Pada tanggal Senin (21/3/2016) lalu sebuah perayaan atas buku Imagine John dihelat di Kafe Dialektika. Buku ini merupakan kumpulan esai dari Dhihram Tenrisau. Kafe Dialektika adalah tempat pertama dimulainya Tur Darat Imagine John yang rencananya dilaksanakan di tiga tempat. Tiga orang dari redaksi Revius mendapat kesempatan membaca buku ini dan menulis hasil pembacaan mereka. Berikut kesan yang ditinggalkan Imagine John bagi Kemal Putra, Achmad Nirwan, dan Hafsani H. Latief.


Kemal Putra

Saya mengenal pemuda ini sekitar dua tahun lalu di Rumata’ Artspace lewat Lily Yulianti Farid. Saya tidak begitu jago menghafal nama, jadi saya sudah lupa nama si pemuda tersebut. Saya percaya dia pun juga tidak lagi mengingat saya. Hingga beberapa waktu lalu, seorang teman dari Katakerja merekomendasikan buku ini, Imagine John, kumpulan esai Dhihram Tenrisau. Andai penulis buku ini orang Jawa atau Kalimantan, saya mungkin takkan begitu niat meng-google namanya, tapi karena asalnya dari Makassar, yah saya coba, bisa jadi saya pernah melihatnya. Dan benar saja, Dhihram ini ternyata adalah pemuda yang saya temui di Rumata’ dua tahun lalu itu. Waktu itu saya sama sekali tidak menyangka dia mahasiswa Kedokteran, malah mengira ia mahasiswa Hukum.

Membayangkan kini Dhihram sebagai seorang dokter dan membaca bukunya adalah sesuatu yang mustahil. Bagi masyarakat awam, ambillah saya sebagai contoh terdekatnya, kita terbiasa dengan dokter yang duduk dalam ruangan, menunggu pasiennya datang, memberi resep, dan sebagainya. Masyarakat awam tidak pernah dilatih untuk membayangkan seorang dokter seperti Dhihram, memiliki waktu membaca banyak sekali sastra sekaligus belajar musik, menonton film, lalu menulis fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita, peduli pelanggaran HAM, peduli pelanggaran yang mengatasnamakan agama dan politik. Dan Jika seorang dokter dibayangkan menjadi penulis, mereka diharapkan menulis buku kesehatan, bukan buku yang kompleks seperti Imagine John.

Imagine John ibarat sebuah diari yang sangat perspektif, ditulis oleh seorang pemuda yang resah dengan persoalan-persoalan sosial, agama dan politik yang melanda negeri ini. Tapi dia tak pernah putus asa, dia selalu mampu melihat harapan di balik tindak kebencian. Ia percaya bahwa setiap gelap memiliki sisi terang, yang mungkin tak nampak dengan jelas, tapi bisa ditemukan. Beberapa peristiwa dalam Imagine John terjadi di masa lalu, tapi pesan moralnya menggema hingga kini, menyesuaikan diri dengan persoalan kemanusiaan yang baru. Makassar punya banyak penulis puisi dan novel roman yang handal, tapi sepertinya masih kekurangan penulis seperti Dhihram. Jika Imagine John tidak bisa menjadikan pembacanya sebagai penulis, setidaknya menjadikan pembacanya berpikir lebih kritis.

Achmad Nirwan

Pertama-pertama saya ucapkan selamat untuk Dhihram Tenrisau atas peluncuran buku perdana yang memuat kumpulan esainya ini.

Kilas balik sejenak, perkenalan saya dengan Dhihram bermula dari sosoknya sebagai musisi yang handal memainkan keyboard dan synthesizer serta pernah mengecap berbagai macam kompetisi musik skala lokal hingga nasional. Belakangan saya mengetahui dia merupakan seorang dokter gigi muda pada tahun 2013. Setelah itu, saya mulai melihat beberapa tulisannya di media cetak lokal yang tidak hanya seputar bidang kedokteran gigi yang ditekuninya, bahkan dikaitkan dengan dunia musik yang disenanginya! Suatu hal yang sulit bagi saya jika ikut menerapkan hal yang dilakukan oleh Dhihram. Padahal saya sempat berpikir mustahil–yang saya kenal sejauh ini–akan ada anak kedokteran gigi yang menyenangi dunia tulis menulis kreatif bahkan bermain musik, mengingat kesibukan mereka yang rumit sebagai calon dokter gigi. Namun Dhihram berani untuk mengambil pilihan sebagai dokter gigi muda yang menikmati dua dimensi yang berbeda tersebut walau harus mengorbankan masa studinya yang lama.

Sependapat dengan Kemal, saya sebenarnya takjub dengan kemampuan Dhihram dalam menyerap semua bacaan yang disukainya. Bacaan yang kemudian dituangkan ke sebagian besar kumpulan esainya ini menjadi tulisan yang renyah dan jauh dari kata garing kriuk-kriuk. Buku ini semakin istimewa bagi saya karena diambil dari salah satu tulisannya Dhihram di Revius. Tulisan yang bertajuk Berimaji dengan John ( diubah dari Imagine John) dimuat pada 8 Desember 2014, hari di mana John Lennon ditembak Mark David Chapman pada 34 tahun yang lalu.

