Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun) & M. Farid Wajdi (@aiwajdi)

Dari banyak acara berbasis kreativitas yang diadakan di Makassar, Sound.Ink adalah salah satu pilihan saya. Event tahunan ini  merupakan sebuah gelaran unjuk karya komunitas kreatif dari tim #GoAheadPeople Makassar yang tergabung dalam Beerenam yang sekarang terdiri dari Mabe (@denk_mabz), Fachri Aprianri (@paiipay_) , Ryan Pongkapadang ( @tryaans) , M. Amrullah ( @ambruklah ), dan Dhede Bangla ( @dhedebangla).

Sesuai dengan namanya, Sound.Ink konsisten “memperdengarkan” empat elemen subkultur yaitu sebuah acara pertunjukan musik, eksibisi fotografi, pameran seni rupa dari komunitas, serta kesempatan bagi beberapa brand lokal untuk mempromosikan produk mereka dalam satu tempat saja!

Untuk edisi tahun ini yang diadakan selama dua hari (29-30 Agustus 2016) di Gedung Kesenian Makassar, Sound.Ink mantap mengusung tema CreARTivity. “CreARTivity itu merupakan kombinasi dari creativity dan art, yang bila dibahasakan adalah aktivitas kreatif di suatu tempat,” ungkap Mabe yang saya temui ketika Sound.Ink creARTivity sedang berlangsung. Permainan kata Sound.Ink dan creARTivity yang cerdik ini tidak hanya catchy, tapi juga bisa membantu kita memahami  niat mulia para penyelenggara untuk membantu individu-individu atau komunitas-komunitas kreatif di Makassar dalam menampilkan karyanya dengan bangga. Mabe juga menganggap Sound.Ink menjadi ruang beraktivitas yang kreatif yang selama ini hanya konsumsi kalangan tertentu, bisa diperlihatkan secara luas di sini. “Setidaknya orang yang berkunjung maupun komunitas lainnya bisa tahu ada kegiatan kreatif seperti ini,” lanjutnya. Mabe menambahkan selain Sound.Ink yang skalanya besar, ada juga acara-acara kecil yang masih satu rangkaian dari Sound.Ink yang dibuat Beerenam seperti Ruang Tamu dan Kumpul Akhir Pekan.

Satu hal unik yang terdapat dari Sound.Ink (yang juga baru saya sadari belakangan) adalah acara ini seringkali digelar di awal atau pertengahan pekan. Bila kamu sempat melakukan kilas balik ke Sound.Ink sebelumnya, maka hari Rabu seringkali menjadi pilihan utama. Untuk edisi ini, Mabe pun menjelaskan bahwa pemilihan awal pekan tersebut juga sempat tidak diperkirakan. “Penentuan hari untuk Sound.Ink sejak pertama kali digelar, tim juga tidak setuju (diadakan di awal pekan). Lucunya, pas dapat venue, malah tidak bisa buat event pas weekend,” kenang Mabe. Akhirnya Mabe bersama tim akhirnya nothing to lose. “Mau ada yang datang atau tidak, akhirnya saya meyakinkan teman-teman bikin mi saja pas hari itu,” lanjutnya lagi. Ternyata, Sound.Ink tetap ramai didatangi terlepas dari persoalan hari tersebut. Mabe juga berpikir belakangan ini juga terlalu banyak event yang diadakan di weekend. Menurutnya, kalau Sound.Ink diadakan pas weekend, di tempat lain juga begitu, pasti tabrakan, malah jadinya kewalahan.”Ini yang ikut berpartisipasi juga setuju ji kalau ditetapkan untuk dua hari ini,” ungkapnya mantap.

Empat subkultur yang menjadi bagian Sound.Ink CreARTivity yang berlangsung sejak jam 16.00 WITA dan bebas masuk bagi siapa saja yang berumur 18 tahun ke atas. Beragam Creative Community Exhibition seperti InstaMakassar, Rumah Foto Makassar, Taman Indie Makassar, Musik Hutan, dan Typography Makassar mulai kedatangan pengunjung yang ingin menyimak hasil-hasil karya mereka. Selain itu, ada Creative Talkshow & Workshop juga digelar dengan melibatkan Musik Hutan, Frontxside, Boim (Bughats Clothes), Ian Hamzah (Trippy Culture), Typography Makassar, dan Idioteque_7 yang digelar selama dua hari dan mampu menarik minat para pengunjung untuk ikut mencari tahu apa yang dilakukan oleh para partisipan Sound.Ink creARTivity ini.

