Sumber Gambar: Sabaoth (@sabaoth_mddm)

Sama halnya dengan candu, tak pernah ada kata bosan untuk menikmati liburan. Apalagi di Kota Manado, Desa Lansot, dan Desa Tontalete yang terletak di Utara Sulawesi. Tempat-tempat wisata, baik yang sudah diketahui publik atau pun yang  belum dikenal secara luas, adalah sebuah kenikmatan menikmati pagi dengan pemandangan gunung Klabat dengan udara yang sejuk dan benar-benar bersih. Menghabiskan petang di pantai dengan pasirnya yang putih, bersantai malam dengan suara jangkrik-jangkrik yang menenangkan, satu hari terasa sangat singkat. Selain menikmati pesona alam yang menghanyutkan, keramahan orang-orang desa juga mampu membuat siapa saja yang berkunjung merasa nyaman dan betah untuk berlama-lama di sana.

Tidak cukup memuaskan bagi saya jika hanya menikmati alam saja. Apalagi yang dapat memuaskan ‘nafsu’ pecandu musik cadas selain event dan toko yang menyediakan berbagai kebutuhan kaum penikmat musik miring. Lalu pada tanggal 27 Agustus 2016, saya  menyempatkan diri untuk melepaskan dahaga dengan menyambangi dua toko yang berdekatan dan berlokasi di sebuah pusat perbelanjaan di kota Manado. Dua toko tersebut bernama Rock N’ Rebel dan Bloodysoul. Menyediakan berbagai kebutuhan pecandu musik cadas mulai dari fashion, hingga rilisan fisik  berupa CD. Di tempat pertama, saya bertemu dengan Boy, shopkeeper dan juga vokalis dari Sabaoth, unit Death Metal dari Manado. Setelah dapat sepasang baju milik Sabaoth, kami pun bertukar cerita di Bloodysoul yang jaraknya hanya beberapa meter dari Rock N’ Rebel. Banyak hal yang saya ingin tahu, mulai dari Unholy (mini) Tour mereka di Jakarta dan Bandung beberapa waktu lalu, hingga apa kabar skena musik keras di Manado.

Jika ada dari kalian yang belum mengetahui Sabaoth, band cadas ini pernah tampil di Makassar pada Rock In Celebes 2015. Terbentuk pada tahun 2005, sebelum mantap memainkan Death Metal seperti sekarang, mereka sempat memainkan Death Grind. Selama eksis di dunia musik keras, Sabaoth telah banyak melahirkan karya seperti album Demogrind yang berisikan empat lagu yang dirilis pada tahun 2007, Exile berisi empat lagu yang dirilis awal 2010, promo album yang bertajuk Shadow Of Sin pada tahun 2013, dan yang terbaru ada Unholy Divinity yang dirilis pada tahun 2015. Seperti yang kita ketahui, dalam sebuah band baik itu band besar skala internasional hingga band kecil skala lokal pun, keluar masuk personel adalah hal yang lumrah terjadi. Sabaoth juga sempat mengalaminya, hingga kini mantap dihuni oleh Boy (vocal), Rio (Gitar), dan Marcel (Drum).

Tentang Unholy (mini) Tour mereka, saya mengetahui dari update-an personil mereka di Facebook. Saya yang juga penggemar band Death Metal ini ikut senang karena akhirnya band dari Manado, Sulawesi Utara ini bisa menunjukkan taringnya. Akan tetapi mini tour yang mereka jalani selama 10 hari tersebut ternyata tidak berjalan dengan mulus-mulus saja. Ada saja kendala-kendala yang dihadapi mulai dari teknis hingga kendala cuaca yang tidak bisa diprediksi. Sesuai dengan pengakuan Boy, kendala yang umum dihadapi oleh kebanyakan band ialah kendala finansial. Dan setibanya mereka di Sickness Deathfest yang diadakan di Jakarta, kendala berikut yang datang menghampiri adalah kelistrikan, di mana daya yang dipakai ternyata melebihi dari apa yang seharusnya. Setelah selesai,  acara sempat tertunda selama satu jam dikarenakan hujan lebat mengguyur event outdoor tersebut. Setelah dari Sickness Deathfest di Jakarta, Sabaoth bertolak ke Bandung untuk menuntaskan rangkaian Unholy (mini) Tour mereka di event Groupies Deathfest. Kembali, ada saja kendala yang dihadapi. Boy selaku vokalis dan personil yang lain saat berada di Bandung sempat drop dikarenakan cuaca yang sangat dingin. Saking dinginnya, menyentuh air pun mereka enggan. Dari berbagai kendala yang dihadapi, selebihnya, event dan sekaigus mini tour yang dijalani berjalan lancar, dan Sabaoth bisa kembali ke kampung halaman.

Sabaoth ketika telah sampai di Jakarta untuk titik pertama Unholy (mini) Tour-nya.

Sabaoth saat tiba di Jakarta untuk titik pertama Unholy (mini) Tour-nya.

Sabaoth ketika tampil di Sickness Fest.

Sabaoth ketika tampil di Sickness DeathFest.

Berbicara tentang kampung halaman yaitu Manado yang juga menjadi rumah bagi Sabaoth, ternyata tidak terlalu indah sebagaimana mestinya. Unit Death Metal yang sangat disegani di berbagai skena musik metal di tanah air ini bisa dikatakan terkucilkan di rumah sendiri. Dengan berbagai alasan yang tak jelas, bahkan menyesatkan. Padahal, Sabaoth adalah salah satu yang giat mengadakan berbagai event saat skena Death Metal Manado mulai bergeliat di tahun 2012. Apa yang dulunya dibangun bersama untuk kemajuan bersama kini telah berubah dan seakan hilang. Berangkat dari sebuah kesalahpahaman lalu berujung pada perpecahan ini semakin miris dengan timbulnya slogan “support” yang diteriakkan sana-sini oleh yang mengucilkan. Saya pribadi merasa geli atas keadaan ini. Lama sudah saya cerna berulang kali dalam pikiran, entah “support” bagaimana yang dimaksud. Saya rasa, di sini perlu saling menghormati dan harusnya lebih banyak berkarya daripada bicara, agar kelak sebuah kemajuan tidak menjadi bual semata.

Terlepas dari kisruhnya permasalahan yang sama sekali tidak mendewasakan, Sabaoth yang juga mendirikan MDDM (Manado Death Metal) bukan sebagai komunitas namun sebuah identitas ini berterimakasih atas semua pihak yang telah turut campur tangan sehingga Unholy (mini) Tour bisa berjalan dengan lancar. Semoga dengan lancarnya mini tur ini, bisa membuat semua pecandu, terlebih khususnya para pelaku atau penggiat musik cadas sadar bahwa karya yang diciptakan dalam diam bisa jauh lebih berbahaya.