Oleh: Tri Wibowo* ( @uwowh ) | Gambar: Adi Gunawan ( @benangbaja )

Telah lama, kehadiran media sosial telah berhasil menggeser fungsi televisi. Akses informasi yang cepat dan budaya penggunaan internet, turut mempengaruhi hal tersebut. Meski demikian, televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya, telah mampu menarik minat penikmatnya. Seperti ibu saya yang tak mungkin beranjak dari televisi selagi masih sibuk menyetrika. Televisi masih memiliki penikmat setia.

Siang kemarin (14/01), kita digemparkan dengan aksi teror yang menyerang pos polisi dan kedai kopi di sekitaran Gedung Sarinah, Jakarta. Tapi, kerumunan masyarakat yang menyaksikan langsung tempat kejadian perkara dan kisah Tukang Sate yang tetap mengipas di tengah ledakan di Sarinah, membuat kata ‘gempar’ sedikit kehilangan maknanya.

Lewat layar flatron yang menampilkan gambar dan suara, ratusan juta pemirsa televisi seolah-olah berada di tempat kejadian perkara. Hal yang terasa serupa dengan kerumunan masyarakat yang menonton, bahkan dengan Tukang Sate tadi. Kilat-kilatan peluru, ketegangan baku tembak, dan asap ledakan bunuh diri berhasil mengomunikasikan aksi teror dengan baik. Sebelumnya, istilah teror dan terorisme mencuat seiring dengan gegernya dunia atas pengeboman WTC dan Pentagon, kemudian peristiwa bom Bali I dan II, juga Ritz-Carlton dan JW Marriot yang menikam jantung Indonesia.

Lantas menyadari hal ini, bagaimana kemudian bentuk-bentuk dan wacana teror dihadirkan? Selain itu, apakah wacana teror itu sesuai dengan kehendak kekuasaan, ataukah secara implisit menegaskan makna-makna yang berbeda?

Menanggapi pertanyaan dan pernyataan yang mungkin retoris belaka di atas, saya pun iseng untuk ikut-ikutan menuliskan wacana terorisme. Sebetulnya, sejak tulisan ini masih berbentuk konsep semata sampai selesai dituliskan, kepala saya terus berputar pada serial anime Jepang, One Piece, yang pada salah satu chapter-nya menampilkan teror yang dilakukan oleh pimpinan negeri dan kerajaan.

Donquixote Doflamingo, pemimpin keluarga Bajak laut Donquixote. Sepuluh tahun lalu, sejak kembalinya mereka ke Dressrosa, merebut tahta kerajaan dari Keluarga Riku. Melalui kekuatan Ito Ito no Mi yang memberinya kemampuan untuk menciptakan benang tak kasat mata dari jemarinya, Doflamingo berhasil menjadi raja di Dressrosa. Seperti Devide et Impera ala Belanda, mudah saja bagi Doflamingo untuk membuat kekacauan dan teror dalam kontrol pergerakannya seperti boneka tali. Upaya teror dengan melalukan afiliasi yang memungkinkan Pabrik Smile terus memproduksi buah iblis buatan untuk menciptakan pasukan dari kelas Zoan di Dunia Baru.

Pada kesempatan yang lain, setelah kehilangan kendali atas negara dan kerajaannya. Doflamingo memutuskan untuk melaksanakan rencana Kandang Burung miliknya, menyegel seluruh pulau dari dunia luar. Ancaman demi ancaman terus dilancarkan, seperti membuat permainan berburu nilai buronan dari ‘daftar teroris’ yang ditawarkan Doflamingo. Dengan sadisme mental dari kekuatan Kandang Burung yang kian menyusut dan bisa memotong apa saja di hadapannya. Doflamingo kemudian membuat sayembara dan mengancam penduduk pulau untuk ikut berpartisipasi dalam permainan berburu nilai buronan, dan jika mereka dapat membunuh orang-orang dalam ‘daftar teroris’ yang dibuatnya, Doflamingo akan mengampuni nyawa orang yang berhasil melaksanakan sayembara tersebut.

***

Lalu, seberapa jauh kita merepresentasikan terorisme?

Penelusuran terhadap pertanyaan tersebut membutuhkan adanya batasan dan ruang lingkup mengenai konsep terorisme. Selama ini ada semacam kerancuan, penyempitan, bahkan pemutarbalikkan makna berkaitan dengan apa itu terorisme. Tentu saja, pemaknaan terhadap pengertian teror (terorisme) berpengaruh terhadap wacana teror yang berkeliaran di masyarakat.

Terorisme dapat dipahami sebagai ancaman atau penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik, agama, atau lainnya dengan cara-cara intimidasi, menimbulkan ketakutan, dan sebagainya yang diarahkan terhadap penduduk atau warga negara tertentu (Chomsky: 2003). Berdasarkan pengertian itu, terorisme bisa dilakukan siapa saja, dalam bentuk beragam, dan demi motif yang berbeda-beda.

