Sumber Gambar: SinemArt Pictures ( @sinemart_ph )

Film adalah persoalan bercerita. Seberapa kuat sebuah cerita dalam film mampu mengikat penonton. Itu sebabnya bagi saya, tak pernah ada batas antara film pendek atau film panjang. Sebuah film dengan durasi singkat bisa saja terasa lama hanya karena ceritanya membosankan. Sebuah film dengan durasi berjam-jam bisa saja terasa singkat karena ceritanya begitu menggugah. Drupadi adalah film dengan durasi 40 menit saja, namun apa yang ia bicarakan terasa begitu panjang dan mengusik cara pikir. Sebuah kisah yang akan terus memenuhi kepala setelah ditonton.

Drupadi adalah salah satu dari sekian banyak film Indonesia yang gagal tayang di bioskop karena ketakutan akan menuai kontroversi dan riak kerusuhan. Saya tak tahu pasti sebabnya, namun sepertinya beberapa golongan menganggapnya sebagai film yang salah tafsir. Ini jugalah yang menjadi salah satu contoh alasan saya tak pernah lagi percaya dengan gagasan bahwa Indonesia adalah negara yang mampu merukunkan warga negaranya dalam keberagaman kultur, ras, dan agama.

Drupadi merupakan salah satu bagian kisah Mahabarata yang diadaptasi oleh Leila S. Chudori lalu difilmkan atas arahan Riri Riza. Kisah serupa juga bisa ditemukan dalam Kitab Weda. Drupadi merupakan seorang perempuan–seorang dewi dalam Kitab Weda–bersuami lima Pandawa, yang suatu hari justru dijadikan bahan taruhan oleh Yudhistira (Sulung dari Pandawa) setelah kalah dalam permainan dadu dengan Para Kurawa yang licik.

Inilah film yang akan memprovokasi pikiran dalam melihat kedudukan perempuan dalam tatanan masyarakat. Kisah Drupadi memang merupakan kisah sejarah dan datangnya dari India, tapi kenyataannya, hingga kini yang disaksikan dalam Drupadi juga secara simbolik masih kerap ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah perempuan dan kepahitan yang ia terima dari sikap patriarki yang datang dari masyarakat.

Bukanlah tragedi jika Drupadi bersuami lima pria. Dalam konteks ini, Drupadi tidaklah menjadi objek, ia serupa subjek yang memiliki kesanggupan menaklukkan lima orang pria dan membuat mereka rela berbagi cinta. Ini sangatlah kontras dengan apa yang sudah terlanjur masyarakat percayai selama ini bahwa poligami bukannya poliandri adalah yang dianggap wajar. Saking wajarnya, poligami lebih sering dijadikan tema dalam sebuah ceramah atau lelucon ketimbang poliandri. Bahwa perempuan lebih layak dan mampu bersabar berbagi cinta, ketimbang laki-laki.

Poliandri yang dilakukan Drupadi bukanlah seruan kepada perempuan di masa sekarang agar juga melakukan hal yang serupa. Ini adalah sebuah simbolisasi protes, seruan atas kesetaraan. Dalam praktiknya, perempuan memang selalu dijadikan golongan nomor dua dalam masyarakat. Ketika laki-laki berbicara tentang poligami, mereka kerap memosisikan perempuan sebagai objek. Sebuah jenis kelamin yang berserakan, sisa dipilih, dan menanti untuk dinikahi. Jika kita menyaksikan Drupadi lalu menolak untuk “percaya” praktik poliandri yang terjadi di dalamnya, maka itulah cerminan dari apa yang masyarakat lebih percayai, bahwa perempuan tidak akan pernah sanggup melakukan sesuatu yang laki-laki pikir sebaliknya.

Di salah satu bagian dalam kisah Drupadi, ketika Yudhistira menjadikan Drupadi sebagai bahan taruhan sebenarnya ia sendiri sudah tak lagi merdeka. Karena sebelum menjadikan Drupadi taruhan, terlebih dahulu Yudhistira sudah mempertaruhkan dirinya dan kalah. Drupadi protes, dalam tangisnya ia berteriak, “Bagaimana bisa Yudhistira yang sudah tak merdeka masih boleh mempertaruhkan diriku?” Sebegitu rendahnya-kah posisi seorang perempuan, bahkan seorang budak masih diizinkan untuk menjualnya? Sebuah protes atas pencapaian seorang perempuan. Dalam lingkungan patriarki, kesuksesan seorang perempuan tidaklah sungguh-sungguh bisa diapresiasi, dan takkan menjamin bahwa mereka bisa terhindar dari kekerasan.

Diberkatilah Drupadi, ketika Para Kurawa berhasil memenangkannya sebagai taruhan dan berniat memperkosanya, ia diselamatkan oleh Dewa. Namun, celakalah perempuan-perempuan korban kekerasan di tengah-tengah masyarakat kita, ketika mereka diperkosa, disiksa, dan dibunuh, merekalah yang disalahkan atas nasib sial yang menimpa mereka. Dan lagi-lagi, laki-lakilah yang dipilih masyarakat untuk diselamatkan.

Simak trailer dan cerita di balik layar Drupadi dalam video berikut ini.

Drupadi_poster_2008_film_indonesia_ReviusDRUPADI |Sutradara: Riri Riza| Tahun: 2008| Genre: Drama| Negara:Indonesia | Rating: 3.5/4 Bintang

Baca tulisan lainnya

Lima Film Berwajah Islam Layak Tonton di Bulan Ramadan

Kisah Laila yang Belum Pernah Diceritakan

Perlawanan Seorang Sastrawan Sosialita

Komedi yang Dibatasi Konklusi Sendiri

Kisah Pemuda yang Berpikir Dirinya Berasal dari Bira

Pulau Buru Tanah Air Beta, Ketika Monumen Memori Berkisah

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016