Selain komunitas dan brand lokal, ada pula talkshow untuk musik bersama Frontxside yang membincangkan perjalanan band dan video klip terbarunya, United As One.

Selain bincang-bincang bersama komunitas dan brand lokal, ada pula talkshow untuk musik bersama Frontxside yang membincangkan perjalanan band dan video klip terbarunya, United As One. (Foto: M. Farid Wajdi)

Antusiasme seperti ini membuat saya berinisiatif berbincang dengan orang-orang yang hadir dan terlibat dalam gelaran Sound.ink CreARTivity. Salah satunya, Immar yang berasal dari komunitas Instamakassar yang mengungkapkan gelaran Sound.Ink semakin berkembang dengan konsep yang diusungnya. Menurut Immar, Sound.Ink alih-alih menjadi pergerakan dan dukungan penuh untuk memperlihatkan bahwa anak-anak Makassar itu kreatif dan jauh dari perilaku negatif. Untuk InstaMakassar sendiri, Immar menjelaskan di creARTivity ini baru bisa terlibat lebih jauh, salah satu membawakan tutorial mengedit foto menggunakan gadget sebelum diunggah ke Instagram. Selain itu, Immar juga mengusulkan saran bahwa Sound.Ink selanjutnya bisa digelar secara roadshow atau bertempat di luar pusat kota.

19 stan yang berpartisipasi dalam Local Brand & Shop Exhibition juga ramai dipadati oleh pengunjung. Trippy Culture, salah satu partisipan Sound.Ink creARTivity yang menarik perhatian saya. Brand lokal yang didirikan Ian, Nyomski, dan Rijal yang awalnya sempat bernama Trippy Khaleesi (lalu berganti nama karena dulu sering disebut Trippy Keleus), menjual segala hal berbau psychedelic untuk merchandise-nya. “Walau sejauh ini merch yang paling diminati adalah baju tie dye,” ungkap Ian kepada saya. Ian juga tidak menutup kemungkinan Trippy Culture merambah ke hal-hal trippy lainnya. Selain menjual produknya, Trippy Culture juga pun diberi kesempatan untuk membagi pengalamannya dalam workshop tie dye selama acara berlangsung.

Stan local brand lainnya yang sempat saya kunjungi yaitu MMC Shop yang menjual beragam album-album musisi yang orisinal, mulai dari kaset pita hingga CD yang langka. Sofyan, sang pemilik juga mengungkapkan Sound.Ink kali ini disambutnya sangat positif karena tidak hanya berpikir tentang profit saja, tapi juga bisa bertemu dengan komunitas lainnya. “Semakin banyak partisipan yang mau ikut kalau begini, bila acara yang serupa juga rutin digelar,” ungkapnya. Selain itu, menurut Sofyan, skena kreatif lokal juga tidak hanya berputar di empat elemen subkultur yang diusung Sound.Ink creARTivity. ” Kalau memungkinkan, bagian lainnya juga mesti diangkat lagi agar dukungannya semakin optimal. Bisa yang dimulai dari event-event yang kecil dan lebih spesifik,” usulnya.

Stan-stan dari brand lokal yang berjejer di Sound.Ink creARTivity.

Stan-stan dari brand lokal yang berjejer di Sound.Ink creARTivity.

Sedangkan untuk pagelaran karya ada Photography Exhibition dari Paiipay, M. Amrullah, Mizanul Haq, Akbar Nur, M. Alfian, M. Saadduddin, Bayu Candra, Ainun Amri, Rizky Rivan, Andi Muhammad Rizal, Zeptiadi_, Almakmur, Edicom_14, Miranifahurrahman, Idioteque_7, dan Faauzireza. Ada pula Visual Art Exhibition bersama Doodlenaut, Ayief 09, dan Ridzky Kurniawan. M. Arifin dari Ayief09  yang fokus pada visual art dengan watercolor juga sempat mengungkapkan momen Sound.Ink creARTivity ini bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama dengannya. “Kalau ke depannya, bisa mengajak lagi teman-teman untuk bergabung untuk membuat komunitas watercolor,” lanjut Arifin yang bersyukur bisa terlibat di Sound.Ink cReARTivity tanpa dipungut biaya untuk pameran karyanya.

Pameran lomba poster untuk Soundrenaline 2016 juga ada di Sound.Ink creARTivity.

Pameran lomba poster untuk Soundrenaline 2016 juga ada di Sound.Ink creARTivity.

Teruntuk Music Performance  yang melibatkan sepuluh band, dua hari Sound.Ink CreARTivity dimanfaatkan untuk membagi jadwal penampilan tiap band. Addict Motion, The Rock Company, Adi Saleh, serta Makassar Rocksteady di hari pertama dan Tabasco, Frontxside (yang juga tampil dalam music talkshow di hari pertama), Speed Instinct, Dunce Dance, Ruang Baca, dan Merah Maroon di hari ke dua. Setiap band tentunya sangat percaya diri menampilkan karyanya masing-masing. Saya tidak perlu meragukan lagi untuk aksi panggung dari setiap band yang tampil di panggung Sound.Ink CreARTivity.

Hanya satu hal yang sangat disayangkan ketika band tampil adalah penonton yang belum berusia 18 tahun ke atas, tetap memaksa masuk untuk menonton. Dan, puncaknya adalah mosh pit semakin memanas saat Speed Instinct tampil di hari ke dua. Para hardcore kids yang ber-moshing ria yang awalnya hanya lingkaran kecil menjadi semakin tak terkendali. Ditambah lagi, penyelenggara melihat beberapa penonton yang belum cukup berusia 18 tahun pun memilih jalan untuk menghentikan penampilan musik karena suasana depan panggung semakin kurang kondusif. Hal ini disebabkan pula karena pihak penyelenggara dari awal sudah sepakat dengan pihak pemilik tempat acara agar tidak terjadi hal tersebut.

Speed Instinct cukup dengan dua lagu membuat mosh pit semakin liar di Sound.Ink creARTivity.

Speed Instinct cukup dengan dua lagu untuk membuat mosh pit semakin liar di Sound.Ink creARTivity.

Walhasil, Speed Instinct urung tampil hingga selesai dan berakibat Frontxside pun juga batal tampil karena bisa menimbulkan suasana mosh pit yang sama. Para penonton yang rata-rata masih ABG akhirnya berduyun-duyun meninggalkan venue, entah kecewa atau sedih karena tidak bisa lanjut menyaksikan penampilan band andalannya. Merah Maroon yang mengusung alternative pop rock pun didaulat menutup panggung musik Sound.Ink creARTivity sambil meredakan suasana depan panggung. Melihat kejadian ini, saya sempat berucap dalam hati bahwa penontonnya mesti sudah tahu aturan dari awal dan tertib mematuhi bila ada batasan umur yang diumumkan oleh penyelenggara. Semoga di Sound.Ink berikutnya tidak terjadi lagi hal yang serupa.

Merah Maroon yang tampil menutup panggung Sound.Ink creARTivity.

Merah Maroon yang tampil menutup panggung Sound.Ink creARTivity.

Dua hari gelaran Sound.Ink creARTivity tampaknya cukup sesuai dengan harapan Mabe yang ingin Sound.Ink edisi ini bisa teringat lebih lama di benak teman-teman yang terlibat dan hadir dalam acara creative community ini. Hal ini disebabkan pula dengan intensitas waktu bertemu antar komunitas bisa lebih lama. Dia pun mengungkapkan kepada saya Sound.Ink akan tetap ada, bila diberi umur yang panjang. “Sound.Ink dari dulu juga bukan ji event benefit (mencari keuntungan) karena kita tidak memungut biaya dari komunitas yang ingin terlibat, tetapi lebih kepada apresiasi untuk kreativitas anak-anak komunitas dan mereka tahu ada ruang seperti ini yang memberi kesempatan bagi mereka untuk unjuk karya,” pungkasnya.

Tim Beerenam kembali sukses mewujudkan upaya “memperdengarkan” suara-suara dari insan-insan kreatif di kota Makassar. Semua bisa menikmati, semua bisa berkreasi, dan diapresiasi oleh khalayak. Maka dari itu, sounding your creativity at Sound.Ink CreARTivity!