Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Beberapa hari berturut-turut, perempuan itu datang berkunjung. Ia selalu membuka pintu tiga puluh menit menjelang perpustakaan ditutup. Lelaki yang duduk di balik meja kayu coklat selalu menegurnya, “Kamu datang terlambat lagi, Nona. Sebentar perpustakaan akan tutup.” Tapi perempuan itu hanya tersenyum. Ia menyimpan tasnya di rak yang disediakan bagi pengunjung, lalu berlalu begitu saja.

Langkahnya pelan, lambat, dan gelisah. Ia bergegas menuju ke rak buku. Seperti mencari sesuatu yang tidak pernah ia temukan atau mungkin telah menghilang ditelan segala kesedihan. Hari ini ia memakai baju terusan yang menutup hingga lutut. Tak ada lagi gelang di pergelangan tangannya. Gelang ungu yang biasa melingkar. Mungkin ia lepas dan lupa di mana meletakkannya. Tiga puluh menit digunakan perempuan itu untuk mencari buku. Seperti biasa, tangan kanannya menyentuh pungggung buku tapi matanya terpejam. Ia seolah menghapal lekuk punggung buku yang ia cari.

Pustakawan yang setia menunggu perempuan itu pulang tidak pernah berniat menegurnya. Menyapa atau bertanya, buku apa yang sedang ia cari. Sekadar berbasi-basi. Pustakawan itu tahu, sangat jarang, bahkan kadang dalam seminggu perpustakaan peninggalan keluarga Hemlet ini tidak didatangi pengunjung. Ia enggan mengusik. Selain itu, ketika beker telah diketuk sebagai tanda bahwa perpustakaan telah tutup, perempuan itu akan keluar. “Jika butuh bantuan, pasti dia akan bertanya.” lirih pustakawan itu dengan suara yang sengaja dibesarkan. Berjam-jam ia duduk dan tidak mengatakan sesuatu. Selama di perpustakaan, itulah kalimat pertama yang ia ucapkan hari ini.

Dari rak ketiga sisi kiri dan tersembunyi, perempuan itu mendengarnya. Ia hanya tertawa kecil. Membiarkan suaranya memecah kesunyian. Ia tahu, Pustakawan itu kesepian dan kesepian bukanlah teman yang baik untuk seorang lelaki. Tepat pukul enam belas sore, pustakawan itu mengetuk beker empat kali. Lelaki berambut sebahu itu melakukannya tiap hari. Dengan atau tanpa pengunjung. Barangkali ia melakukan itu karena butuh mendengar suara. Perpustakaan ini seperti musuh bagi suara.

Tapi sore ini, ketika ia melakukannya. Seseorang masih berada di antara buku-buku itu. Tersembunyi di deretan rak-rak yang jumlahnya lebih banyak dari seluruh jemari yang ada di tubuhmu.

Pustakawan itu tahu betapa pentingnya beker ini dibunyikan. Beker kecil seukuran kepalan tangan bayi itu tertempel di dinding, sejingkal di atas kepalanya. Suaranya tidak sebesar klakson kendaraan atau ketika kau berteriak menyanyikan lagu Bohemian Rhapsody. Untuk perpustakaan sebesar ini, suara itu seperti bibir kekasihmu yang berbisik tentang kerinduannya pada hubungan kalian berdua, tepat di telinga kirimu ketika kau telah kaku dan tak bisa lagi mendengar suaranya.

“Kau tahu makna terdalam dari kesunyian? Jadilah pustakawan” Ia berbicara pada dirinya. Membiarkan suaranya ia dengar sendiri sambil berharap perempuan itu membalas dan mereka dapat mengobrol.

Tapi tidak ada suara apapun. Perpustakaan ini jauh dari jalan raya dan dindingnya sengaja dirancang agar kedap bunyi. Tidak ada suara selain desah napas pustakawan itu.

“Halo, Nona. Perpustakaan sudah tutup.” Suaranya mengusik sunyi. Ia sengaja meninggikan nadanya. Berharap perempuan itu, yang entah berada di bagian mana, mendengar suaranya. Tapi tidak ada tanggapan.

Pustakawan itu berdiri dari kursinya. Kepalanya tegak dan toleh. Matanya berjalan menyelinap dicela rak-rak yang kokoh dan lebih tinggi dari dirinya.

Ia berjalan. Langkahnya sengaja pelan. Mengelilingi dua puluh lima rak buku dan sebelas pasang meja dan kursi di perpustakaan ini membutuhkan waktu. Ia memulai dari rak tengah yang berbentuk lingkaran dengan diameter dua puluh tiga inci. Ornaman klasik yang sengaja dipesan dari Karandia, pulau kecil yang penduduknya terkenal mahir mengukir dan tempat tumbuhnya pohon-pohon Tud atau pohon kesetiaan.

Ia terus melangkah ke belakang. Kepalanya tidak berhenti menoleh. Ia memeriksa setiap cela yang memisahkan dua deret rak buku ke kanan dan ke kiri ini.

Dua belas langkah lagi, ia telah tiba di dinding ujung perpustakaan dan perempuan itu belum juga terlihat. Langkahnya mulai cepat. Ia bergegas ke rak yang terletak di sisi kanan pintu perpustakaan tempat perempuan itu menyimpan tasnya. “Sial, tas itu masih ada.” Ketusnya.

“Nona? Nonaaa? Nonaaaaaa?” Tapi belum ada tanggapan. Ia hanya mendengar pantulan suaranya. Menggema dan seperti mengejak pustakawan yang tengah kebingunangan ini. Ia kembali memeriksa. Kali ini lebih teliti. Setiap rak ia periksa seperti mengeja kalimat-kalimat pada halaman pertama di buku It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be karya Paul Arden.