Secara lebih rinci, Griffith dan Callaghan (2002) membagi terorisme menjadi empat jenis; (1) transnational organised crime (kriminalitas yang beroperasi melintasi batas negara seperti perdagangan narkotika); (2) state sponsored terrorism (negara yang memberi dukungan terhadap tindakan teror); (3) nationalistic terrorism (gerakan di dalam negara yang mengacaukan ketertiban masyarakat seperti gerakan separatis); dan(4) ideological terrorism (teroris yang mendasarkan aksinya pada prinsip-prinsip ideologi).

Kini, seiring dengan gemparnya dunia atas pengeboman dan penembakan beruntun di kawasan Sarinah, istilah teror dan terorisme pun kembali mencuat. Pengertian teror yang dipahami oleh Indonesia seiring dengan peristiwa seperti yang sudah disinggung sebelumnya, seakan terpenjara pada segala yang berkaitan dengan Islam dan kelompok- kelompok militan garis kerasnya. Yakni, seakan dibutakan dengan tindakan teror-teror selain ideological terrorism.

Sementara aksi Spionase, Tragedi Tolikara, dan manuver intervensi asing, seperti yang dikategorikan oleh Griffith di atas tidak tersentuh sama sekali. Bahkan, bisa jadi tidak dipahami sebagai teror. Kondisi ini ternyata juga didukung dan dipelihara oleh pihak penguasa negara Indonesia untuk melindungi kepentingan-kepentingan mereka yang sangat mungkin diperoleh dan dipertahankan melalui cara-cara teror. Termasuk pengendalian penuh atas siaran televisi dan media-mainstream.

Tidak pernah ada yang menyinggung bahwa peraturan atau undang-undang pemerintah dapat menjadi teror. Selain terdakwa gembong narkoba, kontrak Freeport dan Lapindo Brantas adalah juga pelaku dan aksi teror. Ekonomi kapitalisme dan monopoli seperti harga daging sapi termasuk juga terorisme. Konglomerasi, pengadilan yang berlaku tidak proporsional, dan kebijakan politik atas arahan partai adalah juga bentuk terorisme.

Dan sampai di sini, media berperan besar menyalurkan teror-teror kepada masyarakat. Media-media tunduk atau terpaksa ditundukan oleh pihak-pihak yang berkuasa dan akhirnya ikut menyebarkan teror. Menyampaikan berita-berita tertentu dengan menyembunyikan yang lainnya. Membuat analisis-analisis yang memojokkan dengan menggunakan kalimat, frase, atau klausa yang mencirikan sadisme mental. Media kemudian menjelma despot dan menjadi pelaku teror.

Dahulu sekali, pada saat pendudukan Belanda dan Jepang, yang layak disebut teroris adalah pemberontak-pemberontak dari kalangan pejuang Indonesia. Ketika Indonesia merdeka, teroris adalah kelompok-kelompok separatis yang hendak menodai integritas Indonesia. Titel teroris juga pernah lekat pada orang-orang kiri yang berusaha merongrong ideologi Pancasila, orang-orang Islam berjenggot dan bercelana cingkrang. Pengertian ini boleh saja dikatakan benar, hanya saja selain untuk menyebutkan tindakan makar terhadap negara, teror juga bisa dilakukan oleh negara kepada rakyatnya (state terorrism).

State terrorism bisa dilakukan secara langsung ataupun tidak. Tidak langsung dimaksudkan untuk mengategorikan tindakan negara dalam mendukung aksi terorisme kelompok tertentu. Sayang sekali, seringkali aksi teror yang dilakukan negara tidak pernah disebut teror. Tindakan itu dianggap sebagai tindakan yang dimaksud untuk menjamin ketaatan rakyat. Itu adalah tindakan yang baik. Sekali lagi, yang berkuasa akan menjadi akhir kalam penahbisan, yang selalu benar dan akan menciptakan kebenaran.

Sementara, teror yang dilakukan Doflamingo adalah teror yang utama dan dahsyat efeknya. Rasa pesimis atau sadisme yang terkandung di dalam ungkapan serta sikap-sikapnya, kian menimbulkan efek-efek teror. Sadisme mental atau serangan sadistik yang menggunakan segenap kekuatan dan kekuasaan, dapat saja bersarang di balik bermacam tuturan dan tingkah laku yang tampaknya terlalu tenang dan merasa baik-baik saja. Akhirnya, serupa sikap masa bodo dan kesetiaan ibu saya kepada televisi, teror ini justru yang tidak lagi disadari apalagi diantisipasi.

Rujukan

Chomsky, Noam. Power and Terror: Post-9/11 Talks and Interviews. Seven Stories Press.NewYork: 2003.

Fromm, Erich.Akar Kekerasan. Pustaka Pelajar.Yogyakarta: 2006

Griffiths, Martin dan Terry O’Callaghan. International Relations: The Key concept. Routledge.London: 2002.

Serial Anime Jepang, One Piece. Eiichiro Oda

http://id.onepiece.wikia.com/wiki/Bajak_Laut_Donquixote

*Penulis merupakan mahasiswa sastra UIN Jakarta dan pegiat sastra Majelis Kantiniyah Ciputat. Gambar diambil dari salah satu dari 114 papan panel “Dialog Diri” karya Adi Gunawan di pameran So Sial Project.