Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun )

Sejarah berkembangnya alat musik dari masa ke masa selalu menarik untuk dibahas. Cikal bakal terciptanya alat-alat musik diyakini berasal dari zaman prasejarah, ketika manusia purba menggunakan batu atau tulang untuk menciptakan bunyi-bunyi yang perkusif yang mereka hentakkan ke benda keras lainnya. Bunyi perkusif bisa begitu mudah dimainkan oleh manusia purba, disebabkan bunyi perkusi tidak memiliki nada.

Saat manusia telah mengenal aksara, alat-alat yang menjadi sumber bunyi perkusif pun mulai diganti dengan alat musik yang lebih ritmis untuk digunakan. Manusia tidak lagi menciptakan bunyi dengan memukul batu di benda keras lainnya, tetapi menggunakan membran yang terbuat dari kulit lembu dan sejenisnya. Alat musik ritmis pun digunakan untuk keteraturan irama lagu. Cara memainkan alat musik ritmis pun berkembang juga dengan cara dipukul, baik dengan tangan maupun dengan alat pemukul.

Alat musik perkusi yang memiliki bunyi ritmis pun mulai berkembang seiring dengan dibuatnya perkakas yang digunakan untuk berburu, dan bertani, keahlian dan teknologi yang ada membuat manusia mampu untuk membuat instrumen yang lebih kompleks. Sebagai contoh, batangan kayu sederhana dilubangi agar menghasilkan bunyi dalam intonasi yang lebih panjang (sebagai contoh: bedug, gendang), dan beberapa instrumen tersebut selanjutnya dikombinasikan untuk menghasilkan ragam suara yang berbeda.

Alat musik perkusi yang merupakan alat musik pertama yang terus berinovasi dalam sejarah umat manusia. Perkembangan alat musik perkusi semakin bervariasi. Beberapa benda sehari-hari yang biasa kita jumpai seperti  sapu, pot bunga, tas plastik, bebatuan, tong, pipa besi, botol galon juga bisa dijadikan alat musik perkusi. Meski hanya tercipta dari beragam alat musik rumahan. Namun musik perkusi mampu menghasilkan irama yang menawan. Tidak heran jika musik jenis ini sangat disukai didunia. Musik perkusi dapat mengiringi berbagai genre. Pop, rock,metal,jazz bahkan dangdut selalu terdengar bagus jika diiringi musik perkusi.

Apa jadinya jika musik perkusi yang merupakan ‘jantung’ dari sebuah pertunjukan musik, disuguhkan secara tunggal atau solo dalam sebuah music showcase? Boleh jadi hal itu bisa disaksikan paada edisi ke-10 Bunyi Bunyi Perhalaman yang menghadirkan Imran Melulu. Imran, yang juga akrab dikenal dengan Ime Percussion adalah seorang perkusionis yang sudah malang melintang dalam dunia musik perkusi di kota Makassar, baik dalam musik tradisi maupun musik hiburan.

Imran Melulu tentu saja tidak hanya menampilkan permainan solo perkusinya, karena Bunyi Bunyi Perhalaman adalah pertunjukkan musik yang juga menghadirkan sesi diskusi interaktif. Sesi diskusi untuk membahas gagasan-gagasan yang menitikberatkan pada keleluasaan musisi untuk membicarakan karya dan ide ke dalam ruang yang lebih terbuka dan santai. Karena itulah, Bunyi-Bunyi Perhalaman bisa menjembatani musisi untuk bisa berbagi tentang proses penciptaan karyanya kepada orang lain.

Sejak digelar dari tahun 2014 oleh Vonis Media dan Rumata’ Art Space sebagai penggagas dan pelaksana, Bunyi Bunyi Perhalaman telah menampilkan beberapa Musisi lokal Makassar, diantaranya, Sese Lawing, Fami Redwan, Urban Eggs, Theory Of Discoustic, Myxomata, Terts, Rizcky De Keizer, Melismatis hingga Yohan Tinungki.  Masuk di tahun 2015, Bunyi Bunyi Perhalaman bisa menambah lini kerjasama dengan HiVOS People Unlimited dari Belanda serta dukungan dari Loop Telkomsel.

