Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Hari ini, dalam perayaan Record Store Day di Omuniuum Bandung, salah satu rilisan terbaru Teman Sebangku yang berjudul Hutan Dalam Kepala. Teman Sebangku adalah dua musisi yang beranggotakan Doly Harahap dan Sarita Rahmi. Nama project musik dari duo yang memilih aliran folk ini terdengar unik. Nama Teman Sebangku dipilih karena mereka menganggap project ini tidak sekadar persoalan teknis nada.  Melainkan hubungan mereka sampai ke wilayah pribadi, selayaknya hubungan dua orang yang duduk sebangku. “Teman Sebangku adalah dia yang pertama kali kita minta contekan saat ujian, kita pinjami uang saat kehabisan ongkos pulang, dan orang yang pertama kita pinjam pensilnya.”

Teman Sebangku memilih penampilan sederhana yang mengandalkan vokal dan gitar akustik nilon. Penampilan tersebut mereka pilih karena kesederhanaannya sesuai dan merepresentasikan apa yang mereka inginkan dalam bermusik. Melihat musik folk kembali digemari peminat musik di Indonesia, mereka mengatakan bahwa mereka bermusik tanpa mempertimbangkan tren. Folk adalah set musik yang mereka inginkan namun mereka tidak membatasi diri dalam bereksplorasi lebih jauh. Karena menurut mereka, menjadi sederhana itu tidak mudah. Sebelumnya peluncuran Hutan Dalam Kepala, mereka baru saja menyelesaikan tur Berjalan Menuai pada 29 Maret hingga 11 April 2016. Teman Sebangku hadir dalam perayaan ulang tahun kedua Katakerja pada 30 Maret lalu dan menjadikan Makassar kota pertama dari tur Berjalan Menuai.

Tur Berjalan Menuai merupakan pengobatan untuk rasa bosan mereka bernyanyi di seputaran kota di mana Teman Sebangku terbentuk. “Kami ingin belajar lagi tentang banyak hal seputar musik, belajar untuk hinggap di ranting-ranting pohon baru. Tur ini sebagai rasa syukur dan terima kasih atas apa yang sudah kami terima. Dan kami juga ingin bisa berbagi kepada semesta sebagai rasa terima kasih.” Dengan alasan-alasan tersebut, mereka akhirnya memulai tur Berjalan Menuai yang bisa dikatakan tindakan nekad namun dimodali tekad yang kuat untuk bisa bertemu dengan pendengar mereka di beberapa kota. Diakuinya, secara finansial bekal mereka pas-pasan dalam menjalankan tour ini bersama dua rekan lainnya, Ihsan dan Baya. Namun dengan kekuatan jaringan pertemanan di beberapa kota, tour ini berjalan dengan lancar dan tentu saja membahagiakan.

Di Makassar sendiri, mereka menganggap Katakerja sebagai ruang yang tepat untuk bisa bertemu dengan teman dan pendengar mereka dalam rangkaian tur Berjalan Menuai. Alasannya karena mereka merasa lebih nyaman bernyanyi tidak di sebuah panggung besar dengan segala tata panggung dan lampu yang ‘wah’. Ditambahkan lagi, “Kami salah satu penggemar karya Aan Mansyur. Beberapa tahun lalu kami mendapati mas Aan memosting di salah satu media sosial yang kurang lebih isinya “#np Berhenti Sejenak – Teman Sebangku.’ Lagu kami didengar, kami girang! Mulai saat itu kami beranikan untuk mulai menyapa dan membangun pertemanan hingga saat ini.”

Meskipun kesempatan tampil di Katakerja merupakan kali pertama mereka bertemu dengan pendengarnya di Makassar, mereka sedikit tahu mengenai perkembangan musik di Makassar. Mereka cukup sering mendengar Theory of Discoustic dan Ruangbaca. Hal yang paling ingin mereka cari di setiap kota yang mereka kunjungi adalah untuk lebih mengenal jauh partner mereka dalam bermusik dan untuk tahu bagaimana apresiasi orang-orang di kota yang mereka datangi mengenai musik yang mereka gubah. Selain itu, tentu saja untuk menjaga, mengembangkan dan mencari jaringan pertemanan yang baru.

Teman Sebangku saat tampil di Perayaan Dua Tahun Katakerja. (Foto; @katakerja65 )

Teman Sebangku saat tampil di Perayaan Dua Tahun Katakerja. (Foto: @katakerja65 )

Kembali ke album Hutan Dalam Kepala. Album ini sebenarnya tidak diniatkan untuk dirilis pada Record Store Day tahun ini, tapi karena ada kendala di tahap akhir proses mixing dan mastering akhirnya harus ditunda perilisannya dari rencana sebelumnya. Hutan Dalam Kepala berisi delapan lagu, sedangkan album sebelumnya yang rilis pada 2011 yang merupakan mini album hanya berisi empat lagu. Butuh proses panjang dalam pembuatan album ini karena kepercayaan diri mereka yang kembang kempis saat menulis lagu-lagunya. “Lirik-lirik yang kami tulis tidaklah persuasif, tidak juga memberikan jawaban. Lirik yang kami tulis lebih menceritakan apa yang kami alami, dan semoga ada juga dari teman-teman yang persis sama mengalami, atau pun tidak satu pun dari teman-teman yang pernah mengalami, tak mengapa. Akan lebih menyenangkan apabila pendengar mempunyai persepsi yang berbeda dengan kami.”

Hutan Dalam Kepala dipilih sebagai judul karena mereka menganggap bagi beberapa orang, hutan mungkin menjadi sesuatu yang menyeramkan dengan segala isinya, tapi bagi sebagian orang lainnya bisa menjadi sebaliknya. “Keriuhan akan pertanyaan yang saling tumpuk tentang diri sendiri, tentang apa dan kenapa. Tentang resah dan lainnya di dalam kepala. Itu menjadi seperti belukar lebat layaknya hutan dan kami ditantang untuk menyikapi semuanya menjadi situasi yang menyeramkan atau justru sebuah petualangan diri yang menyenangkan.”

Untuk hal-hal yang menginspirasi mereka berdua dalam berkarya cukup berbeda. Dalam musik Doly menyenangi Iwan Fals sedang Sarita memiliki banyak inspirasi, salah satunya The Beatles. Meskipun untuk puisi Doly menyukai karya W.S Rendra dan Sarita lebih menyukai Sapardi Djoko Damono, namun untuk buku sastra mereka sama-sama mengagumi karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Untuk film Sarita menyenangi Emily sedang Doly adalah Life Is Beautiful. Perupa favorit Doly adalah Basquiat sedang Sarita adalah Vincent Van Gogh. Untuk situs web, Doly senang mengunjungi Tiny Desk Concert dari NPR. []


Baca artikel lainnya

Semangat Kolaborasi di Dua Tahun Katakerja

Saya Suka Karya-karya Sapardi

Berimaji dengan John

Menjaga Hutan, Menghidupkan Adat

Darah di Atas Salju