Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

“Nasib terbaik adalah jomlo, yang kedua jomlo tapi punya gebetan, dan yang tersial adalah calon gebetan pun tak punya. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang jomlo” – Soe Hok Gie

Negara seharusnya memberikan perhatian khusus kepada para jomlo. Kalau perlu, diberikan penghargaan Satya Bencana Pukpuk Anumerta. Yah, pasca reformasi, negara ini diwarnai cukup banyak oleh ulah kaum jomlo yang militan dan tidak pernah pura-pura tegar seperti Jokowi.

Namun, hasil penelitian yang dilakukan Tim Ahli Forensik Perasaaan menyatakan kalau kualitas jomlo saat ini mulai menurun. Tidak produktif lagi, tercerai-berai dan terkesan putus asa. Meskipun datanya masih berlabel rahasia negara, tapi sebaiknya ini cepat ditindak lanjut. Sebelum peran kaum jomlo tersingkirkan dari peradaban umat manusia.

Entah kapan tapi semoga ada penulis keren yang ingin meneliti dan menulis tentang sejarah perkembangan jomlo dan peranannya dalam membangun negara. Buku seperti itu diharapkan dapat mengembalikan mental jomlo yang militan dan progresif.

Meskipun begitu, sebagai referensi awal, berikut ini tiga tembok tempat jomlo sebaiknya meratapi nasib dan menempa diri.

1. Tembok Cina yang Huruf T Hilang sebelum A

Bagi kaum jomlo yang punya gebetan, tapi doi berada di tempat jauh dan panjang, sebaiknya cobalah datang ke tembok ini untuk meratapi nasib dan menempa diri. Lumayan. Sekalian menguji kualitas ketahanan tubuh. Karena katanya hidup sendiri itu keras dan melelahkan bro.

Di tembok tersebut, ada bagian khusus di mana setiap jomlo yang datang diberikan ujian untuk merenung apa saja yang pernah ia berikan untuk negara. Semacam karya atau sumbangsih pemikiran. Tidak mesti besar, cukup ide yang mampu mengubah dan membuat bahagia diri sendiri dan orang terdekat. Kita–maksudku, para jomblo–juga dilatih untuk memisahkan mana urusan negara dan mana urusan perasaan. Tentu, hal ini sangat berpengaruh bagi bertambah atau berkurangnya populasi koruptor di negara ini.

2. Tembok Berlin Daeng Dung

Tembok ini punya sejarah yang hebat dan melelahkan. Banyak nyawa melayang sebelum dan sesudah tembok ini dibangun. Maka, di hadapan tembok ini, seberat apa pun perjuangan yang pernah kau tanggung, hanya terlihat seperti simulasi awal.

Berada di tempat ini akan membantu jomlo untuk lebih memahami arti perjuangan. Selain itu, dapat juga memberikan stimulan-stimulan pengorbanan yang tak mengenal akhir.  Radhitya Erlangga –-musisi keren yang punya banyak band–menemukan gelora perjuangan untuk terus meluluh-yakinkan perasaan wanitanya. Ini patut dicontoh oleh lelaki yang punya gebetan. Kalau memang cinta, kau harus terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Radhit menyulam semboyan tersebut di hatinya.

Oh iya, di tembok Berlin Daeng Dung itu juga tertulis papan peringatan: Diterima atau Mati! Ini memperlihatkan betapa tidak semua lelaki siap menanggung resiko. Kecuali, lelaki yang benar-benar yakin dengan perasaananya.

3. Tembok-ka Ayah

Kalau tembok Cina yang Huruf T Hilang sebelum A dan Berlin Daeng Dung tidak mampu mengembalikan naluri petarungmu sebagai jomlo. Maka, ucapkanlah ini dalam hati sebagai doa: “Tembok-ka ayah!” Ucapkan berulang kali sampai kamu lupa kalau kamu jomlo, seperti nagera yang telah lupa kalau nasib rakyatnya tidak pernah baik-baik saja.

Setelah selesai, cobalah datangi kembali tembok Cina yang Huruf T Hilang sebelum A kemudian lanjutkan ke tembok Berlin Daeng Dung. Selama mengunjungi tempat itu, perhatikan dengan seksama, jangan-jangan kamu yang dimaksud tersial oleh Soe Hok Gie –  biar calon gebetan tak punya.

***

Itulah tadi tiga tembok tempat jomlo meratapi nasib dan menempa diri. Perkembangan ilmu pengetahuan berhasil memberi dampak bagi para jomlo. Jika pada masa modernisme, kehidupan penuh hitam putih dan jomlo dianggap orang cacat perasaan, maka memasuki masa postmodernisme, jomlo telah mendapatkan tempat layak dan pengaruhnya semakin nyata. Maka, telah bersatu jomlo-jomlo Indonesia! []


 

Baca tulisan lainnya dari Jejak Sajak

Tujuh Istilah Cinta yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Patah Hati

Belajar Jatuh Cinta dari Vicky Prasetyo

Luffi dan Feodalisme Bahasa

Kita Butuh Berita Kepada Kawan, Bukan Lawan

Pesantren, Senyum Enigmatik Monalisa dan Pinokio