Ilustrasi: Langgo Farid ( @langgofarid )

Yang terhormat warga Makassar yang budiman,

Perkenalkan nama saya Daniel, kadang teman-teman yang suka okkots dan disleksia sering salah memanggil jadi Denial. Selain itu ada juga yang panggil Deni. Kemiripan dengan nama bapak walikota kita hanyalah kebetulan belaka. Tapi mungkin inilah jalan agar kami berdua bisa bertemu. Kebetulan saya adalah ketua Asosiasi Geng Motor Sulawesi (AGATOSI) yang terpilih secara aklamasi. Oke, cukup perkenalan dari saya.

Sebelumnya saya minta maaf jika beberapa minggu ini kami membuat kalian kurang nyaman. Kami begini karena kami banyak menuntut kepada pemimpin kota kalian, tetapi pemimpin kota kalian malah diam seribu bahasa. Mungkin kalian tidak sadar sepenuhnya. Tetapi kalian bisa mengoreksi kebenaran atas isi surat saya. Seperti :

  1. Kami anak muda yang butuh ruang apresiasi seni, kami tidak butuh kumpulan ruko yang berbaris rapi. Makanya kami berekspresi di tembok ruko, di huruf raksasa Pantai Losari dan di benteng Rotterdam yang katanya cagar budaya tetapi sudah dibuat modern oleh walikota kalian yang inovatif. Lihat saja nama asosiasi kami, AGATOSI, terdengar lebih Makassar dan lebih kreatif dari LISA, LILUNG, LONGGAR serta banyak singkatan lain lagi, bukan?
  2. Kami kurang setuju kalau anda menyebut kami meresahkan warga kalian. Kami hanya anak muda yang senang naik motor, tanpa menyebabkan kemacetan. Padahal banyak angkutan kota dengan supir tembak yang berhenti mendadak di depan toko alat tulis-menulis jalan protokol. Bukankah itu juga mengakibatkan kemacetan? Bukan dengan alasan memindahkan tugu adipura lantas kemacetan akan hilang. Toh, sampai sekarang di depan PLTU jam 3 hingga 6 sore masih tetap macet, kok.
  3. Kami kurang setuju bahwa gerakan kami disebut anarkis. Maaf, tetapi gerakan kami sangat terstruktur, kami fokuskan di daerah-daerah sunyi dan gelap yang seharusnya pemerintah kalian menempatkan lampu-lampu penerangan di kota itu. Tetapi pembangunan pemerintah kalian hanya berfokus di daerah elit seperti Panakukkang dan sekitarnya, padahal tempat-tempat itu sekarang bisa menjadi kolam renang umum, lho.
  4. Kami hanyalah sekumpulan anak manusia yang haus kasih sayang. Kami kehilangan kasih sayang yang kami butuhkan karena orangtua kami bekerja siang malam mencari nafkah membanting tulang. Kalaupun orang tua kami tidak bekerja dan tinggal di rumah, kami lah yang disuruh untuk keluar mencari uang. Sekolah? mana ada sekolah yang mau menampung kami yang tidak mampu.
  5. Kami hanyalah sekumpulan anak muda yang ingin juga berolahraga di tempat yang mempunyai fasilitas baik, tetapi apa yang kami dapatkan? Tempat berolahraga yang bagus menurut warga kalian hanyalah Lapangan Karebosi dan Taman Macan. Tetapi tahukah kalian wahai warga kota, bahwa Karebosi telah diprivatisasi selama 30 tahun ke depan? Oh, kalian tidak tahu? Oke.
  6. Kami hanyalah anak muda yang ingin didengarkan aspirasinya. Bahkan dengan kejadian ini pun walikota kalian tidak muncul, malah membeli lukisan seharga 100 juta. Menurut kami tidak masalah, tetapi haruskah dipublikasikan dengan angka fantastis?
  7. Kami hanyalah, ah sudahlah.

Semoga surat ini tidak didefinisikan negatif. Semua bisa berpartisipasi untuk pembangunan kota dengan cara yang berbeda, ini cara kami. Nikmati.

Salam Agatosi.

Daniel

 Surat ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.