Oleh: Benny Wahyu ( @benwa_99 ) | Sumber Gambar: 20th Century FOX Films

Cara Delevingne, menjadi daya tarik tersendiri buat saya untuk menyaksikan Paper Towns. Selain tentu saja, kenyataan bahwa Paper Towns adalah film kedua yang diangkat dari novel karya penulis best seller, John Green. Film sebelumnya, The Fault in Our Stars, meraih sukses besar, baik dari penjualan buku maupun film.

Kenapa Cara Delevingne?

Karena cewek cantik berwajah angkuh ini bermain asyik sebagai Margo Roth Spiegelman . Selain cantik, pencinta misteri yang juga cenderung misterius, keren, dan seorang queen bee. Tapi juga telah membuat seorang tetangganya, Quentin (Nat Wolff), Madly in Love (Bahasa sederhananya, jatuh cinta tojeng tojeng) kepadanya.

Namun, Quentin memilih memendam perasaannya ke Margo. Lalu sibuk menjadi anak bureng. Sedangkan Margo memilih tetap misterius dengan selalu menghilang, berpetualang, dan memacari bintang futbol di sekolahnya.

Suatu malam, Margo masuk ke kamar Quentin dan mengajaknya untuk membalas perbuatan selingkuh Jase, kekasih Margo. Caranya, dengan melakukan sembilan tindakan balas dendam terhadap Jase, dan teman teman Margo dan Jase yang mengetahui perselingkuhan tersebut.

Awalnya Quentin ogah-ogahan, tapi akhirnya dia mengikuti rencana balas dendam Margo. Kapan lagi dia bisa mengerjai siswa/i populer di sekolahnya, sambil berada dekat dan akrab dengan Margo, gadis pujaannya. Dan segera, malam itu, menjadi malam yang tidak akan terlupakan oleh Quentin (Buat penonton juga tentunya karena ada adegan yang…Ah…Sudahlah, lebih asyik ditonton daripada diceritakan).

Quentin pun membantu Margo untuk mengerjai Jase, pacarnya yang kedapatan selingkuh. Gotcha!

Biar bisa dekat dan akrab, Quentin akhirnya mau membantu Margo untuk mengerjai Jase, pacarnya yang kedapatan selingkuh. Gotcha!

Keesokan harinya, ternyata Margo menghilang secara misterius. Quentin pun berusaha mencari keberadaan Margo berdasarkan petunjuk-petunjuk rahasia yang ditinggalkannya. Bersama dua teman akrabnya, Ben dan Radar (keduanya mempunyai karakter yang unik dan menarik). Quentin akhirnya berhasil menemukan lokasi keberadaan Margo. Ditemani Angela, kekasih Radar, dan Lacey, sahabat Margo yang ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka, Quentin melakukan perjalanan paling berkesan dalam kehidupannya.

Quentin mengajak sahabat karibnya untuk mencari Margo yang menghilang entah ke mana.

Quentin mengajak sahabat karibnya untuk mencari Margo yang menghilang entah ke mana.

Paper Towns buat saya kuat dari berbagai aspek. Selain aspek Delevingne dengan perut ratanya yang sekseh, deretan pemainnya bermain baik dan pas, terutama Delevingne dan Wolff yang menampilkan chemistry meyakinkan. Naskah racikan Scott Neustadter & Michael H. Weber, yang juga mengerjakan naskah The Fault in Our Stars & (500) Days of Summer berhasil diterjemahkan sangat baik oleh Sutradara Jake Schreier (Robot and Frank). Schreier piawai bercerita, dan ini membuat Paper Towns tidak membosankan. Menceritakan proses “tersesat demi menemukan siapa dirimu sebenarnya” dengan asyik, dan tidak lebay. Plus, tanpa kesan ‘menceramahi’.

Soundtrack film ini juga keren-keren. Mulai dari Santigold, Vampire Weekend, Sam Bruno, Haim dan masih banyak lagi, sangat menyatu dengan cerita film dan bukan sekadar tempelan. Saya sendiri merinding dengan pemilihan Instrumental Love Ballad – Lady in Red milik milik Chris de Burgh, sebagai musik latar adegan romantis saat Quentin dan margo berdansa di salah satu ruangan di gedung Sun Trust Orlando. Terima kasih buat Son Lux, musisi Post Rock/Trip hop yang menangani Ilustrasi musik ini.

Akhirnya, Paper Towns tidak membuat saya rugi untuk mengeluarkan biaya 35 ribu rupiah, tidak membuang waktu saya selama sekitar 1,5 jam, saya ikhlas menambahkan biaya parkir empat ribu rupiah demi menonton film remaja yang baik dan benar ini. Dan membiarkan Delevingne masuk ke kehidupan saya dengan anggun. Membuat saya seperti Quentin, desperately hopelessly madly in Love kepadanya.

DIRECTOR : Jake Schreier | Actors : Cara Delevingne, Nat Wolff, Halston Sage | Durations : 109 Minutes | Genre : Drama Remaja

Baca Ulasan Film Lainnya

Roman Hitam Putih Kehidupan Siti

Kesedihan di Tengah Tawa

What’s Inside Your Head?

X + Y = Manusia + Cinta

Cinta, Waktu, dan Tuhan

Mengenal Louis Zamperini

Pesan untuk Film Bombe’

Sepeda, Keluarga dan Sinema Neorealis

Pendidikan Tidaklah Seserius Orang-Orang

Kegilaan Superhero yang Ingin Tenar Kembali