Selain kumpulan tulisannya, saya terkesima dengan keberanian Dhihram berkolaborasi untuk artwork bagian dalam bukunya. Mahatma Ali El-Gaza yang baru berusia 7 tahun dipercayakan untuk menangani artwork tersebut. Tetapi, jangan pandang sebelah mata usia Mahatma dan makna di balik torehan gambarnya. Artwork yang dibuat Mahatma mengombinasikan gambarnya yang masih kekanak-kanakkan dengan makna di balik gambar yang akan membuat anda bakal terheran dan berpikir, “Kok bisa ya ilustrasi seperti ini tergambar di kepala seorang bocah?”

Secara keseluruhan, esai ini sedikit mengingatkan saya kepada buku kumpulan esai musik dari Taufiq Rahman bertajuk Mencari Rock N Roll Sampai 15.000 Kilometer. Tapi yang membuatnya berbeda dan saya wajib mengapresiasi buku ini karena ditulis dengan keringat dan penuh perjuangan oleh Dhihram selama proses menempuh studinya. Imagine John juga menjadi semacam perayaan kemenangan Dhihram karena telah bergelar drg. di depan namanya. Sekali lagi, selamat!

Hafsani H. Latief

I suggest you to read this book and imagine how John introduces Dhihram to you. Membaca buku ini merupakan cara pintas untuk mengenal Dhihram. Atau lebih tepatnya buku ini menunjukkan sisi diri Dhihram yang dia pilih untuk dibagikan kepada khalayak. Imagine John berisi 37 esai yang dibagi ke dalam empat bagian. Seperti tetratomic element yang membentuk pribadinya.

Sejenak biarkan saya melupakan siapa penulisnya dan fokus pada buku bersampul merah ini. Tulisan yang paling saya suka adalah Marji dan Identitas (hal. 20), sebuah review untuk Persepolis, entah Dhihram menemukannya dalam bentuk animasi atau graphic novel. Dhihram menarik isu feminist yang diusung Marjane Satrapi dan menyajikannya dalam frame lokal. Dalam judul ini Dhihram menyadarkan pembaca untuk mengingat siapa dan dari mana kita berasal. Dhihram setuju bahwa kebanyakan masyarakat melupakan La Galigo dan memilih tontonan seperti Ganteng-ganteng Serigala. Sesuatu yang telah dikritisi di sana-sini tapi tak juga mampu menghadang penayangan serial yang serupa.

Kebanyakan tulisan di dalam buku ini berangkat dari isu yang meresahkan Dhihram dan ditulisnya dengan menampilkan hal yang dekat darinya, seperti bagaimana kultur di lingkungannya. Namun sayang sekali beberapa kali keasyikan saya membaca buku ini harus terganggu dengan banyaknya typo dan kesalahan tanda baca. Mungkin beberapa pembaca hanya fokus pada ide setiap tulisan dan tidak terlalu memerhatikan bagaimana penampilannya. Sayangnya tidak bagi saya.

Sebagai pembaca yang tidak begitu mengenal Dhihram secara personal, saya menemukan beberapa hal yang mungkin sesuai dengan karakter Dhihram. Benar atau tidak, entahlah. Saya hanya menerka dari apa yang saya baca.

1. He is a family man.

Sebenarnya terlalu cepat memberikan label ini kepada Dhihram. Saya menyimpulkan seperti ini setelah membaca bagian ketiga (hal. 91-102) buku ini. Saya menangkap kekecewaannya pada keluarga yang membesarkannya dengan segala keriuhan masalah yang tak ada habisnya. Jika saya adalah Dhihram, sudah pasti saya telah lama pergi. In different case, that’s what I did actually. Namun Dhihram tetap tinggal dan menakar tindakan apa yang harus dia ambil untuk sedikit memerbaiki kondisi keluarganya. Entah apa yang telah dan akan dia lakukan, saya tidak tahu.

2. He doesn’t trust his reader.

Iya. Saya tidak salah tulis. Saya menemukan banyak kata atau klausa yang ditulis di dalam kurung pada hampir semua judul dalam buku ini. Tujuannya untuk memperjelas sesuatu yang Dhihram tulis. Namun menurut saya hal tersebut sama sekali tidak perlu dilakukan jika Dhihram percaya pada mereka yang akan membaca tulisannya. Memang banyak istilah medis yang mungkin Dhihram pikir perlu untuk dijelaskan lebih. Tapi cara ini hanya memanjakan pembaca dan tidak memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mencari tahunya sendiri. Bahkan pada halaman 11, kata ‘alienasi’ pun tetap Dhihram jelaskan.

3. He loves Albert Camus.

Albert Camus sangat mudah ditemukan dalam beberapa tulisan di buku ini. Baik disebutkan langsung atau dipaparkan tersirat. Hal ini cukup memudahkan pembaca untuk membuka kesempatan diskusi atau sekedar perbincangan ringan jika bertemu Dhihram pada satu kesempatan. A dentist who writes, reads and plays music. He also concerns to social issues. Those labels are enough to call him a cool guy, right? Girls? Okay, in case he doesn’t have any.

*Foto oleh Achmad Nirwan

Imagine-John_coverKBJ_Revius

Judul: Imagine John | Penulis: Dhihram Tenrisau | Penerbit: Kedai Buku Jenny |Terbit: 2015 | Tebal: 119 halaman | ISBN: 978-602-17510-6-0

Baca artikelnya lainnya

Makassar, In-The-Not-So-Distant Future

Dunia Nirkata Selepas Jatah 130 Kata

Lomba-Lomba yang Dirindukan

Mari Melihat Api Bekerja

Musisi Indie Makassar Favorit