Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )| Sumber Gambar: Detikcom/Kartika Sari Tarigan

Menjelang berakhirnya Ramadan, langit kota ini sering disapa mendung dengan sesekali hujan deras. Alam seakan sendu ingin ditinggalkan Ramadan. Namun kesejukan yang menenangkan tersaji di akhir-akhir ini semuanya tidak diikuti dengan suasana pemberitaan yang disajikan media-media yang ada. Beragam berita hangat silih berganti seakan menghitung puasa yang tersisa hingga nanti lebaran tiba. Ada suporter yang ricuh, penegak hukum ditangkap KPK, pejabat yang dituduh menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan anaknya dan yang paling banyak kita jumpai di saat seperti ini yaitu kepadatan arus mudik lebaran. Walau semua yang saya sebutkan sebelumnya sebenarnya tak terlalu istimewa. Ibarat pergi ke kafe yang menawarkan Indomie, kita sudah bisa menebak rasanya. Suporter yang ricuh itu memang terkenal rusuh tiap timnya kalah, anggota DPR yang ditangkap KPK berasal dari Partai Demokrat (lagi), pejabat yang dituduh menggunakan fasilitas negara lalu mati-matian membantah, dan sebagainya.

Tetapi, di antara itu terselip satu masalah yang menarik perhatian saya dan sedang kencang-kencangnya diberitakan di berbagai media. Semua dimulai dari berita penangkapan sepasang suami istri di Bekasi yang menjadi tersangka pembuat vaksin palsu. Dari penangkapan itu, diketahui ada tiga pabrik pembuat vaksin palsu, yakni di Bintaro, Bekasi Timur, dan Kemang Regency. Dalam seluruh penggeledahan, penyidik mengamankan barang bukti, yakni 195 sachet hepatitis B, 221 botol vaksin polio, 55 vaksin anti-snake dan sejumlah dokumen penjualan vaksin. Saya membaca dari salah satu portal berita bahwa cukup banyak daftar vaksin yang dipalsukan, di antaranya:

  1. Vaksin Engerix B
  2. Vaksin Pediacel
  3. Vaksin Eruvax B
  4. Vaksin Tripacel
  5. Vaksin PPDRT23
  6. Vaksin Penta-Bio
  7. Vaksin TT
  8. Vaksin Campak
  9. Vaksin Hepatitis
  10. Vaksin Polio bOPV
  11. Vaksin BCG
  12. Vaksin Harvix

Dari seluruh daftar vaksin di atas,  jujur saja saya hanya mengetahui empat vaksin saja. Dari segi jumlah vaksin yang dipalsukan ini jelas menjadi ancaman bagi kesehatan bagi masyarakat terutama balita. Namun saya sempat membaca cuitan dari akun resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ( @KemenkesRI ) menyatakan vaksin palsu yang beredar mengandung campuran antara cairan infus dan Gentamicin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC. Menurut Kemenkes RI, vaksin palsu ini cenderung tidak berbahaya. Namun, bisa saja bisa berefek negatif karena vaksin dibuat dengan cara yang kurang baik. Efeknya bisa berupa infeksi yang gejalanya tampak tak lama setelah imunisasi Jadi, kalau sekian lama tak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi, bisa dipastikan aman.

Pernyataan bernada menenangkan tersebut tidak membuat saya tenang kembali setelah membaca info yang sangat lengkap (dalam artikel milik Meita Aryanti di Kompasiana, Benarkah Vaksin Palsu Tidak Berbahaya?) bahwa ternyata Gentamicin yang terkandung dalam vaksin palsu itu tidak bisa disepelekan. Saya tidak mumpuni untuk menjelaskan detailnya, namun disebutkan dalam artikel tersebut bahwa penggunaan Gentamicin tidak bisa sembarangan. Semua harus memperhatikan kondisi pribadi yang akan diberikan Gentamicin, seperti tidak dianjurkan untuk orang yang sedang dalam keadaan dehidrasi, tidak dianjurkan bagi ibu hamil yang sedang menyusui bila terpaksa maka kegiatan menyusui harus dihentikan karena bisa fatal bagi bayi, dan sebagainya. Apalagi bila memasuki kadar toksik (dosis Gentamicin sebagai racun), Gentamicin dapat menyebabkan terutama kerusakan pada ginjal dan telinga.

Pernyataan Kemenkes RI sebelumnya dalam menghindari kepanikan tentang vaksin palsu memang berhasil dengan baik. Hanya saja terdengar sangat menyepelekan untuk kasus yang menurut saya cukup serius karena menyangkut kesehatan masyarakat secara luas. Mengingat betapa bahayanya penggunaan Gentamicin tanpa prosedur ketat, ditambah lagi tentang kabar penyebarannya yang sudah meliputi Jakarta, Banten, Jawa Barat, Semarang, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Kabar yang paling anyar adalah vaksin palsu ini sudah beredar di Medan, Aceh dan Padang. Walau penyebarannya masih terkesan tidak merata.

Oh iya, setelah dijerat UU Kesehatan dengan ancaman 10 tahun penjara juga UU Pencucian Uang, pasangan suami istri pengedar vaksin palsu menyatakan menyesal dan sang istri sering menangis mengingat anak-anaknya di salah satu headline berita. Pertanyaannya, kenapa harus menunggu setelah menikmati harta berlimpah setelah 13 tahun? Kenapa bukan saat awal si iblis berbisik perihal visi keuntungan ekonomi besar dari kegiatan melanggar hukum itu?

Sekali lagi kondisi perekonomian menjadi lapisan pertama dalam masalah ini. Usaha untuk meningkatkan kondisi ekonomi memang tidak bisa dibatasi. Namun, caranya yang mungkin perlu dipertimbangkan. Ini bisa jadi peringatan kepada Kemenkes RI jangan sampai pernyataan santainya terhadap kasus vaksin palsu malah berdampak besar suatu saat nanti.  Tapi sudahlah, bukannya penyesalan begitu? Selalu menyapa di akhir. Sama seperti penyesalanku saat diam dan membiarkanmu pergi saat itu.


Baca tulisan lainnya

Balada TV Kabel: Ditinggal Saat Lagi Sayang-sayangnya

Investigasi Serba Kebetulan

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian