Foto: Sofyan Syamsul (@pepeng__)

Jika kamu masuk melalui pintu belakang Rumata’ Artspace, kamu akan langsung melihat sebuah ilustrasi di atas kayu berbentuk persegi bergantung di tembok. Jika didekati, mungkin kamu bakal berpikir ini adalah sebuah kerajinan seni Islami serupa yang biasa dipajang ruang tamu rumah-rumah temanmu yang beragama Islam, atau mungkin di rumahmu juga. Karena ilustrasi tersebut memperlihatkan sebuah karakter berturban dan bergamis putih melakukan beberapa kegiatan, termasuk shalat. Ilustrasi tersebut juga dihiasi kaligrafi, tapi sebenarnya didominasi huruf Lontara’ juga. Jika kamu bergeser sedikit ke kanan, kamu akan menemukan sebuah informasi bahwa ilustrasi yang kamu saksikan sebenarnya adalah sebuah perjalanan Sultan Alauddin memeluk dan menyebarkan Islam di tanah Gowa.

Si pembuat, bernama Zul Fiqhri, merupakan satu dari empat seniman yang terpilih di pameran visual Rethinking Local Heroes yang diinisiasi oleh Abdi Karya untuk menampilkan pahlawan daerah yang dianggap bisa menjadi role model generasi saat ini dalam bentuk karya seni visual. Jika selama ini, tanpa sadar, Sultan Hasanuddin menjadi satu-satunya pahlawan yang selalu muncul pertama kali di kepala kita setiap kali ditanya seputar pahlawan daerah, maka pameran Rethinking Local Heroes mencoba menjadi sebuah jalan baru untuk mengenang dan mengenal lebih banyak pahlawan daerah.

Hal menarik bagi saya atas pahlawan yang dipilih Fiqhri adalah bahwa ini merupakan pahlawan relijius. Sementara, generasi muda saat ini sepertinya mulai berjarak dengan sesuatu yang sifatnya relijius. Tentu saja, saya masih mengenal banyak anak-anak muda yang rajin shalat, tapi, ketika ada satu dari mereka yang muncul dan mau memperkenalkan sosok pahlawan relijius tersebut, bagi saya adalah sebuah kejutan. Bagi saya, antara agama yang Fiqhri peluk, shalat yang ia laksanakan, dan karya-nya ini, adalah sebuah kesatuan.

Bagaimana kamu melihat profesimu?

Saya juga tidak begitu tahu. Tapi dalam konteks ini, saya bukan pemahat atau pun pelukis, tapi lebih sebagai seorang ilustrator, karena mengilustrasikan cerita.

Lalu, selama ini bagaimana kau melihat keberadaanmu dalam dunia seni di Makassar?

Saya telah mengerjakan karya seni di banyak macam media, tapi masih tetap berkutat di karya seni dua dimensi.

Jadi, saya mesti menganggap profesi utamamu sebagai apa?

Mmm, bisa pelukis, bisa ilustrator. Dan lukisan saya biasanya mengilustrasikan cerita.

Dan apa yang menjadi kesukaanmu dalam mengilustrasi?

Saya sering tertarik dengan hal-hal bernuansa sejarah atau hal-hal imajinatif atau mistis. Bukan mistis yang berbau hantu, tidak, tapi lebih semacam makhluk yang tidak ada di dunia, tapi saya adakan dalam karya.

Biasanya makhluk seperti apa?

Alien, monster, tapi monster yang lucu.

Mengapa itu jadi penting buat kamu ilustrasikan?

Karena saya sering bertanya-tanya, adakah kehidupan lain selain kehidupan yang kita jalani saat ini. Atau bagaimana rasanya seandainya saya bisa bertemu dengan makhluk-makhluk yang tak pernah saya pikirkan ada itu. Perasaan-perasaan seperti itu yang saya sukai angkat dalam karya-karya saya.

Tidakkah itu menganggumu? Maksud saya, kamu menyukai sejarah yang sifatnya memang real, sementara di satu sisi, alien dan monster itu imajinatif.

Tidak juga, karena biasanya saya bekerja tergantung tema, atau situasi, atau event yang aya ikuti. Tapi saya berharap kelak punya kesempatan untuk mengabungkan keduanya, mengangkat tema sejarah tapi dengan penggambaranyang lebih imajinatif. Di mana visualnya imajinatif, tapi kontennya real sejarah.