Edisi ke-sepuluh yang diyakini merupakan edisi penutup ini berlangsung pada hari Minggu, 21 Juni 2015, mulai pukul 15.00 WITA di halaman belakang Rumata’ Art Space, Jln. Bontonompo No. 12A Gunung Sari, Makassar. Namun sebelumnya, diadakan press conference pada hari Jumat, jam 3 sore di Poin House Café, Grapari Telkomsel. Digelar bertepatan di awal bulan Ramadhan, tidak menciutkan semangat pelaksana Bunyi Bunyi Perhalaman untuk tetap menghadirkan gelaran ini dengan penuh semangat.

Mendengar kabar bahwa Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ini bakal menjadi edisi penutup, saya bertekad untuk datang menjejakkan kaki di Rumata’ ArtSpace menjelang pukul 16.00 WITA. Tetapi ketika sampai, masih terlihat suasana persiapan tim Bunyi Bunyi Perhalaman mempersiapkan alat-alat perkusi milik Imran. Setelah alat perkusi beres, Imran pun menyempatkan soundcheck sebentar. Rundown acara yang seharusnya dimulai pukul 15.oo WITA telah lewat dari yang telah ditetapkan.

Ketika jarum jam menunjukkan angka empat lewat 15 menit, Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-sepuluh akhirnya dimulai dengan sambutan pihak Rumata’ Artspace yang diwakili oleh Abdi Karya. Sebagai orang yang berperan mengatur operasional Rumata’ Artspace, Abdi mengucapkan kesan dan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu terselenggaranya Bunyi Bunyi Perhalaman hingga edisi ke-sepuluh ini. Abdi juga menyampaikan salam kepada audiens Bunyi Bunyi Perhalaman yang hadir sore itu dari Riri Riza dan Lily Yulianti Farid selaku founder Rumata’ Artspace yang tidak bisa hadir karena berada di kota lain.

Abdi Karya, selaku direktur operasional Rumata' Artspace memberi sambutan kepada audiens Bunyi Bunyi Perhalaman edisi kesepuluh.

Abdi Karya, selaku direktur operasional Rumata’ Artspace memberi sambutan kepada audiens Bunyi Bunyi Perhalaman edisi kesepuluh.

Setali tiga uang dengan Abdi, Juang Manyala dari Vonis Media pun menghaturkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh yang mendukung Bunyi Bunyi Perhalaman hingga edisi penutup ini. Saat Juang mengucapkan bahwa Bunyi-Bunyi Perhalaman telah sampai pada edisi terakhir, kabar tersebut ternyata benar adanya, karena pada awalnya saya mengira Bunyi Bunyi Perhalaman bakal berlanjut pada musim berikutnya.

Namun, Juang menambahkan kalau Bunyi Bunyi Perhalaman tidak berhenti sampai di situ saja. Seluruh edisi Bunyi Bunyi Perhalaman akan dirilis dalam sebuah buku katalog dan album kompilasi seluruh Musisi yang telah hadir selama gelaran Bunyi Bunyi Perhalaman. Rilisan ini akan resmi beredar di akhir tahun 2015.

Setelah sesi sambutan tersebut, Imran pun memulai aksi perkusi pertamanya dengan karya bertajuk “Home Timbre”. “Home Timbre” merupakan komposisi perkusif yang sedikit kontemporer. Imran mengawalinya kembali dengan mengecek-gecek semua kesiapan alat-alat perkusinya. Alih-alih semua sudut alat perkusinya dia pukul perlahan-lahan, Imran pun mulai menunjukkan skill bermain perkusinya menuju pola pukul yang rumit dimainkan.

