Sumber Foto: Walt Disney Studios Motion Pictures

Ketika George Lucas memutuskan untuk membuat prekuel Star Wars dalam bentuk trilogy berturut-turut di tahun 1999, 2002, dan 2005, ada alasan fundamental di baliknya. Bukan semata-mata ingin mengobati kerinduan para fans-nya dengan memperlihatkan latar belakang penciptaan karakter Darth Vader, tapi yang paling utama, Lucas juga ingin merekonstruksi kembali visual Star Wars, dari tampilan klasik menuju tampilan yang lebih modern.

Star Wars pertama kali rilis di tahun 1977 bertajuk di A New Hope diikuti dua sekuelnya ketika CGI masih dalam masa penciptaan. Tak heran jika visual effect yang ditampilkan tampak standar, namun tetap dianggap pionir. Sehingga pembuatan trilogy prekuelnya yang dimulai di tahun 1999 memiliki alasan yang masuk akal. Lucas ingin memperlihatkan ke penonton bagaimana bentuk Star Wars jika diciptakan dengan CGI yang lebih matang. Membandingkan dua trilogy ini kini tentu memperlihatkan perbedaan visual effect yang sangat signifikan. Alasan yang sama juga berlaku bagi George Miller ketika melanjutkan seri Mad Max bertajuk Fury Road yang rilis di musim panas tahun lalu.

Ketika J.J. Abrams memutuskan untuk melanjutkan lagi seri fenomenal ini, tak ada alasan fundamental lagi di baliknya, yang ada malah alasan sentimental. Semua penonton paham bahwa tak ada lagi yang perlu dilanjutkan dari seri Star Wars, misi telah usai dan secara visual pun tak ada lagi yang perlu di-upgrade. Abrams melanjutkan seri ini karena ia adalah seorang fan yang ingin mengajak sesamanya untuk bernostalgia. Ini juga terlihat dari cara dia mengeksekusi adegan duel dan tempur, semuanya tampak familiar, tak ada yang fresh. Dan lagi, ia paham betul bahwa fanbase Star Wars begitu luas. Melanjutkan Star Wars sama dengan menciptakan sebuah keuntungan finansial yang sangat besar–dan ini memang terbukti. Jadi, siapa pun yang menganggap cerita Star Wars yang diusung oleh Abrams ini adalah penting, maka saya juga akan menganggap bahwa seri The Godfather atau bahkan Twilight jika dilanjutkan akan sama pentingnya.

Walau mesti diakui juga bahwa Star Wars: The Force Awakens yang kisahnya mengambil latar tiga puluh tahun setelah kisah Star Wars: Return of the Jedi (1983) ini memang memiliki production design yang diberkati the force, dan kemungkinan Academy Awards tahun ini akan meliriknya. Sementara di episode 1 – 3, Lucas berhasil meng-elevate visual Star Wars menjadi begitu megah, maka di Star Wars milik Abrams ini kemegahan visual tersebut memudar, tak tampak megah namun lebih elegan. Memadukan nuansa klasik nan minimalis episode 4 – 6 dengan nuansa modern nan canggih episode 1 – 3, it’s fresh and nostalgic at the same time.

The force is definitely with the visual, but not with the characters. The Force Awakens bercerita tentang The First Order yang bangkit kembali dan dikomandani Darth Vader versi baru bernama Kylo Ren, sedang dalam misi melacak keberadaan Luke Skywalker dengan memburu sebuah droid milik Resistance bernama BB-8 yang dipercaya menyimpan potongan peta keberadaan Luke. BB-8 yang selamat dari gempuran Stormtroopers ini kemudian bertemu dengan Rey, seorang perempuan tangguh yang memutuskan mengembalikan BB-8 ke pemiliknya, sebuah usaha yang sangat riskan namun menjadi lebih gampang berkat bantuan Finn, seorang mantan Stormtrooper.

