People, Events and Ideas.

Tiga menu utama yang Revius sajikan. Setelah mencoba menghadiri Event dan menyalurkan Ideas, rubrik People kemudian menjadi rubrik yang saya tekuni beberapa minggu terakhir. Menjadi tantangan baru ketika saya harus membuat list orang-orang yang tergolong “Awesome” di kota Makassar. Dan mulai membuat janji untuk bertemu dan melakukan wawancara. Walau belum terlalu lama bergelut dengan rubrik ini, saya dapat merasakan energi positif dari orang-orang hebat yang saya temui.

Di penghujung tahun 2015 ini, saya akan me-review kembali delapan The Awesomest People. Alasan saya memilih delapan orang-orang ini sederhana–saya melihat bagaimana mereka berkreasi dan berinovasi dengan passion mereka, melakukan segala cara untuk mengerjakan apa yang mereka yakini, dan bagaimana upaya mereka menjadi Local Heroes dalam berbagai bidang di Kota Makassar.

Berikut, 8 The Awesomest Awesomer dari rubrik People di Revius :

 

1. Louie Buana: “Do It First, Do It Fast, Do It Your Self

Louie-Buana

Tidak banyak remaja yang gemar berbicara tentang budaya, sejarah dan antropologi. Atau berusaha mejadikan budaya lokal sebagai project besar yang akan mematahkan stereotip “Makassar Itu Kasar”. Namun, tidak bagi remaja yang satu ini. Hal tersebut justru menjadi latar belakang remaja bernama Louie Buana membuat sebuah project budaya bernama La Galigo for Nusantara atau dikenal dengan nama Lontara Project.

Project yang dibuatnya sejak 2011 ini berhasil memberi citra lain terhadap nama Makassar. Setidaknya untuk lingkungannya yang berada di luar Makassar. Lingkungan yang kemudian lebih mengingat La Galigo dibanding branding aksi brutal mahasiswa saat mendengar kata Makassar.

Tidak mudah untuk membangun project ini, Louie harus berhadapan dengan dengan dua generasi. Yakni generasi yang sama sekali tidak peduli dan generasi yang merasa sangat memiliki. Namun dengan ketekunan dan dilatar-belakangi oleh passion, Lontara Project yang ia jalankan bersama ketiga temannya masih eksis memperkenalkan khazanah kebudayaan Sulawesi Selatan sekaligus memicu kreatifitas generasi muda untuk mengonservasi kebudayaannya di era modern ini.

Tak hanya itu, pengetahuan yang luas akan khazanah budaya yang Louie miliki dapat ia tuangkan dalam bentuk cerita fiksi. Sebuah novel karyanya pun diterbitkan dengan judul The Extraordinary Cases of Detective Buran.

Untuk mengetahui lebih lengkap tentang Louie Buana dan Lontara Project, silahkan baca interview lengkapnya di: http://revi.us/louie-buana-do-it-first-do-it-fast-do-it-your-way/.

 

2. Hardinansyah P. Siji: “Berkreasi Itu Bukan Masalah Uang”

Ardi Chambers

Fashion dan Music adalah dua hal yang dekat dengan Hardinansyah atau biasa dipanggil Ardy Chambers ini. Nama Chambers yang merupakan distro yang ia buat kurang lebih 10 tahun lalu melekat sempurna di akhir nama sapaannya. Setelah sukses membuat distro, Ardy kemudian menyalurkan ketertarikannya di dunia musik dengan membuat perayaan musik terbesar di Sulawesi bernama Rock In Celebes.

Rock in Celebes sukses membidik musisi lokal bahkan internasional. Perayaan musik ini kemudian aktif dalam meningkatkan ekonomi kreatif di kota Makassar. Karena lahir dari kreativitas dan memiliki nilai tambah, hal ini menjadikan Ardy sebagai salah satu Creative Entrepreneur di Kota Makassar.

Ingin mengetahui lebih banyak tentang Ardy dan aktivitasnya dalam mengembangkan industri kreatif di Kota Makassar? Baca lebih lanjut interviewnya di: http://revi.us/berkreasi-itu-bukan-masalah-uang/

 

3. Chandra Tauphan: : The Champ Maker

Chandra Tauphan

Sosok yang satu ini awalnya menekuni dunia musik, namun melihat perkembangan musiknya di Indonesia susah untuk menghasilan uang, ia pun beralih menjadi seorang bussinessman, ialah Chandra Tauphan atau biasa disapa Chano.

Jaxs Barbershop, kemudian menjadi tempat potong rambut khusus lelaki dengan konsep culture barber yang ia dirikan Februari 2014 lalu. Jaxs kemudian mengklaim dirinya sebagai “The first high class barbershop in town“. Ide dari mendirikan barbershop ini ia dapatkan saat melihat fashion trend di Melbourne.

Tak lama setelahnya, barbershop-barbershop serupa mulai hadir. Namun Chano tidak menganggap itu sebagai kompetitor. Bahkan ia memberikan support kepada sesama culture barber yang ada di Kota Makassar. Interior yang cozy, penampilan barber yang representatif, dan marketing yang oke kemudian mejadi saran dari Chano kepada siapa saja yang ingin mendirikan Barbershop.

