Oleh: Anna Asriani Muchlis ( @anna_asriani_desausa )

Kebanyakan orang mengenal sosok Kartini lewat karyanya Habis Gelap Terbitlah Terang. Namun pernahkah kita merenungkan dan juga merefleksikan sejenak tentang sosok seorang Kartini lewat surat-suratnya untuk para sahabatnya di Belanda? Dan apakah kita juga pernah berpikir untuk mengetahui isi dari surat Kartini dan pemikiran-pemikiran Kartini yang dituangkan dalam suratnya itu?

Kartini yang merupakan sosok perempuan Jawa selalu diidentikkan dengan kebaya dan juga sanggul, sehingga dalam setiap perayaan Hari Kartini pada 21 April, perempuan dewasa selalu mengenakan kebaya dan juga sanggul sebagai wujud penghargaan untuk Kartini. Namun, pernahkah kita berfikir bahwa Kartini bukan hanya sebatas sanggul dan juga kebaya saja. Tetapi, lebih dari itu kita juga harus mengetahui tentang pemikiran-pemikiran Kartini yang luar biasa lewat karya-karya dan juga surat-suratnya. Pemikiran-pemikiran Kartini tentu saja sangatlah penting untuk kita ketahui agar dalam setiap perayaannya, Kartini bukan hanya selalu dimitoskan dengan kebaya dan sanggul saja tetapi ada sebuah usaha untuk mengaji tentang pemikiran-pemikiran Kartini.

Pasti di benak kita akan muncul pertanyaan, kenapa harus Kartini? Kenapa bukan Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, atau yang lainnya. Di dalam buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, Kartini digambarkan sebagai sosok perempuan heroik yang memperjuangkan kesetaraan gender lewat perlawanan non fisik, maksudnya adalah beliau melakukan perlawan tidak melalui perang namun lewat cara yang moderen yakni menulis di surat kabar, majalah dan juga surat kepada para sahabatnya. Cara yang dilakukan oleh Kartini ini berbeda dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang pada masa itu dan ini merupakan salah satu cara yang efektif sebab lewat hal inilah Kartini mulai disoroti oleh Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Selain menulis berbagai surat dan tulisan, Kartini  juga mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat jelata. Dengan berbagai perjuangan yang dilakukan oleh Kartini inilah kiranya sangat menarik bagi kita untuk mengaji, merefleksi dan juga mendiskusikan tentang pemikiran-pemikiran Kartini lewat surat-surat dan juga karya-karyanya.

Hal yang menarik dari buku Panggil Aku Kartini Saja adalah penyajiannya sangat mudah dimengerti karena dikemas dalam bentuk novel. Sementara dalam pembahasannya sendiri, Pramoedya juga banyak memuat surat-surat yang ditulis oleh Kartini dan Pramoedya Ananta Toer juga menggambarkan tokoh Kartini dengan cukup detail mulai dari masa kecil Kartini hingga menjadi inspirasi. Berikut adalah salah satu surat yang ditulis oleh Kartini menarik untuk saya bahas;

Tentang Adat Istiadat

            mengejutkan adat kami orang Jawa

Seorang adikku, lelaki maupun wanita, tak boleh jalan melewati aku, atau kalau toh harus melewati dia mesti merangkak di atas tanah. Kalau seorang adik duduk di atas kursi dan aku hendak lalu, mestilah dia segera meluncurkan diri ke tanah dan di sana duduk menekuri tanah itu sampai aku tak Nampak lagi olehnya. Terhadap aku, adik-adikku tidak boleh beraku-ber-kau; dan pada setiap akhir kalimat yang keluar dari mulutnya harus mereka tutup dengan sembah.

Kalau adik-adikku, tak peduli lelaki atau wanita, bicara dengan orang-orang lain tentang diriku, mereka harus pergunakan bahasa tinggi segala apa yang berhubungan dengan diriku, misalnya pakaian, tempat duduk, kaki, mata, pendeknya apa Saja milikku.

Kepalaku yang terhormat ini tiada boleh mereka menyentuhnya tanpa izin istimewa dari aku dan itu pun sesudah diupacarai dengan beberapa kali sembah.

Kalau ada penganan di meja, bocah-bocah kecil itu tak boleh menghampir, sebelum aku berkenan mengambil barang sedikit.

Duh Stella, kau harus lihat, bagaimana di kabupaten-kabupaten lain saudari dan saudara itu bergaul! mereka itu saudara,hanya karena mereka anak dari orangtua yang sama; tak ada ikatan lain yang mengubungkan mereka kecuali darah. Saudara-saudara itu hidup berdampingan seperti orang-orang asing satu terhadap yang lain, Cuma persamaan raut muka, yang kadang-kadang pun tak nampak yang terjadi tanda kesaudaraan mereka.”(Surat 18 Agustus 1899 Kepada Estelle Zeehandelaar).

Kartini dalam ruang dan waktu dengan melihat keadaan tradisi Jawa didominasi peran yang dilakukan oleh kaum laki-laki baik dalam bidang politik, pendidikan maupun kekuasaan, sehingga timbul kegelisahan Kartini untuk melakukan perubahan terhadap adat istiadat Jawa. Melihat keadaan itu membuat Kartini menuntut akan mempuanyai peran lebih seperti yang dilakukan oleh laki-laki kebanyakan. Di satu sisi Kartini melawan adat istiadat Jawa dan di satu sisi melawan egoitisme kaum laki-laki. Sehingga menimbulkan pertanyaan dalam diri Kartini apakah kebudayaan itu masih dipertahankan. Kehadiran Kartini sebagai evolusi perempuan Jawa yang melakukan perlawanan terhadap tradisi Jawa ketika itu. Maka dalam suratnya Kartini ingin menuntut kebersamaan hak baik di kalangan keluargannya sendiri maupun terhadap perempuan Jawa secara umum. Dalam keluarganya sendiri bahwa kakak dan adik sama saja tak ada yang berbeda. Kita diciptakan oleh Tuhan dan Rahim seorang ibu apakah kita pantas untuk dibedakan dalam hal kehidupan.

Ada hal yang Kartini tidak diinginkan dalam budayanya yaitu sistem pada masa feodal yang sangat bertentangan dengan keinginan Kartini. Di mana sistem tersebut sangat merugikan kaum perempuan terutama di mana sistem poligami yang terus dipertahankan di masanya yang membuat Kartini mempertanyakannya. Apakah nasib perempuan harus terus menerus seperti itu. Apakah sebagai perempuan kita tidak bisa menolaknya? Bagaimana dengan keadaan sekarang apakah masih perlu kita untuk mempertahankan adat yang seperti di atas?

Dengan isi surat Kartini yang begitu cemerlang, masih inginkah kita memperingati hari Kartini dengan sebuah mitos dan simbol-simbol kebaya dan sanggulnya? Marilah kita sejenak mencoba untuk merenungi dan juga mendiskusikan pemikiran-pemikiran Kartini yang luar biasa itu. []

*Foto buku merupakan dokumentasi pribadi penulis.

Panggil Aku Kartini Saja_Pramoedya_Revius2Judul: Panggil Aku Kartini Saja | Penulis: Pramoedya Ananta Toer | Penerbit: Lentera Dipantara |Terbit: 2003 | Tebal: 304 halaman | ISBN: 979-973-121-1

Baca tulisan lainnya

Perempuan dalam Juangnya

Habis Gelap Terbitlah Terang

Kembalilah ke Panggung Musik, Nuri!

Perempuan Selalu Hidup di Perfilman Indonesia

Mengapa Lelaki Posesif dan Perempuan Paranoid?