Sumber Gambar: DC Entertainment & Warner Bros Pictures

Film-film bertema pahlawan super sebenarnya bukan hal baru dalam industri perfilman Hollywood. Namun baru beberapa tahun belakangan ini (menurut saya sejak film Iron Man tahun 2008), didominasi oleh kisah-kisah manusia berkekuatan super diadaptasi dari komik yang mulai digandrungi masyarakat. Mungkin salah satu alasannya adalah zaman serba canggih seperti sekarang. Industri film sudah bisa mewujudkan adegan-adegan heroik, kostum-kostum yang realistis dan sebagainya yang membuat penggemar-penggemar yang awalnya hanya membacanya di komik dan sebatas visual dan percakapan dalam bubble dialogue saja. Sekarang, sudah bisa melihat superhero favoritnya dalam bentuk film.

Mengenai film superhero, banyak rumah produksi komik bekerja sama dengan rumah produksi filmnya  yang berhasil mengadaptasi komiknya ke layar lebar. Sebut saja Dark Horse dengan Hellboy (2004), Image Comic dengan Spawn (1997), Mirage Comic dengan Tenage Mutant Ninja Turtle (2014) dan lain-lain. Namun bisa dikatakan Marvel dan DC Comics lah yang mendominasi persaingan ini. Semua bisa dilihat dua rumah produksi tersebut tidak hanya mendominasi di komik atau film saja. Mereka juga sudah melebarkan ekspansi mereka ke dunia game hingga animasi.

Pada tanggal 3 Agustus lalu, film Suicide Squad dari DC Comics akhirnya tayang serentak di bioskop-bioskop. Suicide Squad sebenarnya bukan film tentang pahlawan super, tetapi kumpulan penjahat super yang digunakan pemerintah untuk melawan penjahat lainnya. Ibarat melawan api dengan api. Secara pribadi, saya termasuk orang yang antusias menyambut film ini. Alasan utamanya adalah karakter Joker, karena saya lebih menyukai karakter penjahat dalam kisah pahlawan super. Kedua, walau bukan fans berat untuk rumah produksi komik tertentu, saya termasuk orang yang menikmati semua produksi komik, film, animasi ataupun game. Dengan melakukan itu, saya berada di posisi netral dan bebas dari masalah saat para fansnya terjebak dalam debat tanpa ujung tentang siapa yang lebih baik.

Dan, pada 3 Agustus kemarin pula, saya menonton Suicide Squad. Setelah menyaksikan film arahan David Ayer dengan durasi dua jam tiga menit ini, Suicide Squad bisa membaurkan rasa takjub dan kekecewaan saya. Oleh karena itu, ada tujuh hal menurut saya yang menyebabkan film ini memukau hingga biasa saja.

1. Efek domino “No Jokes Policy” setengah hati

DC Comics yang terkenal membuat film superhero mereka terkesan noir, sepertinya sedikit demi sedikit telah dikurangi. Menurut artikel yang saya baca, sebagian bermula pasca film Batman Versus Superman (BvS) : Dawn of Justice (2016). Kevin Tsujihara, si CEO Warner (pihak yang bekerjasama dengan DC) kecewa akan kritik yang bisa saja menurunkan pamor mereka. Akhirnya, teruntuk Suicide Squad dibuat lebih ceria. Hal itu berakibat dalam prosesnya film ini harus take ulang untuk beberapa adegan dan perubahan-perubahan menit terakhir.

Semua masalah itu seperti tersampaikan dalam film. Sesuai yang saya rasakan, sebenarnya dalam 20-30 menit pertama alur filmnya cukup menarik namun setelahnya semua sedikit membingungkan. Banyak perpindahan adegan yang cepat, beberapa seperti tanpa penjelasan sama sekali. Rasanya sayang sekali antusias tinggi tidak terbayar tuntas.

2. Pada Harley Quinn, ku berserah diri

Salah satu yang saya suka dari film ini adalah chemistry antar pemain sungguh terlihat juga latar belakang karakter-karakter yang dibangun dan dijelaskan begitu jelas. Menurut saya bagi penonton yang tidak mengikuti komiknya pun jadi bisa ikut mengetahui siapa saja karakternya.

