oleh: Restu (@restuwashere)

Sinema negeri ginseng Korea yang selalu dipakem masyarakat banyak khususnya Indonesia hanya dihiasi drama serta menampilkan aktor dan aktris yang rupawan tampaknya memiliki sisi lain yang berlawanan. Park Chan-Wook, sutradara kelahiran 23 Agustus 1963 memulai debut filmnya sebagai penulis dan sutradara pada tahun 1992, mempunyai cara lain mewarnai sinema Korea. Film-filmnya yang kebanyakan bergenre thriller dan black-comedy, membuka jalan generasi penerus perfilman Korea. Akhirnya, pada tahun 2002 salah satu dari filmnya yang terampung dalam The Vengeance Trilogy, Oldboy, meraih Grand Prix, penghargaan kedua terbaik di Cannes Film Festival. Film ini kemudian di-remake oleh Hollywood pada tahun 2013 dengan mengusung sutradara Spike Lee dan aktor Josh Brolin. Nama besar seperti Samuel L. Jackson juga ikut mengisi peran di film yang ingin mengulang kesuksesan besar film yang diadaptasinya.

The Vengeance Trilogy, terdiri dari tiga film yang sebenarnya tidak saling berkaitan. Hanya karena memiliki tema yang sama, dikemaslah ketiga film itu dalam satu tajuk yang lebih kuat. Sympathy for Mr. Vengeance (2002), Oldboy (2003), dan Sympathy for Lady Vengeance (2005) adalah 3 film yang masuk dalam trilogy sadis itu. Ya, film ini tidak menggambarkan cinta lewat keindahannya, tetapi bagaimana realita kekejaman yang dapat diciptakan karena cinta. Kebanyakan menilai film ini sadis dan penuh unsur kekerasan. Tapi Park Chan-Wook jelas sukses menggambarkan arti cinta sebenarnya. Bahwa kita akan melakukan apa saja karena cinta, bahkan sampai sisi tergelap dalam diri kita.

Sympathy for Mr. Vengeance mengisahkan tokoh utamanya Ryu (Shin Ha-Kyun), adalah seorang tunawicara serta tunarungu, memiliki saudari yang mengidap penyakit gagal ginjal. Karena itu, ia bekerja keras di pabrik baja untuk menebus operasi serta mencarikan donor ginjal yang cocok untuk saudarinya. Kesulitan menunggu donor, ia memutuskan mencarinya lewat pedagang gelap organ. Hasilnya, ia ditipu dengan jumlah uang yang besar plus ginjalnya sendiri menjadi taruhan. Menemui jalan buntu, ia dibantu temannya Yeong-Mi (Donna Bae) menculik anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Banyak kenyataan pahit yang ditemui Ryu selama perjalanan melindungi satu-satunya keluarga yang dicintainya.

Oldboy memilki cerita yang lebih absurd dan gelap. Oh Dae-Su (Choi Min-Sik), tiba-tiba menghilang di jalan kota Seoul. Begitu sadar, ia mendapati dirinya dalam sebuah kamar yang terisolasi. Ia tidak tahu waktu dan tempat dimana ia berada saat itu. Selama disekap, ia selalu disinggahi mimpi-mimpi buruk dan gambaran-gambaran kekejaman. Sampai akhirnya, setelah 15 tahun, ia tiba-tiba dibebaskan di sebuah atap bangunan. Dengan penuh pertanyaan dan dendam berkecamuk di dada, ia mencari tahu siapa gerangan penculik dirinya, apa alas an ia diculik dan apa saja yang terjadi selama ia diculik. Bagai hewan buas yang baru bebas dari sangkarnya, membabi buta Dae-Su menghabisi setiap rintangan yang dihadapinya sampai menemui orang yang dicarinya. Dari orang itu pula ia mendapat jawaban semua pertanyaannya. Sebuah tragedi masa lalu yang kelam, yang dimulai dari dirinya bahkan tanpa dia sadari.

Kisah lainnya berasal dari seorang mantan narapidana wanita dalam Symphaty For Lady Vengeance. Lee Geum-ja (Lee Young-Ae), dipenjara atas alasan penculikan dan pembunuhan anak sekolah. Anehnya, selama dalam tahanan ia dikenal sebagai malaikat. Tindak-tanduknya santun, menolong sesama narapidana dan banyak membantu petugas penjara. Sangat tidak mungkin baginya melakukan semua kejahatan yang dituduhkan padanya. Hingga akhirnya ia keluar dari penjara, sikapnya berubah 180 derajat. Geum-Ja yang dikenal sebagai malaikat, kini sama buruknya dengan iblis. Ia mencari teman satu selnya yang telah lebih dulu bebas. Membawa sebuah proposal pembalasan dendam untuk orang yang tidak diketahui siapa. Sebuah momen yang selalu diimpi-impikannya. Sebuah pembalasan dendam yang kejam nan unik.  Mr. Baek (Choi Min-Sik), adalah seorang guru taman kanak-kanak. Sikapnya yang penyendiri dan misterius membawa Geum-Ja kepadanya. Keduanya memiliki hubungan yang entah apa.

Ketiga film ini digambarkan sangat kelam dengan pengambilan gambar yang gelap, diiringi suasana kelam yang tidak mengenakkan hati, penuh kekerasan dan darah. Sebuah gaya khas sutradara yang banyak memenangkan penghargaan internasional lewat film-filmnya yang penuh unsur kritis sosial. Bagaimana masyarakat bergerak dan bertindak. Menggambarkan dalamnya cinta dan ikatan yang kuat mampu membawa diri menjadi orang lain. Sinematografi yang ciamik dibalut cerita menegangkan nan sadis malah membawa kita dalam proses pembelajaran diri lewat unsur magis yang lekat dalam budaya asia sendiri, sebagaimana digambarkan lewat  karma di film-film ini.

Untuk yang merasa sinema Korea hanya menampilkan indahnya cinta lewat drama cengeng, patut menonton karya-karya Park Chan-Wook, terutama trilogi ini. Dengan catatan, sanggup menyaksikan kesadisan dan darah yang bertebaran sepanjang film.

image: Alison Czinkota