oleh: Accang Santiago (@AccangStupidea) | Ilustrasi: Tristania Indah W. (@tristaniaindah)

Kisah kemenangan kaum lemah melawan yang kuat selalu lebih menggoda. David melawan Goliath terus diproduksi melalui acara motivasi nan menye-menye di televisi, akun media sosial, maupun di buku-buku. Kemasan yang lebih seksi dari peran tomboy Scarlett Johansson atau tingkah congkak Jhonny depp. Padahal, inti cerita inspiratif itu sungguh sederhana. Cukup menggunakan logika sulap: Jika kamu begini, maka akan jadi begitu. Lantas, sebagai kenyataan, benarkah sesederhana demikian?

Suatu malam, di sebuah warung, saya menikmati makanan dan satu acara televisi. Acara tersebut menampilkan seorang gadis sembilan tahun, dengan mata juling dan penglihatan tidak normal, bernyanyi sambil memainkan piano. Seusai satu lagu, penonton bertepuk tangan. Tiga pembawa acara memuji penampilan gadis itu. Mereka pindah ke sofa, duduk bersama ibu si gadis. Mulailah wawancara; sejak kapan suka bernyanyi, sejak kapan belajar dan pintar main piano, dan seterusnya.

Si gadis dengan riang menjawab setiap pertanyaan. Seorang pembawa acara, laki-laki, yang paling banyak tanya, selalu menampakkan raut dan nada terharu. Termasuk saat menanyai ibu si gadis soal kesehariannya merawat anak difabel. Laki-laki itu berusaha memancing rasa haru penonton.

Pernah juga, di kamar kost teman, melalui stasiun televisi berbeda, seorang pembawa acara kontes menyanyi mewawancarai satu peserta. Si pembawa acara, laki-laki, menanyai kehidupan perempuan itu. Awalnya, suara laki-laki itu biasa saja. Setelah si perempuan menceritakan kehidupannya, suara laki-laki itu berubah sendu. Kamera menyorot semakin dekat, terfokus kepada mereka berdua. Suara si lelaki pelan, rendah, dan lebih berat dari sebelumnya. Mukanya perlahan murung. Ia juga (berusaha) mengundang rasa haru penonton.

Kedua acara televisi itu ingin menyampaikan hal yang sama: tokoh mereka hidup menderita, banyak kekurangan, dan sengsara, tapi bisa tampil di televisi, mendapat ramai tepuk tangan, dan terkenal—untuk beberapa menit. Tayangan seperti itu sedang laris. Sama dengan acara-acara motivasi, off air maupun on air.

Kita memperlakukan kisah-kisah seperti itu sangat lebay. Sama saat menafsirkan kemenangan David (Daud) melawan Goliath sebagai bukti, seperti jawaban gadis di acara yang pertama, “tidak ada yang tidak mungkin.”

Sayangnya, kalimat gadis itu hanya jargon yang berakhir haru dan kagum sesaat. Sebatas menimbulkan simpati. Seperti jargon-jargon lain yang banyak digunakan para motivator; kosong, tidak menjelaskan proses. Bahkan berujung “Tuhan selalu membela kaum yang lemah.”

Gladwell, melalui buku terbarunya, terbit pada 2013, memberi kita penjelasan rasional cara orang-orang menghadapi kekurangan/kelemahan. David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants, judulnya. Versi terjemahan bahasa Indonesianya, David dan Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa.

Malcolm Gladwell mengantar pembaca dengan cerita kemenangan si pengembala (David) atas si raksasa (Goliath). Goliath menghadapi David dengan seragam dan senjata perang lengkap; baju zirah besi yang berat dan besar, helm perunggu, lembing, tombak, dan pedang. David hanya membawa tongkat gembala dan tas sandang berisi kerikil yang dipungut di jalanan. Pengembala menang setelah kerikil yang dia lontarkan menggunakan ketapel, mengenai dahi si raksasa yang tak terlindung.

Ini kelemahan Goliath. Dia tidak mampu mengikuti gerakan David karena bajunya yang berat. Dia juga menderita akrogemali, sejenis tumor yang menyebabkan diplopia (penglihatan ganda). Goliath tak mampu memastikan posisi David. Hal paling penting dari kemenangan David adalah kelenturannya. Dia tidak mau mengikuti aturan perang konvensional, melainkan berpikir tentang strategi.

Perkenalkan, pria asal Mumbai, Vivek Ranadive. Dia tak pernah bermain bola basket, namun mampu membawa satu tim bola basket putri hingga ke kejuaraan tingkat nasional. Pemain-pemainnya rata-rata berusia dua belas tahun. Enam orang, termasuk putrinya, belum pernah bermain bola basket. Hanya dua yang serius memainkan olahraga itu. Mereka mewakili Redwood City.

Mereka underdog. Ranadive paham, memainkan strategi yang biasa (menyerang lalu menerima serangan) tidak akan memberi kemenangan. Dia melatih timnya memainkan full-court press—menghadang lawan supaya tidak membawa bola maju—sepanjang pertandingan. Ranadive keluar dari pakem permainan bola basket.

