Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)| Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus)

Untuk pertama kalinya SORE memijakkan kakinya di kota Makassar pada 6 Februari lalu, sehari sebelum mereka tampil di hadapan audiens Makassar yang hadir di pentas seni “The Greatest Day” karya siswa-siswi SMAN 11 Makassar angkatan 2015.

SORE merupakan kolektif musik Indonesia yang berupaya memadukan berbagai jenis-jenis musik swing, jazz,pop yang bernuansa vintage untuk didengar di kuping–belakangan mereka menyebutnya Indonesiana Rock Revival, memang sedang digemari anak-anak muda Indonesia mungkin karena kekuatan lagu dan liriknya yang puitis.

Dengan formasi terkini yaitu “Sir” Awan Garnida pada bass, Reza “Echa” Dwiputranto pada electric guitar, “Bemby” Gusti Pramudya pada drums, dan Firza “Ade” Paloh pada akustik guitar/trombone, SORE juga akan mulai ancang-ancang untuk memperkenalkan album ketiganya, Los Skut Leboys yang rencana akan rilis tahun ini.

Tapi ada yang berbeda sekaligus membahagiakan di penampilan SORE malam itu. Mereka tampil bareng Muhammad Istiqamah “Is” Djamad, vokalis/gitaris dari Payung Teduh, alih-alih dari tidak adanya Ade Paloh yang biasanya akrab menjadi vokalis utama SORE. Ada apa gerangan?

Saya pun diberi kesempatan untuk mewawancarai di backstage mereka selepas tampil. Bersama Awan Garnida, Echa, Adink Permana (keyboardist dan produser album SORE) serta Is dari Payung Teduh, saya pun bertanya kepada mereka soal kesan pertama kali tampil di Makassar, wisata kuliner, rencana SORE ke depannya sampai komentar soal musisi yang mundur dari musik dan mendalami agama. Mari disimak!

Untuk pertama kalinya SORE datang ke Makassar, Ekspetasi apa yang ada di benak kalian hadir di depan penonton Makassar?

Awan: Ekspetasi dari SORE sih gak ada, curiosity (rasa penasaran) yang ada. Penasaran, apa sih yang akan terjadi. Tapi yang terjadi adalah suatu keharuan dan kebahagiaan yang kita perlu sampaikan di sini, bahwa generasi muda di Makassar sangat, sangat antusias dan bertanggung jawab.  Bang Is! (kemudian memanggil Is, vokalis Payung Teduh, lalu bertanya) Bang Is, gimana nih menurut kamu yang berkolaborasi dengan SORE malam ini? Yang saya rasakan energinya malam ini luar biasa ya.

Is: Ha ha ha. Deg-degan aja (sebelumnya).  Saya bolak-balik latihan dari Depok. Demi (tampil sama SORE). Tapi gak nyangka ya?

"Ekspetasi dari SORE sih gak ada, curiosity yang ada." Awan Garnida, soal kesan pertama kalinya SORE ke Makassar.

“Ekspetasi dari SORE sih gak ada, curiosity yang ada.” Awan Garnida, soal kesan pertama kalinya SORE ke Makassar.

Ha ha ha. Tapi kenapa Bang Is bisa hadir tampil bersama SORE malam ini?

Awan: Ya, inlander. Putra daerah sini kan. Suatu kebanggaan. Ya, karena kami dari SORE sendiri, bangga sama yang dikaryakan, didharmabhaktikan, sama Bang Is di sini. Kita ingin sekali, bersama-sama, apa ya namanya? Kalau dalam bahasa Sundanya tuh, ngahariring. Artinya tuh, bersenandung. Mengungkapkan isi rasa lagu-lagu yang sudah kami tulis dan sudah kami karyakan. Lanjut yang tentang curiosity tadi. Ya, gak sangka kan kali pertama kami hadir di Makassar, belum pernah terbayangkan, bahkan mimpi untuk kesini pun tidak pernah. Tapi seolah-olah kami sudah sering bertemu (dengan audiens Makassar) setiap hari. Kami jarak (tinggalnya) jauh, tapi kayaknya dekat dan akrab. Itulah yang mungkin menentukan wajah bangsa ini ke depan. Respect itu ada,…ah, gila, saya gak bisa kalau yang beginian. Karena dia sekolahnya lebih tinggi dari saya (sambil menunjuk Adink Permana, keyboardist SORE)

Saya pun mengira sebelumnya anda Ramondo Gascaro (eks-keyboardist SORE) tadi. Terus pas nonton Jazzy Nite Kompas TV, kalian memang mirip secara tampilan. He he he.

Adink: Kayak sih mereka memang salah lihat. He he he. Gue malah dibilang sm kru (Kompas TV), “Eh Mondo, ayo naik, naik (ke panggung),” Ha ha ha.

"Mereka tim yang sangat membantu banget untuk di panggung." kesan SORE tentang para personil yang sering SORE untuk tampil, termasuk Adink Permana yang tampilan mirip dengan Ramondo Gascoro secara tampilan. He he he.

“Mereka tim yang sangat membantu banget untuk di panggung.” kesan SORE tentang para personil yang sering SORE untuk tampil, termasuk Adink Permana yang mirip dengan Ramondo Gascaro secara tampilan. He he he.

He he he. Lalu bagaimana dengan rencana SORE berikutnya dengan formasi berempat ini?

Echa: Kalau yang dijalanin sekarang, ya kita baru selesai bikin full album yang ke-tiga (Los Skut Leboys). Sekarang sudah masuk tahap mixing, mudah-mudahan berjalan lancar aja. Kalau yang gue rasain lagunya di album ini, beda(dari album-album sebelumnya).Soalnya belum pernah dilakukan SORE sebelumnya.

Bagaimana pendapat kalian tentang dukungan para personil di panggung yang selain empat personil asli SORE, seperti Adink, SIGIT (gitaris Tigapagi) termasuk kru SORE sendiri?

Echa: Mereka tim yang sangat membantu banget untuk di panggung. Soalnya SORE butuh yang lebih lengkap lagi, dari sound dan segala macam.

Kebetulan malam ini kalian featuring dengan Is dari Payung Teduh, ada apa dengan Ade?

Echa: Ade kebetulan lagi benar-benar gak enak badan. Padahal dia pengen banget ke sini. Tadi tuh dia udah Whatsapp-an sama kita-kita juga. Tadi kita kirim foto ke dia juga pas main tadi. He he he. Kebetulan juga Is pas waktunya kebetulan bisa, ya udah. Eh barusan juga kita tau, ternyata Is juga orang Makassar. Ha ha ha Apa Kareba? Langsung gitu.

"Ade kebetulan lagi benar-benar gak enak badan. Kebetulan juga Is pas waktunya kebetulan bisa, ya udah." Echa menjelaskan perihal SORE berkolaborasi dengan Is dari Payung Teduh malam itu.

“Ade kebetulan lagi benar-benar gak enak badan. Kebetulan juga Is pas waktunya kebetulan bisa, ya udah.” Echa menjelaskan perihal SORE berkolaborasi dengan Is dari Payung Teduh malam itu.

Selain lagu-lagu karya Is di Payung Teduh, apa kalian pernah dengar lagu-lagu band dari Makassar?

Echa: Belum terlalu nyimak ya. Tapi baru saja dikasih tau, ada Theory of Discoustic. Sama Melametis..eh, Melismatis. Tadi baru kenalan sama personilnya Melismatis, sempat ngobrol juga. Ternyata sering main di Jakarta loh mereka, di Coffeewar, ya.

Nah, pesan SORE untuk teman-teman musisi Makassar?

Echa: Pesannya gini, siapin mental terus aja dalam bermusik. Kadang-kadang musik bukan menjadi sesuatu hal yang penting lagi, tapi mental kita terhadap band itu seperti apa. Kalau musik relatif kan, bisa macam-macam. Dari kita mulai sampai terus ke depan, pasti grafiknya naik turun kan, nah itu gimana caranya mental kita tetap stabil, bahkan terus meningkat. Kita harus ngelawan diri sendiri. Ada konflik, kita lawan semuanya. Itu cuma masalah settingan otak, mindset. Itu kata Deddy Corbuzier. He he he.

"Siapin mental terus aja dalam bermusik. Kadang-kadang musik bukan menjadi sesuatu hal yang penting lagi, tapi mental kita terhadap band itu seperti apa." ujar Echa yang berpesan untuk teman-teman musisi di Makassar.

“Siapin mental terus aja dalam bermusik. Kadang-kadang musik bukan menjadi sesuatu hal yang penting lagi, tapi mental kita terhadap band itu seperti apa.” ujar Echa yang berpesan untuk teman-teman musisi di Makassar.

Terus bagaimana dengan proyek-proyek di luar SORE sendiri, seperti Drs. F. Achmar (proyek Ade Paloh) atau Marsh Kids? Apakah itu mempengaruhi kesibukan di SORE?

Echa: Lu tau juga F. Achmar ya, he he he. Kalau itu rekamannya Ade. Habis itu ada (Alaium Records) yang nawarin kan, buat produksi kasetnya. Jadi itu gak terlalu serius sih, refreshing aja. Kalau pengaruhnya sih, sama sekali gak. Kita bermain musik juga butuh penyegaran kan. Kalau kita lakukan rutinitas itu-itu terus, bisa bosen kan. Suatu saat kita harus olah raga. Mencari kegiatan baru yang belum pernah kita lakuin. Main musik itu sama aja dengan kita menjalani kehidupan sehari-hari. Suatu hobi yang jadi rutinitas, ada saatnya dia stuck kan.

Bagaimana pendapat kalian tentang orang-orang yang pernah bekerjasama dengan Sore seperti J. Vanco (sound engineer albumnya SORE di album Ports of Lima) atau Adhi dan Udhi dari Pure Saturday yang memilih untuk mendalami agama sekaligus berhenti dari dunia musik?

Echa: Oh..kalau menurut saya itu pilihan. Jadi gak ada masalah. Itu pilihan dia, dia mau seperti apa, itu hak dia. Sama sekali gak mengganggu kita, kita juga gak mengganggu dia. Kita menghargai keputusannya. Banyak hal yang penting daripada itu.

Kalian baru untuk pertama kalinya ke Tanah Sulawesi. Selain ke Makassar, kalian ke kota mana lagi selain di sini? Dan bagaimana pendapatnya dengan wisata kulinernya?

Echa: Wah..gila! dari mulai nyampe (tanggal 6 Februari), pas sampe kita langsung makan di pallubasa di (jalan) Onta Lama. Malamnya kita tidur, besoknya kita kunjungan ke Smanses, kan. Wah, itu meriah banget, kita merasa disambut, happy banget pokoknya lah. Ini untuk pertama kalinya kan, kitanya juga antusias, yang mengundang juga antusias, jadinya bersinergi. Oke banget lah. Pokoknya pastinya malam ini tidurnya nyenyak. He he he.

"Kalau yang dijalanin sekarang, ya kita baru selesai bikin full album yang ke-tiga (Los Skut Leboys). Sekarang sudah masuk tahap mixing, mudah-mudahan berjalan lancar aja." Mari dido'akan cess!

“Kalau yang dijalanin sekarang, ya kita baru selesai bikin full album yang ke-tiga (Los Skut Leboys). Sekarang sudah masuk tahap mixing, mudah-mudahan berjalan lancar aja.” Mari dido’akan cess!

Setelah Los Skut Leboys dirilis, apalagi kejutan kalian berikutnya?

Echa: Belum tau. Paling kita menjalani kegiatan seperti biasa, manggung, manggung, manggung, rilis album. Soalnya album menurut gua, kayak KTP. Identitas buat band itu. Kita mau manggung, pasti mau bawa lagu dari album sendiri kan. Ya mungkin teman-teman di Makassar tau SORE karena ada albumnya kan he he he. []