Co-penulis: Brandon Hilton (@brandon_cadaver) | Foto: M. Ifan Adhitya (@ifandfun)

Acara komunitas kreatif di kota Makassar semakin beragam dilaksanakan sepanjang tahun 2016. Saking banyaknya, saya terkadang mesti memilih yang mana menarik untuk didatangi. Tentu saja, acara tersebut juga berkaitan dengan minat saya yaitu menonton gig atau konser musik. Di bulan November ini, Sound.Ink menjadi salah satu pilihan saya dari berbagai acara komunitas kreatif di kota ini. Tidak hanya merangkum salah satu minat saya, tetapi juga elemen subkultur seperti eksibisi fotografi, pameran seni rupa dari komunitas, serta kesempatan bagi brand lokal untuk mempromosikan produk mereka dalam satu tempat saja. Sekadar info, Sound.Ink pertama kali digelar pada November tahun 2014 lalu, yang berarti event ini telah diadakan dalam kurun waktu dua tahun. Waktu yang sangat berarti untuk dimanfaatkan oleh tim BeerenAm selaku inisiator Sound.Ink dalam merangkul berbagai komunitas kreatif untuk menyuarakan gagasan mereka.

Untuk kedua kalinya tahun ini, acara yang berbasis komunitas kreatif ini diadakan pada Rabu, 9 November 2016 di Sub Plaza, Jl. Boulevard F-31, Makassar. Waktu Indonesia Timur menjadi pilihan tema dan kata kolaborasi menjadi hal yang utama bagi Sound.ink edisi ini. Kolaborasi untuk Sound.Ink Waktu Indonesia Timur kali ini langsung melibatkan empat hal: musik, visual arts, fotografi dan fashion. Di Music Collaboration, Frontxside berkolaborasi dengan Speed Instinct dan Kapal Udara bersama Ruang Baca. Visual Art Collaboration akan melibatkan Doodlenaut bersama Bangs, Fashion Collaboration antara clothing brand Sadboy_club dan grup musik My Silver Lining, serta Art Installation and Exhibition dari Top Go Ahead Challenge 2016.

Saya pun menemui Mabe selaku project leader dari BeerenAm untuk berbincang tentang acara ini. Dia menganggap tema ini jangan dilihat dari perkara waktu saja, “Sebaiknya kita melihat (tema) ini sebagai pergerakan. Simpelnya, waktunya mi ini orang di bagian Indonesia Timur beraksi,” lalu menerangkan dengan mantap, “Enak sekali juga kedengaran kalo disebut Waktu Indonesia Timur dibanding Waktu Indonesia Tengah, misalnya,” tambahnya. Edisi ini terbilang istimewa untuk tim BeerenAm. Karena selain Fachri Aprianri, Ryan Pongkapadang, M. Amrullah, dan Dhede Bangla yang menjadi tim inti BeerenAm sekarang, seluruh keluarga BeerenAm yang pernah bergabung diajak untuk turut serta menyukseskan gelaran Sound.Ink penutup tahun ini. “Baik itu yang bergabung tidak sampai akhir, saya kumpulkan semua,” katanya.

“Sebenarnya juga (Sound.ink) ini, sebagai Road to ARTwarding Night,” ungkap Mabe. Ia pun menjelaskan bahwa hal tersebut sebagai apresiasi untuk teman-teman yang telah mengunggah karyanya di GoAheadPeople.com. “Karyanya itu sudah dikurasi dan ada beberapa yang telah lolos tahap selanjutnya hingga 12 finalis. Sayangnya, perwakilan dari Makassar belumpi ada yang lolos untuk 12 finalis ini,” tambahnya sambil menyebutkan 11 kota lainnya juga mengadakan event road to artwarding night yang serupa. Pada malam itu juga diputar video Artwarding Night & After Movie Soundrenaline 2016.

Berbagai karya dari 12 finalis yang ditampilkan untuk di-vote agar bisa memenangkan penghargaan pada Artwarding Night nanti.

Berbagai karya dari 12 finalis yang ditampilkan untuk di-vote di situs GoAheadPeople.com agar bisa memenangkan penghargaan pada Artwarding Night nanti.

Para pengunjung yang menyempatkan untuk berpose di booth Road to Artwarding Night.

Para pengunjung yang menyempatkan untuk berpose di booth Road to Artwarding Night Go Ahead Challenge 2016.

“Sound.Ink ini juga termasuk yang fokus ke panggung musik. Tapi, karena ini creative community event, jadi tetap harus melibatkan unsur-unsur lainnya,” kata Mabe yang menganggap Sound.Ink Waktu Indonesia Timur ini juga terbilang istimewa karena bekerja sama dengan Rock In Celebes untuk menambah performa panggung musiknya. Terbukti, Sound.Ink edisi ini yang termasuk pertama diisi oleh line-up dari luar Makassar, yaitu Rocket Rockers dari Bandung. Kuartet pop punk yang dibentuk tahun 1999 tersebut tampil sepanggung dengan Frontxside, Dead Of Destiny, Standing Forever, Makassar Rocksteady, Kapal Udara, dan My Silver Lining. Terkait dengan kolaborasinya dengan Rock In Celebes untuk satellite event-nya, Mabe melihat Rock In Celebes ini bisa mewakili semangat Indonesia Timur yang sudah dikenal luas oleh penikmat musik di Indonesia.

Sempat diguyur hujan deras sebelumnya, Sound.Ink Waktu Indonesia Timur akhirnya dimulai pukul 20.00 WITA. Dead Of Destiny menjadi pembuka panggung Sound.Ink kali ini. Ada yang menarik saat kuartet Metalcore asal Makassar ini tampil sebagai pembuka, selepas lagu pertama dibawakan, acara sempat terhenti sementara karena venue sudah penuh sesak dan area penonton terlihat kurang teratur. Setelah panitia acara memberi jeda dan area penonton sudah bisa diatur, Dead Of Destiny kembali melanjutkan untuk membawa lagu kedua, walau kembali crowd di area moshpit semakin memanas dengan headbanging dan moshing. Dengan melihat situasi dan kondisi serta durasi, Dead Of Destiny akhirnya hanya bisa membawakan 3 lagu. Pecah! Istilah kekinian yang cocok mendeskripsikan penampilan Dead of Destiny.

Rico, vokalis dari Dead Of Destiny seolah memberi komando untuk para headbanger memanaskan mosh pit Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Rico, vokalis dari Dead Of Destiny seolah memberi komando untuk para headbanger memanaskan mosh pit Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Setelah Dead Of Destiny, giliran Frontxside yang membakar panggung. Kuartet hardcore asal Makassar ini membuka penampilan dengan Para Pencari Kerja dan Blood And Victory.  Kolaborasi yang digaungkan oleh Frontxside bersama Speed Instinct di akun media sosialnya, akhirnya betul-betul terjadi di panggung Sound.Ink. Speed Instinct naik ke panggung untuk membawakan Revolusi milik Frontxside dengan aransemen khas mereka. Lagu What Is Justice milik Speed Instinct kemudian menjadi lagu selanjutnya yang dieksekusi habis-habisan dengan gaya Frontxside. Kolaborasi yang menarik dengan membawakan lagu dari band masing-masing dan tetap mempertahankan cirinya. Tensi depan panggung semakin naik dengan dibawakannya lagu Jump Around milik House Of Pain. Kevin-X Leo dari Speed Instinct yang melontarkan rima dari lirik lagu tersebut dan karakter vokal yang kuat dari Indhar Frontxside, ditambah lagi aransemen yang benar-benar di luar perkiraan, Jump Around berhasil membuat semua yang berada di area moshpit melompat dan menggila. Jujur saja, kolaborasi ini termasuk yang paling trengginas di antara beragam kolaborasi tersebut. Mabe juga menjelaskan penampilan dengan massa panggung yang paling banyak ini juga sudah diantisipasi oleh pihak Beerenam dengan memainkannya lebih awal.

Kevin X-Leo bersam Indhar beraliansi dalam membakar semangat para penggila mosh pit saat Frontxside tampil berkolaborasi dengan Speed Instinct di Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Kevin X-Leo bersama Indhar beraliansi dalam membakar semangat para penggila mosh pit saat Frontxside tampil berkolaborasi dengan Speed Instinct di Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Setelah moshpit yang seolah memuncak dengan kolaborasi musik tersebut, Makassar Rocksteady menjadi penampil berikutnya membawakan musik rocksteady andalannya. Meredakan sekaligus menyejukkan depan panggung Sound.Ink untuk mengajak penonton untuk berdan-ska ria serta mengoyangkan tubuh sejenak mengikuti tiupan trombone dan saksofon yang bersahut-sahutan. Kelompok yang cukup komplit ini dengan tujuh orang di atas panggung ini, sukses membuat penonton termasuk saya ikut mengerakkan badan mengikuti hentakan irama rocksteady yang mereka bawakan. Tak pelak, nuansa musik rocksteady yang saya kenal setelah mendengar The Skatalites ini membaur atmosfer panggung dengan menawan.

