Saya malas membaca. Membaca buku, lebih tepatnya. Membaca buku fisik, lebih spesifiknya. Alasannya banyak; tidak praktis karena berat dibawa ke mana-mana, mahal, mudah rusak, suka hilang alias dipinjam oleh entah siapa, dan karena saya tidak mau berkontribusi pada semakin berkurangnya hutan pinus di seluruh dunia. Okay, okay, alasan terakhir itu cuma untuk kelihatan peduli lingkungan saja. Pencitraan.

Oh yaa, pencitraan, ini juga satu alasan. Yaa, tau lah orang-orang sekarang, kita nge-twit bijak/relijius dibilang sok suci, nge-twit politik dianggap sok kritis, kultwit dianggap sok pintar. Semua dianggap pencitraan, padahal salah dia sendiri kenapa follow kita, ya? 1 atau 2 twit saja bisa bikin orang lain suudzon, apalagi buku tebal yang dibaca di depan umum. Nda nyambung? ah, nyambung kok.

Tidak mau ribet, lebih sering tidak punya uang untuk beli buku, tidak pandai merawat hubungan asmara buku, tidak tega menuduh teman lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya, serta tidak mau dibilangi pencitraan, akhirnya saya memilih membaca lewat tablet berukuran 7 inci (cewek-cewek jangan piktor). Saya menamainya Samsul: Si Galau tapi Seksi the Seventh.

Samsul, onderdilnya biasa saja, bahkan cenderung ketinggalan jaman untuk sebuah gadget di tahun 2015, tapi sangat bisa diandalkan untuk membaca, hal yang menjadi tujuan utama “pernikahan” kami tahun lalu yang dipenghului oleh Adipura Fainens. Doakan kami semoga SaMaWa ya. Amin.

Sejak kehadiran Samsul, daya baca saya semakin baik. Saya bisa menyelesaikan 1 novel dengan waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan membaca buku fisik. Sungguh. Sekedar ilustrasi, novel Haruki Murakami “Dengarlah Nyanyian Angin”  yang saya pinjam dari seorang teman, butuh waktu 2 minggu (bahkan lebih) hanya untuk sampai ke halaman 50 dan tidak dilanjutkan lagi. Sedangkan lewat Samsul, saya bisa menyelesaikan novel yang sama hanya dalam waktu 3 jam! Ini saya ingat, karena bertepatan dengan mati lampu disertai hujan deras se-kota Makassar beberapa minggu lalu. Bila tidak ada Samsul dan Hear The Wind Sings, mungkin saya juga akan mengutuk inkompetensi PLN, perusahaan dengan logo terburuk sepanjang masa, di Twitter.

Sejak “pernikahan” dengan Samsul, hidup saya jadi lebih berwarna. Bukan karena layarnya yang disusun oleh 16 juta warna dengan kerapatan 170 ppi, tapi karena koleksi komik yang berukuran 60 giga bisa lebih mudah ditengok. Ini sangat berguna kalau anda sering janjian dengan orang yang lelet. Beberapa komik favorit saya adalah Mind MGMT, Superman: Red Sons (di seri ini, Superman adalah seorang komunis yang memanggil temannya dengan sebutan komrad), dan Fables (kisah Cinderella, Prince Charming, Pinokio, 3 Babi, Serigala dan tokoh-tokoh dongeng lainnya yang hidup di New York layaknya para New Yorker). Bila tidak ada Samsul (dan Kickass tor*ent), saya tidak akan mungkin punya koleksi komik sebanyak ini tanpa menjual motor kesayangan.

Kata seorang teman, kamera Samsul buruk. Saya jawab “hubungan saya dan Samsul bukan untuk foto-foto apalagi selfie ataupun wefie, gais. Mungkin kamu butuh yang kameranya bagus, tapi saya tidak butuh itu.” Dia berkomentar lagi “prosesor grafisnya abal-abal, nda enak dipake main game”. Dengan terpaksa, saya pun menjelaskan spesifikasi PC saya yang bisa memainkan Skyrim dengan setting high, dan menambahkan kalau Angry Bird atau Clash of Clan bukan game yang menarik untuk saya. Dia belum kapok, “Layar 7 inci terlalu besar untuk chatting di Line dan Whatsapp, tidak ada privasi kalo di tempat umum”, saya jawab “Kalau privasi penting buatmu, buat apa kau memberitahukan lokasi keberadaanmu di Path?” Akhirnya saya pun bilang “Nda usah protes, karena hubungan saya dan Samsul, bukan kamu yang jalani”. Setelah memutar matanya sampai pusing, dia meninggalkan saya ke toilet (entah untuk muntah atau karena cepirit, dia tidak pernah bilang).

+++

Ah, Samsul. Entah bagaimana jadinya hidupku tanpa kehadiranmu. Tanpa lalod-lalod-mu. Tanpa lowbat-lowbat-mu. Tanpa rengekanmu meminta Wi-Fi. Tanpa alarm darimu yang mengingatkan saya untuk bangun karena sudah jam 10 siang. Hidup saya mungkin akan baik-baik saja, tapi mungkin tidak seseru saat ini.

Kalaupun mau berandai-andai, mungkin sekarang saya akan bersama Ai, gadget gaul berbodi aduhai tapi mangkos dan susah nyambung sama gadget lain. Memang si Ai lebih bahenol, tapi ibarat cewek seksi, mereka susah dijaga, apalagi belakangan ini Makassar lagi rawan perampokan. Buat apa punya gadget tapi ditinggal di rumah, kan?

Syukurlah Adipura Fainens “menikahkanmu” denganku, Samsul. Kalo sama Ai, pasti saya lebih banyak merasa stres. Teman-teman di Twitter, Path atau Line pun pasti akan eneg dengan status “caki pala Barbie” saya yang terlalu sering.

Bilapun tidak bersama Ai, mungkin saya akan bersama Sonia. Dia seksi, meski tidak seseksi Ai, tapi lebih mudah nyambung. Tapi kalau rusak, servisnya susah, aksesorisnya juga nda banyak, kalaupun ada, pasti mahal. Caki pala Barbie.

Sebenarnya masih banyak yang lain, tapi nda usah kita bahas. Nda ada gunanya. Toh, saya sudah berbahagia denganmu, Samsul: Si Galau tapi Seksi the Seventh.

Cheers.

 

P.S. ini bukan tulisan berbayar.