Oleh: Gabriella Dwiputri ( @gabby_X_gabby) | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Ramai di media sosial kita belakangan ini dengan munculnya hashtag #muslimlivesmatter. Pasalnya karena tiga orang yang masih satu keluarga, dibunuh dengan gaya eksekusi (tembakan di kepala) yang terjadi di North Carolina,Amerika Serikat, beberapa waktu lalu. Peristiwa ini pun dikenal dengan Chapel Hill Shooting, atau kalau dengan hashtag #ChapelHillShooting.

Masalahnya apa? Bukankah pembunuhan terjadi di mana saja di belahan bumi ini? Tapi, entah darimana, tetiba isu sentimen agama kembali muncul dan link-link betapa muslim kembali dizolimi oleh media asing merebak di berbagai beranda media sosial.

Masalahnya adalah ini :

  1. Penembakan itu dilakukan oleh non-muslim terhadap muslim.
  2. Pembunuhan itu tidak diberitakan sesegera mungkin dan tidak menjadi headline di media manapun, dibandingkan dengan peristiwa #CharlieHebdo.

Tidak usahlah saya menceritakan kronologi  #ChapelHillShooting ini, sudah banyak media yang meliputnya. Termasuk betapa tidak adilnya bahwa peristiwa #ChapelHillShooting ini terlihat lebih disepelekan daripada peristiwa #CharlieHebdo yang mendunia. Mengapa media tidak memblow-up berita ini seperti mereka memberitakan #CharlieHebdo?

Saya mencoba melihat ini melalui kacamata saya yang mempelajari jurnalisme dasar. Sebenarnya ini berita yang wajar saja, di negara macam Amerika Serikat, penembakan bukan hal yang istimewa. Hampir tiap hari penembakan terjadi di sudut kota, tidak jarang melibatkan satu keluarga.

Rasanya ini berita yang wajar saja, ini makanan sehari-hari di sana. Nilai beritanya tidak lebih dari pencabutan nyawa orang lain secara paksa. Sementara #CharlieHebdo? Itu merupakan pembantaian terhadap suatu institusi. Tidak usahlah saya bilang jumlahnya yang lebih banyak, karena pembunuhan, walau satu nyawa pun sama kejinya.

Tapi #CharlieHebdo itu bukan hanya sekedar pencabutan nyawa secara paksa. Jelas, ada ideologi di sana. Ada indikasi pembunuhan terhadap kebebasan berpendapat di sana, walau sesalah apapun pendapat itu menurut orang lain. Tanpa membawa identitas agama pun, jelas bahwa berita #CharlieHebdo lebih urgent dan menjual daripada #ChapelHillShooting yang hampir selalu terjadi. Sesederhana itu tanpa identitas agama.

Ingat, bahwa adalah FAKTA, pelaku terorisme #CharlieHebdo adalah islamis radikal yang mempunyai motif yang jelas atas pembantaian yang dilakukannya.

Pelaku penembakan #CharlieHebdo percaya bahwa ia telah membalaskan Rasulullah SAW, bahwa yang ia lakukan itu bernilai ibadah dan semata-mata untuk membela agama yang telah dicoreng oleh majalah satir CharlieHebdo. Saksi mata, rekaman CCTV, membuktikan bahwa pembantaian itu jelas atas dasar agama.

Nah, bagaimana dengan #ChapelHillShooting? Korban adalah muslim terpelajar dan memiliki jiwa sosial yang tinggi, suka berderma, tidak egois, baik hati, dan pecinta olahraga, dan tidak mempunyai musuh. Begitu yang diceritakan di beberapa media berdasarkan kesaksian keluarga atau yang mengenal korban.

Sementara pelaku adalah seorang ateis yang mempunyai riwayat gangguan mental—berdasarkan keterangan mantan istri pelaku. Diberitakan bahwa pelaku mempunyai obsesi terhadap tempat parkir kendaraan, dan bahwa ia gampang tersinggung dengan hal itu.

Menurut istri pelaku, itulah pemicu penembakan terjadi—karena pelaku punya gangguan mental. Sementara tidak begitu menurut keluarga korban—dan banyak muslim lainnya.

Katanya, pelaku telah lama membuat korban merasa tidak nyaman dan aman (padahal tetangga lain di Chapel Hill juga terganggu dengan tabiat korban). Menurut keluarga korban—dan banyak muslim lainnya di seluruh bumi—bahwa tidak mungkin cuma karena tempat parkir, penembakan itu terjadi.

Tidak mungkin hanya karena hal sepele seperti itu maka pembantaian dilakukan dalam bentuk eksekusi. Tidak mungkin hal yang lain kecuali kebencian karena agama!

Kenyataan bahwa insiden ini menyebar lebih cepat di media sosial dan tidak mendapat sorotan sebanyak insiden #CharlieHebdo membuat geram muslim dari berbagai penjuru  dunia. Di sosial media, ramai orang-orang membagi link berita yang headline-nya antara lain “The Media Has Just Ignored A Triple Murder in the US Because the Victims Were Muslims”.

Aduhai, judul yang begitu cantik provokatifnya dari media independent.co.uk yang di halaman beranda Facebook saya sendiri telah di-share lebih dari lima orang, yang setau saya, tidak berada pada lingkungan sosialisasi yang sama. Dengan kata lain, kelima orang itu tidak saling mengenal, tidak saling berteman di dunia maya.

Maka link itu mereka dapatkan dari teman mereka yang lain, yang saya duga juga viral di tempat lain. Bagaimana umat muslim tidak terbakar emosinya membaca judul berita seperti itu ?

Ciyeee…. Yang merasa dizolimi oleh media…
Ciyeee… yang merasa diperlakukan tidak adil…

Saya ingin bertanya pada saudara saya sesama muslim yang mulia dan baik hati, apakah kamu merasa sudah jadi muslim yang baik karena telah ikut nge-blow up insiden penembakan tiga orang muslim saudara kita di Amerika sana? Benar karena solidaritas? Atau Cuma karena musiman? Ke mana suaramu ketika di luar sana saudara kita yang muslim membantai sesamanya? Itu jumlahnya bukan tiga, tapi ratusan, ribuan, dan bertambah tiap tahunnya.

Kembali lagi, apakah kamu sudah jadi lebih baik dari yang lainnya dengan mengutuk media Amerika dan pelaku penembakan? Jangan salah, all lives matter. Pembunuhan, apapun alasannya, tidak bisa dibenarkan. Tapi ayolah, jangan suudzon. Kukira tragedi itu bisa terjadi pada siapa saja.

Apalagi di Negara yang warganya bebas punya senjata api, itu kejahatan yang, saya ulangi, bisa dilakukan dan terjadi pada siapa saja di sana. Apalagi jika pelakunya cenderung punya gangguan mental.  Tidak ada bukti bahwa penembakan itu berlatar belakang kebencian terhadap agama, atau bahwa media tidak memberitakan insiden itu karena korbannya adalah muslim minoritas.

Hai! Selain suudzon, kamu juga minderan! Apakah menurutmu agamamu telah dianggap begitu rendah di Negara lain? Atau itu Cuma cerminan bagaimana dirimu memperlakukan minoritas di tempatmu?

Beberapa waktu lalu, di dekat rumah saya juga ada insiden pembunuhan dimana pelaku penikaman warga Tiongkok oleh muslim bahkan tidak masuk berita lokal manapun. Jadi, perlukah saya membuat headline berita “Media Lokal mengabaikan penikaman sadis karena korbannya adalah keturunan Tiongkok.” dan hashtag #TiongkokLivesMatter? Lama-lama kedengarannya jadi rasis.

Sekali lagi, tragedi #ChapelHillShooting ini jelas berbeda dengan insiden #CharlieHebdo yang pelakunya dengan bangga dan lantang membawa agamanya. Saya tekankan ya, esensi beritanya juga berbeda. Kukira ini juga tidak akan jadi berita yang wah seandainya tidak ada hastag macam #muslimlivesmatter. Bukannya hashtag tersebut yang salah, tapi I’d prefer #AllLivesMatter.

Tapi tunggu dulu, ada yang bilang bahwa ini semua konspirasi media. Sengaja membawa-bawa identitas muslim untuk membangkitkan islamophobia, untuk mengobok-obok isu yang paling sensitif, agama. Ada juga yang dengan yakinnya dan percaya bahwa benar, ini adalah kemunafikan media, ada hastagnya pula #mediahypocrisy. Ini lucu.

Kalau menurutmu media sudah tidak beres, maka berhentilah nge-share link dari media manapun, termasuk media Aljazeera. Apa kamu yakin link yang kamu share itu betul adanya? Atau kamu percaya itu benar karena dia adalah media timur tengah, media islam, seperti kamu percaya bahwa media macam pkspiyungan dot com itu juga selalubenar 100% sehingga semua beritanya selalu kamu bagi? Yakin???

Kita berduka atas tragedi ini, dan tragedi manapun di bumi. Tapi ingat, everyday lives is being taken everywhere in other part of the world. Berhenti menjadi insan beragama yang merengek minta diperhatikan atas dasar yang tidak kuat. Berhenti menjadi umat beragama yang irasional dan bersumbu pendek. Coba googling, lihat berapa banyak saudara sesamamu yang dibantai di tempat lain yang tidak tercover berita dan terblow up? Masihkah kau akan menuntut perhatian berlebihan atas duka di Amerika sana?

Lebih tidak adil mana, kamu menuntut agar tragedy #ChapelHillShooting mendunia seperti insiden #CharlieHebdo tetapi pembantaian saudara kita yang tiap hari terjadi tidak pernah muncul dalam timelinemu atas kesadaranmu sendiri untuk mencari tahu? All lives matter, sekali lagi. Jangan jadi muslim yang musiman lah.

Solidaritas juga jangan setengah-setengah. Ketika media memberitakan Palestina, timeline-mu juga ramai dengan itu. Esoknya hilang lah tentang semua itu. Hari ini ada #ChapelHillShooting, timeline-mu ramai dengan itu. Yang kau lakukan hanya mengutuk Amerika dan semua yang kau anggap kafir. Esoknya lagi, berubahlah isi timelinemu dengan kesukaanmu akan artis Korea. Ahay!

Ah, saya sudah jauh melenceng. Siapalah saya, belajar agama cuma sebatas bangku sekolah. Mungkin bagimu ini tulisan seorang liberal, tak peka, cenderung kafir, terserah. Tapi saya tidak mau jadi muslim musiman, yang bahkan tidak berkaca apakah dirinya sudah menjadi muslim yang baik atau belum. Akhir kata, saya ingin mengakhiri ini dengan, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” []