Makassar Rocksteady menyejukkan panggung SoundInk Waktu Indonesia Timur dengan lantunan musik rocksteady-nya.

Makassar Rocksteady menyejukkan panggung SoundInk Waktu Indonesia Timur dengan lantunan musik rocksteady-nya.

Di sela-sela penampilan panggung musik tersebut, saya sempat memerhatikan stan-stan yang ada di sekitar area panggung seperti stan kolaborasi visual art antara Doodlenaut dan Bangs yang menggabungkan antara doodling dengan t-shirt. Promosi untuk kolaborasi ini juga sempat saya lihat di media sosial dengan mengajak bagi yang ingin berminat di-doodling kaosnya, silakan membawa baju t-shirtnya sendiri. Saya pun menemui Idam, salah satu anggota komunitas Doodlenaut untuk berbincang tentang kolaborasi tersebut. “Kolaborasinya sudah ditentukan sama panitia. Ini pertama kali juga bisa berkolaborasi, lumayan excited juga,” kata Idam sambil menunjukkan kepada saya tentang doodling menggunakan Giotto, spidol khusus untuk kaos. “Sejauh ini sudah ada tiga kaos yang jadi kita doodling selama acara,” terang Idam yang juga menyenangi sajian musik untuk Sound.Ink edisi ini. Idam juga menuturkan harapan untuk Sound.Ink berikutnya.”Dibuatkan acara khusus untuk visual art, termasuk doodling ini dan bentuk kolaborasinya bisa bersama anak-anak muda yang senang dengan visual art di Makassar,” ungkapnya sambil mengajak teman-teman yang berminat, bisa berkumpul dengan komunitas Doodlenaut yang sering nongkrong di Pasar Segar.

Selepas berbincang dengan Idam, saya lalu fokus untuk menikmati pertunjukan musik Sound.Ink selanjutnya yang ditampilkan oleh Kapal Udara. Kelompok musik folk asal Makassar ini tampaknya semakin rajin ‘mengangkasa’ di panggung-panggung musik Makassar. Kapal Udara masih setia membawakan lagu-lagu mereka yang diberi judul cukup unik: Menari, Melaut, dan Menanam. Walau repertoar mereka masih itu-itu saja, penampilan panggung mereka selalu mengundang tepuk tangan penonton. Kapal Udara memberi kegembiraan dan euforia tersendiri di panggung Sound.Ink kali ini. Seorang teman di samping saya yang juga menonton sempat bilang,”kutunggu albumnya ini band keluar, bagaimana nanti soundnya itu di’?”

Di luar penampilan yang ‘mengangkasa’ itu, saya sempat mengira Kapal Udara bakal berkolaborasi dengan Ruang Baca di penghujung penampilannya, yang berarti tinggal mengajak Viny, sang vokalis untuk naik ke panggung. Ternyata Kapal Udara fixed untuk berkolaborasi dengan My Silver Lining. Di balik rencana  berkolaborasi dengan My Silver Lining, alih-alih juga urung dilaksanakan. Saya pun tidak melihat penampakan para personil My Silver Lining selama berlangsungnya acara.

Kapal Udara saat tampil dengan repertoar musik folknya di Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Kapal Udara saat tampil dengan repertoar musik folknya di Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Standing Forever menjadi penampil selanjutnya di panggung Sound.Ink. Momen yang terbilang istimewa karena kuartet pop punk ini terbilang jarang tampil belakangan ini, dan juga urung tampil di Music For Brighter Day Vol. 7 pada 6 Agustus 2016 lalu. Alhasil, menantikan penampilan mereka setelah sekian lama, berarti menawarkan hal yang segar untuk disimak. Membawakan lagu terbaru mereka bertajuk No Name Street dan Sampai Saat Habis di Akhirmu, Standing Forever tampil memukau dengan lagunya walau penampilannya perlu lebih atraktif lagi. Band Pop punk asal Makassar ini yang sekarang mantap digawangi Ryan (vokal/gitar), Iman (bass/vokal), dan Petra (drum/synth) malam itu dibantu oleh Dennis dan Mawan dari Speed Instinct untuk mengisi gitar.

