Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Tenripada akan terdaftar di salah satu kelurahan di kecamatan Tamalanrea, yang di daftar tersebut juga terdapat nama Amir Khan, dan Peter Parker. Ahmad Rizal, seorang anak Juragan Beras dari Sidrap, akan sekelas dengan seorang perempuan kelahiran Denmark yang bernama Sophie, juga seorang anak dari koki sushi dari Jepang, Ushikawa. Pada kegiatan kerja bakti RT, kita akan melihat orang-orang dengan berbagai warna kulit dan bentuk mata bergotong royong membersihkan got dan mempercantik lorong-lorong hijau, lorong sehat Makassar. Orang-orang boleh datang dari seluruh penjuru dunia, tapi semangat gotong royong harus tetap subur di rumah sendiri.

Bahasa Makassar dan Bugis semakin sedikit penggunaannya, dan mereka yang masih bisa berbahasa ini akan ditemukan di berbagai kelas-kelas belajar Bahasa Bugis dan Makassar yang eksklusif—sebuah program Pemerintah yang rutin dilaksanakan demi tujuan melestarikan identitas Nenek Moyang. Program ini dimulai setelah 5 tahun program pembelajaran Bahasa Inggris intensif bagi seluruh penduduk Kota Makassar dijalankan. Penduduk Makassar berbahasa inggris dengan fasih, seperti semua pendatang yang juga fasih berbahasa Indonesia.

Rumah ibadah bagi semua pemeluk agama akan sama banyaknya, karena Islam tidak lagi menjadi agama mayoritas kota ini. Diskriminasi atas nama agama adalah cerita lama yang mengisi Bab-bab mata pelajaran Sejarah. Itu adalah luka lama yang rasa traumanya adalah milik semua orang—tidak ada lagi yang ingin kembali ke masa itu. Setelah perang-perang bodoh itu berakhir, dunia berjuang melawan bentuk diskriminasi baru, dan ini membagi penduduk dunia ke dalam dua bagian. Makassar, adalah rumah bagi kelompok minoritas dari peristiwa ini.

Lewat tangan kaum minoritas yang bersikeras membela apa yang mereka cintai, Makassar mewujudkan mimpinya menjadi Kota Dunia.

Bangunan-bangunan yang berdiri di Makassar selamanya berubah, tanpa ciri khas yang jelas. Karena semua bangunan yang didirikan akan mencerminkan siapa yang membangunnya, perusahaan mana yang memegang proyeknya. Tidak ada lagi ruko-ruko bewajah sama yang jelek berderet. Rumah-rumah bertingkat yang gaya bangunannya tidak jelas berubah menjadi apartemen atau rumah dengan gaya moderen tanpa ciri khas—rumah harus memiliki kenetralan terhadap identitas, karena ia bisa dimiliki siapa saja.

Lain halnya dengan rumah makan. Di jalan Sungai Saddang berdiri sebuah kedai yang mirip seperti kedai yang biasa kita lihat di kartun Naruto setiap adegan Naruto makan ramen dengan rakus, pemiliknya adalah seorang Jepang yang membuka kedai sushi. Sedangkan di Veteran Selatan sebuah toko bahan bangunan dirubuhkan untuk pembagunan sebuah rumah makan yang dicat dengan warna-warna pastel dan didekorasi pakai bunga-bunga plastik berwarna cerah, itu adalah restoran khusus Bulgogi yang pemiliknya bernama Park Young Do.

Jalan Dr. Ratulangi, dan Ahmad Yani berubah wajah. Ia menjadi pusat rumah makan, menjadikannya sebuah pusat wisata kuliner dengan sensasi keliling dunia. Karena begitu kita keluar dari restoran Pizza milik Lamberto, kita bisa langsung bisa kembali masuk ke restoran sebelah yang pemiliknya adalah José Luis, seorang lelaki ramah yang menyajikan Burrito lengkap dengan panggung kecil di tengah restoran yang menampilan performer yang menari diiringi musik khas Meksiko.

Di sekolah, anak-anak saling bertukar bekal dari dapur Ibunya masing-masing. Tidak ada menu bekal yang lebih dari yang lain, semua menu memiliki status yang setara di dalam kotak bekal dan piring sajian. Guru-guru berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan ini secara tidak langsung membentuk karakter murid untuk menghargai perbedaan-perbedaan yang terlihat secara fisik. Komunitas-komunitas Pecinta makanan akan bermunculan bagai kelompok fans boyband Korea. Lalu Event Organizer akan menggelar berbagai perayaan pertukaran budaya dan makanan dengan semarak.

Bentuk globalisasi yang tidak akan menyakiti: berbagi makanan dengan seluruh dunia.

Persoalan selanjutnya adalah memilih untuk melebarkan jalanan dan mengosongkan lahan bagi tempat parkir atau transportasi publik dan jembatan penyebrangan akan ditangani dengan baik dan serius. Menjadi warga di sebuah kota Dunia tentu saja meningkatkan kemampuan kita menjadi lebih efisien, pilihannya adalah yang kedua. Ditambah dengan jalur sepeda, tentu saja. Karena lebih baik untuk semua orang dapat memiliki rumah ketimbang sebagian orang punya tempat parkir.

Makassar akan menjadi ramai oleh berbagai macam pekerjaan, kepercayaan, hobi, komunitas, kegiatan, perayaan, dan permasalahan yang semuanya diterima sama baiknya. Tidak ada orang yang merasa lebih dari yang lain. Setelah peristiwa mengguncang dunia yang menjadi titik balik perubahan yang dialami secara internasional, dan menjadikan Makassar sebagai sebuah rumah bagi mereka yang menolak berpartisipasi dalam perubahan itu, mereka yang memilih Makassar telah belajar, bahwa tidak ada gunanya mengotak-kotakkan diri sendiri ketika kita adalah bagian dari mereka yang minoritas.

Sebuah rasa memiliki yang damai, dan ramai.

Makassar, akan tetap menjalani hari-hari yang penuh dengan kesibukan. Berbagai bidang bergerak di jalan mereka masing-masing, politik, sosial-budaya, dan ekonomi diurus dan diatur oleh mereka yang berwewenang dan terlibat. Aturan baru mulai disesuaikan dengan kebutuhan, setelah dipertimbangkan sampai sebelum gosong—karena terlalu matang. Aturan lama dijadikan bahan untuk mereka mengenang lewat karya seni. Kaum akademis mencurahkan perhatian dan fokusnya untuk memberi sudut pandang beragam bagi ruang-ruang diskusi kota ini. Dan mereka yang hanya ingin bersenang-senang, selalu punya tempat yang aman untuk merayakan.

Tindakan kriminal tidak sepenuhnya pergi. Walaupun tidak sepenuhnya bisa bernafas lega, karena ketika geng bocah ingusan itu tidak lagi mendapat ruang untuk kendaraan ribut mereka, mereka akan memenuhi kursi-kursi transportasi publik yang berputar di wilayah Makassar. Menciptakan teror baru yang sama tidak nyamannya.

Di masa depan, mimpi Makassar untuk menjadi Kota Dunia akan terwujud. Dan ternyata, kota dunia tidak jauh berbeda dari kota-kota lainnya, tidak jauh berbeda dari Makassar yang saat ini sedang berusaha mendunia. Ia berjalan seperti banyak kota lainnya yang menuntut kewajiban warga, dan si saat yang bersamaan memenuhi hak warganya. Ia terus menerus merefleksi nilai-nilai yang lahir, mencari mana yang paling tepat. Ia terus menerus bekerja untuk menerima segala perbedaan dari segala ruang hingga ciri khas menjadi suatu kebanggaan yang tinggal di museum—tidak lagi menjadi bagian sehari-hari tapi dijaga setengah mati bagai harga diri. Kota yang mengejar kestabilan lewat berbagai bidang, mengejar pencapaian layaknya obsesi yang tidak pernah tidur.

Makassar menjadi kota dunia berarti menyiapkan pikiran yang terbuka pada perubahan dan sudut pandang yang berbeda. Karena pikiran, kurang lebih sama seperti payung di hari yang hujan ketika kita hendak keluar rumah: ia tidak berguna ketika tertutup. Dan tidak ada, bagi apa saja yang mendunia mengenal batasan kolot yang menahan perubahan berkembang.

Pengorbanan yang tidak terlalu buruk untuk dilakukan.

Di masa depan, mimpi Makassar untuk menjadi Kota Dunia akan terwujud. Minggu depan, saya akan jelaskan diskriminasi macam apa yang menjadi batu loncatan. Sementara menunggu, kamu mungkin bisa belajar caranya mengembang seperti adonan.


Baca tulisan lainnya dari Novidia

Be Like Aco

Penulis itu Seperti Hiu

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Ajakan Pindah Planet bagi Siapa Saja

Sembilan Kekuatan Super yang Kamu Kira Bukan

Lakukan Sendiri atau Berbagi Bersama Teman Sepermainan

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman