Sumber Gambar: Official Trailer Wonderful Life (Wonderful Life Movie)

Menjadikan seorang single mother sebagai tokoh utama tak lantas membuat Wonderful Life berceramah tentang feminisme. Barangkali karena sejak awal film ini dimaksudkan sebagai film keluarga. Konten feminisme akan dianggap memberatkan niat tersebut. Namun, semakin kita mencermati ceritanya, kita bisa merasakan bahwa apa yang dialami oleh Amalia, karakter utama film ini, adalah hal yang kerap dialami perempuan: stereotype. Sebagai informasi awal, film ini diinspirasi oleh novel karya Amelia Prabowo yang berdasarkan kisah nyata.

Amalia adalah wanita karir yang tampaknya punya andil besar di perusahaan tempat ia bekerja. Ia seorang single mother, ditinggal pergi suaminya yang merasa terus-menerus dipojokkan oleh Amalia. Ini juga semacam gambaran sosial yang nyata. Banyak istri yang memilih tetap bertahan sembari terus menyalahkan diri walau mengalami kekerasan di dalam rumah tangga, sementara ketika kondisi terbalik, suami memilih kabur. Kendati begitu, dalam kasus rumah tangga Amalia, tidak ada kekerasan fisik.

Kepergian suaminya, membuat Amalia memutuskan kembali ke rumah orang tuanya. Alasannya tak pernah dijelaskan, tapi kita bisa tahu tujuannya adalah supaya ada yang mengurus Aqil, putranya, ketika ia pergi bekerja. Mengapa suaminya tak sekalian membawa serta Aqil ketika ia memutuskan pergi meninggalkan Amalia? Apakah karena Amalia adalah seorang ibu maka dialah yang harusnya lebih tahu cara membesarkan anak?

Aqil yang masih duduk di bangku sekolah dasar ternyata menderita disleksia. Ini membuat ia gagal di banyak mata pelajaran. Namun, unggul untuk urusan menggambar. Tidak dijelaskan penyebabnya, tetapi guru maupun psikolog merasa bahwa Aqil tidak punya banyak waktu bermain dan ibunya terlalu sibuk bekerja. Gampang mengagumi perempuan yang beraktivitas di luar rumah, dilihat sebagai perempuan independen, tetapi begitu mereka kembali ke rumah dan mendapati kondisi keluarganya kacau, pihak yang disalahkan adalah perempuan juga. Amalia yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aqil menderita disleksia kemudian menelan ego dan melawan akal sehatnya, memutuskan membawa Aqil ke pelosok desa menggunakan mobil mencari dukun-dukun yang bisa mengobati disleksia Aqil.

screen-shot-2016-10-31-at-11-39-02-am

Aqil yang disleksia 

Kadangkala, sebuah film lewat skenarionya mencoba meyakinkan penonton terhadap satu hal, sementara penonton justru meyakini hal lain, serupa dalam Wonderful Life. Di sini, kita diyakinkan bahwa tujuan Amalia membawa Aqil berobat dari desa ke desa adalah bukan untuk kebaikan Aqil tapi demi kepentingan Amalia semata. Saya lalu bertanya-tanya, kepentingan macam apa? Bukankah Amalia adalah ibu dari Aqil? Bukankah sudah jadi tanggung jawab Amalia untuk mencari dan menemukan kebaikan demi masa depan anaknya? Jadi, tidak pernah ada alasan egois dalam film ini, Amalia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya yang masih kecil.

Juga, ketika film ini berusaha meyakinkan kita bahwa Aqil tidak punya banyak waktu bermain, saya justru menduga bahwa Aqil cuma butuh diberi kebebasan mengekspresikan kemampuannya. Memberikan Aqil banyak waktu bermain dengan memberikan kebebasan menjadi dirinya sendiri adalah dua hal yang berbeda. Ketika akhirnya ia dibawa ibunya keliling mencari dukun, Aqil menemukan kebebasannya di perjalanan, bukan waktu bermainnya yang hilang.

Film garapan Agus Makkie ini tadinya saya duga akan kurang lebih sama dengan Taree Zameen Par, film India yang mengangkat isu anak dengan disleksia. Dugaan awal saya jelas tanpa alasan, mengingat film Indonesia kerap kekurangan orisinalitas. Namun, Wonderful Life ternyata sepenuhnya berbeda, tak wonderful, tapi menghibur sebagai film road movie keluarga yang berhasil memotret keelokan beberapa daerah pedesaan pulau Jawa. Utamanya bagi masyarakat urban yang sudah terlalu lama tak melihat hutan.

Walau harus disayangkan bahwa film ini kehilangan momen klimaks ketika berusaha memotret rekonsiliasi antara Amalia dengan disleksia anaknya. Momen yang hadir justru terasa kabur dan sepele. Isi kepala dan cara berpikir Aqil juga gagal atau mungkin sedari awal tak diniatkan untuk dieksplorasi di sini, tapi lebih menitikberatkan kondisi ibunya yang super sibuk, namun nekat meninggalkan pekerjaan selama beberapa hari demi anaknya.

screen-shot-2016-10-31-at-11-34-16-am

Atiqah Hasiholan memerankan Amaliah secara apik.

Di bagian ini, Atiqah berhasil menampilkan salah satu akting terbaiknya. Wajar saja ketika ia dinominasikan sebagai aktris terbaik di Festival Film Indonesia 2016. Seorang wanita karir yang disiplin, gampang gusar, gelisah, senang membersihkan tangannya dengan hand-sanitizer ketika selesai menyentuh benda-benda yang dianggapnya kotor, dan tak punya selera humor, tapi jauh dalam lubuk hatinya ia perempuan lembut yang menderita tuntutan pekerjaan dan keluarga. Aktingnya ibarat sebuah lem yang merekatkan sobekan foto yang tak dianggap penting. Ketika menyatu, menangkap momen nyata kondisi perempuan di negeri ini.