Ilustrasi: Aswan Pratama ( @aswan_pratama )

Undang-Undang Internasional di Masa Depan berlanjut ke bagian 2 pada minggu ini. Mari ikuti kelanjutan kisahnya.

Sebuah gerakan solidaritas yang menamakan dirinya, Tambah Kuah Ta’, Daeng telah mendengar berita pengumuman ini. Di pagi yang sama, mereka mengadakan pertemuan di sebuah rumah berkumpul di daerah Pettarani. Gelas-gelas kopi disiapkan, ketika para anggota menyaksikan tayangan ulang pengumuman pada berita pagi.

Mereka memulai konferensi mereka sendiri setelah seluruh anggota hadir di ruangan. Diskusi berlangsung lancar, kopi-kopi melakukan pekerjaannya dengan baik pada para anggota. Semua orang mengutarakan pendapat terbaik mereka, karena mereka sedang berburu waktu dengan pekerja dari Much Munch Conference yang bisa saja akan memulai pergerakan pembasmian makanan dan restoran berdaging mulai bulan depan, minggu depan atau besok.

Mereka tidak bisa lagi membuang waktu jika masih ingin menikmati konro atau coto di musim penghujan.

*

Much Munch Conference tidak membuang waktu, mereka segera mengeluarkan edaran, berisi tiga program untuk menjalankan dunia yang vegetarian.

Program pertama adalah, Colorful Chef. Melalui program ini, koki-koki yang sudah belajar di sekolah-sekolah masak dipekerjakan di restoran-restoran. Dengan kata lain, menu makanan di restoran ini harus beradaptasi dengan skill yang dimiliki koki. Sebagian besar restoran tidak keberatan dan menyambut program ini dengan senang hati.

undangundanginternasionalbagian2_revius2

Lalu program kedua, Good Food, Good Mood. Program ini bergerak di seminar-seminar dan edukasi bagi setiap orang tentang menu-menu Vegetarian, dan mengapa ia layak untuk menjadi satu-satunya menu yang ada di dunia. Much Munch Conference secara aktif mebuka kelas-kelas untuk tujuan ini, memanggil sebanyak mungkin orang, dan terus menerus menggunakan berbagai macam media untuk melakukan edukasi di sana-sini.

Terakhir adalah program Animal Inside. Pada dasarnya, ini adalah lanjutan dari tuntutan Vegetarian untuk mengandangkan semua binatang sehingga mereka bisa terus melakukan kegiatan binatang mereka tanpa mengganggu atau terganggu. Binatang ternak untuk digunakan tenanganya, binatang buas untuk dijaga kelestariannya, dan binatang jinak untuk dijadikan teman serumah.

*

Melawan dengan kekerasan, atau kegiatan yang tidak berhubungan sama sekali dengan sebuah aturan yang telah disahkan oleh sebuah konferensi internasional, dengan badan pengawasan yang hadir di setiap kota untuk memastikan aturan ini dijalankan dengan baik, bukanlah sebuah tindakan yang bijaksana. Gerakan Solidaritas Tambah Kuah Ta’, Daeng, telah menyadari hal ini. Maka, mereka harus membuat rencana yang bisa dilakukan secara politik.

Dan menjalankannya secara diam-diam, karena kehebohan hanya akan berakhir pada kehebohan lain.

Pertama-tama, mereka terus-menerus mengulur waktu bagi pekerja Much Munch Conference dalam tugas “Mendata Rumah Makan Menu Berdaging” yang ada di Makassar. Mereka berbincang dengan orang-orang penting di Pemerintahan, membawa argumen bahwa menghentikan para penjual coto, konro, dan teman-temannya, tidak bisa dilakukan begitu saja. Mereka meminta Pemerintah mengulur Much Munch Conference dengan alasan masih mencari sebuah lapangan kerja baru bagi para pedagang yang mungkin akan berhenti berjualan. Alasan ini bisa dimengerti, karena Pemerintah harus menjalankan program Much Munch Conference, tapi tidak punya solusi untuk hal lain yang terkena dampak dari program-program tersebut. Dan untuk sementara waktu Gerakan Solidaritas Tambah Kuah Ta’, Daeng bisa mengurusi hal lainnya.

Gerakan Solidaritas Tambah Kuah Ta’, Daeng, sedang mempersiapkan sebuah rumah baru bagi non-vegetarian. Setelah berkali-kali melakukan diskusi, mereka menyadari, bahwa menyelamatkan penjual coto demi kepentingan mereka sendiri bukan bentuk solidaritas yang dibutuhkan dunia.