Imran Melulu ketika memainkan komposisi "Home Timbre" dalam Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-10.

Imran Melulu ketika memainkan komposisi “Home Timbre” dalam Bunyi Bunyi Perhalaman edisi ke-10.

“Teknik perkusi secara solo itu berbeda dengan bermain di band. Kalau perkusi harus kebanyakan mengambil bebunyian yang lebih tinggi agar bisa terlihat berbeda dengan drum kit di band. Namun sebetulnya, penampilan saya bisa dikondisikan sesuai dengan venuenya.” Ungkap Imran membuka sesi obrolan penciptaan karyanya.  “Proses kekaryaan saya itu bemula dari tahun 2000 bermula di Kareba, pada awalnya bermain drum. Tapi karena banyak kerjaan, teman band lain protes kepada saya,” kenangnya,  Oleh karena itu, Imran pun dialihkan ke perkusi oleh teman bandnya.

Imran pun membuka sesi diskusi penciptaan karyanya dengan mengingat kembali masa perkenalannya dengan alat musik perkusi solo.

Imran pun membuka sesi diskusi penciptaan karyanya dengan mengingat kembali masa perkenalannya dengan alat musik perkusi solo.

“Pertama kali bermain perkusi tentunya tidak bisa menguasai dengan baik. Sampai ketika saya mulai menaruh jatuh cinta pada permainan perkusi ketika melihat penampilan perkusi dari Aji Rao di konser Klakustik karya Kla Project”. Permainan perkusi pun mulai membuat Imran memahami bahwa sebuah permainan karya perkusi itu ibarat seperti gula, tidak bakal terasa manis jika tidak dikedepankan dalam pertunjukkan musik.

Imran pun mulai berani menjadi solois dalam perkusi walaupun kendalanya selalu ada pada alat dan event masih kurang pada tahun 1996-1997. Pada tahun 2005-2006, Imran pun bersama Ardi JK Percussion mulai berjuang untuk bisa main di pub dan berkolaborasi dengan DJ. “Saya sempat ragu ketika diajak bermain sama DJ Riri Mestica karena kendala di alat, namun saya tetap jalan terus,” kenangnya sekali lagi.

Saya pun sempat bertanya tentang cikal bakal mendalami permainan solo perkusi, apakah dia mengambil jalur pendidikan atau secara otodidak.  Imran pun menuturkan bahwa perkenalan awalnya yaitu ketika belajar di SMKI, kemudian masuk di UNM tapi dropout, karena banyak job di luar kuliah. Namun, hal itu membuat Imran menegaskan bahwa belajar musik perkusi lebih bagus bila ditempuh di jalur sekolah, karena ada hitam di atas putih alias ijazah. “Kalau otodidak, harus berkarya sebanyak-banyaknya buat diakui orang banyak,” pungkasnya.

Pertanyaan sempat saya lontarkan kepada Imran tentang pilihannya mendalami alat musik perkusi secara solo.

Pertanyaan sempat saya lontarkan kepada Imran tentang pilihannya mendalami alat musik perkusi secara solo.

Abdi yang pernah berkolaborasi dengan Imran di Sanggar Batara Gowa pada tahun 2001 lalu, memberikan testimoninya tentang sosok Imran.  Dia mengungkapkan bahwa Imran walaupun berpindah-pindah tempat dalam mendalami musiknya, tetap dikenal sebagai musisi. Abdi pun menambahkan bahwa seniman memang seharus membuka ruang seluas-luasnya dari disiplin yang kita dalami seperti yang dilakukan Imran. Abdi pun meminta tanggapan dari Imran perihal bagaimana dia bisa membedakan porsinya sebagai musisi dalam musik tradisi dengan musik hiburan.

