Oleh : Rahmadi Nurdin* | Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Mari kita menuju tahun 391. Di sebuah kota bernama Alexandria, masih dalam pemerintahan kekaisaran Romawi, terdapat sebuah tempat yang dijadikan tempat pertemuan dan musyawarah. Agora, itulah sebutannya. Sebuah tempat pertemuan terbuka ala masyarakat Yunani Kuno dan menjadi ruang publik bagi masyarakat Alexandria.

Di Agora inilah pengikut Paganisme–keyakinan awal yang dianut masyarakat kala itu–dan Kristen, yang menjadi agama penguasa Romawi, bertemu. Mereka kerap saling menghujat. Hingga perdebatan di antara mereka, pada puncaknya, berakhir dengan pertumpahan darah.

Konflik antar penganut agama tak terelakkan. Masing-masing kelompok berupaya mempertahankan keyakinan. Dengan menghujat juga dengan menyerang secara fisik penganut keyakinan lain. Kaum Pagan saling membantai dengan kaum Kristen. Penganut Kristen saling membunuh dengan penganut Yahudi.

Di tengah konflik atas nama agama tersebut, hiduplah seorang filsuf perempuan yang bernama Hypathia. Ia mengabdikan hidupnya pada filsafat dengan mengajarkannya kepada murid-murid di perpustakaan Alexandria. Dia juga berupaya menemukan hukum-hukum yang mengatur gerakan planet, jauh sebelum Galileo. Ia mempertanyakan keyakinan masyarakat pada saat itu, bumi sebagai pusat semesta. Dia tak akan percaya segala sesuatu begitu saja. Ia mengajarkan, “hidup adalah penyingkapan, dan semakin jauh kita berjalan semakin banyak kebenaran yang bisa kita pahami.”

Dalam perebutan eksistensi ketiga agama tersebut, Hypathia diseret masuk dalam penentuan keyakinan. Ia diharuskan mengikut kepada agama penguasa. “Aku harus mempertanyakan sebelum meyakini,” Hypathia menolak segala doktrin. Tak pelak lagi, dia mendapat tuduhan kafir oleh pemimpin Kristen pada masa itu. Intimidasi dan teror dilayangkan kepadanya. Dengan mengatasnamakan kata-kata Tuhan, oknum gereja menuding filsafat Hypathia sebagai kekafiran. Pada akhirnya, setelah melalui provokasi, ia mati di tangan sebuah sekte fanatik pada masa itu.

Mari kita bergerak 1242 tahun setelah masa Hypathia. Gereja pada masa ini pun masih sepakat dengan teori geosentrisme, bumi sebagai pusat tata surya. Galileo yang terpengaruh Copernicus membawa teori yang berlawanan, Heliosentrisme, tata surya berpusat pada matahari. Gereja keberatan dengan tesis Galileo. Ia didakwa bersalah. Keyakinan Galileo bahwa matahari tidak bergerak dari timur ke barat dan bahwa bumi yang bergerak dan bukan pusat dunia, bagi Gereja merupakan sebuah doktrin palsu, yang bertentangan dengan kitab suci Ilahi. Galileo berdalih bahwa, “seseorang tidak dapat dengan pasti menegaskan bahwa semua penafsir berbicara di bawah ilham Ilahi.” Tentu, pernyataan ini menyiratkan kritik terhadap penafsiran resmi Gereja. Pernyataan Galileo dapat membuat masyarakat pada saat itu meragukan infalibilitas Gereja.

Setelah pengadilan inkuisisi Roma dilangsungkan, tudingan sesat mengarah kepada Galileo yang membuatnya harus mendapat hukuman. Dengan pertimbangan usia, ketika itu Galileo berusia 70 tahun, ia pun menjalani tahanan rumah hingga akhir hayatnya akibat pengutukan oleh pengadilan inkuisisi.

Belakangan, Yohanes Paulus II, mengakui ”Galileo harus mengalami penderitaan yang hebat di tangan oknum-oknum dan institusi-institusi Gereja.” Barulah sekitar 359 tahun setelah pengutukan itu, Sri Paus menunjuk sebuah komisi yang pada akhirnya juga mengakui, ”Para teolog tertentu, yang sezaman dengan Galileo, gagal menangkap makna yang mendalam dan non-harfiah dari Alkitab sewaktu menjelaskan tentang struktur fisik alam semesta ciptaan.”

*

Sebuah hasil riset dari Pew Research Center mencengangkan. Dalam hasil riset tersebut untuk social hostilities index (indeks marabahaya sosial) yang melibatkan agama, dari rentang 2011 hingga akhir 2012 Indonesia berada dalam kategori “sangat tinggi”, peringkat ke-15 dari 198 negara.

Dari berbagai kasus konflik yang terjadi, termasuk kekerasan mengatasnamakan agama, disebabkan oleh kegagalan memahami perbedaan. Masing-masing suku ataupun kelompok agama mengklaim kelompok merekalah yang paling benar. Kelompok di luar dari mereka diposisikan salah. Sampai di sini mungkin tak masalah. Permasalahan muncul ketika masing-masing kelompok berupaya memaksakan kebenarannya kepada kelompok lain. Jika kelompok lain enggan bersepakat, maka label kafir dan sesat segera dilekatkan.