Lalu, bagaimana pandanganmu tentang dunia seni lukis atau ilustrasi di Makassar saat ini?

Di lingkungan terdekat saya, yaitu kampus, memperlihatkan bahwa setiap masa punya orang-orangnya sendiri. Era senior-senior saya dulu di 2007 ke bawah, mereka punya kemampuan teknis yang baik, dan pergerakan mereka sifatnya bersama-sama. Masuk 2008, gerakan terebut mulai surut dan justru kampus yang ambil alih, sampai membekukan beberapa lembaga seni dalam kampus, atau menutup kegiatan-kegiatan seni. Sekarang, karena gerakan-gerakan ini berkurang, kemampuan mahasiswa sekarang dalam berkarya semakin berkurang juga.

Dan kamu merasa terkena imbasnya?

Ya, saat ini saya merasa kemampuan saya masih sangat kurang. Apalagi jika saya membandingkan karya saya dengan karya-karya senior saya. Atau apa yang saya lakukan untuk dunia seni di kampus sangat berbeda dengan senior-senior saya dulu. Tapi, saya pikir, itu tidak serta merta membuat generasi sekarang kalah dari generasi dulu. Generasi sekarang bisa menang karena sifat kebaruan dalam karya seni mereka. Senior-senior saya punya kemampuan tekhnis yang baik, tapi terbatas pada gaya. Mungkin zaman itu sebuah karya bisa diterima jika realistis. Tapi saat ini, bukan cuma realistis, apalagi internet sekarang makin memudahkan siapa saja, seni yang sifatnya kontemporer dan abstrak pun sudah mulai bisa diterima dan dilihat sebagai gaya.

Dan kamu lebih banyak berkegiatan di dalam kampus atau di luar?

Lebih banyak di luar.

Bisa ceritakan mengenai keterlibatanmu di Rethinking Local Heroes?

Ide ini tentu saja berangkat dari Kak Abdi (Karya) yang mengajak saya terlibat di proyek ini. Ketika ia menceritakan visinya untuk mencari pahlawan daerah yang layak dipikirkan kembali. Saya memilih Syech Yusuf awalnya, sebelum akhirnya memilih Sultan Alauddin. Bagi saya, mereka berdua adalah pahlawan yang lebih menonjolkan sisi spiritual dan sifat kalem. Melalui pameran ini kita menduga bahwa kekerasan dalam demo yang biasa terjadi di mahasiswa bisa jadi datang dari pengaruh pahlawan-pahlawan yang memang dilihat sisi garang dan beraninya semata, jadi mengapa tidak lebih mengenal lagi pahlawan dengan sosok yang lebih spiritual.

Saat ini orang-orang sepertinya mulai skeptis dengan agama, seperti keberadaan FPI yang sering mengundang kecaman, lalu sensor tv yang dianggap berlebihan. Apakah pahlawan yang kamu angkat akan tetap bisa efektif di saat sekarang ini?

Pahlawan yang saya angkat adalah pahlawan yang memperjuangkan Islam, dan mungkin ketika orang-orang melihat karya ini mereka tidak akan langsung paham, tapi pasti ada saja kemungkinan bahwa sebagian dari mereka tertarik untuk mencari tahu. Dari rasa ingin tahu itu saya pecaya mereka akan menemukan pemahaman. Misalnya, mengapa Islam yang justru menjadi agama mayoritas di Gowa sampai sekarang, bukannya Hindu-Budha? Padahal Hindu-Budha lebih dulu masuk ke Indonesia. Intinya, saya tidak ingin langsung memberikan pengaruh, tapi lebih ke memberi rangsangan agar mereka mencari tahu. Saya pikir, sama saja dengan saya ketika pertama kali memutuskan untuk shalat. Saya mencari tahu terlebih dahulu alasan mengapa saya harus shalat. Setelah menemukan dan yakin dengan alasan tersebut, barulah saya melakukannya.

Dan, menurut kamu apa pahlawan itu?

Sosok yang bisa memberikan perubahan bagi saya. Bahkan jika hanya lewat sekedar buku, jika buku tersebut memiliki nilai yang mampu mengarahkan saya menjadi pribadi yang lebih baik, maka penulisnya adalah pahlawan bagi saya.