Imran pun menjelaskan bahwa dia sebagai pekerja seni yang berdiri sendiri, musik yang pertama kali dia kenal adalah musik tradisi. Musik tradisi memang panggilan jiwa buatnya, tetapi Imran tetap melihat pemain band dalam dunia entertainment bisa menghasilkan banyak uang. “Bedanya, main entertainment itu mainnya spontanitas, uangnya banyak.”

Karena melihat peluang untuk bisa menghasilkan uang lebih banyak terbuka lebar, Imran pun mengajak teman-teman lainnya para pemain tradisi untuk bisa mendapatkan penghasilan dari musik hiburan juga. “Yang penting pakai sepatu jika masuk ke tempat yang formal seperti hotel”, ungkapnya dengan nada bercanda. “Saya mencari uang di musik entertainment, tapi musik tradisi itu panggilan jiwa. Tapi jangan salah, karena musik tradisi. saya bisa menginjak negara lain.” Walaupun sekarang lebih sering bermain di dunia entertainment, nuansa musik perkusi tradisi pun selalu dibawa Imram masuk ke permainan musik perkusi modern.

Selepas sesi pertama tanya jawab yang cukup lama, Imran pun membawakan karya berikutnya yang berkisar tentang kehidupannya sehari-hari. Untuk karyanya ini, Imran pun mengajak tiga teman musisi dari Urban Eggs antara lain Aan untuk berkolaborasi. Penampilan mereka pun diwarnai dengan spontanitas dan kekompakan permainan dengan tempo cepat dan lambat pun ditampilkan rapi hingga menuju klimaks, pukulan semakin bombastis. Kolaborasi yang cukup handal. Dari pola-pola permainannya terinspirasi dari gendang Toraja dan Mandar.

Kolaborasi Imran dengan tiga musisi handal yang dua di antaranya merupakan personil Urban Eggs, grup musik etnik dari Makassar.

Kolaborasi Imran dengan tiga musisi handal yang dua di antaranya merupakan personil Urban Eggs, grup musik etnik dari Makassar.

Memasuki sesi tanya jawab yang kedua, Juang Manyala menyempatkan untuk bertanya tentang pola permainan Imran. Juang  menyimak banyak pemain perkusi seperti Richard Bona, Bobby Mcferrin tetapi mereka tidak terus menerus memainkan pola repetitif. Sedangkan dalam permainan Imhe banyak  memainkan pola repetitif. “Bagian manakah dari permainan perkusi yang membuat anda merasa istimewa bisa masuk ke permainan yang menghibur (entertainment)? Karena menurut saya permainan perkusi itu tidak segmented, bisa masuk kemana saja,” tanya Juang.

Juang Manyala dari Vonis Media menyempatkan untuk bertanya kepada Imran di Bunyi Bunyi Perhalaman edisi kesepuluh.

Juang Manyala dari Vonis Media menyempatkan untuk bertanya kepada Imran di Bunyi Bunyi Perhalaman edisi kesepuluh.

Imran pun menjelaskan bahwa sisi yang menarik dari permainan perkusi untuk bisa masuk entertainment yaitu bermodal percaya diri saja bisa mengisi bunyi-bunyi ritmis yang berbeda. “Saya mengakui kalau pola permainan saya masih cenderung repetitif. Tetapi karena demi mencari penghidupan, saya harus percaya pada kemampuan diri sendiri,” jelasnya.  Imran bersyukur bisa bertemu dengan siapapun yang bisa membantunya bisa berkarya di dunia entertainment. “Harus bangga bisa menjadi pekerja seni. Apapun yang digeluti dengan ikhlas pasti berkah.”