Mereka sadar, yang dibutuhkan dunia saat ini adalah sebuah pilihan lain.

undangundanginternasionalbagian2_revius1

Maka, mereka membuat sebuah forum rahasia, di Internet—semacam sebuah forum untuk para Hackers. Informasi mengenai forum ini hanya tersebar di antara para non-vegetarian. Di sini, mereka mengajak para non, untuk bergabung menjadi tetangga di kota ini. Forum ini juga tersebar di seluruh dunia, dimana Gerakan Solidaritas Tambah Kuah Ta’, Daeng, menemukan gerakan serupa yang tinggal di Negara lain. Keoptimisan lahir pada setiap percakapan, karena anggota forum hanya berbicara untuk mengutarakan dukungan, solusi, dan berbagi sistem kerja.

Forum menjadi ramai, perbincangan mengenai keinginan untuk berpindah ke Makassar karena pergerakan tiga program Much Munch Conference yang sangat lambat di Makassar, meramaikan ruang-ruang percakapan di Forum yang diakses di www(dot)munchwhatever(dot)com. Angka yang menunjukkan minat tinggal di Makassar sangat tinggi, dan Gerakan Solidaritas Tambah Kuah Ta’, Daeng, akhirnya memutuskan, inilah saat yang tepat untuk mengajak Pemerintah bergabung.

*

Satu kota selalu ingin lebih maju dan sejahtera dari kota lainnya, karena hanya dengan cara itu hasil kerja Pemerintah diukur. Dan kepindahan penduduk, berarti bahwa satu Kota cukup menarik untuk dihuni, kota tujuan pindah berarti punya sesuatu yang lebih untuk ditawarkan dari kota asal. Iming-iming yang menarik bagi Pemerintah yang bermimpi menjadikan kotanya Kota Dunia. Akan begitu banyak hal yang bisa dilakukan, diciptakan, dan dibenahi. Penduduk baru, suasana baru, suara, baru, kebutuhan baru, Pemerintah tidak punya alasan menolak, sepertinya.

Setelah berhasil menggandeng Pemerintah, Gerakan Solidaritas Tambah Kuah Ta’, Daeng, lalu melakukan berbagai pertemuan politik untuk membicarakan pengambil alihan Malino untuk perluasan wilayah Makassar. Pada pertemuan ke 73, Bupati Gowa akhirnya setuju. Di saat yang sama, Pemerintah mengumumkan dukungannya kepada kaum non-vegetarian, dengan membuka pintu sebesar-besarnya bagi mereka yang ingin berpindah kewarga-negaraan untuk tinggal di Makassar.

undangundanginternasionalbagian2_revius3

Tindakan ini menuai kritik, dan mendapat tentangan. Tapi, langkah para non-vegetarian yang bergerak menuju Makassar sedikit lebih lantang dari penolakan ini. Terlebih, setelah banyaknya orang-orang yang masuk penjara karena ketahuan memakan daging secara diam-diam. Ini sebuah argumen lain yang akhirnya membantu pembuatan keputusan lanjutan: setiap benua, memiliki satu wilayah dimana kaum non-vegetarian dapat tinggal untuk hidup bersama daging-daging empuk dalam mangkuk.

*

Jadi, begitulah akhirnya. Seluruh dunia bersatu, membantu mewujudkan aturan ini. Sistem kewarganegaraan mengalami sedikit perubahan untuk menyesuaikan perubahan ini. Dalam 3 tahun terakhir pemberontakan diam-diam ini, dihabiskan untuk mengatur urusan kewarganegaraan.

Dunia kemudian bergerak seperti biasa. Kaum Vegetarian dan non-vegetarian yang tidak bertemu, menjadikan mereka tidak harus berdebat mengenai cara hidup mereka masing-masing. Setiap harinya yang bergerak dengan aturan-aturan yang telah disepakati. Semua berlaku dan bergerak dengan cara masing-masing.

Dan itu, tidak terlalu buruk.

*

Ini adalah bagian kedua, yang terakhir saya tuliskan tentang ini. Mungkin, tulisan ini harus ditulis lebih dari tiga bagian, ya?


Baca tulisan lainnya dari Novidia

Undang-Undang Internasional di Masa Depan (Bagian 1)

Undang-Undang Internasional di Masa Depan (Bagian 3)

Be Like Aco

Penulis itu Seperti Hiu

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Ajakan Pindah Planet bagi Siapa Saja

Sembilan Kekuatan Super yang Kamu Kira Bukan

Lakukan Sendiri atau Berbagi Bersama Teman Sepermainan

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman