Kemarin malam, seperti biasa saya menceritakan hari saya kepada mama lewat pesawat telepon. kira-kira percakapannya seperti ini:

“Vin, Jang pulang talalu lat kwa neh. mama tako kwa banya geng motor kata di sana (Vin, jangan terlalu larut pulangnya, kata Buser di Makassar banyak geng motor)”
kita kan pulang pagi toh Ma (kan saya pulang pagi, Ma)”
“Di Makassar le banya orang demo soal BBM toh? sudah jo pulang pagi kwa nanti kana macet le (katanya juga di Makassar demo BBM? kalau pulang pagi nanti keburu macet)”
“nda lah, kita le kwa iko ba demo Ma (tidak lah, kan saya ikut demo, Ma)”
bae-bae do’ ngana dorang mo panah. deng kalau ada gas aer mata jang ngana mo pi ba sosuru (hati-hati kena panah yah, kalau ada gas air mata mending minggir saja)”
“aman, bos”
“Mba nim so ijab qabul tadi. so snang mama pe hati karna ebes so stuju. ngana di sana jaga diri neh. jang suka dorang mo pangge pi hotel. biar itu ngana pe dosen yang pangge (eh, Mba nim (tetangga) tadi ijab qabul sama Anwar. akhirnya Ebes (sapaan untuk ayahnya Mba Nim) setuju. Jaga diri disana yah, jangan mau dipanggil ke hotel meskipun yang manggil itu Dosen kamu!)”
“hahaha, siap komandan. tapi kalau kit ape demo gagal, doi bulanan nae le toh ma? (hahaha, siap komandan. tapi ma kalau demoku gagal bikin BBM naik, uang bulanan ikut naik kan ma?)”
“badoa jo mama pe gaji le nae neh (Doakan gaji mama naik yah).”

Itulah sepenggal percakapan saya bersama mama. Selama ini saya terbiasa melaporkan kegiatan harian melalui telepon. Dengan cara itu, saya bisa mengurangi kekhawatiran mama yang tinggal di luar Makassar terhadap saya yang sedang berada di Makassar, tempat dimana sebagian besar berita buruk di media berasal.

Sampai hari ini, tak terhitung lagi jumlah kata “hati-hati” yang diucapkan mama kepada saya terkait Makassar yang ia nilai sudah sangat tidak aman menampung manusia. Meskipun saya sudah beberapa kali meyakinkan mama bahwa saya bukan manusia, mama tetap saja menyangka Makassar tidak bisa memberikan keamanan kepada saya.

Sepekan ini, Makassar seolah “dikontrol” oleh “seseorang” ataupun “sesuatu”, selain Tuhan tentunya. Secara serentak, berbagai kejadian besar nan negatif memenuhi kota Makassar. hal itu dimulai dari maraknya geng motor bersenjata busur panah dan senjata tajam yang berkeliaran di seputaran daerah di mana ide-ide tentang “perlawanan” kepada sistem yang tidak pro-rakyat berkembang biak.

Tak sampai di situ, kisah Ariel dan Luna Maya juga ikut “diulang” di Makassar. jika kita ingat kembali, video skandal Ariel dan Luna Maya terungkap pada saat kasus bail out Bank Century sedang hangat-hangatnya. Dengan skema dan alur yang sama, Makassar mengulang strategi skandal yang akan menutupi hal besar lainnya. Adalah kisah dosen dan mahasiswa yang tertangkap sedang pesta sabu-sabu di sebuah hotel. hal itu kemudian menjadi sorotan berbagai media massa baik media massa lokal ataupun nasional.

Jika ingatan kamu masih bagus, kamu pasti akan ingat bahwa di hari yang sama juga terjadi penyerangan yang dilakukan oleh pihak kepolisian ke kampus UNM. Penyerangan itu terjadi di siang hari. saat berita penyerangan itu sedang membanjiri media mainstream dan new media (twitter, blog, facebook, Koran online, dll), secara mengejutkan tertangkaplah guru besar Universitas Hasanuddin yang sedang berpesta sabu-sabu bersama mahasiswi.

Seperti halnya kisah Aril dan Luna Maya yang merebut posisi Bank Century di pemberitaan media massa, skandal guru besar yang berpesta sabu bersama mahasiswinya juga menyedot lebih banyak perhatian media massa ketimbang peristiwa penyerangan pihak kepolisian ke dalam kampus UNM.

“Siapapun” atau “apapun” yang memegang remot kendali drama kota Makassar hari ini pasti sedang tersenyum lebar melihat hasil kerjanya sesuai dengan rencana. Selain berhasil mengalihkan isu penyerangan aparat negara terhadap Mahasiswa, dalang itupun juga berhasil membangun ketakutan bagi mereka yang sering lalu-lalang di seputaran area dimana ide-melawan-sistem berada.

Kalau sudah begini, mama memang pantas khawatir. anaknya berada dalam kota yang Institusi pendidikan dan keamanannya tidak saling mendukung satu sama lain. Padahal selain sandang, pangan, papan dan cas-an, yang dibutuhkan oleh manusia modern hari ini adalah pendidikan dan keamanan. Untungnya, saya bukan manusia.[]