Oleh: Muh. Aswan Pratama ( @aswan_pratama )| ILustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Apapun alasannya, berpindah tempat tempat tinggal, melanjutkan kerja atau studi, baik itu ke kota lain atau pun masih di kota yang sama,  pasti banyak hal baru yang akan muncul, salah satunya lingkaran pertemanan baru.

Ada yang bilang walaupun kemungkinan bertemu tipe orang baru, lingkaran pertemanan di mana pun dibangun, isi di dalamnya sebetulnya cenderung sama dan berulang. Misalnya, di tiap lingkaran pertemanan itu pasti ada yang tipe lucu-lucu gimana gitu, ada tipe rupawan nan religius, ada tipe rupawan nan playboy, ada tipe mesum berkedok “saya orangnya gampang jatuh cinta tiap lihat perempuan”.

Ada tipe yang suka membaca buku, suasana ataupun  gerak-gerik, ada tipe  yang tidak terlalu banyak bicara, ada tipe sumber informasi bahkan teman sendiri kadang jadi bahan untuk diinformasikan, dan yang terakhir, nah yang terakhir tipe yang keluar dari pakem kodratnya dari lahir, ada perempuan berlakon laki-laki ataupun laki-laki yang melakoni peran sebagai perempuan.

Nah laki-laki yang bertingkah seperti perempuan ini lebih umum ditemui. Sebutannya pun banyak ada yang menyebut mereka banci, sist, bunda, cincah, atau pun nama dalam versi perempuan misalnya Azis jadi Azisah, atau Bayu jadi Badriah dsb.

Awalnya, saya bingung  dan (maaf) sedikit risih dengan teman-teman yang bertingkah seperti itu. suatu artikel penelitian menyebutkan populasi perempuan lebih banyak daripada laki-laki, bukannya takut perempuan mengambil alih dunia, tapi kalau laki-laki bertingkah seperti perempuan siapa yang menenangkan perempuan sebanyak itu, siapa yang akan mengambil sapu tangan mereka yang terjatuh??

Atau mungkin mereka sebenarnya belajar ilmu agama, melihat status perempuan yang sangat dimuliakan oleh Tuhan, mereka tertarik juga untuk dimuliakan, saking inginnya mereka mungkin lupa membaca bagian laki-laki, Tuhan perintahkan sebagai pemimpin.Tapi tak ingin selamanya risih, karena risih bibit dari benci, saya mencoba mempelajari pada beberapa laki-laki yang bertingkah seperti perempuan.

Saya seperti kehabisan kata-kata. Ada alasan yang sangat dalam maknanya dari keputusan mereka, ada berdasar pada keadaan psikologis yang terbentuk, empat bersaudara dan menjadi satu-satunya laki-laki, membuat mereka terjebak dengan “aktifitas perempuan” yang dilihat berulang, maka jadilah.

Ada yang karena pergaulan, biasanya kesamaan perasaan, visi dan misi, maka jadilah. Dan alasan yang paling luar biasa yang saya dapat adalah panggilan jiwa (wow!). Bagi saya, jiwa ruang paling luas dalam diri, biasanya panggilan jiwa ini berkaitan dengan pengambilan keputusan untuk menjadi apa dan bagaimana. Seperti memilih keyakinan,  menetapkan langkah pasti untuk masa depan (karir atau pendidikan), atau melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama (menjadi volunteer, dsb).

Yah, mereka merasa itu adalah panggilan jiwa, mereka perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki, mereka sholat di barisan perempuan, bahkan beberapa memutuskan menggunakan hijab dan tidak akan melepasnya (wow!!!) Terdengar salah memang, tapi setidaknya bisa menjadi cambukan yang berguna bagi beberapa perempuan di luar sana, ada laki-laki yang lebih terpanggil menggunakan jilbab, ada laki-laki yang lebih yakin untuk tetap menggunakan jilbab tanpa menanggalkannya untuk beberapa alasan sepele.

Semua alasan termasuk panggilan jiwa, bagaimana pun masih tetap tidak masuk akal bagi saya pribadi. Tapi, kalau sudah  menyangkut pilihan hidup mulai dari hal kecil seperti selera musik, film atau tim sepak bola, hingga yang besar seperti keyakinan, dan  termasuk yang mereka lalukan itu, kita tidak bisa mengintervensi, satu-satunya pilihan hanya menghormati.

Karena pada akhirnya tugas manusia hanyalah sebatas saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan menghakimi, mengkafirkan, mengharamkan, dan memaksakan kehendak atau keyakinan terhadap orang lain.

Yah dengan mempelajari, sedikit demi sedikit ulat risih berevolusi jadi kupu-kupu toleransi. 🙂


Baca tulisan lainnya dari Muh. Aswan Pratama

Lingkaran Setan Lalu Lintas Makassar