Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Pernahkah kamu bermimpi tentang sesuatu yang mengerikan? Jika jawabannya adalah iya, maka semengerikan apa? Apa tentang orang tua yang meninggal, kekasih yang mencintai orang lain, atau sahabat yang pergi tanpa sempat berpamitan? Baiklah. Itu barangkali mengerikan. Tapi bagaimana bila saya memberikan kamu pertanyaan seperti ini; apa yang akan kamu rasakan ketika terbangun dari tidur dan mendapati bumi sudah mati? Saya meminta kamu untuk membantu berpikir. Sebab saya sendiri rupanya sudah tidak bisa berimajinasi sejauh itu.

Bumi yang mati atau tepatnya beranjak mati mungkin terdengar mengada-ada. Bumi tak bernyawa. Tapi bumi serupa rumah yang di dalamnya menumbuhkembangkan banyak manusia. Ibu baik yang mandiri mengurus anak-anaknya, tanpa berharap balas jasa untuk itu semua.

Beberapa minggu yang lalu, sebuah video muncul di beranda Facebook saya. Seorang lelaki bernama Prince Ea membuat sebuah permintaan maaf untuk generasi yang akan datang . Video berdurasi 6 menit itu kemudian dituturkan dengan gaya yang sangat retoris. Cukup menarik perhatian saya hingga menyaksikannya sampai selesai.

Dalam videonya tersebut, Prince Ea memulai pembicaraannya dengan mengatakan ia mewakili generasi saat ini meminta maaf pada generasi yang akan datang. Bahwa kami (generasi saat ini) telah mewariskan planet yang rusak akibat kekacauan yang kami buat. Bahwa kami terjebak tanpa bisa melakukan sesuatu. Bahwa kami tidak pernah menyadari betapa berharganya bumi. Sama seperti pernikahan yang gagal, kami tidak tahu apa yang kami miliki sampai hal tersebut betul-betul menghilang.

Dia lalu menjelaskan bahwa dahulu, di zaman kami ada Amazon Desert yang percaya atau tidak, pernah bernama Amazon Rain Forest. Di sana adalah penghasil udara bersih serta memiliki pepohonan yang menakjubkan. Namun dengan sangat menyesal, kami memberi tahu kalian (generasi di masa depan) bahwa kami telah merusaknya. Merusak dengan cara menebang dan membakarnya secara brutal. Hingga setiap menitnya, bumi kehilangan hutan yang setia memeluknya dengan jumlah yang tidak sedikit. Jika diperkirakan, jumlahnya setara dengan 40 kali lapangan sepak bola. Mengapa kami melakukan itu? Alasannya sederhana. Untuk uang.

Menit berikutnya, dia mengungkapkan kesedihan yang mendalam. Sedih karena kami kemudian menjadi orang yang tidak lagi peduli tentang hari esok. Bahwa kami menempatkan keserakahan dan kebutuhan di atas segalanya. Bahwa kami menjadikan alam sebagai kartu kredit tanpa batas pengeluaran. Bahwa kami tidak membiarkan kalian menikmati keunikan satwa yang telah punah. Bahwa kami meracuni laut sehingga kalian bahkan tidak bisa lagi berenang di dalamnya. Kami berpikiran seperti itu karena kami memiliki keberanian yang salah. Pola pikir kacau yang membuat kami menyebut kehancuran ini sebagai sebuah kemajuan.

Namun pada penutup dari video tersebut, dia lantang berkata jika semua ini masih bisa diperbaiki. Itu tidak akan menjadi sebuah kesalahan, sampai kami menolak untuk memperbaikinya. Kami akar, kami yayasan, dan kami adalah generasi hari ini. Bumi adalah satu-satunya rumah yang kami miliki. Tidak ada lagi planet yang lebih hangat dari itu. Maka jika kami tidak peduli, kami akan sama-sama punah.

Pembicaraan Prince Ea tadi mengingatkan saya tentang asap di Riau sana. Bumi barangkali sudah lelah dengan tingkah laku kita sebagai manusia. Mementingkan uang dan perusahaan di atas segalanya. Menimbang lebih berat mana, udara yang bersih atau segumpal emas di tangan. Riau saat ini sedang berduka dengan asap yang merusak paru-paru masyarakatnya. Sudah banyak pula korban berjatuhan saat pemerintah entah sedang apa di kediamannya.

Tulisan ini dibuat dengan cinta kasih kepada kamu yang masih peduli pada bumi. Hal sederhana mungkin bisa dilakukan mulai hari ini. Seperti berhenti mengggunakan tisu yang terbuat dari kayu karena kayu berasal dari pohon. Dan menggantinya dengan sapu tangan. Atau mungkin cukup dengan tangan sendiri. Sebab, tentu lebih baik mengotori tubuh sendiri daripada yang lain. Semoga berhasil! []


Baca tulisan lainnya dari Nurul Fadhillah

Menangis dan Belajar Berbahagia

Panggung Menjadi Ruang-Ruang Kebebasan

Tentang Keheningan di Sela Acara Tawa

Ketakutan Saya tentang Makassar di Masa Depan

Sebut Saja ini Keberuntungan Pemula

Belajar Mengingat Hari Bersama Yetti