Salah satu karakter yang paling menarik perhatian adalah tokoh Harley Quinn. Margot Robbie memerankan tokoh ini dengan sangat apik. Namun di sisi lain saya jadi merasakan film ini terlalu bergantung dan mengeksploitasi tokoh ini sehingga menutupi keberadaan tokoh lainnya yang bagi saya diperankan dengan tidak kalah apik. Jadi, bisa dibilang Harley Quinn adalah malaikat penyelamat film ini.

3.  Awkward scene yang terulang

Dalam film ini ada adegan yang membuat saya mengerutkan dahi sembari berbicara dalam hati: Begituji? Mengingat adegan itu terjadi setelah disuguhi adegan pertarungan sengit. Saya jadi teringat dengan awkward scene pada film Batman vs. Superman di mana pertarungan sengit antara Batman dan Superman berakhir begitu saja karena sebuah nama. Yep, rasanya sama.

4. Soundtrack

Bohemian Rhapsody dari Queen (walau dinyanyikan ulang oleh Panic! at The Disco), Twenty One Pilots dengan lagu barunya, Heathens, dan juga Eminem dengan Without Me. Soundtrack mana lagi yang kau dustakan?

5. Cameo dua pahlawan

Walaupun hanya sebentar, ada dua cameo yang muncul dalam Suicide Squad. Menurut saya cameo-nya bukan sekedar “tim hore” saja. Mereka memegang peranan penting dalam membangun alur cerita bagaimana awal para penjahat ini bisa berada satu “rumah”.

6. After Credit Scene adalah kunci!

Setiap film adaptasi dari komik Marvel sudah seperti keharusan penonton untuk tinggal setelah filmnya habis. Menunggu dengan sabar melihat susunan panjang credit title karena tahu akan ada after credit scene yang berisi petunjuk untuk film selanjutnya.

Trend yang dilakukan Marvel sepertinya mulai menginspirasi DC untuk melakukannya pada film Suicide Squad. Pada film ini memiliki satu adegan after credit scene yang seperti petunjuk untuk mengalihkan kekecewaan saya dengan DC. Saya menjadi lebih antusias menunggu film-film berikutnya.

Ya, after credit scene adalah kunci.

7. Dua sisi marketing

Sebelum filmnya tayang, begitu banyak strategi marketing yang dilakukan Warner ataupun DC untuk mempromosikan film ini. Mulai dari foto-foto behind the scene, foto-foto still dari adegan, sticker Facebook, website yang memungkinkan kita untuk membuat avatar serupa poster filmnya. Belum lagi trailer dan potongan-potongan adegan yang dibagi. Tidak bisa dipungkiri semua itu berhasil menarik perhatian dan antusiasme untuk menontonnya.

Akan tetapi, siasat marketing yang total seperti Suicide Squad ini di sisi lain bisa menjadi senjata makan tuan. Begitu banyak promosi bisa saja membuat jenuh. Begitu banyak potongan-potongan adegan yang di trailer film adalah adegan krusial di filmnya. Sehingga, unsur “kejutan”nya terlanjur hilang. Walhasil, Suicide Squad menjadi kisah pasukan penjahat yang tidak mematikan lagi untuk disimak.

Saya tidak bisa menggerutu agar taktik marketing mereka diubah. Namun dari film ini, saya belajar sesuatu. Saat film favoritmu akan tayang, yang harus kau lakukan adalah menghilangkan niat untuk melihat trailer film tersebut. Walau sedang heboh dan terakhir tidak terlalu menaruh ekspektasi tinggi.

Karena film selanjutnya, saya tak mau kecewa lagi.

suicide-squad-movie-2016-poster_ReviusSuicide Squad | Sutradara: David Ayer | Tahun: 2016|  Genre: Action, Comedy| Negara: USA | Rating : 2 / 4 Bintang

Baca tulisan lainnya

Kisah Pembangunan Mall di Serpong

Lima Film Berwajah Islam Layak Tonton di Bulan Ramadan

Kisah Laila yang Belum Pernah Diceritakan

Perlawanan Seorang Sastrawan Sosialita

Komedi yang Dibatasi Konklusi Sendiri

Kisah Pemuda yang Berpikir Dirinya Berasal dari Bira

Pulau Buru Tanah Air Beta, Ketika Monumen Memori Berkisah

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016