Jika menurutmu pahlawan adalah sosok yang memberi perubahan yang lebih baik bagi dirimu, pernahkah terpikirkan untuk mengangkat orang tua-mu atau dosen-dosenmu menjadi sosok yang kau ilustrasikan dalam pameran ini?

Pernah. Bahwa orang-orang terdekat saya adalah pahlawan dan mereka memiliki kebaikan. Tapi, kemudian saya ingin mencari tahu lagi asal kebaikan mereka dari mana. Yah, misalkan bapak saya mungkin memperoleh kebaikan dari nenek saya, lalu nenek saya mungkin mendapat kebaikan dari neneknya, lalu neneknya bisa jadi dulu berguru dari salah satu murid-murid di Kerajaan Gowa. Jadi, yang ingin saya angkat adalah semacam pondasinya. Dan ini adalah bentuk terima kasih saya kepada sosok yang saya angkat ini.

Dari empat seniman yang terpilih di pameran ini, kamu yang paling muda, itu menjadi semacam tekanan juga kah?

Oh iya, saya baru sadar (tertawa). Mungkin karena di banyak pameran yang saya kerjakan sebelumnya saya sering bekerja bersama seniman-seniman yang lebih tua, jadi saya sudah terbiasa. Tapi memang perasaan ter-junior-kan itu dulu ada ketika baru pertama kali terlibat mengerjakan sebuah pameran. Tapi, sekarang sudah tidak lagi.

By the way, rambut kamu pernah gondrong ‘kan? Kenapa sekarang tidak lagi?

Tidak berambut gondrong lagi pertama karena untuk keperluan KKN waktu itu (tertawa), kedua saya sudah tidak punya alasan untuk berambut gondrong.

Dulu alasannya memanjangkan rambut karena apa?

Karena di umur segitu saya ingin merasakan sensasi kuliah di jurusan seni dengan style yang juga tidak biasa, yang lebih ekspresif. Tapi, saya percaya itu tidak pernah jadi tolok ukur utama dalam menilai seseorang. Mau berambut gondrong atau tidak, kita harusnya dinilai dari karya yang kita ciptakan, gerakan yang kita perjuangkan.

Lalu, bagaimana menurutmu dengan karya rekan-rekanmu yang terlibat dalam pameran ini?

Keempat karya dalam pameran ini masing-masing punya gaya dan kemerdakaannya sendiri dan perbedaan ini sangat saya apresiasi. Saya berharap ke depannya saya tetap bisa berpameran dengan orang-orang dengan gayanya masing-masing, karena membosankan juga rasanya mengikuti pameran yang gaya karya-nya hampir semua sama.

Bagaimana perasaanmu terlibat di pameran yang sepertinya baru pertama kali digelar di Makassar?

Saya berharap pameran seperti ini bisa terus berlanjut. Bagi saya ini penting karena selama ini saya sering terlibat di pameran yang membebaskan saya menciptakan apapun semau saya, tapi di sini saya diminta untuk melakukan riset agar saya lebih tahu apa yang mau saya angkat. Itu membuat karya yang melalui riset lebih berbobot ketimbang yang tidak. Terlibat di pameran ini membuat saya banyak mendengar, banyak melihat dan banyak mencari referensi. Dan bukan cuma saya yang membutuhkan pameran seperti ini, tapi teman-teman saya yang lain pun.

Kemarin Kak Luna (Vidya) menyarakan kenapa tidak membawa karya-karya kalian ini keluar,  sudah kepikiran juga tidak untuk mengambil langkah seperti itu?

Tujuan saya berpameran memang untuk berbagi, dan jika ada yang menawari untuk membawa karya saya ini keluar, saya sangat bersedia.

Apa rencanamu selanjutnya?

Saya dari dulu ingin sekali meriset tentang cerita-cerita rakyat Sulawesi Selatan untuk saya ilustrasikan.

Mengapa?

Seperti yang saya maksud di awal tadi, ketertarikan saya pada sejarah dan imajinasi membuat saya ingin menggabungkan keduanya. jadi, jika bisa, hasil riset nanti bisa saya ilustrasikan dengan hasil imajinasi saya sendiri.