Seorang audiens bernama Anto pun bertanya tentang pengarapan lagu perkusi Imran apakah sama dengan lagu-lagu lainnya dan bagaimana cara bisa menghadirkan komposisi dengan improvisasi seperti karya kedua. Untuk penggarapannya, Imhe menjelaskan bahwasanya sama saja dan tergantung yang komposernya. “Tidak ada pakem untuk pengarapannya. Sedangkan kalau improvisasinya itu tidak bisa dibilang instan. Karena musik perkusi perlu dikulik juga, harus berpikir yang mana bagus dipukul.” Apalagi menurut Imran jika musik solo perkusi harus berkolaborasi dengan DJ secara mendadak. Banyak tantangannya untuk solo perkusi ini karena pikiran harus jalan terus menurutnya. “Untuk pola-pola seperti itu pernah saya lakukan. Cuman untuk penampilan kali ini dikondisikan.”

Ketika ditanya apa ada niatan ke depan untuk bisa membuat album penuh, Imran mengamini dengan khusyuk hal tersebut. “Saya pernah diberitahu Moexin untuk membuat album solo.” Namun hal itu tentunya tidak mudah, karena album perkusi harus banyak warna, jadi harus kolaborasi sebanyak-banyaknya dengan musisi lain.Intinya, karya musisi harus didokumentasikan,” ujarnya sebelum menutup Bunyi Bunyi Perhalaman.

Sebelum Imran menutup penampilannya, Juang dari Vonis Media pun mengungkapkan sekali lagi bahwa Bunyi Bunyi Perhalaman bakal dibuatkan dalam bentuk katalog dan album kompilasi. Hal ini dikarenakan  frekuensi penonton Bunyi Bunyi Perhalaman tidak tetap, namun penyelenggara ingin Bunyi Bunyi Perhalam tetap berkelanjutan gaungnya.Album ini diharapkan memberi pandangan how to change the world with music.

Rencananya album ini dirilis secara September, setelah sesi rekaman album BBPH yang telah melibatkan Sese Lawing, Urban Eggs, Fami Redwan dan Rizcky De Keizer yang telah selesai melakukan take lagunya. Rencananya albumnya diluncurkan di kampus-kampus yang bertajuk Bunyi Bunyi Perhalaman Goes to Campus.

Setelah Imhe didaulat untuk memberikan beberapa tips yang bisa dibagi. Imhe pun memgajak Juang, Apo dan Subhan untuk membantunya. Usut punya usut, Imhe ternyata  mengerjai mereka untuk memainkan solo perkusi versi mereka sendiri. Hahaha. Penutup yang jenaka sebelum lafadz adzan Maghrib dikumandangkan.

Setelah Imran didaulat untuk memberikan beberapa tips yang bisa dibagi, Imran mengajak Juang, Apo dan Subhan untuk membantunya. Usut punya usut, Imhe ternyata mengerjai mereka untuk memainkan solo perkusi versi mereka sendiri. Hahaha. Penutup yang jenaka sebelum lafadz adzan Maghrib dikumandangkan.

Bunyi Bunyi Perhalaman yang lahir dengan idealisme tanpa paksaan ini diharapkan bukan menjadi persembahan terakhir VONIS untuk kerjasamanya dengan Rumata’. Diharapkan kegiatan serupa seperti ini tetap ada untuk menghadirkan ruang-ruang baru bagi musisi Makassar yang masih dihadapkan pada persoalan tempat atau venue musik yang memadai, yang berbanding terbalik dengan pembangunan kota yang semakin pesat beberapa tahun ini.

Untuk itu mari kita dukung  terus gelaran seperti ini berkelanjutan. Caranya sederhana yaitu dengan datang menyimak, memberikan pendapat dan berkolaborasi jika memungkinkan. Kolaborasinya pun sebaiknya tidak hanya antar musisi saja, tetapi ada baiknya jika antar jurnalis, aktivis, musisi, penulis buku maupun siapa saja demi kota ini tetap waras dengan musik sebagai elemen kehidupannya. Mariki’! []


 Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

Merayakan Usia Ke-dua dengan Cinta dan Kasih Sayang

Panggung Memukau milik Musisi Indie

Panen Hasil Bumi, Panen Kolaborasi

Menuju Kegelapan

“Konsisten Plus Nekat!”

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise