Teks: Aswan Pratama | Foto: Panitia FSAI 2018

Perfilman di Indonesia Timur khususnya Sulawesi Selatan, sedang bergeliat. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya film-film produksi Sulawesi Selatan yang bercerita tentang budayanya sendiri. Film-film tersebut pun tayang di bioskop dalam skala Nasional. Sebut saja Uang Panaik, Bombe’, Sumiati, 1 Cinta di Bira, hingga dua versi Silariang.

Atau film-film karya sineas yang membawa nama Makassar ke kancah internasional seperti film pendek Adoption (2013) karya Andrew Parinussa yang sukses menjuarai festival film internasional di Jepang. Juga Sepatu Baru (2014) karya Aditya Ahmad yang memenangkan penghargaan Film Pendek Terbaik kategori Generation KPlus di sebuah Festival Film di Berlin, Jerman.

Tidak peduli film-film tersebut berhasil meraih kesuksesan dari jumlah penonton, keuntungan di pasar tayang atau tidaknya di bioskop nasional. Sebab, kesuksesan perfilman ini sepatutnya dilihat dari bagaimana karya-karya ataupun tema-tema Sulsel berbicara banyak di kancah nasional ataupun internasional.

Pada tanggal 27-28 Januari 2018, Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI 2018) kembali digelar serentak di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar termasuk Makassar.

Di Makassar, FSAI digelar di XXI Trans Studio. Saat tiba di lokasi penayangan, saya sudah melihat antrian juga keramaian photobooth FSAI. Kegiatan dibuka dengan pemutaran film-film dari Finalis Kompetisi Film Pendek FSAI 2018 dari berbagai daerah seperti Padang, Solo, Yogyakarta, Bekasi dan Tangeranpg. Judul film yang diputar: Amak (Ibu) karya  Ella Angel, The Last Day Of School karya Satria Setya Adhi Wibawa, The Letter karya Febrian Andhika, Rep-repan karya Amriy Ramadhan, Pranata Mangsa (Sign Of The Season) karya Nindi Raras, dan Tuwaga (Under Wraps) karya Ibnu Hasan.

Selain enam film dari finalis yang akan dinilai pada malam puncak FSAI 2018 di Jakarta tersebut diputar pula film pemenang kompetisi tahun lalu Nunggu Teka karya Mahesa Desaga.

Selanjutnya, diadakan pemutaran film Melawan Takdir yang ditayangkan khusus untuk undangan. Studio saat itu hampir terisi penuh, hanya terlihat satu-dua kursi kosong saja. Di antara undangan, terlihat beberapa tokoh hadir sebagai penonton seperti Konjen Jepang, jajaran pemain film Melawan Takdir, politikus, hingga kerabat-kerabat dari sutradara, Quraishy Mathar.

Festival film di Makassar selalu disambut antusias.

Menurut zine yang dibagikan, film ini bercerita tentang kisah Alumnus Australia Prof Hamdan Juhannis dari Mallari, Sulsel. Film ini menceritakan tentang ibunya, seorang janda bernama Medina.

Ada sedikit uneg-uneg setelah menonton film ini. Sebagaimana yang diungkapkan sutradara bahwa riset untuk film ini sangat mendalam. Tapi, film ini malah seperti kesulitan mencari fokus tokoh yang ingin diceritakan.

Menurut sinopsis yang saya baca, film ini akan menceritakan tentang Medina ibu dari Prof. Hamdan, akan tetapi saya seperti kehilangan detail-detail emosi yang seharusnya tersampaikan ke penonton. Adegan didominasi tentang Hamdan. Sehingga, perjuangan Ibu Medina sebagai tokoh yang membawa anaknya sukses tidak begitu tergambarkan. Apalagi, pada adegan saat nenek Hamdan wafat ada narasi yang mengatakan Ibu adalah tiang tapi nenek adalah penyangganya. Sedangkan sepanjang film dominan menampilkan Hamdan. Menambah kebingungan inti film ini sebenarnya ingin fokus mengarah atau menggambarkan autobiografi siapa.

Konjen Australia untuk Makassar, Richard Mathews, foto bersama pengunjung di FSAI 2018

Di luar hal tersebut, film ini cukup menginspirasi. Tetap ada sisipan pesan-pesan bagaimana kita bisa mengubah takdir kita ke arah yang lebih baik dan mencapai apa yang terlihat mustahil. Melawan Takdir juga cukup menghibur penonton dari adegan yang mengundang tawa, soundtrack, juga hal-hal teknis lainnya. Kegiatan hari pertama ditutup dengan sesi tanya jawab antara penonton kepada sutradara.

Hari kedua FSAI 2018, diisi pemutaran beberapa film karya sineas-sineas Australia. Di antaranya : Dance Academy karya Jeffeey Walker, Red Dog : True Blue karya Kriv Stenders, Rip Tide karya Rhiannon Bannenberg, dan Ali’s Wedding karya Jeffrey Walker. Dan satu film karya sineas Indonesia yaitu Marlina The Murderer In Four Act (Mouly Surya).

Antusiasme untuk pemutaran hari kedua bisa dilihat dari tiket yang telah habis bahkan sebelum FSAI dimulai.

Secara keseluruhan, FSAI adalah hal yang menyenangkan, membanggakan, dan bisa menjadi salah satu tolok ukur harmonisnya hubungan Australia dan Indonesia. Apalagi tahun ini ada sineas dari Indonesia Timur khususnya Sulawesi Selatan. Diwakili oleh Quraishy Mathar yang juga mengangkat kisah alumnus Australia.

Semoga melalui FSAI, sineas-sineas dari Australia dan Indonesia bisa saling bertukar pemahaman tentang negara, budaya, dan sebagainya. Bisa mempererat ikatan kerja sama dan menciptakan karya-karya di bidang-bidang lainnya. Juga bisa memicu karya sineas-sineas Indonesia khususnya bagian Timur untuk lebih bergaung lagi.

Sampai jumpa FSAI tahun depan!