Standing Forever sukses membawakan dua lagunya di panggung musik Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Standing Forever sukses membawakan dua lagunya di panggung musik Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Rocket Rockers yang didaulat menjadi penampil terakhir di Sound.Ink kali ini menjadi penampil yang paling ditunggu-tunggu para penikmat musik yang masih setia di area Sound.Ink. Penampilan Aska (vokal/gitar), Bisma (bass), Lowprocks (gitar) dan Ozom (drum) sukses mengajak penonton untuk ber-sing along dan merapat ke bibir panggung untuk menyanyikan lagu-lagu mereka seperti Bangkit, Ingin Hilangan Ingatan, dan Reuni. Penampilan Rocket Rockers yang mantap itu tentu saja mendapatkan tepuk tangan yang luar biasa, bahkan untuk saya sekalipun yang kurang menyukai tema lirik-lirik  mereka. Rocket Rockers bisa menyuguhkan penampilan yang matang dan mengemasnya dengan apik. Saya pun sempat berpikir tentang penampilan Standing Forever sebelumnya yang juga mengusung musik  pop punk seperti Rocket Rockers. Apabila Ryan cs. bisa konsisten tampil dan menghibur seperti penampilan Rocket Rockers, bukan hal yang tidak mungkin bagi Standing Forever bisa diapresiasi sama besarnya oleh penikmat musik Makassar. Semoga bisa terjadi di waktu berikutnya.

Rocket Rockers menjadi salah satu penampil yang paling ditunggu-tunggu oleh para penikmat musik yang hadir di Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Rocket Rockers menjadi salah satu penampil yang paling ditunggu-tunggu oleh para penikmat musik yang hadir di Sound.Ink Waktu Indonesia Timur.

Mabe dari BeerenAm sempat mengungkapkan bahwa dengan ada Rocket Rockers hadir di Sound.Ink edisi ini bisa membawa cerita ke seluruh Indonesia, “Saya berharap mereka bisa bercerita nantinya bahwa Makassar punya talenta yang luar biasa.” Dia pun melanjutkan bahwa Rock In Celebes yang mengundang Rocket Rockers untuk tampil malam ini. Sound.Ink memberi support untuk Rock In Celebes, begitupun sebaliknya.

Mabe menuturkan pula bahwa Sound.Ink kali ini termasuk yang luar biasa karena dukungan dari seluruh tim BeerenAm maupun simpatisan “Mulai dari membantu barikade di depan, me-sterilkan area, hingga mendukung kegiatan komunitas kreatif tetap berjalan lancar, saya berterima kasih sekali kepada mereka.” Saya pun sempat bertanya kepada Mabe bagaimana rencana untuk Sound.Ink selanjutnya, “Harapan untuk Sound.Ink bisa ada terus, tentu tergantung dari timnya, selepas dari tim yang sekarang, kalau misalnya mau memakai nama tersebut atau tidak, silakan. Itu bisa membuat keluarga BeerenAm ini semakin besar,” ungkapnya.

Terlepas dari beberapa bagian acara yang saya tidak sempat menyimak seperti workshop bersama Ardy Chambers dan Latte Art Jam dan juga penampilan kolaborasi My Silver Lining dan Kapal Udara, saya bisa menyimpulkan bahwa Sound.Ink edisi ini bisa mewujudkan kata kolaborasi menjadi nyata. Mulai dari kegiatan hingga panitianya juga melakukan kolaborasi. Sound.Ink yang dibangun dengan semangat kebersamaan komunitas kreatif tentunya menjadi momen yang tepat untuk berkolaborasi. Oleh karena itu, ada baiknya Sound.Ink tetap diadakan supaya suara-suara dari insan-insan kreatif di kota Makassar bisa terus ‘diperdengarkan’.  Semua bisa menikmati, semua bisa berkreasi, dan diapresiasi oleh khalayak. So, what are you waiting for. Come on, Sound.Ink your community creation!