Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Max Havelaar pada umumnya diketahui masyarakat Indonesia melalui buku-buku sejarah sebagai novel karya Multatuli (nama pena yang digunakan penulis Belanda, Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860. Bercerita dengan jelas dan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Terutama persoalan sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar juga merupakan karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia.

Belakangan nama novel tersebut kembali mencuat. Uniknya, bukan berkisar tentang buku tersebut melainkan diadopsi menjadi nama oleh sebuah band rock asal Jakarta. Max Havelaar yang saya maksud berikut adalah band yang beranggotakan dedidude (vokal/gitar), Muhammad Asranur (keyboard dan piano), David Q Lintang (gitar), Teddy Satrio (Bass), dan Timur Segara (Drums). Mereka pun telah merilis album perdana yang berjudul sama, Max Havelaar, pada Februari 2016.

Berawal dari keingintahuan tentang pemilihan nama Max Havelaar, saya berkesempatan untuk mengobrol bersama dedidude dan Muhammad Asranur selepas Max Havelaar tampil di Record Store Day Makassar pada 23 April 2016 lalu.

Bagaimana kesan kalian setelah tampil untuk pertama kalinya di Makassar?

Dedi: Kalau antusiasmenya, lumayan sih. Kebanyakan dari teman yang udah manggung di sini sempat bilang, (Makassar) ini kiblat barunya musik Indonesia, karena sudah banyak event musik yang skala nasional. Jadi, kita merasa terhormat sekali, baru keluar album satu setengah bulan yang lalu, bahkan promonya belum maksimal. Thank you banget, atas perkenalan Max Havelaar di sini.

Asra: Istimewanya, ini kota pertama tur Max Havelaar setelah Jakarta.

Wah, pertama kalinya keluar dari Jakarta ya, hehehe. Okay, sempat ada masalah teknis saat tampil di panggung RSD Makassar tadi. Bagaimana cara kalian mengatasi hal seperti itu?

Dedi: Masalah teknis itu selalu ada aja, sih. Entah feedback, entah gitar mati, segala macam. Ya udah, nikmatin aja. Lagu pertama tadi juga monitor drumnya ternyata belum menyala.

Baiklah, boleh diceritakan perjalanan Max Havelaar secara singkat hingga menjadi band?

Dedi: Sebenarnya band ini untuk rekaman dulu. Jadi bukan seperti band yang biasa harus rajin main di gigs. Karena masing-masing personel juga ada band lainnya. Akhirnya bisa berkomitmen di tahun 2016 ini untuk fokus di band ini selain band lainnya. Max Havelaar terbentuk pada awal tahun 2010 di Jakarta. Berawal dari gue bertemunya dengan Asra (Pandai Besi, Monday Math Class, Fever To Tell) yang saling bertukar referensi musik dan akhirnya sepakat untuk membentuk sebuah band. Kemudian, ketemu David untuk mengisi posisi gitar, yang sering menjadi partner bermusik gue. David juga tergabung dengan beberapa band seperti Float, Pandai Besi, Sopana Sokya, AreYouAlone dan menjadi session player. Selanjutnya Teddy bergabung di posisi bass. Kalau posisi drummer sempat dibantu sama Akbar dari Efek Rumah Kaca, kemudian sempat ada Hendra jadi personil tetap. Dengan masuknya Hendra, dimulai proses rekaman 9 lagu  dan selesai akhir 2015 kemarin. Setelah selesai proses rekaman debut album, Hendra memutuskan keluar dan digantikan oleh Timur (Float Sopana Sokya, Most Famous) sekarang nih.

Asra: Jadi sebelum kita kelar rekaman, kita udah ngobrol, pokoknya kita harus sering latihan, jadi pas album keluar, udah siap manggung.

Kalau tiap tur ke kota selain Jakarta nanti, apa yang dicari Max Havelaar selain kuliner khas di kota tersebut?

Dedi: Hahaha, kalau gue sih, senang dengan gig. Baik skala kecil sampai besar gitu. Dari gig, bisa banyak interaksi antara kita dengan penonton. Belajar juga satu sama lain dari Max Havelaar sendiri. Kalau makanan pasti lah, pallubasa di Makassar, itu wajib. Makanan wajib anak indie, hahaha.

Asra: Kalau gue pribadi sih, selain makanan, gue selalu nyari komunitas musik di setiap kota tuh, siapa aja sih, yang bisa dihubungi dan bisa ngobrol bareng, atau band di kota tersebut yang bisa gue tonton siapa aja. Gue pernah nonton Theory of Discoustic sih yang di Sepiring Festival kemarin pas datang sama Pandai Besi.

Dedi: Gue juga tadi mau nonton band yang tampil sebelum Max Havelaar. Tapi, tadi pagi tidur hanya tiga jam, jadi tidak sempat. Hehehe.

Mengapa Max Havelaar dipilih menjadi nama band ini? Padahal kita ketahui Max Havelaar adalah nama novel karya Multatuli.

Dedi: Sebenarnya gak ada makna atau inspirasi dari sana sih.

Asra: Sebenarnya kita tadi pas lagi di mobil sempat bercanda pas lihat banner besar Record Store Day Makassar, soalnya yang pasti mengerti Max Havelaar itu buku, pasti mengira kok Record Store Day Makassar, ada nama buku ya? hahaha. Sebenarnya bukan gak ada makna, tapi lebih enak diucapin aja sih. Dulu pernah ada beberapa nama, terus Dedi bilang Max Havelaar aja. Yang lain pun sepakat pakai nama ini.

Bisa ceritakan sedikit tentang proses pembuatan albumnya yang memakan waktu cukup lama? Saya dulu sempat dengar Suara Kita Suara Tuhan tahun 2012 lalu, sebelum albumnya keluar tahun ini.

