Sumber Gambar: : Lo-Fi Flicks ( @lofiflicks )

Saya tidak begitu familiar dengan karya-karya Joko Anwar yang bergenre noir dan melambungkan namanya. Tetapi, saya tahu bahwa dia adalah salah satu sutradara yang sangat lantang memprotes dan mempertanyakan kebijakan pemerintah atau isu-isu politik di tanah air, biasanya lewat akun Twitter miliknya. Dan akhirnya, kicauan tweet-tweet tersebut berubah menjadi gambar gerak dalam sebuah film berjudul A Copy of My Mind. Film yang saya saksikan di bioskop kemarin, terasa lebih ambisius dalam mengkritik persoalan korupsi di Indonesia. Kritik yang disampaikan melalui kacamata dua muda-mudi yang sedang kasmaran dan mereka berpikir sedang hidup dalam film romance. Inilah sebuah karya yang dibuat bukan hanya untuk menghilangkan dahaga pecinta film Indonesia, tapi juga untuk merangkul kaum sosial kelas bawah dan bagi siapa pun yang peduli dengan nasib bangsa Indonesia.

A Copy of My Mind memiliki dua tokoh utama yang gampang dijangkau, hidup dalam lingkungan yang juga gampang dijangkau. Bukan seperti anak-anak orang kaya yang kerjanya tiap hari hang-out di coffee shop mahal atau jalan-jalan ke luar negeri. Alih-alih dua tokoh utama ini setiap hari bekerja dengan penghasilan pas-pasan, lalu malamnya pulang ke kost yang jauh dari kata mewah. Bukan ke luar negeri, melainkan mereka berdua membawa kita ke sudut-sudut kota Jakarta yang macet, sempit, dan sesak juga kadang-kadang bertemu dengan keceriaan kecil nan sederhana, seperti pasangan lansia yang berdansa di tengah food court dalam sebuah mall.

Pertama-tama kita akan bertemu Sari, gadis muda yang bekerja di salon kecantikan kelas sosial menengah ke atas. Impiannya cuma satu, bisa memiliki home theater karena kegemarannya menonton film dengan cara membeli DVD bajakan. Sari belum punya pacar, tapi tampak senang dengan kesendiriannya walau terlihat membosankan juga. “Tidak ada“, jawab Sari, ketika salah seorang customer-nya menanyakan tipe pria apa yang ia dambakan. Itu sebabnya ketika Sari bertemu Alek, pemuda pembuat teks DVD bajakan, di sebuah toko DVD bajakan, ia dengan mudahnya jatuh dan terpesona. Bukan semata-mata karena bersama Alek Sari bisa menonton DVD bajakan secara gratis, tapi karena Sari memang tidak mengharapkan apa-apa dari Alek kecuali kebersamaan, guna mengisi hari-harinya yang kosong. Mereka adalah dua insan yang sama-sama yang tak diketahui sejarahnya dan tak merisaukan masa depannya, yang benar-benar hidup di saat sekarang.

Alek (Chicco Jerikho) mendapati Sari (Tara Basro) mengutil DVD bajakan yang diambilnya, ketika keduanya tidak sengaja bertemu di toko yang menjual DVD bajakan tersebut.

Alek (Chicco Jerikho) mendapati Sari (Tara Basro) mengutil DVD bajakan yang diambilnya, ketika keduanya tidak sengaja bertemu di toko yang menjual DVD bajakan tersebut.

Alek dan Sari tak pernah berlagak atau bercakap pintar, tak pernah membahas politik atau urusan sosial secara serius, mereka tak begitu peduli mengenai kedua topik itu, walaupun pada kenyataannya mereka hidup tepat ketika Indonesia sedang dalam masa pesta demokrasi ketika proses kampanye pilpres sedang berlangsung. Sementara masyarakat kala itu riuh dengan tetek bengek persoalan mengunggulkan siapa, Alek dan Sari justru larut dalam hubungan asmara mereka yang penuh hasrat menggebu. Mereka berdua begitu terhubung, bukan cuma persoalan hubungan seksual, tapi juga cara mereka menghabiskan waktu di luar kamar. Mereka tidak punya drama untuk dirisaukan, tapi punya romantisme untuk dinikmati. Kesederhanaan mereka, cara mereka kasmaran, membuat kita terhanyut. Pada akhirnya polemik politik berhasil merusak kebahagiaan mereka tepat ketika kita berpikir bahwa semangat asmara mereka tak berujung.

