Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Sebagai lelaki yang bercita-cita “beranak-pinak”, saya resah melihat kasus kekerasan seksual di Indonesia yang makin ramai. Jika tidak percaya, silakan ketik di mesin pencarian Google: perkosaan. Kalau Anda tidak mempunyai kuota internet atau malas mencari, akan saya ingatkan beberapa kasus yang mungkin luput dari Anda.

Masih ingatkah kita dengan Yuyun, bocah lugu asal Bengkulu yang berakhir dengan kondisi sangat tragis setelah “digilir” oleh empat belas laki-laki yang kebanyakan masih di bawah umur? Atau mungkin dengan kasus Eno, yang tewas setelah gagang cangkul tembus masuk ke dalam tubuhnya melalui kelaminnya, setelah diperkosa tiga laki-laki dan lagi-lagi salah satunya masih di bawah umur? Dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya, sama banyaknya dengan pemutaran mars Perindo saat iklan di stasiun TV milik pak HT, dan juga sama-sama sangat mengganggu.

Bagi yang kemanusiaannya masih sehat, pastilah kasus itu sangat mengganggu. Jika Puan dan Tuan tidak terganggu, mungkin karena berita seperti itu sangat sering menghiasi wajah-wajah media kita hampir tiap hari. Lantas, itu membuat nurani kita pudar dan kita hanya bisa bersimpati tetapi tidak berempati. Saat melihat berita semacam itu, kita mengutuk pelaku dengan menggunakan kata-kata kotor dan berharap pelaku dihukum seberat-beratnya, tetapi itu hanya membuang waktu dan energi, selain tidak ada kata kotor yang pantas untuk pelaku dalam kamus manapun, itu juga tidak akan mengurangi kesuburan kasus pelecehan seksual. Ingin menyalahkan syaitan? Saya rasa itu melebihi perbuatan syaitan, mereka juga tidak tega melakukan hal semacam itu.

Korban kasus pelecehan seksual hanya bisa diam. Korban merasa malu atas kejadian memalukan yang menimpanya, mereka merasa tidak punya kekuatan untuk melawan. Sangat tinggi angka kasus perkosaan yang tidak dilaporkan, jika tidak percaya silakan cek di sini https://rainn.org/statistics. Bahkan, tidak jarang masyarakat menghakimi korban (victim blaming). Kita mungkin masih ingat dengan kasus calon hakim yang mengatakan “yang diperkosa dan yang memperkosa ini sama-sama menikmati” atau dengan kasus RW korban pelecehan seksual Sitok Srengenge yang dicerca karena baru melapor saat hamil, “hamil baru melapor, keenakan yah?”. Hal-hal yang seperti itulah yang membuat korban perkosaan enggan melapor, karena merasa malu. Alih-alih ingin mendapat pembelaan, malah makin disudutkan.

Entah apa penyebabnya, kita begitu picik, menganggap korban perkosaan itu seperti sampah, apalagi jika dialami seorang gadis, lalu kita berpikir “deh, nda perawanmi, nda adami harganya”. Saya mengerti, menjaga keperawanan itu sangat penting, tetapi bukan berarti gadis yang tidak perawan, terlebih karena kasus pemerkosaan, lantas menjadi barang timbang bo’no, saya rasa mereka masih manusia dan mereka berhak mendapatkan hidupnya kembali. Ini juga sering terjadi: menyalahkan pakaian korban. Saya mengerti, bahwa pakaian minim bisa mempengaruhi otak yang minim, tetapi bukan berarti wanita yang berpakain minim itu setuju untuk dilecehkan, apalagi diperkosa.

Saya tahu kalau ajaran agama yang mewajibkan wanita menutup auratnya adalah usaha untuk menjaga perempuan, tetapi bagi lelaki yang berotak minim, itu juga tak berguna, lingkungan saya menjadi saksinya. Walaupun wanita sudah berusaha menjaga dirinya dengan menutup auratnya, mereka masih sering dilecehkan, walaupun hanya sekedar slut shaming secara verbal (ini terjadi di lingkungan kampus saya yang berlabel agama Islam). Mereka laki-laki (muslim) mungkin tidak sadar jika perintah agama agar perempuan menutup aurat satu kesatuan dengan perintah laki-laki menundukan pandangannya.

