Foto: M. Ifan Aditya (@ifandfun)

Saya senang bisa menjadi saksi makin tumbuh dan berkembangnya komunitas kreatif di Makassar saat ini. Sejak Revius dimulai sejak Januari 2014 lalu, kontributor webzine ini seringkali kebingungan hendak menghadiri (dan me-review) event-event yang diselenggarakan oleh pemuda-pemudi harapan Kota Daeng. Kami kadang bingung sendiri karena banyaknya acara-acara menarik yang sayang untuk dilewatkan. We constantly have this “So little time, so many things to write” moment. Bentuk bingung dan pusing yang menggembirakan.

Berdasarkan kalender event kami, di bulan November sendiri ada sejumlah event menarik, salah satunya adalah Sound.Ink. Sebuah acara pertunjukan musik, eksibisi seni dan komunitas, serta kesempatan bagi beberapa brand lokal untuk mempromosikan produk mereka. Dibandingkan event dengan format festival lainnya, Sound.Ink terlihat biasa saja. Tapi bila dibandingkan dengan event berformat seminar yang mewajibkan pesertanya untuk membayar ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk mendengarkan motivasi-motivasi hidup yang bisa ditemukan secara gratis di Internet, Sound.Ink tentunya pilihan yang jauh lebih menarik dan murah!

Meski saya sempat mengatakan event yang diselenggarakan Rabu malam (26/11) lalu ini menggunakan format yang tidak istimewa, saya menemukan setidaknya 5 hal menarik dari hasil hang out saya di Kampung Popsa bersama Mabe (@denk_mabz), Saiful Irawan (@vivalabangs), Anggraini Herman (@n_ggi), tiga dari enam penggagas ide Sound.Ink 2014.

Pertama, Sound.Ink merupakan nama event yang cerdas, dibuat dari permainan kata yang cerdik. Kombinasi kata sound dan ink dengan jelas menunjukkan bahwa acara ini adalah kombinasi antara pertunjukan olah suara, vokal, dan bunyi-bunyian lainnya dengan eksibisi tinta yang berwarna-warni. Tidak hanya catchy, Sound.Ink juga berhomofon dengan kata “sounding” yang bisa diartikan “memperdengarkan”. Di sini saya menangkap niat mulia para penyelenggara untuk membantu individu-individu atau komunitas-komunitas kreatif di Makassar untuk dengan bangga “memperdengarkan“ karya-karya mereka. (ini saya contek dari sang MC kondang, Bogel, sih. nice insight, dude!)

Kedua, Saya suka kontes Make Your Own Totebag. Kontes ini berhasil menyulap Kampung Popsa yang merupakan tempat makan keluarga menjadi lokasi lomba menggambar, with adults as participants. Mantap, gan.

Ketiga, akhirnya saya tahu kalau dalam radius beberapa puluh kilometer dari rumah saya ada kelompok musik unik bernama Bhulu Ayam yang–sepertinya–beraliran metal, (don’t blame me, I don’t know shit about music). Berbeda dengan band metal kebanyakan yang liriknya banyak berteriak tentang kematian, kegelapan, kiamat dan hal-hal–yang membuat stres bila dipikirkan–lainnya, Bhulu Ayam mengangkat tema makanan. Tidak percaya, lihat sendiri di bawah ini.

Bagi yang belum pernah lihat mereka manggung, saya sarankan untuk mencari jadwal manggung mereka. Kalau mereka tidak punya jadwal manggung, ajak mereka main! kalau perlu buatkan mereka event khusus, kalau bisa ada pameran lukisannya juga ya, hehe.

Keempat, Thanks to Sound.Ink akhirnya saya bertemu secara langsung dengan sesama penyuka seni typography & hand lettering. Komunitas seni dan desain grafis di kota ini sebenarnya cukup banyak; Magic, WPAP Makassar, Komunitas DKV Makassar, Gradient dan D’Graph adalah beberapa diantaranya. Saya tidak aktif di komunitas-komunitas tersebut karena secara spesifik saya menyukai seni typography dan hand lettering. Malam itu saya bertemu (kembali) dengan Cautsar Kahvy, Dexsar Harry Anugrah, Ananda Armin Ardiansyah dan Anisa Shabrina Yunus yang moga-moga bersedia mengajarkan saya banyak hal tentang teknik seni typography dan hand lettering yang ciamik seperti ini.