Perilaku mengkafir-sesatkan kelompok lain, nyatanya ditumbuhkan di masyarakat hingga saat ini. Perilaku semacam ini, bahkan dapat kita jumpai di dalam kampus. Ruang yang mengedepankan dialog dan rasionalitas nyatanya juga tersusupi. Ketika suatu kelompok berdiskusi mengenai filsafat, kelompok lainnya akan berteriak “kafir” untuk menggambarkan ketidaksepakatannya. Khutbah Jum’at di mushallah-mushallah fakultas pun hanya berisi “kafir” dan “sesat”, tak lagi bernuansa ilmiah.

Media sosial tak ketinggalan. Serbuan postingan yang melabeli sesat kelompok lain menjadi hal lumrah. Akun-akun bermunculan dengan komentar seolah sebagai pemegang kebenaran hakiki. Akun yang tak sesuai dengan pemahamannya tak akan didiamkan, kecuali dihujat. Cacian dan makian berubah menjadi bahasa sehari-hari. Media sosial yang awalnya sebagai ruang pertemuan terbuka, menjelma ruang penuh hujatan.

Kebencian rupanya sedang dipraktekkan. Mengingat kata Althusser, ideologi bukanlah seperangkat ide ataupun keyakinan belaka. Melainkan tindakan-tindakan yang disisipkan ke dalam praktik-praktik material. Ideologi merupakan praktik kehidupan sehari-hari. Maka jelaslah, sebuah ideologi sedang dipraktekkan dalam kehidupan kita saat ini. Ideologi kebencian, sebuah tindakan mengkafirkan kelompok lain yang tak sepaham.

Begitu mudahnya “kafir” dan “sesat” terlontar hari ini. Di media sosial hingga di perbincangan antar tetangga. Seakan-akan, Di manapun kita menghadapkan wajah di situlah teriakan “kafir” berkumandang. Praktik-praktik tersebut memaksa kita terbiasa dengan teriakan kafir dan sesat. Bahkan, memaksa kita turut melontarkan kebencian serupa dari mulut atau dari jari melalui gadget.

Tujuannya, tak lain untuk menjadikan ideologi kebencian sebagai praktik sehari-hari. Sebuah upaya menjadikan kebencian sebagai ideologi bersama. Mengerikan.

*

Kata kafir dan sesat menjadi tameng ampuh untuk menghilangkan kelompok yang berseberangan. “Kafir” dan “sesat”, bahkan menjadi alasan untuk menghalalkan pembunuhan terhadap manusia, seperti yang dialami Hypathia. Dengan tudingan kafir dan sesat, Galileo harus menjadi pesakitan, meski pada akhirnya pendapat yang dia ajukan terbukti benar.

Dari Hypathia dan Galileo kita belajar. Kelompok-kelompok yang berbicara dengan bahasa kekerasan memiliki pola yang sama. Mereka menutup pikiran agar mudah mengkafirkan kelompok lain. Seolah ada prinsip yang sama seperti ini, “Kafirkan dulu mereka yang berseberangan, mencari tahu kebenaran mereka itu urusan belakangan.”

Persis yang dialami Galileo, kata kafir berfungsi mendakwa orang ataupun kelompok lain. Kata sesat menjadi label untuk melawan kelompok yang berseberangan, entah atas otoritas apa tanpa perlu menggunakan nalar. Mirisnya, hal ini masih terjadi hingga sekarang. Benar-benar mirip dengan zaman kegelapan.

Peristiwa 1624 tahun yang lalu di Alexandria hadir kembali. Agora menjelma media sosial. Awalnya sebagai ruang pertemuan terbuka, ruang publik yang mempertemukan banyak kalangan di masyarakat sambil bermusyawarah, berubah menjadi ruang saling menghujat. Teriakan kafir menjadi senjata provokasi massa terhadap golongan yang tak sepaham. Media sosial pun menjadi arena penghujatan.

Maka tak berlebihan, menyebut ideologi kebencian sebagai ideologi paling purba dalam kehidupan manusia. Ia ada sejak dahulu. Sejak zaman Hypathia, atau bahkan lebih jauh sebelum itu, hingga saat ini. Kebencian merentangi setiap zaman. Ia tak mengenal bangsa, suku, ras, agama, bahkan mazhab. Ia masuk dalam segala lini sebagai praktek yang dilakukan manusia.

Tak seharusnya persoalan penyebaran kebencian mengalami reduksi menjadi sebatas persoalan satu bangsa, satu suku, satu ras, atau satu agama dan mazhab saja. Sungguh, ini adalah persoalan yang menyangkut manusia secara keseluruhan. Setiap manusia dapat terjebak dalam ideologi ini.

Sejak zaman Hypathia hingga saat ini, ideologi kebencian tetap menunjukkan kehadirannya. Semangat rasionalitas dan humanitas, nyatanya tak kunjung terwujud. Konflik atas nama agama masih terjadi, bahkan mengorbankan manusia.

Kita menganggap, peradaban saat ini lebih maju ketimbang dahulu. Nyatanya, kemajuan hanya terjadi pada wilayah fisik. Sedangkan kesadaran kita, mungkin bernasib sama seperti Hypathia dan Galileo. Dikekang dan dimatikan perlahan-lahan. []

*Penulis merupakan mahasiswa FISIP-UNHAS. Bergiat di Active Society Institute (AcSi), tinggal di Makassar.


Baca tulisan lainnya

Perjalanan ke Barat

Tempat Lezatnya Cokelat Bermula

Sekali Tolak, Tetap Tolak!

Menteri yang Lucu

Dunia Sialan