Oleh: Redaksi | Foto: The Hotdogs

Semestinya, setelah era revolusi industri (atau sering disebut sebagai era revolusi informasi), terutama setelah internet merajalela dengan fenomena YouTube dan Media Sosial, pengkategorian atas band lokal, nasional, dan internasional sudah tidak lagi relevan. Apalagi, jika timbul perbedaan perlakuan profesional kepada ketiga kategori tersebut. Sama tidak relevannya dengan pengkultusan terhadap istilah go international. Karena pada hakikatnya, setiap band/musisi yang telah mengunggah karya di jagat internet, bisa dikatakan sudah go international. Kini, domisili hanya sebatas identitas. Bukan lagi keistimewaan memperoleh perlakuan lebih di atas panggung oleh para pihak pendukung penampilan sebuah band/musisi.

Baru-baru ini, hal tidak menyenangkan dialami oleh teman-teman kami dari Firstmoon dan bisa kami pastikan disebabkan oleh pembedaan perlakuan dan ketidakprofesionalan yang dilakukan oleh pihak pendukung performance mereka. Dalam hal ini, pihak tersebut adalah operator FOH/mixer dan kroco-kroconya. Bukan hanya tidak memperoleh kesempatan untuk sound check, anak-anak Firstmoon juga merasa dipersulit ketika melakukan line check (memastikan semua sarana penunjang penampilan di atas panggung berfungsi dengan baik). Firstmoon, diperintahkan untuk segera tampil bahkan ketika beberapa instrumen dan amplifier mereka belum seluruhnya menyala. Bersedia mengalah, Firstmoon pun berniat memulai set-nya. Tentu dengan mood yang telah berantakan. Tak lama setelah niat berdamai ini dicetuskan, ada suara terdengar dari handy talky kru panggung dan sound monitor mereka, “Weh suruh mi cepat mulai itu! Band-nya siapakah itu? Sundala!” Firstmoon pun membatalkan penampilan mereka di panggung setelah berkumandangnya suara sumpah serapah tadi.

Setelah turun panggung, anak-anak Firstmoon lalu mengkonfrontir si empunya suara. singkat cerita, akhirnya kru tersebut meminta maaf. Sang oknum peneriak makian tersebut beralasan bahwa makian tadi bukan ditujukan kepada Firstmoon. Melainkan kepada para kru panggung yang dia rasa tak becus bekerja. Dan anak-anak Firstmoon yang baik hati pun akhirnya memaafkan si orang FOH tadi. Dan si orang FOH tadi mungkin sudah melupakan kejadian ini. Tetapi tidak dengan Kami. Kami tidak sebaik Firstmoon. Beberapa dari kami mungkin bisa memaafkan perbuatan ini. Tapi dengan melupakannya begitu saja, No Fucking Way!

Tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi perlakuan buruk para event organizer, vendor sound system, atau semua pihak pendukung performance band/musisi terhadap para pelaku skena kota ini. Ya, walau mereka layak dihakimi. Tulisan ini, walaupun sepertinya sangat muluk-muluk dan tentu saja sangat subjektif, bertujuan agar perbedaan perlakuan kurang ajar yang dibahas di paragraf awal tadi tak lagi berulang, menjadi usang, dan ketinggalan jaman.

Firstmoon, bukan yang pertama. Kami dan mungkin banyak pelaku musik kota ini, pernah mengalami hal yang serupa. Dengan beberapa pengalaman tersebut, kami dari Revius mencoba berbagi pengalaman berhubungan dengan pihak-pihak yang memiliki peran krusial untuk penampilan kami di atas panggung. Silakan disimak dengan kepala dingin walau pembuka ini kami buka dengan dada yang sesak.

 

Acoh Wahab

Bad Time
Jam menunjukkan angka 20.56 WITA. Saya, yang telah membuat janji dengan drummer saya untuk bersama-sama mengangkut sejumlah equipment di Prolog Art Building, bergegas meninggalkan rumah, istri, dan balita saya yang sedang asik tertawa ria. Keluar rumah setelah jam delapan malam adalah hal yang tidak biasa saya lakukan setelah berkeluarga. Apalagi, meninggalkan balita saya yang sedang dalam mood baik. Biasanya saya tinggalkan pas pi tidur, Haha! Alasan keluar malam itu adalah untuk sound check yang dijanjikan event organizer akan dimulai jam 11 malam ini.

Setelah angkut-mengangkut dan jemput-menjemput, 10.44 WITA, saya tiba di venue. Sesampainya di sana, ternyata masih ada guest star yang masih manggung. Mungkin, satu atau dua lagu terakhir sebelum akhirnya acara hari itu selesai. Oh iya, acaranya dua hari. Latar waktu tulisan ini di hari pertama. Dan kejadian Firstmoon yang mentraumakan itu terjadi di malam sebelumnya. Melihat si bintang tamu masih melancarkan set-nya, saya bersyukur karena beberapa dari personil band saya belum sampai di venue. Masih banyak waktu.

Si guest star hari pertama pun usai. Walaupun equipment kami sudah komplit, kecemasan berlebihan tetap datang. Mungkin karena personil kami masih kurang satu. Mencoba menenangkan diri, saya membatin, “Yang penting equipment bisa kami siapkan tepat waktu sesuai ketentuan event organizer.” Dilanjutkan dengan berdoa semoga si personil telat tadi tidak lupa jalan agar bisa lebih segera datang dan sesi sound check ini lancar jaya.

Setelah berjalan menuju panggung, ternyata si bintang tamu hari kedua telah lebih dulu mempersiapkan equipment mereka. Giliran sound check pertama diberikan kepada mereka. Padahal, di rundown yang kami terima hari sebelumnya, tercantum jatah sound check mereka adalah yang terakhir. Yoda dan Pal Pat pun hadir di kepala.

Yoda lalu berkata, “Percayalah! rundown telah ditukar atas permintaan si guest star dan kau masih mempunyai banyak waktu untuk menunggu si personil telatmu dan melakukan sound check dengan tim yang lengkap. Tentu saja setelah giliran mereka.” Pal Pat pun menyambut, “Event organizer tak akan memberimu kesempatan untuk sound check. Ingatko kejadian Firstmoon semalam. Pasti ada saja alasan yang kasi nda jadiko. Sebelum sesak, pulanglah!”

Sesuai anjuran agama, saya tidak menggubris Pal Pat. Dan sembari menunggu kepastian jadwal, saya pun mengelilingi venue dan menikmati deretan instalasi di sekitarnya. Saya kemudian bertemu dengan Randy Rajavi (Soleluna), yang ternyata membawa kabar buruk. Randy, yang juga perform di hari yang sama dan sepertinya di rundown mendapatkan jatah sound check lebih dulu, memberitahu bahwa tak ada sound check buat band selain guest star malam ini. Saya pun langsung menghampiri event organizer untuk meminta penjelasan. Ternyata dengan alasan genset tak mampu lagi meladeni kebutuhan sound check, event organizer secara sepihak memutuskan kami tak boleh sound check malam ini. Jadwalnya, kata mereka, dipindahkan esok jam 6-7 pagi. Yang tentu saja, bagi kami dan beberapa teman-teman yang telah melowongkan waktu mereka untuk datang tepat waktu malam ini (yang beberapa dari mereka juga telah berkeluarga), merasa sangat keberatan.

Marah, bingung, kecewa, dan perasaan menyesal telah meninggalkan keriaan keluarga kecil saya kemudian bercampur aduk. Ditambah lagi kekesalan karena saya bukan tipe yang dapat dengan tenang berdiplomasi di situasi seperti ini. Si event organizer juga terkesan telah menutup ruang untuk negosiasi. Saya lalu melihat raut muka kekecewaan Randi dan para personil lain yang ikut mendengar kabar menyesakkan ini. Salah satu personil malah sudah sangat kesal dan meninggalkan venue. Ditambah lagi-lagi oleh celetukan salah satu pihak event organizer yang terdengar oleh vokalis saya, “Suruh mi pulang itu band lokal. Nda ada jatah sound check-nya ini malam.” Kalimat yang sangat mengaminkan tema besar tulisan ini.