How it nice would be, kalau tembok kamar saya dihiasi karya-karya sekeren ini. (foto: M. Ifan Aditya)

How nice would it be, kalau tembok kamar kamu dihiasi karya-karya sekeren ini. (foto: M. Ifan Aditya)

Typo-Makassar-Revius

Kalau umur panjang, saya mau mengangkat profil komunitas yang tergolong baru di Makassar ini. Setuju? (foto: diambil dari Instagram @Ananda_Ardiansyah)

Kelima, saya akhirnya tahu bahwa ternyata di Makassar ada komunitas kolektor sepatu Dr. Martens alias sepatu DocMart. Ketika tahu bahwa komunitas ini ada, saya langsung penasaran tentang tema obrolan mereka kalau sedang kopdar. Apakah mereka membahas tentang “cara-cara membedakan DocMart Ori dan KW”? atau “Tips menahan godaan untuk memakai sepatu DocMart meski banyak lumpur karena musim penghujan”, atau “Teknik menyemir sepatu agar selalu tampil kinclong di depan calon mertua?” Saya sungguh penasaran akan jawabannya, ada yang punya kontaknya?

Sebenarnya masih banyak hal unik dan asik yang terjadi di Sound.Ink, misalnya penampilan band-band yang tampil; Tabasco, Kicking Monday dan The Jokes, juga penampilan Myxomata yang memusikalisasi aksi Adi Gunawan dan Faisal Erlangga melakukan live painting di atas panggung. Belum lagi eksibisi dari teman-teman di InstaMakassar, Stofo dan Indonesia’s Sketcher. Banyak hal menarik lainnya terjadi di event ini, tapi kelima hal di atas yang paling membuat saya bergembira. Please, leave a comment below if you have something else to share about Sound.Ink.  

SoundInk-Myxomata-featuring-Adi-Gunawan-&-Faisal-Erlangga-Revius

Myxomata (kiri) memberi mood yang berbeda lewat ambient musiknya kepada Adi Gunawan (tengah) dan Faisal Erlangga untuk melakukan live painting show di atas panggung. Foto: M. Ifan Aditya

SoundInk-Myxomata-Revius

Ini foto Mxyomata yang lebih dekat. (Foto: M. Ifan Aditya)

Sekilas Tentang Para Penggagas Sound.Ink

Sound.Ink adalah acara yang digagas oleh enam pemuda-pemudi penuh semangat yang memiliki passion di bidang yang berbeda-beda. Saiful Irawan yang seringkali dipanggil (atau dijuluki) sebagai Saiful Mayer adalah seorang musisi yang selama bertahun-tahun telah malang-melintang di skena musik Makassar. Kepiawaiannya memainkan gitar dan menggetarkan hati wanita (lewat gitarnya, tentu saja) telah memberi melodi yang khas pada beberapa band yang sempat dan masih aktif; Fuddy Duddy, Bloody Mary, dan kini The Jokes adalah yang mendapatkan sentuhan pria langsing yang juga akrab disapa Bangs ini.

Saiful Mayer-Revius

Saiful Mayer, ladies and gentlemen. (klik gambar untuk menonton Bangs beraksi di video klip Teduhnya Nada)

Selain Saiful Irawan, ada juga Anggraeni Herman, seorang perupa yang mengaku bukan perupa karena bukan lulusan Fakultas Seni (she holds a Math degree). Apapun katanya, seorang perupa adalah yang memiliki karya seni rupa terlepas dari latar belakang pendidikan formalnya. Buat saya, dia adalah perupa, and an interesting one. silakan anda menilai sendiri dari lukisannya yang diberi judul Superbad di bawah ini

Lukisan ini diselesaikan oleh Anggi pada tahun 2013 dan dia mengaku selama hampir dua tahun lukisannya hanya "berdiam diri" di gudang. Why, Anggi? Why? (foto: M. Ifan Aditya)

Lukisan ini diselesaikan oleh Anggi pada tahun 2013  dan dia mengaku selama hampir dua tahun lukisannya hanya “berdiam diri” di gudang. Why, Anggi? Why? (foto: M. Ifan Aditya)

Sang ketua panitia, Zulmair R. Daeng Mabe adalah pentolan band Rock & Roll favorit teman-teman saya, The Jokes. Revius via Achmad Nirwan sudah pernah mewawancarai The Jokes sebelumnya jadi tak perlu lagi saya ceritakan sepak terjang band yang, literally, suka bercanda ini. Di Sound.Ink sendiri, pria tinggi semampai ini bertindak sebagai project leader (ia menolak disebut ketua panitia, saya curiga karena dia tidak menyukai istilah-istilah Orba, mungkin ya mungkin).

the jokes-Soundink-Revius

Inilah Mabe, sang project leader, yang pakai hotpants. (foto: M. Ifan Aditya)

Sebenarnya masih ada 3 orang lagi yang terlibat di acara ini yaitu Fachri Aprianri atau Pay (@paiipay_) sang aktivis InstaMakassar, Ahmad Azhraf (@aazhraf) yang memiliki passion di bidang fashion, dan Ikhsan Zulkarnain a.k.a Ican (@clowners1), seorang graffiti artist, tapi karena pada malam itu mereka kelihatan super duper mega sibuk dan saya sendiri masih agak malu-malu untuk sok akrab, kami pun tidak sempat berkenalan. Maybe next time, guys. Cheers!