Saya pernah membaca tentang sebuah kasus kekerasan seksual yang dialami oleh Shandra Woworuntu. Lebih parah dari pemerkosaan, Shandra dipaksa menjadi budak seks, menjadi pelacur, dipaksa mengkonsumsi obat-obatan di bawah todongan senjata dan mengalami kekerasan fisik. Ia menjadi korban human trafficking. Kejadiannya pada tahun 2001, saat ia melamar pekerjaan di hotel besar di Amerika Serikat, lalu diterima dan berangkat ke sana. Saat tiba di Amerika, bukannya menjadi sebuah karyawan di hotel, ia disekap di rumah bordil dan diperkosa, ia tak bisa melawan, sebab todongan pistol selalu bersamanya. Saat itulah, ia dipaksa menjadi pelacur, di rumah bordil, hotel, dan kasino. Setelah berbulan-bulan, ia berhasil melarikan diri dari rumah bordil itu, lalu ia melapor kepada kepolisian setempat tetapi tidak dilayani karena tidak memiliki paspor, paspornya diambil oleh mucikarinya. Begitupun ketika ia melapor ke konsulat Indonesia di Amerika, ia ditolak dengan alasan yang sama. Sampai akhirnya, setelah ia menjadi gelandangan dan ia bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Eddy, ia menceritakan semua kisahnya, lalu Eddy menghubungkannya dengan FBI. Saat itulah ia bersama FBI berhasil membongkar kejahatan tersebut dan berhasil membebaskan wanita-wanita lain yang menjadi korban. Ia merasa sangat senang ketika melihat teman-temannya mendapatkan kebebasan mereka kembali. Belum sampai di situ, dari kejadian yang menimpanya, ia mengalami trauma berat dan para sindikat itu menerornya. Saat ia disarankan untuk mengganti namanya agar terhindar dari teror tersebut, Shandra mengatakan “saya memutuskan untuk tetap memakai nama lama Shandra Woworuntu. Ini nama saya. Para sindikat itu telah mengambil semua yang saya miliki – lalu mengapa saya harus menyerah dengan mengganti nama?” Shandra memutuskan untuk berusaha sekuat mungkin membantu para korban human trafficking lainnya. Ia memulainya dengan sebuah organisasi Mentari, yang membantu korban agar bisa berbaur kembali ke masyarakat dan membantu korban mendapatkan perkerjaan. Ia juga berkata “masalahnya adalah, orang-orang melihat perempuan-perempuan yang diperdagangkan ini sebagai pelacur, dan bukan sebagai korban, tapi sebagai penjahat. Dan di kota-kota besar, orang-orang menutup mata atas segala macam tindak kejahatan seperti ini”.

Kasus pelecehan seksual adalah masalah lama yang tidak kunjung padam, tetapi bukan berarti kita tidak bisa memperkecil kemungkinan untuk terjadi lagi. Laki-laki mungkin bisa belajar dalam melihat perempuan kalau mereka bukan melulu urusan selangkangan dan tidak menganggap perempuan berada satu tingkat di bawahnya. Tidaklah sulit untuk mengingat hal itu di kepala kita, kecuali kapasitas otak yang dimiliki memang minim untuk mengingatnya. Tidak ada salahnya jika kita ingin belajar dari pandangan Islam mengenai lelaki menundukan pandangan, tetapi ada baiknya jika kita tambah dengan menundukkan pikiran, sebab itulah akarnya. Tidak memperkosa sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Mereka yang menjadi korban butuh dukungan moral agar hidupnya bisa kembali sediakala setelah apa yang menimpanya, jika tidak bisa berempati, setidaknya jangan menghakimi. Entah menjadi korban atau pelaku, orang-orang didekat kita akan mengalaminya, jika kita tetap tidak peduli. Seperti kata Seringai, “Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.”

Sumber gambar: readersdigest.co.uk


Baca tulisan lainnya

Investigasi Serba Kebetulan

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian