“Tugas sebuah film adalah menyampaikan informasi atau seni yang baru.” Kira-kira seperti itu pendapat Akbar Zakaria dalam diskusi setelah menyaksikan Mas Bro, A Tree Growing Inside My Head, Tantarayya, dan Matahari Memeluk Bulan di Rumata’ Artspace, dua pekan lalu. “Dan, tak satu pun dari kedua tugas ini berhasil ditampilkan oleh keempat film pendek tersebut,” katanya.

Keempat film pendek bertajuk Imitation Film Project garapan sineas muda Makassar sebenarnya bukan tanpa informasi. Dari director’s statement, baik langsung maupun tidak langsung, ada kesan bahwa niat membuat film adalah karena mereka punya kepedulian sosial dan ingin ambil bagian dalam perubahan sosial yang lebih baik pula. Hanya saja, ketika niat tersebut telah menjadi sebuah film, karya mereka berbicara lain. Informasi yang kita temukan dalam film penting, tapi pada saat yang sama cepat dilupakan.

Saya mencurigai persoalannya terletak pada karakter utama. Saya belum banyak menyaksikan film-film pendek Makassar, tapi dari yang sudah saya tonton, saya kerap menemukan pola yang berulang. Karakter utama yang digunakan tidak pernah benar-benar berkembang. Banyak dari film-film pendek tersebut lebih berfokus pada peristiwa, membuat isu lokal menjadi sangat penting, tapi sepertinya tanpa sadar justru malah mengerdilkan karakterisasi tokoh utama. Mungkin saja banyak pembuat film di Makassar memikirkan isu dulu baru kemudian karakter yang ingin mereka gunakan.

Tokoh utama mereka hanya sebagai pengantar bagi penonton untuk menyaksikan peristiwa/isu sosial yang ada di Makassar. Belum lagi plot yang digunakan kebanyakan hanya berangkat dari satu premis ke satu kesimpulan tanpa menciptakan kemungkinan-kemungkinan lain pada kesimpulan tersebut. Ini membuat bukan saja plot, tapi juga tokoh utama tidak memiliki dimensi. Dan karena tokoh utama ini hanya digunakan sebagai pengantar, maka tidak ada emotional attachment antara penonton dengan tokoh utamanya. Padahal emotional attachment ini penting, agar penonton bisa peduli pada apa yang dialami si tokoh utama dalam cerita.

Kekurangan-kekurangan seperti ini saya temukan juga di Mas Bro karya Feranda Aries. Film pendek yang mengisahkan seorang penjual ayam lalapan, bernama Ukka, keturunan Makassar yang harus berpura-pura menjadi laki-laki keturunan Jawa agar orang-orang mau singgah makan di warungnya. Ini merupakan kisah nyata yang juga dialami oleh kakak si sutradara. Ceritanya mungkin berhasil menggiring kita akhirnya bertanya-tanya, “Ada berapa banyak pedagang ayam lalapan di Makassar yang berpura-pura sebagai orang Jawa?” atau “Mengapa kita lebih tertarik membeli ayam lalapan yang dijual orang jawa?”, dan memang kelihatan bahwa fokus utama film ini adalah persoalan tersebut, sementara si Ukka seolah dipasang sebagai pengantar. Kita dibuat sadar akan persoalan identitas, tapi di saat yang sama kita jadi berpikir bahwa persoalan yang dialami Ukka dalam film ini adalah persoalan semua penjual ayam lalapan keturunan Bugis-Makassar di Makassar. Lalu, apa yang membuat Ukka menarik selain persoalan yang ia antarkan?

Selain itu, ending film pendek ini sendiri tidak berhasil mengungkap apa-apa. Toh, sedari awal kita tahu Ukka memang bukanlah orang Jawa. Saya justru membayangkan seandainya ending-nya digunakan sebagai awal cerita, seperti yang kita temukan dalam Inside David Llewyn (2013) dan Carol (2015). Setidaknya, jenis narasi seperti ini akan lebih mampu meningkatkan sense of wonder penonton dan memberikan style pada narasinya yang monoton.

Di kebanyakan film pendek Makassar, kerap kali juga terlalu banyak dialog untuk menggambarkan emosi, serta gestur berlebihan untuk memberi kesan dramatis pada cerita, yang hasilnya serupa sinetron saja. Sepertinya, kebanyakan filmmaker (bahkan mungkin pemainnya) ini masih percaya bahwa emosi itu harus selalu bisa diverbalisasikan, emosi itu harus bisa diperagakan. Seolah-olah aktor yang bermain peran tidak cukup mumpuni menampilkan perasaan mereka secara real tanpa kesan memaksa. Di banyak film independen atau beraliran neo-realist, Aktor-aktor amatir masih sering digunakan dengan harapan kesan real dari penampilan mereka bisa lebih terasa dalam film, lalu membuang gestur dan obrolan yang berlebihan.

Dialog dan gestur berlebihan ini yang saya temukan dalam Tantarayya. Komedi hitam-putih yang mengambil latar sejarah perang melawan Kahar Muzakkar. Tapi, detail perangnya sendiri tidak ingin ditonjolkan. Sang sutradara, Rafiat Arya Fitrah, sepertinya lebih ingin menonjolkan konflik dua tokoh utama, sepasang tentara yang bersahabat–lengkap dengan senjata dalam balutan seragam yang konon katanya seragam tersebut milik kakek Arya yang dibagikan semasa perang–namun memperebutkan pangkat dan jabatan sebagai isu yang masih relevan hingga kini.

Dalam film-film hitam-putih Charlie Chaplin, gestur adalah hal yang sangat penting ditonjolkan, tentu saja karena kala itu teknologi untuk menyuarakan dialog para pemainnya belum ditemukan. Film-film Charlie Chaplin juga hitam-putih, karena saat itu teknologi film berwarna juga belum ditemukan. Saat ini, format hitam-putih masih sering digunakan, salah satunya di film Indonesia berjudul Siti (2015). Tapi, jika kini penggunaan format tersebut masih terus digunakan dengan berbagai alasan; meningkatkan intesitas realitas cerita atau memberi kesan pahit dan getir yang lebih kuat. Dalam Tantarayya, saya tidak menemukan apa motif utama Arya menggunakan format demikian. Mungkin karena ceritanya berlatar sejarah semata, tapi tidak menghadirkan kesan nostalgia juga. Tidak membuat ceritanya tampak real, tidak juga getir. Menggabungkan komedi dan perebutan kekuasaan, tapi tidak juga menciptakan nuansa black-comedy. Antara dialog, gestur pemain, serta format seolah ditabrakkan. Tidak menciptakan kesan inovatif, melainkan overstylized. Mengapa filmnya tak dibuat ke dalam format film bisu saja seperti film Charlie Chaplin? Saya pikir, jika hanya mengandalkan gestur komikal kedua pemain utamanya dalam visual hitam putih, itu sudah cukup mampu menghadirkan tontonan yang lebih menarik.

Berbanding terbalik dengan Matahari Memeluk Bulan karya Zhaddam Aldhy Nurdin. Film yang mencoba memperlihatkan bahwa dialog bisa menjadi hal fundamental dalam sebuah film. Ceritanya dibuka dengan menampilkan sosok seorang pemuda yang berjalan menuruni gunung. Kesendiriannya di tengah ratusan pohon rimbun memperlihatkan kesunyian yang khidmat. Sampai akhirnya, di sebuah persimpangan ia berpapasan dengan seorang perempuan yang baru akan mendaki. Di bagian ini, keberadaan mereka bagai Adam dan Hawa di tengah alam bebas yang tak memperlihatkan siapa-siapa kecuali mereka berdua. Si perempuan yang tadinya mau mendaki, kini malah mengikuti si pemuda yang ingin pulang.