Sari suatu hari mendapat pekerjaan baru di salon yang lebih mewah, lalu diberi tugas oleh bosnya untuk melayani seorang konsumen perempuan yang tinggalnya dalam penjara. Si konsumen adalah pelaku korupsi, tapi sel yang ia tempati begitu mewah, serupa kamar hotel, lengkap dengan televisi LED dan koleksi DVD orisinil. Sari yang jago mengutil, berhasil mengambil salah satu kepingan DVD milik konsumen tersebut. Ketika diputar di kamar kos Alek, isinya ternyata bukan film, melainkan barang bukti rekaman perbuatan korupsi yang melibatkan para politisi kelas atas, termasuk sang calon presiden.

Kisah yang tadinya romantis ini berubah menjadi terasa mengancam, tapi yang menarik adalah tak ada kesan noir di dalamnya. Kesan yang saya antisipasi akan muncul mengingat film-film dari Joko Anwar familiar dengan genre tersebut, melainkan tetap dalam nuansa realist. Bahkan juga tidak berubah menjadi film politik yang penuh dialog ceramah kebenaran ketika memasuki konflik politik yang ambisius ini. Hal-hal inilah yang membuat pesan moral dari A Copy of My Mind begitu efektif, karena memang karakter utamanya tidak berasal dari latar belakang pendidikan politik dan tidak diharapkan akan menguliahi kita mengenai politik. Mereka hanyalah karakter yang dipungut dari ribuan orang-orang biasa di Indonesia, lalu terjebak di dalamnya. Melalui Sari dan Alek yang biasa-biasa saja inilah Joko mewujudkan salah satu fantasinya dalam menangani persoalan korupsi.

Kegemaran para politisi korupsi dan kegemaran Sari dengan DVD bajakan, inilah dua hal yang tidak membanggakan di Indonesia, berhasil dibingkai oleh Joko. Kita tidak seharusnya lantas membenci Sari atau Alek yang juga bagian dari proses produksi DVD bajakan, karena apalah artinya pembajakan–walau harus diakui ini merugikan komunitas pembuat film–dibanding korupsi yang terus menggerogoti negara kita. Sari mengkomsumsi DVD bajakan sebagai tanda bahwa ia cuma rakyat biasa yang tak punya banyak uang untuk mengoleksi DVD orisinil. Joko memperlakukan kerisauannya akan pembajakan ibarat tragedi yang komikal, betapa uniknya dua orang bisa bertemu dan jatuh cinta gara-gara persoalan teks DVD bajakan yang diterjemahkan secara serampangan. Joko juga secara detail mampu menjelaskan yang mana DVD bajakan kualitas baik dan yang mana yang jelek. Tapi ketika menyangkut korupsi, Joko memperlakukan isu tersebut ibarat bencana. Joko bahkan secara berani menunjuk siapa politisi-politisi yang ia maksudkan dalam filmya ketika di bawah ke dunia nyata. Nama-nama mereka saja yang diubah, tapi ciri khas penampilan mereka sangat familiar. Saya bahkan menduga seperti ini, A Copy of My Mind adalah film yang sangat berani dan provokatif yang bisa menyinggung beberapa politisi, tapi politisi-politisi tersebut tak ada yang berani protes karena takut juga kedok mereka terungkap. Dan kejahatan mereka, terbukti memang layak difilmkan. []

P.S.: Mari menyaksikan A Copy of My Mind yang telah tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai hari Kamis kemarin.

A Copy of My Mind_ReviusSutradara: Joko Anwar | Tahun: 2016 | Genre: Romance, Drama | Negara: Indonesia | Rating : 4 / 4 Stars

Baca ulasan film lainnya dari Kemal Putra

Melihat Transgender dengan Lebih Baik

5 Film Paling Dinanti yang Bakal Gagal Kamu Saksikan di Bioskop Tahun 2016

The Force Should Not Be Awaken

Akhir Perang yang Sia-Sia

Renungan Terbaik untuk Sebuah Pilihan Hidup

Kisah Berharga yang Patut Diceritakan

Cermin Dunia Pendidikan Masa Kini

Selera Humor yang Terpelihara di Tengah Kemelut Bertahan Hidup

Ego yang Lenyap dalam Hati Bajrangi

Kesedihan di Tengah Tawa

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali