Ilustrasi: Aisyah Azalya (@syhzly)

Dear Santa,

Semoga kau tidak melupakan aku. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali kita bertemu. Waktu itu aku telah beranjak remaja dan kau tetap tak berubah seperti pertama kali kita bertemu.

Jika kau lupa, maka aku akan mengingatkanmu sedikit.  Aku adalah salah satu anak kecil dari sekian anak di dunia yang menjadi penggemarmu. Bagiku kau seperti kakek yang tak pernah kumiliki. Raut wajahmu begitu ramah dengan pipi merah dan tawa lebar.Rambutmu putih semua, apakah kau tak berpikir untuk mengecat rambut, Santa?

Setiap Natal tiba, aku akan menulis keinginanku pada secarik kertas dan kumasukkan dalam kaos kaki. Aku tak punya kaos kaki merah seperti di film-film Hollywood.

Jadi, aku membeli kaos kaki biasa berwarna merah dan kuhiasi pita berwarna hijau. Kaos kaki itu kuletakkan di kaki pohon terang karena di rumahku tak ada perapian. Maklumlah negara tropis. Waktu itu aku menunggu kedatanganmu sambil berkhayal bagaimana seandainya jika aku menjadi salah satu asistenmu di North Pole.

Kalau dipikir-pikir, begitu mengasyikkannya khayalan kita di masa kanak-kanak, ya? Kita masih memandang dunia ini dengan satu warna: putih. Kini setelah dewasa aku menyadari bahwa aku begitu bahagia dalam kepercayaan buta tentangmu.

Kini aku datang lagi. Aku ingin menyampaikan keinginanku dalam sebuah surat tanpa alamat tujuan. Aku yakin kau akan tetap tertawa ho…ho…ho… seperti di film-film kartun walau aku tidak menjadi anak baik dalam setahun, bahkan seumur hidupku.

Ya. Aku jarang berdoa. Aku bahkan meragukan Tuhan dalam hidup ini. Aku dipenuhi iri hati dan kemarahan dalam diriku. Aku menyakiti hati orang lain. Aku mengabaikan orang-orang yang menyayangiku. Aku pun tak memiliki simpati apalagi empati terhadap orang lain. Bagiku relasi antar manusia hanya menyangkut persoalan untung-rugi. Aku lupa bahwa kehadiran orang lain juga untuk melengkapi keberadaan kita.

Aku kini putus asa dan lelah mencari apa yang tidak dapat aku mengerti di dunia ini. Hatiku berteriak-teriak meminta kebahagiaan. Mungkin juga sebuah perdamaian entah dengan Siapa. Santa, aku memang anak yang nakal. Aku patut dibuang di tengah lautan oleh Piet Hitam.

Santa yang baik,

Keinginanku kali ini bukan tentang apa yang kuidam-idamkan di masa kecil. Bukan tentang sepeda baru atau boneka. Bukan tentang sekotak cokelat  Cadbury  atau sekantong besar permen lolipop. Aku mengharapkan hal-hal yang tidak hanya bisa dinikmati oleh diriku sendiri. Aku berusaha tidak egois dengan meminta hal-hal yang juga dapat dinikmati orang lain. Aku ingin menebus kesalahanku.

Aku ingat, ketika masih anak-anak dengan pandangan kita yang masih polos melihat dunia, kesedihan akan sirna dengan membuka kado-kado berisi sesuatu yang diinginkan. Namun, ketika dewasa kita tahu kado-kado yang dibungkus cantik dan ditaruh di bawah pohon Natal tidak mampu menyembuhkan jiwa manusia yang terluka.

Kita mulai melihat bahwa dunia ini tidak tercipta dari satu warna. Dunia ini penuh warna-warni.Termasuk gelap dan abu-abu. Aku bahkan mulai percaya bahwa warna gelap harus ada untuk melindungi warna-warni dunia. Dan warna abu-abu sebagai jembatan di antara berbagai macam warna: ada putih, merah, hijau, biru, kuning, ungu, ahh…begitu banyak, Santa. Setiap orang berhak memilih warna apa saja yang disukainya. Dan tidakkah perbedaan itu biasa, Santa? Kita tak harus malu mengakui jika kita berbeda atau saling membenci karena kita berbeda, bukan?

Maka, inilah permohonanku padamu yang tidak bisa dibungkus kertas kado dan dihiasi pita warna-warni. Aku juga tak memaksa keinginan ini terwujud segera. Tetapi aku percaya, mereka yang meminta akan diberi, mereka yang mencari akan menemukan, dan mereka yang mengetuk pintu akan dibukakan.

Santa,

Aku ingin setiap peperangan yang terjadi di dunia berhenti. Dari peperangan yang melibatkan senjata sampai yang memiskinkan suatu negara. Jangan lagi terjadi perpecahan di antara manusia, apalagi menganiaya dan membunuh karena berbeda agama, ras, maupun etnis.

Aku ingin tidak ada lagi penindasan terhadap negara-negara dunia ketiga yang sumber daya alamnya dieksploitasi gila-gilaan oleh negara-negara maju.Yang warganya menumpang di tanah mereka sendiri, yang pemerintahnya tidak sadar kalau mereka menjual diri pada korporasi.Aku ingin adanya pemerintahan yang benar-benar berpihak pada rakyatnya.

Aku ingin setiap orang mendapatkan hak-nya. Hak untuk menuntut kebenaran dan keadilan. Aku ingin mereka yang berjuang demi kemanusiaan dikuatkan meskipun mereka dicibir dan ditindas.Aku memimpikan keadilan datang ke bumi lebih dari sekedar hukum yang tidak tunduk pada uang dan kekuasaan. Mungkinkah itu, Santa?

Aku ingin setiap orang mendapatkan teman.Teman yang mau berjalan di samping mereka di jalan yang tinggi dan rendah, dalam hujan badai dan panas terik. Teman yang memiliki hati yang memahami yang seperti kata Rabindranath Tagore, adalah rumah.

Aku ingin waktu menyembuhkan setiap hati yang luka. Biarkanlah hati itu kuat untuk menerima dan memaafkan. Biarkanlah penderitaan bukan membuat hati menjadi lemah melainkan semakin kuat. Agar hati itu melindungi dari kelemahan kita.

Aku ingin cinta tetap abadi. Kasih sayang tak akan punah meskipun kebencian juga hidup dan merajai hati manusia. Aku percaya cinta akan selalu menang.

Inilah keinginanku sebagaimana aku kini. Percayalah, aku meminta bukan untuk diriku sendiri, tapi juga untuk orang lain sekalipun mereka tak percaya pada Santa Claus atau pada keajaiban sekalipun.

 

Salam sayang,

 

Dari yang mencari kedamaian.

 

*tulisan ini juga dimuat dalam www.meikemanalagi.com dengan gubahan seperlunya. []