,tapi saya menolak. Saya memberikannya gratis, asalkan dia bersedia menjaganya dan mengaturnya dengan rapi. Itu sudah menjadi bayaran yang cukup.

Achmad Nirwan

Jika bisa berandai-andai ikut dalam petualangan mobil penjelajah waktu DeLorean, saya ingin kembali ke tahun 2006.  Tahun di mana saya bisa bertemu teman-teman baru saat menginjak kelas 2 SMA. Salah satu momen terbaik bersama mereka yang paling saya ingat adalah tugas membuat film indie pada semester pertama. Film yang memiliki ide cerita yang cukup surealis ini diupayakan minim atau tidak menggunakan biaya sama sekali saat pengambilan gambar. Pokoknya, film ini dikerjakan sesuai dengan referensi apa adanya.

Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu beristirahat, harus diisi dengan pengambilan gambar di beberapa tempat. Hal ini disebabkan harus berkompromi dengan waktu-waktu belajar di sekolah. Saya yang diamanatkan untuk merangkap tugas yaitu merekam gambar dan mengeditnya setelah produksi, hampir saja patah semangat karena harus menyisihkan waktu memejamkan mata lebih sedikit. Hal ini disebabkan spesifikasi CPU komputer waktu itu tidak memadai untuk mengedit film yang membutuhkan waktu lama untuk proses render filmnya. Ditambah lagi harus berhadapan dengan tenggat waktu menyetor tugas film yang mepet.

Akhirnya film selesai juga walau lagi-lagi hasilnya jauh dari kenyataan yang dicapai. Tetapi mau bagaimana lagi, kami bukan pembuat film profesional, betul-betul amatiran. Maklum saja, kami tidak punya biaya untuk menyewa seorang atau tim profesional untuk mengerjakan tugas film kami. Mungkin kami belum mengenal para sineas Makassar yang bisa membantu kami mengerjakan film yang semestinya. Seperti yang dilakukan para sineas kota Daeng sekarang ini yang menjadi mentor untuk para pelajar SMA dalam membuat tugas filmnya layak ditonton. Namun di balik itu, ada keharuan yang biru juga ketika tugas film ini rampung. Senang karena film ini bisa dikerjakan secara kolektif bersama teman-teman sekelas waktu itu.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, momen tersebut selalu menjadi bahan cerita reuni yang jauh dari kata kadaluarsa, di sela-sela terjerat oleh sempitnya ruang dan waktu serta sang sutradara film kami telah tiada (semoga beliau tenang di sisi-Nya).  Di saat sekarang pun, saya menyadari manfaat yang banyak sekali didapatkan dari proses kreatif untuk tugas film SMA itu. Hasil dari proses tersebut bisa menular dalam berbagai hal dalam diri saya. Termasuk etos kerja dan disiplin yang berusaha saya tingkatkan setiap saat bekerja sebagai buruh tulis, serta persahabatan yang penuh kekeluargaan dengan teman-teman sekelas hingga kini.

Hafsani H. Latief

Satu-satunya kejadian yang masih saya ingat jelas pada 2006 lalu adalah ketika menjadi peserta Siswa Sebagai Peneliti. Program Youth Camp yang dilaksanakan Rumah Kamu. Banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya setelahnya. Baik dan buruk. Di program tersebut saya berkenalan dengan orang-orang keren, kakak fasilitator seperti Nurhady Sirimorok, Armin Hari, Fitriani A. Dalay, Windah Cutamora, dan mereka yang tinggal dan nongkrong di Biblioholic pada masa itu. Saya juga bertemu dan berteman dengan peserta lain. Uun Adrian,  meskipun drop out dari Unhas jangan coba remehkan isi kepalanya. Kamu akan kewalahan jika berdiskusi dengannya. Andi Olha yang beberapa puisinya telah diterbitkan. Ada juga dokter cantik bernama Elisa Eka. Dan yang paling akrab dengan pembaca Revius adalah abang Afif ‘Ucok’ Alhariri yang tulisannya sangat dirindukan.

Youth Camp adalah program pendidikan alternatif yang mengajak siswa SMA terjun langsung di masyarakat yang cukup berbeda dengan lingkungan keseharian mereka. Tinggal sementara di desa dan mengikuti aktivitas orang tua angkat serta diajarkan untuk kritis dan peka pada apa yang terjadi di sekitar. Setiap hari peserta wajib menulis jurnal sebanyak dua lembar. Dan akan bertambah jika ada peraturan yang dilanggar.

Sayangnya program tersebut hanya dilaksanakan hingga 2008. Tapi beberapa orang di balik Youth Camp, lewat SRP Payo-Payo, kembali melaksanakan sebuah program yang disebut Pelatihan Penelitian Desa yang berlangsung beberapa bulan lalu. Jika Youth Camp pesertanya adalah pelajar, program terakhir ini mengajak mahasiswa dan alumni. Pelaksanaannya pun jauh lebih baik dari Youth Camp. Proses dari workshop dan penelitian di desa berlangsung selama tiga bulan. Berbeda dengan Youth Camp yang keseluruhan programnya berlangsung selama sepuluh hari.

Saat ini sedang berjalan kelas dan workshop untuk penelitian pasar oleh AcSI. Tertarik? Kamu bisa ikut dan masih ada waktu mengejar ketertinggalan sebelum terjun ke pasar.

Fami Redwan

Jujur saja, 2004 hingga 2007 adalah tahun-tahun yang buram dalam hidup saya. Dari sekian banyak penyebab, salah satu yang bisa diceritakan di sini adalah karena pada tahun-tahun itulah saya memutuskan tidak lagi memaksa diri untuk punya koleksi musik dalam bentuk rilisan fisik. Dan kalau tidak salah ingat, di tahun 2006 lah saya mengatakan “ah sudahlah, paling juga lenyap lagi seperti koleksi yang sebelumnya, dan sebelumnya lagi.” Ya, saya sudah dua kali kehilangan pustaka nada. Satu karena kenakalan remaja, dan satu lagi karena sok merasa sudah dewasa.  Namun karena musik adalah partikel terpenting dalam hidup saya, maka pada kesempatan yang mulia ini saya tidak akan bercerita tentang hal lain. Yang akan saya lakukan pada tulisan ini adalah memundurkan judul cerita menjadi Dua Puluh Tahun Kemudian. Kembali ke 1996. Tahun di mana band saya terbentuk, dan hidup saya dimulai. 1996 adalah tahun di mana mayoritas anak sekolah membawa kaset di dalam tas mereka, dan menyatakan cinta lewat kaset kosong C-90 berisi satu lagu saja yang diulang-ulang hingga pitanya habis terputar. Tahun yang mewakili satu era di mana pembicaraan lewat telefon masih diawali dengan “halo, bisa bicara dengan..” yang setelah hening sesaat dilanjutkan dengan “dari temannya..” dan diakhiri dengan “oh iya nanti saya telefon lagi..

Pada tahun 1996, bila seseorang tidak tahu kemana kekasihnya pergi, maka yang dia lakukan adalah percaya. Seperti saya dan beberapa sahabat  yang percaya pada apa yang saat itu membuncah keluar dari speaker seorang teman, bahwa punk rock akan menyelamatkan hidup kami. Rasa percaya yang harus dibayar dengan banyak rasa percaya lainnya. Pada pita audio yang merekam musik ciptaan kami sendiri, pada metode one take recording yang tidak memberi solusi lain pada kesalahan yang terjadi, sekecil apapun itu, kecuali memainkan ulang seluruh lagu dari awal lagi. Pada pisau silet termahal yang bisa kami beli di toko kelontong dekat studio, untuk memotong-motong pita-pita hasil rekaman kami, menyambung-nyambungkannya kembali dengan selotip, yang belakangan kami sadari kalau itulah yang disebut proses mixing and editing.  Dan pada rasa percaya bahwa apa yang kami lakukan waktu itu, kalaupun tidak penting bagi orang lain, adalah penting bagi hidup kami. Memproduksi ekspresi dan menyebarkannya pada kehidupan sekitar.

Lalu fraunhoferisme datang melanda. Format audio mp3 dan software Winamp menyapu dunia. Vortex menuju dunia maya tidak lagi dimonopoli segelintir saja. Orang biasa juga bisa punya pintu ke mana saja. Informasi bertebaran di depan mata. Illegal downloading merajalela. Koleksi kaset dan CD saya pun berkurang nilainya, yang tak butuh waktu lama untuk kemudian sirna.  Dua kali pula kejadiannya.

Lalu apakah kini saya menyesalinya? Apakah 10-20 tahun lalu masih lebih baik dari tahun ini? Tentu tidak. Digitalisasi dan komputerisasi kehidupan manusia membawa mainan baru yang jujur saja, lebih seru. Yang dulu terlihat sebagai pita magnetik berwarna coklat, kini terlihat sebagai gelombang dan grafik. Yang dulu harus dilakukan dengan ketegangan tinggi karena tidak boleh melakukan kesalahan, kini bisa dilakukan sambil ketawa-ketiwi dan dansa-dansi. Yang dulu tidak bisa diutak-atik lagi, kini masih bisa dibelah-belah kembali. Yang dulu membutuhkan perencanaan finansial yang serius, alias harus menabung dalam waktu lama, kini bisa dilakukan hanya bermodal listrik, kopi sachet, dan beberapa batang rokok saja. Dan yang paling ajaib, yang sulit dibayangkan dua puluh tahun yang lalu adalah: musik yang baru selesai diproduksi malam ini, esok pagi sudah bisa tersebar ke sekujur penjuru bumi.

Beruntungnya kami yang hidup di era transisi teknologi. Bisa menerima ajaibnya terobosan yang ditawarkan oleh peralatan produksi musik digital, dan menggunakannya dengan etos yang tetap analog. Soal koleksi musik yang hilang? Saya tidak sedih lagi karena gagal menjadi seorang librarian, karena sekarang saya sudah menjadi seorang scientist.

Arkil Akis

Sangat sedikit yang saya ingat dari sepuluh tahun yang lalu. Ingatan-ingatan saya setiap membaca atau mendengar “Sepuluh tahun” justru menghadirkan kejadian-kejadian di ujung 90-an. Mungkin karena itu, kenangan akan tahun 2006 sangat sedikit yang terekam. Padahal, waktu itu saya kelas tiga SMA; masa di mana kenangan remaja (seharusnya) terakumulasi dengan baik.

Dari 2006, saya berkenalan hingga kecanduan dengan Friendster: dedengkot jejaring sosial di negeri ini. Situs yang mampu membagi konsentrasi uang jajan saya antara rokok batangan, game, dan warnet. Who viewes me dan Testimoni menjadi dua fitur friendster yang memabukkan saat itu. Fitur pertama, membuat kita tahu siapa yang kepo dan melihat akun kita, sedangkan testimoni adalah kolom komentar yang diisi dengan selang-seling huruf besar dan huruf kecil.

Sepuluh tahun yang lalu, saat Friendster masih menjadi satu-satunya media sosial di dunia maya, semua masih terasa damai. Belum banyak hal yang tiba-tiba menjadi haram, belum ada saling mengkafirkan dan ceramah orang-orang suci utusan ilahi. Mungkin karena kita, termasuk Habieb Riziq dan Felix Siauw, masih sederajat dalam lembah hina ke-alay-an; Masih dibuat pusing dengan background emo warna apa yang akan digunakan atau foto dengan angle-dari-atas mana yang jadi foto profil.

Sepuluh tahun setelah kecanduan Friendster, saya menulis ini. Secara tidak langsung, kehadiran saya di Revius juga karena saya pernah main Friendster. Bagaimanapun, Friendster adalah awal sesuap ke-eksis-an saya di media sosial. Dan segala yang awal akan selalu spesial, bukan?


Baca artikelnya lainnya dari Revius’ Editors

Makassar, In-The-Not-So-Distant Future

Dunia Nirkata Selepas Jatah 130 Kata

Lomba-Lomba yang Dirindukan

Mari Melihat Api Bekerja

Musisi Indie Makassar Favorit