Ilustrasi: Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

Aduh gaes, lagi bingung nih. Gila bener. Aku tuh gak pernah diginiin tauk. Aku boleh minta usul dari kalian gak sih?

Awalnya gini nih, aku kan gaul abis tuh sejak jaman SD. Pas main facebook aja yang ada teman aku udah 1000an orang lebih gaes, belum lagi yang ngantri minta pertemanan, sampai 250-an and still counting lho.

Tapi bukan itu yang bikin aku bingung, setelah ninggalin dunia facebook sekarang aku main path dan udah masuk tahun ketiga sih sekarang. Namanya juga mau eksis, jadinya pengen punya banyak sosial media. Tau dong, jaman facebook aja teman udah banyak banget. Gimana sekarang? Yah kalo mau hitung sekarang mungkin teman aku udah sampai 2000-an orang lebih kali.

Tahun pertama sih gak ada masalah karena jaman itu teman-teman aku dan keluarga yang nge add duluan. Nah, masalah muncul di tahun kedua, karena kuota pertemanan Path udah habis. Bayangin, keluarga, sepupu, keluarga dekat (oom dan tante), sahabat, teman dekat, teman nongkrong, teman SD, SMP, SMU, teman kuliah, teman gym, teman jogging, teman kantor, teman nongkrong sampai teman tidur nge-add aku. Gimana ngga pusing.

Nah akhirnya aku nemuin ide nih. Aku buat 2 akun Path yang sama persis tapi aku pisahin siapa-siapa yang berhak masuk dalam akun pertama atau akun kedua. Bingung? Awalnya sih aku juga bingung sampai akhirnya aku pelajarin, hayatin dan akhirnya berhasil membagi mereka.

Untuk grup pertama aku kelompokin keluarga, sepupu, keluarga dekat, teman kantor, SD, SMP, SMU, kuliah. Untuk golongan ini adalah mereka yang serius banget-banget. Terus sisanya masuk dalam golongan kaum asyik-asyik di akun kedua.

Setiap moment yang aku post di akun pertama, pasti aku post di akun lain. Biar mereka ngerti dan gak salah paham, setiap bulan pasti aku post a moment “Bukannya aku sok ngartis yah, aku punya dua akun path. Apapun yang aku post disebelah pasti aku post disini. Jadi teman-teman jangan add akun aku yang lain ya. Terima kasih. Kalo ada yang mau tau alasannya, chat path aja keleus. Line atau WA juga bisa kok” Berikut post, berikut nunggu emo love atau emo laugh dari teman-teman.

Adalah suatu ketika moment “Aduh, pacar kemana yah? Hujan nih” aku post di akun  pertama, kemungkinan yang terjadi adalah jangankan komen, kemunculan emo saja kemungkinan tipis. Saya harus mengerti mungkin mereka sibuk mengejar karir. Lain halnya di akun kedua yang notabene orangnya eksis, asyik, sampai gila rada korslet bisa dipastikan akan ada komen balasan seperti  “Aaaawww”, “Jangan lupa cap yah”, “Save s*x bro”, “Beser ka ayaaaaaaaahhh” “Alexis yuk, bro?”. Something like that lah.

Dengan beragamnya komen-komen miring grup kedua ini, aku pun tidak risih untuk membalas “Awwww too”, “Masih ada sisa kemarin cap-nya”, “Thanks, bro”, “Pelukka ibuuuuuuuuuu” atau “Alexis kejauhan, Virgo aja, jemput gue ya”, tentunya tanpa harus berusaha bermuka dua.

Ada kasus lain juga, ketika ada sepupu dari akun pertama yang kesetanan upload gambar selfie sampai 24 kali dengan teman arisan, ibu-ibu kindergarten, anaknya atau dengan teman-teman gak penting lainnya. Bayangin selfie-nya 1 acara 5 pose berarti ada 5 post moment dari sang sepupu, orangnya sama semua. Lah? Lu kate gue gak bosan apa? Belum lagi kata-kata bijak Mario Teguh, meme-meme jomblo. Ah sudahlah.

Contoh kasus ini seharusnya gak usah dikenakan pasal Pasal 172, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Jika barang siapa dengan sengaja mengganggu ketenangan orang lain. Namanya aja sepupu.

Contoh kasus seperti itu aku akhirnya ide membuat dua akun path ini membuat semua tenang, semua senang. Sepupu di akun pertama walau norak gak usah dipikirin, jangan dibati-bati. Di akun kedua pun aku bisa berekspresi lucu-lucuan ama teman-temanku yang belum tentu adik-adikku paham. Asyik bukan? Tali silaturrahim tetap terjaga karena tidak aka nada lagi pertanyaan “Kok aku di unshare sih? Add ulang dong”

Nah idenya sederhana, aplikasinya memang susah karena pengorbanan terbesar adalah kuota akan lebih cepat habis.

*Seperti yang diceritakan oleh Danny kepada Langgo Farid.