Karena tujuan utama The Force Awakens adalah untuk mempertemukan penonton dengan ketiga tokoh klasik utamanya: Luke, Han Solo, dan Lea. Maka petualangan Rey menjadi terasa sangat mudah, bahkan terburu-buru, akibatnya proses pembentukan watak Rey dan Kylo Ren yang penting untuk menghubungkan mereka dengan penonton juga terburu-buru. Terlalu banyak yang diungkap tentang siapa Kylo Ren, dan terlalu cepat bagi Rey mendapat semua kekuatan yang menunjukkan bahwa ia seorang Jedi. Dengan keadaan yang seperti ini, saya membayangkan di dua sekuel berikutnya, ketika tak ada lagi yang Abrams atau sutradara berikutnya bisa ungkap dari Rey, yang menjadi tokoh utamanya bukan lagi Rey melainkan kembali lagi pada Luke, si tokoh lawas.

rey_star wars_sm_revius

The Force Awakens terlalu cepat menunjukkan bahwa Rey adalah seorang calon Jedi.

Sedang Kylo Ren, yang tadinya berpotensi berbagi kharisma dengan Darth Vader justru kehilangan energi di tengah cerita, bukan karena identitas tentang asal usulnya terungkap, tapi lebih karena wajah di balik topengnya ditampakkan. Begitu topeng tersebut terlepas, ketakutan Kylo Ren menjadi terlihat lewat wajah aslinya dan menghapus kekuatan terornya. Inilah alasan mengapa Darth Vader mempunyai kekuatan teror yang sangat kuat, karena rasa takutnya dilindungi oleh topeng yang ia kenakan. Kita tak pernah melihat ia ketakutan, kita hanya merasakan teror lewat topengnya.

Selain Kylo Ren, karakter Captain Phasma yang yang diperankan Gwendoline Christie yang tadinya saya antisipasi akan tampil dengan kesan gagah, bengis dan mengintimidasi sebagai ketua Stormtroopers, justru ditampilkan dengan sangat lemah. Siapa pun yang mengikuti serial Game of Thrones pasti akrab dengan karakter Brienne of Tarth yang ia bawakan, karakter perempuan tangguh, benar-benar tangguh karena kharismanya terletak di tinggi badannya yang melebihi tinggi badan perempuan normal, memberi kesan maskulin. Sayangnya, entah karena topeng yang ia kenakan atau karena scene bagiannya sangat kecil, sehingga kharisma Christie yang kita temukan di Game of Thrones sepenuhnya lenyap di sini.

Sosok bengis dan mengintimidasi yang diharapkan dari Captain Phasma  justru ditampilkan dengan sangat lemah di The Force Awakens.

Sosok bengis dan mengintimidasi yang diharapkan dari Captain Phasma justru ditampilkan dengan sangat lemah di The Force Awakens.

Senasib dengan penampilan Christie, penampilan Iko Uwais dan Yayan Ruhian juga terbilang sia-sia. Saya bahkan bukan penggemar mereka berdua, tapi saya turut berduka untuk para fans mereka di Indonesia yang penuh harap bisa melihat mereka beraksi dengan memukau di film ini. Saya memilih membahas mereka terlepas dari status saya sebagai orang Indonesia, tapi lebih karena mengingat pamor mereka sebagai bintang laga Asia yang akhirnya terpilih ikut bermain dalam film blockbuster Hollywood. Ini pencapaian yang sangat baik. Tapi tak ada yang menduga bahwa peran yang mereka bawakan hanya sebatas gimmick tanpa kesempatan memperlihatkan bakat mereka. Dengan atau tanpa penampilan Christie, Uwais, dan Ruhian, tidak memberi efek apa-apa untuk cerita The Force Awakens.

Sudah jelas bahwa seri Star Wars ini akan mendapat treat lanjutan dari Abrams di masa yang akan datang, selain menyelesaikan produksi trilogy terbaru ini, sepertinya akan ada seri-seri lainnya, termasuk spin-off  bagi Star Wars. Apakah saya berharap lanjutan ceritanya lebih baik? Tentu saja. Tapi yang paling utama, saya berharap semoga generasi yang akan datang tidak dibingungkan dengan urutan episodenya, dari seri Star Wars orisinil, ke Star Wars prekuel, lalu kembali ke Star Wars sekuel, lalu entah Star Wars-Star Wars apalagi yang menanti di masa depan. []

Star_Wars_Episode_VII_The_Force_Awakens_Revius

Sutradara: J.J. Abrams | Tahun Rilis: 2015 | Genre: Action, Fantasy | Negara : U.S.A. | Rating : 2.5 / 4 Bintang