Meski kalah di babak ke tiga kejuaraan nasional, Redwood City memberi satu bukti kekuatan proses dan strategi. Di bab yang sama dengan kisah Ranadive ada cerita T.E. Lawrence memimpin suku-suku Badawi mengalahkan tentara modern Turki.

Contoh kisah yang lain begitu banyak. Ada David Boies, seorang pengidap disleksia (orang dengan kesulitan membaca), kini merupakan pengacara terkenal di Amerika, bahkan dunia. Gary Cohn juga pengidap disleksia. Sekarang dia Presiden Goldman Sachs. Sementara Emile “Jay” Freireich, Dokter kanker yang harus kehilangan ayahnya saat kecil. Dia hidup menderita dan miskin, ditambah kebencian terhadap ibunya.

Boies bisa menjadi pengacara terkenal karena kemampuannya mendengar dan memahami sangat teliti. Gary Cohn, berbekal kenekatan, menjadi si pengambil resiko. Hidup membentuk karakter Freireich menjadi pemberani dan blak-blakan. Karakter itulah yang menjadikannya ahli kanker.

Cara yang sangat cerdik menghadapi kesukaran ditunjukkan oleh Wyatt Walker. Wyatt Walker merupakan aktivis anti-diskriminasi di Birmingham, Alabama. Anggota gerakan Martin Luther King Jr. Dia mengorganisir sejumlah demonstrasi dan yang paling menentukan pada 3 Mei 1963.

Lagi-lagi soal strategi. Gladwell menunjukkan versi nyata dari dongeng Kelinci yang mengelabui Serigala. Bahkan  merefleksikan kisah Siput mengalahkan Kancil dalam adu lari.

Wyatt Walker adalah kelinci yang berhasil menjebak  serigala, Bull Connor. Connor merupakan komisioner keselamatan publik kota—katakanlah Kepala Polisi, aparat pemerintah—Birmingham yang terkenal sangat rasis. Saat demonstrasi 3 Mei itu, si serigala terpancing. Dia mengeluarkan pasukan anjing K-9 yang terkenal ganas dan buas. Dan seekor menyerang salah satu demonstran. Setahun kemudian, peristiwa tersebut memaksa Kongres AS mengeluarkan Civil Rights Act 1964. Hak-hak sipil kulit hitam menjadi sama dengan kulit putih. Kelinci mengalahkan serigala.

Meski mendapat predikat bestseller, David and Goliath, tidak lepas dari sejumlah kritik, dan pertanyaan yang meragukan gagasan Gladwell. Antara teori ’Ikan Kecil di Kolam Besar’ dengan ‘kelemahan sebagai kekuatan’. Caroline Sacks  (bab tiga) menerima kehadiran teman-teman sekelasnya yang lebih cerdas sebagai tekanan. Mengikuti gagasan ‘kelemahan sebagai kekuatan’, seharusnya  Caroline terdorong untuk lebih belajar, meningkatkan kemampuannya. Tetapi, itu tidak terjadi kepada Caroline. Gladwell membela, “Tidak semua kelemahan memiliki lapis perak.”

Gladwell berpendapat kalau kesukaran, kesengsaraan, ataupun penderitaan mendorong para underdog untuk berusaha lebih keras. Argumen itu berkebalikan dengan ketidaksetujuannya terhadap Three Strikes Law (bab delapan), dengan mengilustrasikan: remaja akan mengalami depresi jika orangtuanya dipenjara.

Christopher F. Chabris mengajukan pertanyaan kepada David and Goliath di dalam ulasannya di Wall Street Journal (wsj.com). Apakah Gary Cohn akan tetap menjadi si pengambil resiko jika tidak mengidap disleksia? Apakah Boise menyadari lebih dulu bahwa dia disleksia, kemudian melatih keterampilan mendengar dan berdebatnya? Atau sebaliknya?

Pertanyaan yang serupa terhadap gadis sembilan tahun di bagian awal tulisan ini: apakah dia akan tetap menyanyi, bermain piano, dan tampil di televisi jika bukan difabel?

Buku ini banyak berceramah. Kisah-kisah dan bukti yang dituturkan oleh Gladwell singkat dan tidak meninggalkan kesan yang dalam. Tidak seperti karya Gladwell sebelumnya, Blink dan What the Dog Saw, misalnya.

Meski cerita-ceritanya singkat, David and Goliath menunjukkan pentingnya proses. Walau tergolong underdog, mendapat banyak tekanan, punya banyak kekurangan/kelemahan, Boies, Redwood City, dan Wyatt Walker mampu menunjukkan kelebihan yang mengejutkan orang-orang. Mereka melalui serangkaian proses, hingga menemukan strategi yang tepat untuk ‘pekerjaan’ mereka. Bukan dengan berpegang teguh kepada jargon.

Bermacam-macam jargon motivator tidak memberi kita penjelasan yang masuk akal. Gladwell mengajak kita berpikir matang-matang dalam segala hal. Termasuk sebelum kamu menyepakati gagasannya setelah membaca buku ini—juga buku lainnya tentu saja.

Lalu, apakah kita masih butuh tayangan/tulisan menye-menye atau motivator-motivator itu? David and Goliath telah membuktikannya.