Lebih lengkap informasi tentang Chandra Tauphan, musik dan bisnisnya, silahkan baca interviewnya di: http://revi.us/champ-maker-chandra-tauphan/

 

4. Dexsar Harry Anugrah: “Jika Helvetica Adalah Wanita, Dia Tercantik di Dunia”

Dexsar Harry Anugrah

Menekuni dunia typeface design sejak berada di bangku sekolah. Kemudian memutuskan untuk fokus di dunia tersebut saat berada di bangku kuliah. Sampai akhirnya membuat nama Dexsar sebagai salah satu type designer yang memproduksi typeface yang terbilang sukses secara komersial di pasar typeface indie global.

Dengan basic hand lettering, beberapa karya-karya Dexsar dibeli oleh desainer grafis luar negeri. Selain itu, Dexsar juga mendirikan website Majestype.com untuk menjual typeface dan font family buatannya kepada pasar secara global. Ketekunan dengan dunia typeface dan hand lettering ini adalah lapangan pekerjaan yang lumayan menghasilakn uang untuk Dexsar sendiri.

Cerita tentang Dexsar tentang karya, kendala serta harapannya dapat dilihat di: http://revi.us/jika-helvetica-adalah-wanita-dia-yang-tercantik-di-dunia/

 

5. Rilo Mappangaja: “Saya Benci iTunes!”

Rilo Mappangaja

Saat hampir seluruh remaja seusianya masih sibuk bermain dan bersenang-senang, ia malah dengan berani mendirikan sebuah bisnis. Ya, di usia 16 tahun, seorang remaja bernama Rilo Mappangaja mendirikan Music Bus Store. Satu tempat untuk membeli kaset, CD, dan vinyl yang menggunakan mobil minivan. Toko musik dengan konsep bus ini adalah yang pertama di Kota Makassar.

Rilo menghabiskan masa kecil dengan memutar kaset-kaset milik kakaknya di rumah. Orangtuanya tidak berasal dari dunia musik, namun ia nekat membuat usaha ini. Ide ini murni dari kegemarannya terhadap musik. Rilo tidak meperhitungkan untung-rugi karena baginya ini adalah bagian dari hobinya.

Baca interview kegilaan remaja bernama Rilo ini dalam mengekspresikan passionnya dalam bisnis di: http://revi.us/saya-benci-itunes/

 

6. Aditya Ahmad: “Sebenarnya Film Sepatu Baru Itu Salah Acuan”

Aditya Ahmad

Sepatu Baru adalah salah satu film indie Makassar yang memperoleh banyak penghargaan. Disutradarai oleh Aditya Ahmad sebagai tugas akhir kuliah di Institut Kesenian Makassar. Penghargaan film ini antara lain, XXI Short Film Festival memenangkan Fiksi Naratif Terbaik dan Film Pendek Mahasiswa Terbaik dalam Apresiasi Film Indonesia. Juga ditayangkan di Seoul Guro International Kid Film Festival, Tokyo Kinder International Film Festival, Special Mention untuk Sound di Brno16 Film Festival dan Singapore International Film Festival.

Ide film ini secara sederhana berangkat mitos-mitos keluarga dan lingkungan tempat Aditya berada. Namun, divisualisasikan secara matang oleh Aditya menjadi sebuah film. Ide sederhana yang dikemas dengan pengalaman pribadi membuat film ini natural adanya.

Baca lebih lengkap tentang proses pembuatan film dan makna dari film ini di interview bersama Aditya Ahmad di http://revi.us/aditya-ahmad-sebenarnya-film-sepatu-baru-itu-salah-acuan/

 

7. Faisal Oddang: “Saya Mulai Menulis Karena Patah Hati”

Faisal Oddang

Mulai menulis saat duduk di bangku SMA. Saat itu ia sedang patah hati dan menulis puisi di majalah dinding sekolah. Berselang 3 tahun, ia kemudian menjadi penulis nasional yang beberapa karyanya telah diterbitkan, ialah Faisal Oddang.

Selusin lebih penghargaan juara kepenulisan telah ia kantongi. Undangan menghadiri festival kepenulisan skala nasional dan internasional sudah ia rasakan. Siapapun yang membaca riwayat hidupnya tak akan bisa menghindari diri dari rasa iri.

Saya tak banyak ingin menceritakan ia disini. Silahkan simak interviewnya di http://revi.us/faisal-oddang-saya-mulai-menulis-karena-patah-hati/

 

8. Seluruh Pembaca Revius!

Predikat The Awesomest Awesomer tidak hanya untuk mereka untuk yang namanya dicantumkan di atas. Namun lebih dari itu, The Awesomest Awesomer adalah seluruh pembaca Revius yang-namanya-tidak-mungkin-disebutkan-satu-persatu. Penghargaan sebesar-besarnya kepada pembaca yang masih setia menjadi oksigen yang menghidupkan Revius hingga saat ini dan yang akan datang.