Dedi: Alasannya sih, kita semua pada usia produktif bekerja, jadi sulit untuk mengatur waktu. Ketika mau dikerjakan lagi, eh pada barengan keluar album, kayak si David sama Float juga, Asra sama Pandai Besi dan ERK, drummer kami juga keluar, Banyak penundaan jadinya. Tapi, pada satu waktu, kita ngumpul dan ngomong soal komitmen, pada setuju semua, ya udah, akhirnya kita keluarin.

Packaging album ini menarik, karena ada sembilan artwork untuk setiap lagunya. Bagaimana cara kolaborasinya dengan teman-teman ilustrator? Apakah ada kendala dari mereka untuk interpretasi tentang lagunya?

Dedi: Sebenarnya kalau masalah artwork-nya, saya kirimkan mereka lagu dan liriknya, terus saya kirimkan satu atau dua kalimat penjelasan, artinya seperti ini, terserah lo mau interpretasikan seperti apa, karena kita gak mau mengendalikan juga. Setelah jadi, keren juga ya, kita malah gak sampe kepikiran ke situ, hahaha.

9 artwork yang ada di dalam album perdana Max Havelaar.

Sembilan artwork yang ada di dalam album perdana Max Havelaar.

Menurut saya, musik yang kalian usung ini alternative rock. Bagaimana menurut kalian?

Dedi: Kita gak pernah melabeli musik kita ini masuk di mana sebenarnya sih. Kita main rock aja deh. Namun, tidak ada batasan musik yang dibawakan lebih tepatnya.

Asra: Masing-masing personel Max Havelaar punya kesukaan musisi yang berbeda-beda. Sedangkan kesamaannya adalah suka musik dan musiknya tidak itu-itu saja. Hampir semua musik itu kita dengerin lah.

Baiklah, pertanyaan terakhir. Apa saja inspirasi bermusik kalian?

Musik

Dedi: Musik yang sedang didengarkan sekarang itu lagi intens M83 yang album baru, Junk dan The War on Drugs. Kalau yang sering saya dengerin terus itu Sigur Rós, Rush, Porcupine Tree, Explosions in the Sky, Mono, post-rock, prog-rock gitu. Barasuara juga gue dengerin.

Asra: Sebenarnya akhir-akhir ini, karena disuruh nge-DJ, gue malah sering dengerin industrial dan hip-hop 80-an,90-an, seperti Public Enemy, dengerin Living Colour,dan dengerin black musicians yang gak melulu hanya hip-hop.

Buku

Dedi: Buku biografi musisi. Yang gue baca itu si Lemmy Kilmister Motorhead sama bukunya John Lennon. Sama Morrissey, yang bahasa Inggrisnya susah banget.

Asra: Sebenarnya gue sudah baca sih, sejak tahun 2003 dan belum habis dibaca. Judul bukunya Our Band Could Be Your Life karya Michael Azzerad. Buku ini tentang sejarah band-band AS indie maupun underground tahun 1981-1991. Kebanyakan sih tentang band-band cikal bakal scene Washington DC seperti Minor Threat (hardcore punk), Dinosaur Jr. (indie rock), dan lain-lain.

Film

Dedi: Gue senang nonton film horror sih dua bulan belakangan ini. The Conjuring dan film sejenisnya. Sama film serial TV juga sih, kayak Silicon Valley, dan sebagainya.

Asra: Gue jarang nonton film sih, Tapi sekali nonton yang seperti film yang diperankan Leonardo diCaprio, The Revenant, yang seperti itu.

Seni Rupa

Asra: Wah, kebetulan gue lagi sering bergaul sama seniman. Kebetulan aja, sering diajak ke pameran, hehehe. Kemarin gue liat pameran di Edwin’s Gallery, Kemang. Sama kemarin pameran di Galeri Nasional, gue lupa siapa nama pelukisnya yang baru tutup usia itu. Bahan material untuk lukisannya gak hanya kanvas, tapi nyampurin macem-macem, dari kayu misalnya. Temanya spiritual dan religi. Sama pameran sejarah seni rupa Indonesia dari jaman lama sampai seni rupa modern.

Dedi: Gue baru 2 tahun belakangan ini dekat dengan seni rupa. Berawal dari mengerjakan layout bukunya Dewa Budjana, jadi mesti ketemu banyak banget pelukis. Gue sampe lupa namanya. Beberapa sempat ketemu langsung dan mengobrol asyik dengan mereka. Tapi sejujurnya gue gak mengerti sama sekali tentang lukisan, hahaha.

Asra: Sama. Gue gak mengerti sama sekali, pengen lihat-lihat aja, hahaha. Pameran fotonya Anton Ismael pun juga gue gak ngerti.

Situs Web

Asra: Kickass Torrent! Hahaha. Gue belakangan sering buka ini nih yang edukatif, metapixel dan electricmusician.

Dedi: Gue masih tertarik sama berita isu-isu politik Indonesia, kadang gue buka detik.com, buat ketawa-ketawa aja, hehehe. Kalo yang lebih reliable, CNN Indonesia misalnya. Mengikuti Donald Trump, Bernie Sanders. Di luar itu, gak ada sih. Gue soalnya bukan tipe yang surfing abis.

Untuk informasi lebih lengkap tentang Max Havelaar, silakan mengunjungi situs resminya, suaramaxhavelaar.com.


Baca artikel lainnya

‘All Things Shining’ itu Kata-kata Paling Indah

Sempurnanya The Private Concert

SORE: Siapkan Mentalmu dalam Bermusik!

Musik Kontemporer itu Seperti Virus

Tabuhan Penutup Bunyi-Bunyian di Halaman

MusikHutan: Menemukan Makna Teduhnya Nada