Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

Beberapa waktu lalu saya sempat membuat sebuah status di media sosial saya tentang mencari seseorang atau sebuah perusahaan yang berani memberi sponsor untuk penelitan tentang judul diatas.

Arti kata perkata sebenarnya sudah jelas. Kecuali kata syndrome (sindrom) pengertiannya adalah kumpulan gejala. Jika dibuat suatu definisi maka “kumpulan gejala dimana seseorang membuat status di sosial media dengan tujuan diperhatikan oleh pengguna lain”. Dalam bahasa Inggris bisa juga diartikan dengan Thirsty Attention in Social Media Syndrome”Yah seperti itulah kira-kira.

Ada beberapa pertanyaan yang kembali muncul dengan adanya hipotesa saya, semisal :

1. Adakah orang seperti itu?

2. Bagaimana gejala yang diidapnya?

3. Bagaimana saya menghindarinya? Dan masih banyak pertanyaan lain.

Sadar atau tidak, suka atau tidak mereka hidup disekitar kita. Pertanyaan-pertanyaan diatas saya coba jabarkan sedikit menurut pendapat saya (sambil menunggu sponsor) tentunya.

Kelakuan “meminta diperhatikan secara tidak langsung” sangat susah digambarkan. Contoh kecil saja seperti sebuah status :

“At Changi Interational Airport Terminal — with Bebeb Raisa.”

Sebuah status ini menunjukkan bukti bahwa orang yang terkena sindrom ini memang ada dan hidup, eksis lagi. Apa sih tujuannya orang itu memberi tahu jika dia sedang berada di bandara? Agar orang tuanya tahu? Bukankah lebih enak sopan memakai telepon, selain mendapat amalan kesopanan kepada orangtua, juga menghindari kesan sombong. Selain itu menghindari “tuntutan” teman sosial media untuk dibawakan buah tangan, kan?

Berikut tentang gejala yang diidapnya. Menurut penilitian saya, terlalu kompleks jika dijelaskan gejalanya karena foto makanan, status berantem, status galau bahkan status nyinyir merupakan gejala-gejala yang bisa terlihat. Bisa juga dengan contoh seperti

“God, please help me. Saya tidak bisa menghadapinya lagi. Hiks hiks :(“

“Alhamdulillah, sudah buka puasa. Sekarang saatnya  3 Rakaat”

“Tolong aminkan dan share foto bayi dibawah ini jika anda bla bla bla….”

Untuk status pertama dan kedua, saya tidak tahu jika Tuhan sudah bersosial media. Adakah? Terus untuk apa status itu? Agar cepat sampai? Berarti kecepatan internet di “sana” sangat kencang. Maka tidak mungkin penghuni neraka akan keluar dan pindah, karena selain kecepatan download 3gp yang mumpuni juga bisa dijamin tidak tersedianya internet sehat disana.

Kasus yang sama untuk status ketiga. Pencatatan amal kita sekarang berarti memakai fasilitas digital. Dengan begitu saya harap keamanannya bisa terjaga agar pihak Google tidak mencuri data amalan anda. Belum lagi jika di situs-situs jual beli terkenal di Indonesia yang buat lapak.

“Terima jasa hack amal ibadah orang meninggal. Termurah se Indonesia. Rp.1000/amal. Bisa bayar pulsa atau transfer. 100 pembeli pertama gratis cendol gan. Nego Afgan”

Atau

“Jangan lupa kunjungi lapak kami yah, sis. Banyak sedia amal-amal lucu. Pembayaran via Mandiri atau BCA. Pengerjaan 24 jam agar tidak lama tersiksa diliang kubur. Terima reseller. 

Catatan: kematian tidak lebih 2 tahun

#JualAmal #JualAmalMurah #OOTD #AmalJariyah #TrustedSeller #Throwback #ThrowbackThursday #BajuLucu #BajuAnak #BajuBola #BajuCouple #Bajulari #CelaPria #CelanaPriaMurah #LifeStyle #Healthylife #Clean #Healtht #PrincesSyahrini.”

 

Contoh lain yang tidak kalah lucunya adalah seringkali didapatkan fenomena “bijak sebelum waktunya”. Kutipan-kutipan kata bijak atau celoteh Mario Teguh adalah contohnya.

 

“Lebih baik mencintai dan terluka, daripada bersembunyi ketakutan dalam hidup yang hampa cinta. Karena … Memang cinta tidak menjamin kebahagiaan, tetapi tidak ada kebahagiaan tanpa cinta.” — MT Golden Ways

 

Saya terus terang sangat penasaran kehidupan om Mario ketika muda. Terlalu banyaknya kata bijak bisa berarti masa mudanya sangat pahit. Saya sangsi jika om Mario bisa mengalahkan teman saya Bundu (nama samaran) dengan cinta sejatinya Bella (disamarkan, lagi). Berikut kisahnya.

Bundu menjalin hubungan selama 7  tahun dengan Bella. Pacaran normal hanya setahun, sisanya LDR. Si cowok anak Makassar asli sementara sang cewek blasteran Toraja Belanda. Singkat kata, Bella menuntut ilmu di Belanda atas desakan sang ayah. Menamatkan sekolah, Bella pulang. Bundu mengajukan lamaran ke orang tua Bella. Tetapi ditolak keras karena keduanya beda keyakinan. Apa lacur, karena cintanya akhirnya Bundu pindah keyakinan.

Dengan percaya diri Bundu kembali mengajukan prosposal. Tetapi hambatan baru muncul karena uang panai’ yang disyaratkan orangtua tak dapat dipenuhi oleh Bundu. Ditengah kesedihan, Bella ternyata dipaksa menikah dengan seorang pria Belanda, anak teman bisnis ayah Bella. Pernikahan berjalan lancar. Sesaat sebelum mengucap ikrar, Bella menerima pesan singkat yang berisikan janji Bundu untuk mencari kehidupan yang layak agar status sosialnya naik dan uang panaiknya cukup.

Skip skip skip skip. 5 tahun berlalu. Bella menetap di Belanda katena perusahaan ekspor emas suami sedang naik daun. Seorang anak cantik kini menghiasi kehidupan Bella dan suami.

Di suatu pagi, terdengar ketukan di rumah Bella. Sang anak membukakan pintu. Tampak Bundu sedang berdiri. Setelah Bella dan Bundu bertemu, merekapun bernostalgia. tiga jam pembicaraan yang menyenangkan hingga di akhir perbincangan Bella meyakinkan Bundu jika sudah tidak ada lagi cinta untuknya.

Nah, apakah om Mario sempat merasakan ketir kehidupan seperti itu? Entahlah. Cukup cerita tentang teman saya.

Sebenarnya masih banyak contoh yang saya bisa berikan tetapi contoh-contoh diatas sudah merupakan suatu indikasi berat jika “penyakit” ini langka dan sangat menarik untuk dibahas. Karena bukan hanya usia muda yang terkena sindrom ini, beberapa manusia lanjut usiapun kena dampaknya. Juga dari berbagai latar belakang. Tujuan saya agar penyakit ini bisa segera dihentikan karena saya tidak ingin menjadikan angka kejadian luar biasa di negera kita tercinta hingga berdsampak kepada anak cucu kita nantinya.

Jika anda atau perusahaan yang anda kenal berminat, silahkan mention saya di twitter @langgofarid. []