Napasnya mulai panjang dan lemah. Ia kembali ke mejanya dan diam. Sejenak mengingat tiga puluh menit sebelum ia menekan beker. “Mungkin perempuan itu telah meninggalkan tempat ini?” Ia bertanya dengan nada kesal, tapi secepat kedipan mata, ia menjawabnya sendiri, “Aku tidak melihatnya keluar” kesalnya semakin menjadi “Sial, aku hanya berdebat dengan diri sendiri.” Ia seperti sednag bermonolog.

Pustakawan itu menenggak habis kopinya lalu berdiri dengan kedua telapak tangannya tertempel di meja. Menarik napas panjang dan dalam.

“Nona? Nonaaa? Nonaaaaaa?” Ia menimpali seruannya, “Aku akan mengunci perpustakaan. Sekarang sudah pukul delapan belas dan aku harus pulang,” Setelah menunggu beberapa jeda tanpa tanggapan, ia mengambil ranselnya di laci meja dan bergegas berjalan ke pintu perpustakaan.

Sebelum tiba di pintu, ia menatap tas perempuan itu. Lekat dan curiga. Membiarkan tas itu tergeletak di sana. Ia berbalik dan memandang sekeliling. Setelah memastikan perempuan itu memang tidak ada, ia mematikan beberapa lampu dan keluar.

***

Pukul sepuluh pagi, pustakawan itu kembali membuka pintu perpustakaan. Ia masih melihat tas hitam milik perempuan yang saat ini entah berada di mana. Diraihnya dan ia bawa ke mejanya. Ia sengaja menyimpannya di laci kedua. Tempat benda-benda milik pengunjung yang terlupakan. Paling banyak pulpen, sisanya buku catatan dan benda-benda lain.

Ia penasaran, apa yang dibawa oleh permepuan itu. Dengan iseng ia meraba dan tas itu hanya berisi sebuah benda kotak menyerupai buku. Ia merabanya lebih teliti “yah, ini buku. Ia kemudian mengeluarkannya dan membaca judulnya, Tiada Cinta yang Kekal dan Percuma.

Pustakawan itu berdiri. Ia hendak membuat kopi pertamanya hari ini. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu kecil yang terletak tidak jauh dari mejanya. Ia mendengar suara. Suara tenor perempuan yang sednag bercakap dengan seorang lelaki.

Ia menahan tangannya membuka pintu. Diam dan menyimak dengan seksama dari mana suara itu. Sudah empat tahun ia bekerja sebagai pustakawan dan belum sekalipun ia mendengar suara orang yang dapat menembus dinding kedap bunyi ini.

Mata Pustakawan itu mengarah ke pintu. Rapat. Pagi ini belum ada seorang pengunjung yang datang. Ia membalik tubuhnya. Berjalan ke deretan rak. Telinganya menunggu suara itu lagi. Samar-samar suara seorang lelaki terdengar.

“Tapi perempuan itu telah kembali. Ia mungkin telah menyelesaikan kisahnya. Berarti janjinya telah tertunai.”

“Mungkin dia kembali untuk mengambil sesuatu, lalu pergi lagi dan tak pernah kembali seperti Lasana, Miraka, atau Runaya.”

“Apakah kau tahu janji perempuan itu?

“Dia akan kembali setelah bertemu dengan kekasihnya.”

“Di mana kekasihnya tinggal?”

“Dia ada di Pulara, salah satu perpustakaan sederhana di kota Hop. Percayalah, kemanapun ia pergi, perempuan itu pasti akan pulang. Pasti.”

“Tapi mengapa perempuan itu belum memunculkan dirinya?”

“Ia mungkin tidak ingin diganggu.”

Pustakawan itu duduk di lantai. Meluruskan kakinya dan memejamkan mata. Punggungnya bersandar di rak tengah. Ia menyimak percakapan ini. “Suara ini ternyata berasal dari tokoh-tokoh di buku-buku.” Gumamnya yang diteruskan dengan tawa kecil yang berderai.

***

Minggu pagi, lelaki itu membuka pintu rumah dan membawa secangkir kopi untuk menemaninya. Ia duduk di kursi kayu. Meraih koran minggu yang masih tergeletak di teras.

Berita sekelompok vandal yang membakar beberapa gedung di Kota Hop menjadi tajuk utama. Penyebabnya adalah protes kelompok Religio di kota itu atas dilegalkannya lokalisasi pelacuran. Mereka menekan pemerintah agar mencabut aturan itu.

“Perpustakaan Pulara ikut dibakar setelah berhari-hari disabotase?” Lelaki itu menelusuri kepalanya. Ia mengingat percakapan buku-buku di perpustakaan. “Yah, kekasih perempuan itu tinggal pada salah satu buku di Pulara.”

Lelaki itu berusaha memahami bahwa kecemasan adalah kutuk paling indah. “Perempuan itu mencari ketiadaan yang bermukim di dalam dirinya. Tapi ketiadaan tidak pernah hilang dan menjadi ada. Ia kekal dan percuma.

Lelaki itu menatap jauh dan kosong. Ia menerka nasib perempuan itu. “Aku harus membaca buku yang ada di tas itu.”


 Baca tulisan lainnya dari Jejak Sajak

Tiga Puisi yang Paling Berpengaruh dalam Hidup Saya

Tujuh Istilah Cinta yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Patah Hati

Belajar Jatuh Cinta dari Vicky Prasetyo

Luffi dan Feodalisme Bahasa

Kita Butuh Berita Kepada Kawan, Bukan Lawan

Pesantren, Senyum Enigmatik Monalisa dan Pinokio