Teks: Mulyani Hasan | Foto: Tim Media MIWF 2017

Sebagian besar Film Indonesia yang hadir di bioskop, kering muatan sosial. Dengan dalih mengikuti selera pasar, film-film tersebut menawarkan cerita dan adegan yang minim riset dan tidak berpijak pada kenyataan.

Namun, benarkah itu gara-gara selera pasar?

Memang benar ada sebagian orang yang terobsesi pada cerita-cerita hantu, menikmati drama perebutan cinta, atau kisah religi tentang kesalahen sekaligus kelicikan para perempuan. Tapi, para penikmat itu tidak pernah benar-benar meminta, bukan? Seringkali orang menonton film di Bioskop, hanya karena tidak ada pilihan lain.

Mari bicarakan tiga film yang diangkat dari kisah nyata dengan sudut pandang tidak umum di bioskop Indonesia. Mereka adalah Athirah, Turah, dan Istirahatlah Kata-kata.

Kecuali Turah, dua film lainnya tayang di bioskop dan ditonton puluhan ribu orang. Bahkan, pembuat filmnya sendiri tidak pernah membayangkan bisa sebanyak itu. Mereka beranggapan film seperti itu bukan selera umum.

Ketiga film itu diputar secara gratis di Benteng Rotterdam, Makassar tiga malam berturut-turut sejak 15 hingga 17 Mei lalu, dalam acara Ke Taman, salah satu rangkaian kegiatan sebelum Makassar International Writers Festival 2017 digelar. Usai menonton film, para penonton diberi kesempatan untuk mendiskusikan setiap film bersama praktisi film dan pemerhati budaya.

Athirah jadi film pertama yang diputar di Benteng Rotterdam. Riri Riza, sang sutradara mengadopsi film ini dari novel biografis, dan dirilis pada September 2016. Film ini mendapat penghargaan Piala Citra sebagai film terbaik, sutradara terbaik, dan pemeran utama wanita terbaik.

Riri Riza dan Tim Produksi film Athirah di bincang santai Taman Sinema

Selanjutnya, film Turah, karya sutradara Wicaksono Wisno Legowo dirilis 2016, dipuji banyak penonton. Kisah getir warga Desa Tirang, Tegal, yang bertahun-tahun hidup miskin di bawah kekuasaan seorang juragan empang. Setiap hari mereka bekerja keras tanpa bayaran setimpal. Semua orang mengeluh tapi tak berdaya di hadapan juragan. Ada yang pergi, tapi lebih banyak yang bertahan dalam kemiskinan. Perlawanan satu-satunya dilakukan oleh seorang bernama Jadag, yang hidupnya kemudian berakhir di tangan jagal.

“Kita butuh film-film realis seperti ini yang menggambarkan kenyataan di tempat-tempat yang dekat dengan kita,” kata Riri Riza, sutradara yang hadir dalam diskusi terbuka usai pemutaran film. Dan ternyata, penontonnya banyak, setelah berulangkali diputar di banyak tempat.  Ini bukti bahwa film-film realis seperti ini punya pasar sendiri, katanya.

Riri kenal baik dengan Wicaksono, dan tidak menduga, dengan uang terbatas, ia mampu menyiasati pengambilan gambar dengan teknik-teknik memukau.

Film ini dianugerahi sejumlah penghargaan di antaranya dari Jogja Neptac Asian Film Festival, dan Singapore International film Festival.

Pemerhati budaya, Nurhady Sirimorok, terpukau dengan film ini. Menurut dia, banyak hal dalam film ini yang bisa dikaji. Ini kejadian di sebuah kampung kecil tapi menunjukkan masalah besar yang sedang terjadi di mana-mana.

“Saya yakin, sutradara dengan sengaja menampilkan Jadag tidak pernah pakai baju selama film. Ini untuk menunjukkan, bahwa dia orang paling jujur,” kata Nurhady Sirimorok.

Nurhady Sirimorok turut mengapresiasi Film Turah

Selain menunjukkan relasi kuasa antara orang-orang miskin pekerja dengan juragan setempat, film ini juga berhasil merekam tentang orang-orang kota ketika datang ke desa dan memperlakukan orang desa, kata Nurhady. Juga cara kerja wartawan dan petugas sensus persis yang terjadi di kehidupan kita. Mereka datang bertanya dengan bahasa-bahasa birokrasi, lalu diam ketus ketika ditagih janji, kapan listrik akan datang ke kampung kami?

“Tidak tahu, itu bukan tugas kami,” kata petugas sensus dalam film itu.

Film Istirahatlan Kata-kata karya sutradara Yosef Anggi Noen dirilis Januari 2017. Di luar perkiraan, penontonnya membludak. Film ini meraih peringkat ke lima sebagai film yang paling banyak ditonton dengan jumah lebih dari 80.000 penonton hingga Maret 2017. Awalnya, film ini memang tidak diharapkan menarik banyak penonton.

Film ini kisah nyata seorang penyair yang merangkap aktivis, Widji Thukul. Bercerita saat Thukul menjalani pelarian di akhir masa kediktatoran Soeharto. Thukul hilang diculik tentara, hingga kini tidak pernah kembali.

“Sebenarnya, film realis begini banyak. Cuma tidak masuk bioskop. Istirahatlah Kata-kata satu-satunya yang masuk bioskop,” kata M. Irfan Ramli, seorang penulis skenario.

Film ini terbilang sukses sekaligus membuktikan selera penonton film tidak bisa dianggap remeh.

Penyair Aan Mansyur punya pandangan lain soal film ini. Bagi dia, selain menampilkan realitas pergolakan politik ketika itu. Film ini telah membawa buku puisi Widji Thukul ke rak-rak buku, ke toko-toko, dan menjangkau banyak pembaca.

“Sekarang, anak-anak muda bawa buku Widji Thukul, hal yang tak terbayangkan sebelumnya,” kata dia.

Di balik suskes film ini, banyak perdebatan di kalangan penonton yang merasa keberatan terhadap penggambaran Widji Thukul.

“Silakan membuat film tentang Widji Thukul lagi,” kata Irfan, menanggapi kritik terhadap film ini. Semakin banyak film macam ini, akan semakin bagus, katanya. []