Pal Pat pun akhirnya menguasai kepala saya. Beberapa highlight dari gemuruh ocehannya antara lain: “segampang itu pade’ event organizer gagalkan hak talent-nya di’, tak peduli kau telah kooperatif dengan datang tepat waktu, event organizer sepertinya tetap tak mempunyai alasan lebih untuk upayakan terlaksananya kepentinganmu ini malam. Apalagi untuk menebus segala pengorbanan waktumu semua. Kaya nda diapikir ji. Bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya yang seharusnya bisa diberikan ketika kalian semua masih belum tiba di venue.” Talent terkesan seperti mahluk tanpa kepala yang bisa diperintah sesukanya. Disuruh datang dan pulang seenaknya. Yang penting dibayar. “Dan kau pun di-Firstmoon-kan,” Pal Pat menutup deretan ocehannya. I must say, my head had turn me into the dark side that time.

Masih ingat dengan personil saya yang datang telat? Doi ternyata adalah salah satu negosiator terhandal yang pernah saya kenal. Dan akhirnya, setelah doi nego dengan vendor sound system ( ya, bukan dengan event organizer), kami bisa sound check malam itu. Eh, pagi itu (karena kita mulai sekitar jam 2 dini hari).

Good Time
Good time dan bad time saya berkaitan dengan tulisan ini terjadi di event dan di malam menjelang pagi yang sama. Walaupun cocoklogi, mungkin salah satu bukti bahwa Tuhan Maha Adil. Jadi, setelah akhirnya si personil telat tadi berhasil negosiasi dan dapat kesempatan sound check, beberapa jam kemudian, kami pun bergegas ke panggung dan mempersiapkan segala equipment. Kantuk yang lebay memudahkan pikiran buruk untuk terus merajalela. Pikiran yang kemudian terkonversi menjadi ketakutan berikutnya. Yang dibahasakan dengan naif oleh Pal Pat: “pasti ini crew panggung dan sound man sudah kecapean karna standby dari pagi sampai tengah malam nah. Bakalan jelek mood-nya hadapi band-mu. Apalagi haruski begadang ekstra gara-gara kau. Ballassi mko!”

Rasa was-was ini kemudian diamini oleh ingatan akan quote tantenya kakekku, “kurang tidur adalah penyebab utama koro-koroang, nak.” Ternyata Pal Pat salah besar. Para crew sound system ini sangat kooperatif. Bahkan sangat profesional menjalankan tugasnya. Salah satu dari mereka menarik perhatian saya. Si orang ini tidak hanya masih terlihat penuh stamina, auranya pun menyenangkan. Si personil saya yang telat tadi ternyata akrab dengan orang ini. Kata si telat “memang begitu orangnya. Passionate ki sama dunia beginian. Dia nda pikir mi ngantuk dan capeknya itu.” Saya pun menanyakan namanya ke personil tadi. Dan nama ini harus saya abadikan di tulisan ini. Sebagai wujud harapan akan keprofesionalan dan terima kasih atas etos kerjanya. Terima kasih, Bagong!

Mood saya dan mungkin termasuk mood personil lain seketika membaik melihat Bagong dan teman-temannya dengan penuh semangat membantu kami menyiapkan segala sesuatu. Begitu pula ketika dia harus menyelesaikan masalah teknis menjengkelkan pemain keyboard kami yang menyita waktunya hampir sejam. Tak ada raut muka negatif yang terlihat. Etos kerjanya sempurna pagi itu. Hal ini terus berlangsung bahkan ketika kami masih belum juga selesai padahal suara speaker mesjid penanda subuh telah bergema.

Kami lalu bersiap untuk mencoba satu lagu sebelum akhirnya mengakhiri sesi sound check ini. Di sela lagu, beberapa dari kami lalu meminta Bagong yang beroperasi di mixer monitor untuk sedikit mengangkat volume instrumen di masing-masing monitor kami. Beberapa dari kami bahkan harus berteriak (yang terkesan sedikit bossy) untuk memberi instruksi karena suara tenggorokan harus mengalahkan gemuruh audio amplifier. Sekali lagi, tak ada raut kesal dari wajah Bagong. Bahkan ketika kita akhirnya memutuskan untuk mengganti lagu untuk sesi ini dan membuatnya harus lebih lama beristirahat. Bagong tetap terlihat sabar.

Lagu pun selesai dan semua orang di ruangan mengeksperikan kebahagiaannya. Ada yang berteriak, ada yang tepuk tangan sembari mengepalkan tangan, ada yang senyum-senyum stretching, dan ada yang seketika tidur. Semuanya terlihat puas. Kami pun pulang dengan harapan permanggungan besok suasananya jauh lebih menyenangkan.

Keesokan harinya, setelah manggung, ritual say thank you kepada soundman dan crew vendor sound system terasa jauh lebih khidmat dan tulus dibanding panggung-panggung sebelumnya. Dan sekali lagi, terima kasih untuk Bagong and geng!

 

Brandon Hilton

Saya percaya bahwa di balik sound yang baik, tercipta penampilan yang memukau. Dan, di balik penampilan yang memukau, ada soundman profesional yang ramah. Atau belum lelah. Beberapa musisi kelas teri niscaya tidak akan mampu merasakan keramahan—soundman yang belum lelah—tersebut, kecuali membawa soundman sendiri. Meski tidak lantas menjamin tampil dengan kualitas sound yang diharapkan. Memang sulit menjamin sesuatu, terlebih jika mengingat kita sebagai manusia pada dasarnya tidak bisa menjamin apa-apa.

Singkat cerita, semesta akhirnya mengijinkan saya untuk merasakan kehidupan itu: #backstagelyfe bersama unit Metalcore, Dead Of Destiny, di event Kumpul Di Timur pada tahun 2015 yang lalu. Memastikan semua monitor yang ada bekerja dengan baik dan mengeluarkan sound seperti yang diinginkan sepasang telinga masing-masing personil adalah kewajiban saya sebagai kru magang. Urusan ampli, ada di tangan mereka. Melakukan komunikasi intens yang nyaris mesra dengan soundman via HT untuk menjembatani kemauan band memang susah-susah gampang. Sesekali harus turun sendiri untuk berkomunikasi langsung di FOH (Front Of House), tempat soundman menunaikan kerjanya. Mengingat waktu itu, Dead Of Destiny melakukan checksound pada siang hari, rasanya seperti neraka sementara bocor halus. What a good time. Kerja dan keramahan soundman berbuah manis. Sound-nya muantep!

Namun, musisi yang handal tidak tercipta dengan penampilan yang mulus-mulus saja. Kendala teknis atau bahkan kendala dengan soundman yang kadang menunjukkan gejala seperti sedang PMS juga kerap dihadapi. Hasil akhirnya juga sudah bisa ditebak. Hal tersebut baru saja dialami oleh Firstmoon. Saya sendiri, sebenarnya bisa dikatakan minim pengalaman pahit dengan soundman dan antek-anteknya. Entah saya yang tidak peka atau bagaimana, saya juga tidak paham. Mungkin karena perlakuan atau perkataan buruk mereka tidak layak saya beri tahta untuk tinggal dalam kepala dan hati saja. Tapi sudahlah mau menulis panjang lebar bagaimana lagi, apalah daya kami. Lokal. Harga murah banyak minta. Tapi tunggu-tunggu saja, nda lama mi cess.

Di balik cerita manis, asam, kacci dengan orang yang dipanggil soundman, pihak penyelenggara juga sudah seharusnya peka dan adil mulai dari sound. Soal fee yang jelas berbeda jauh antara penampil lokal, nasional, dan internasional urusan belakang. Kalau bisa—padahal seharusnya bisa—sama ratakanlah kualitas suara para penampil di hajatan. Terlepas dari naik apa para penampil ke venue, entah itu pesawat atau bahkan bendi sekalipun, bukankah kepuasan pengunjung dan para penampil adalah hal yang utama? Jangan biarkan kualitas sound yang jelek di pagelaran musik membuat bisnis mundur lagi.

