Oleh: Imam Rahmanto ( @imam_rahmanto ) | Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Marry Your Daughter milik Brian McKnight mengalun lembut di telinga saya. Menimbulkan haru dan mupeng bagi saya. Batin saya tergelitik hingga membuat tersenyum (cengar-cengir) sendiri. Di akhir, terkadang akan menimbulkan efek *menghembuskan napas panjang*. #glek

Dari judulnya saja, orang sudah bisa menebak arah lagu ini. Tentu tak jauh dari melamar seorang gadis untuk menikah. Liriknya yang sederhana dan mengalir santun, apa adanya, justru membuat saya terenyuh dan masam-mesem sendiri, sembari membayangkan bahwa si lelaki adalah diri saya, kelak, ketika mendengarnya.

Siapapun (baca: pada umumnya) lelaki di dunia ini, tentu ingin seperti itu. Hanya, terkadang harus menunggu waktu yang tepat (sambil menyiapkan perbekalan). Jangan-jangan, ketika mengajukan “proposal” semacam itu kepada ayah si gadis, kita justru ditanya balik, “Seberapa mampu kamu membahagiakan anak saya?”

Kalau pertanyaan semacam itu, nampaknya ada banyak jawaban yang bisa dipertimbangkan argumentasinya. Dari yang biasa-biasa saja, hingga pernyataan yang di-puitisasi. Kalau nekat, bisa juga dengan menyanyi di depan ayahnya… Pertanyaan tersebut mendasar dan mungkin hanya butuh sedikit ketegasan dari si laki-laki.

Akan tetapi, kalau pertanyaannya sudah lebih spesifik, menjurus, “Apa yang kamu punya untuk anak saya?” atau “Apa pekerjaanmu?” atau “Berapa gajimu?”, atau sampai pada pertanyaan yang lebih menohok, “Kamu punya mahar berapa untuk menikahi putri saya?” sembari sang ayah merincikan “harga-penebusan” untuk anaknya. #telan ludah sendiri

Mungkinkah suatu hari nanti, peraturan pemerintah atau pun adat, atau pun yang lainnya, cukup mematok pernikahan dengan mahar “Seperangkat Alat Shalat, dibayar tunai”? Tak perlu ditambahi macam-macam dengan seperangkat kendaraan mewah, sepetak sawah, hingga segepok uang tunai.

Tentang pernikahan, tak semudah orang membahasakan “suka-sama-suka”. Tak segampang memadu janji “asalkan-kau-cinta”. Tak segombal layar tivi yang selalu berucap “hanya berbekal cinta” untuk bisa menikahi gadis pujaan. Bahkan tak seindah yang selalu dibayangkan perempuan di luar sana, bahwa ia akan menunggu, dan laki-laki (yang katanya didamba dan dipujanya) akan datang melamarnya.

Perihal bertemu dengan keluarga dan membuat komitmen itu yang harus dipikirkan matang-matang bersama, karena bakal dipikul berat-berat di kemudian hari. Bahkan, perihal “hope to marry her” belum tentu berbuah persetujuan, sekalipun dari si gadis sendiri.

Seandainya saja ada banyak perempuan yang dengan mudah mengucap,

“Tak perlu berpikir tentang pekerjaan atau kehidupan kita kelak, asalkan aku bisa selalu mendampingimu dalam susah ataupun senang,”

Dan menentang banyak syarat yang diajukan ayah dan ibunya yang kebanyakan memberatkan, maka betapa bahagianya hidup lelaki. Sungguh, kata-kata itu layaknya air es yang menyirami keragu-raguan di hati setiap laki-laki.

Tunggu, pada kenyataannya itu juga belum cukup! Persetujuan dan komitmen yang dibuat dengan si gadis tak selalu cukup untuk mengajukan “proposal”. Karena kalaupun ada, orang tua si gadislah yang akan menuntut dan (lagi-lagi) akan menghujani lelaki dengan pertanyaan tadi. Ck…sungguh kehidupan tak lurus-lurus amat. Kehidupangnga’.

Disadari atau tidak, memang, tuntutan orang tua itu demi melihat anaknya berbahagia. Padahal, rasa sayang orang tua terkadang amat berlebihan hingga melewati batas standar yang diinginkan anaknya sendiri. Bukannya yang berlebihan memang selalu tak baik ya?

Hm…lirik lagu itu pas memprediksi apa yang akan dialami seorang lelaki. Mengajukan “proposal” hidup kepada ayah si gadis pujaan. Entah ditolak atau diterima. Kok, langsung ingat sama proposal skripsi, ya? -_-”

Untuk seluruh lelaki di dunia, mari mendambakan kisah yang sederhana nan bermakna. Menyatukan hati amat dekat namun tak bersyarat muluk. Mempersiapkan bekal yang tentunya butuh waktu, entah seberapa lama. Hm…kita menginginkan yang sederhana. Sesederhana kita mengucap,

“Om, Mau ka lamar anak ta. Boleh ji?”