Feranda (Aries) yang ikut terlibat dalam penggarapan film ini mengungkap bahwa di Malino memang ada perempuan-perempuan yang seperti ini. Mendaki gunung sendirian, dan ketika di persimpangan, akan menanti rombongan pendaki laki-laki untuk menemaninya sampai ke atas. Bisa jadi, ini semacam sexual encounter masa kini di sana. Ini mungkin bisa menjadi penjelasan mengapa si perempuan yang tadinya ingin mendaki, malah turun lagi mengikuti si pemuda. Karena bukan puncak gunung, melainkan puncak birahi yang sedang ia cari.

Matahari Memeluk Bulan adalah sebuah film yang ingin merayakan kebebasan berbicara dan berkespresi tentang seksualitas di tengah-tengah masyarakat yang masih menganggap seks sebagai hal yang sepatutnya tidak dibicarakan secara bebas. Bahwa pendidikan seks sejak dini itu harusnya benar-benar nyata. Itu sebabnya seks menjadi tema percakapan yang menghubungkan dua karakter utama dalam film ini. Sayangnya, percakapan mereka tidak cukup menampakkan pentingnya membahas seks, tidak juga berhasil menunjukkannya sebagai bagian dari edukasi. Edukasi yang saya maksud, bukan secara moral, melainkan yang memperluas cara berpikir. Kedua tokoh hanya membicarakan hal remeh-temeh, seperti, “sudah pernah making love berapa kali?” Jika kita akhirnya diberikan kebebasan sosial berbicara tentang seks, masihkah keperawanan menjadi sesuatu yang ingin kita curigai?

Terakhir, A Tree Growing Inside My Head karya Rachmat Hidayat Mustamin. Sebuah film pendek yang layak mendapat apresiasi karena akhirnya di Makassar, orientasi seksual LGBTQ diangkat ke dalam sebuah film tanpa menjadikannya sebagai sesuatu yang nista atau jahat. Hanya soal waktu saja bahwa pada akhirnya tema ini diangkat ke dalam film. Toh, Makassar memang tidak pernah menjadi kota terlarang bagi waria, walau juga persepsi masyarakat terhadap mereka tidak banyak berubah.

Tree mengisahkan seorang pria beristri yang suatu hari mengunjungi kembali pacarnya yang masih ia dambakan. Di ending film, saya cukup terkesima ketika adegan seks disimbolkan dengan berbagai benda yang bisa ditemukan di rumah. Bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi, kumpulan donat dalam satu piring, dua buah gunting yang ujungnya diletakkan berhadapan, poster dua laki-laki asing berpose menyamping saling dihadapkan. Lalu, akhirnya ditutup dengan statement yang sangat provokatif, suara adzan.

Tree adalah film minimalis. Minim dialog, minim gestur, tapi mudah dipahami, di situ letak kekuatannya. Walau, di satu sisi, minimalis di sini juga berarti membuat plot terlalu sederhana, sehingga saya belum menemukan ruang untuk menaruh empati kepada dua tokoh utamanya. Hanya melihat ceritanya sebagai penegasan kembali kondisi yang dialami laki-laki berorientasi seks LGBTQ di Makassar.

Pada akhirnya, setelah menyaksikan Mas Bro, A Tree Growing Inside My Head, Tantarayya, dan Matahari Memeluk Bulan, ada banyak cerita menarik yang tersisa untuk didiskusikan, cerita-cerita yang sepertinya jauh lebih menarik dari keempat film itu sendiri. Terlepas dari perspektif saya, semoga film-film tersebut bisa disaksikan lagi dalam waktu dekat dan tayang di ruang-ruang diskusi yang lebih banyak. Jika menurut Rachmat (Hidayat Mustamin) Uang Panai’ (2016) bisa menjadi film yang mengumpulkan dan menghibur semua lapisan masyarakat di Makassar, maka saya percaya keempat film pendek ini juga bisa melakukan hal yang sama.