 

Fami Redwan

Menjadi bagian dari sebuah band yang hanya bermodal energi dan emosi, adalah takdir musikal yang masih saya tekuni sejak sekitar dua puluh edisi kalender lalu. Dengan pengetahuan dan kemampuan teknis yang nyaris tidak ada sama sekali, tuntutan terhadap keterampilan dan ketangkasan bermain instrumen dinihilkan, diganti dengan ekspresi, interaksi, aksi, dan reaksi yang seakan membatalkan batas antara panggung dan penonton. Punk rock.

Ketika sebuah band punk beraksi, kekacauan menjadi seni dan kebahagiaan menjadi murni. Namun teori tersebut tidak berlaku bagi semua mata dan telinga. Tidak sedikit orang yang justru kesal terhadap apapun yang ada unsur punk-nya. Dan mereka tak segan-segan mengekspresikannya. Terutama pada tahun-tahun pertama. Sudah banyak kali saya harus merasakan kejengkelan mereka. Beberapa yang (menurut saya) legendaris, antara lain:

  1. Seorang teknisi panggung yang bertanya dengan wajah sinis, “tau jako main gitar kah?” Tentu saja jawaban saya, “tidak.”
  2. Microphone yang mendadak mati karena apa yang saya ucapkan saat jeda antara dua lagu. Semacam tiran.
  3. Setelah lagu pertama yang baik-baik saja, di lagu kedua kami tidak lagi bisa mendengar satu sama lain karena speaker monitor yang dipadamkan. Entah kenapa. Mungkin dianggap band tak guna, jadi hemat listrik sajalah.
  4. Panitia/organizer yang melanggar kesepakatan bisnis dengan berbisik “bos, dua lagu nah. Karena anu bela.. anu sekali.” Padahal sudah latihan rapi-rapi sampai tiga kali.
  5. Ngobrol live di sebuah stasiun televisi. Di jeda iklan terakhir produsernya datang bawa gitar akustik sambil ngomong “nanti pas closing, kalian nyanyi satu lagu nah buat musik latarnya credit title.” Bukannya sok konseptual atau anti spontanitas, tapi gitar akustik itu menyebalkan.

Makassar, kota pantai yang penduduknya susah santai. Metropolitan yang selalu merasa sebagai yang ketinggalan, di belakang, inferior, konsumen, follower, fans club, yadda yadda bla bla, sebuah kota di mana semua habitat yang hidup di dalamnya tidak berusaha untuk membangun ekosistem. Kita gagal menyatu. Kita sibuk dengan seteru. Bahkan puas dengan itu. Kenapa? Karena referensi tak mungkin disaingi. Berdiri sejajar apalagi. Menjadi yang terbaik sudah pasti mimpi. Kita dikurung oleh mentalitas seperti itu.

Maka barang siapa berusaha menciptakan hidup sendiri di kota ini, lewat musik apalagi, dari langkah pertama pun sudah terlihat muluk-muluk. Stel yakin sajalah. Karena naik turun dan suka duka adalah niscaya. Dinosaurus sudah lama punah. Kalaupun masih ada yang tersisa, pasti nanti punah juga. Sekarang eranya nanogig, acara yang seksi adalah yang venue-nya susah dicari, perangkat pengeras suara semakin lama semakin kecil wujudnya, workshop musik digital bisa terjadi begitu saja di taman kota tanpa rencan. Mimpi-mimpi semakin tinggi, ide-ide semakin gila, dan setelah begitu lama tak ada yang bisa mendekati apa yang pernah dicapai Anci La Ricci atau Andi Meriem Matalatta, diam-diam FrontXside mainnya makin jauh ke mana-mana. Dengan cara mereka sendiri pula.

Karena sukses tidak ada rumus bakunya. Kalaupun masih ada studio musik yang di pintunya masih ada tulisan “No metal, no punk,” jangan panik. Karena artinya sudah beda: Kalau tidak ada metal, tidak akan ada punk. Silakan dibolak-balik, toh artinya sama saja: Be good to one another. Love each other like brothers and sisters. Good times are coming.