Foto: Andi Bayu Indra ( @bayuindraa ) & Kedai Buku Jenny ( @KedaiBukuJenny)

Menikmati akhir pekan dengan suasana yang berbeda menjadi dambaan beberapa orang. Termasuk saya yang tiap hari harus bergelut dengan jarum jam untuk sebuah rutinitas. Biasanya, ada saja siasat yang saya lakukan untuk bisa menikmati waktu luang di akhir pekan yang tetap saja berkaitan dengan pekerjaan dari kantor. Beberapa di antaranya dengan beristirahat alias mager di rumah, menonton film, sekedar berjalan-jalan keliling kota atau pergi ke pusat perbelanjaan.

Namun, lama-kelamaan rutinitas di akhir pekan yang itu-itu saja menjenuhkan bagi saya. Saya ingin hengkang sejenak dari rutinitas yang padat ini sebelum datang kejenuhan yang lebih serius. Keinginan untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah didatangi sempat tercetus di pikiran saya. Tapi apa daya, rutinitas pekerjaan di depan monitor 14 inci ini menjadi dilema untuk pergi berwisata ke suatu daerah.

Saat dilema dan kejenuhan mulai melanda, bertepatan pula saya mendengar kabar dari seorang awak Kedai Buku Jenny, sebuah kedai buku dan perpustakaan mini di Makassar, pada awal bulan Maret ini. Para penggiat KBJ–singkatan akrab Kedai Buku Jenny–berencana ingin melakukan sebuah kegiatan yang berhubungan dengan buku dan musik di sebuah desa pada pertengahan bulan. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, walau sedikit masih ragu, sepertinya saya wajib hadir di acara tersebut untuk mengurangi kejenuhan rutinitas monoton di akhir pekan.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kedai Buku Jenny bekerjasama dengan Balang Institut dan didukung oleh Komunitas Komplen dan Pemerintah Kabupaten Bantaeng di Kelurahan Desa Cempaga ini diberi tajuk Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi. Kegiatan ini akan dihelat di Hutan Campaga, Kabupaten Bantaeng pada Minggu, 15 Maret 2015. Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi ini juga merupakan sebuah helatan untuk mengajak seluruh masyarakat terkhusus warga desa Cempaga lebih terlibat dan membangun kesadaran dalam usaha pelestarian hutan di desanya melalui metode persuasi, salah satunya melalui penampilan seni, seperti musik, pementasan drama, membuat kerajinan tangan, pameran fotografi dan sebagainya. Aha! liburan di akhir pekan sambil menyampaikan pesan pelestarian hutan, it sounds good.

Di kegiatan ini akan ditampilkan beberapa band, musik gambus dari kelompok Appa’ Se’re Simoko Bantaeng, serta puisi dari beberapa komunitas baik yang berdomisili di Makassar maupun Bantaeng. Selain itu, dipamerkan foto dan data dari Balang Institut  berupa peta ekowisata dan hasil hutan dari Hutan Desa Campaga.  Di sekitar tempat pelaksanaan kegiatan akan disediakan perpustakaan mini dari Kedai Buku Jenny dan anda boleh membawa kaos polos untuk mendapatkan layanan sablon gratis.

Sehari sebelum gelaran tersebut dilaksanakan, saya pun beritikad bulat untuk bisa hadir di gelaran ini. Saya pun mengontak salah satu awak KBJ untuk tahu bagaimana caranya bisa ke sana.  Saya pun disarankan untuk ikut bersama rombongan penampil dari Titik Bias dan Next Delay sehari sebelum acara. Walhasil, saya pun menuju Kedai Buku Jenny untuk ikut berangkat bersama rombongan dengan mobil dari Kedai Buku Jenny menuju Desa Campaga, Kab. Bantaeng menjelang sore hari.

Perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam ini sedikit melelahkan bagi saya, mungkin karena saya baru-baru kembali melakukan perjalanan lintas kota. Walaupun begitu, canda tawa dari rombongan personil Titik Bias dan Next Delay serta playlist lagu-lagu keren di mobil yang meredam rasa bosan dan kantuk. Sejenak kami pun melepas penat di Kec. Binamu, Kota Je’neponto sebelum tiba di Bantaeng

Sesampai di kota Bantaeng sekitar pukul enam petang, kami pun langsung melanjutkan perjalanan untuk menuju Desa Campaga, tempat dihelatnya Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi. Selepas bertanya sana-sini dengan warga desa di sana dan sempat nyasar di kecamatan sebelah, akhirnya rombongan penampil tiba di kantor lurah Desa Cempaga sekitar pukul tujuh malam disambut oleh seorang awak Kedai Buku Jenny dan teman-teman dari Balang Institut.

Sejam setelah tiba di kantor Lurah untuk melepas lelah, rombongan musik gambus yang bernama kelompok Appa’ Se’re Simoko Bantaeng pun datang ke kantor Lurah. Ternyata saat itu pula mereka menggelar latihan rutin sekaligus memantapkan penampilannya besok di gelaran Pekan Depan.Rombongan Titik Bias dan Next Delay pun kebetulan disuguhkan secara istimewa musik gambus dari kelompok tersebut yang merupakan bentukan dari warga desa Cempaga.

Setelah beberapa menit menyaksikan penampilan ekletik tersebut, rombongan penampil pun diminta oleh awak Kedai Buku Jenny segera ke kota Bantaeng untuk makan malam serta mengunjungi kantor Balang Institut di sana. Sekembali dari kota Bantaeng, rombongan pun menumpang istirahat di dua rumah warga desa di dekat kantor Lurah untuk memulihkan tenaga agar bersiap-siap tampil esok harinya.

Pada hari H, tim Kedai Buku Jenny dan Balang Institut pun mempersiapkan panggung seni serta membangun tenda untuk menyambut kedatangan para hadirin termasuk Bupati Bantaeng yang direncanakan hadir. Alasan utama mempersiapkan panggung pada hari H tampaknya dikarenakan berada di luar ruangan yang notabene merupakan hutan des, jadi harus dikondisikan bila dipersiapkan sehari sebelumnya. Mempersiapkan panggung dalam waktu mepet memang membuat kelimpungan, tapi akhirnya tim Kedai Buku Jenny dan Balang Institut bisa menyelesaikannya beberapa menit sebelum acara dimulai.

Bobhy, salah satu awak Kedai Buku Jenny yang sedang mempersiapkan dekorasi panggung seni untuk helatan Pekan Depan edisi pertama.

Bobhy, salah satu awak Kedai Buku Jenny yang sedang mempersiapkan dekorasi panggung seni untuk helatan Pekan Depan edisi pertama.

Acara pun dimulai menjelang pukul sebelas pagi. Dibuka oleh Bupati Bantaeng, Bapak Nurdin Abdullah, yang bercerita singkat tentang bagaimana Hutan Desa Campaga ini harus dilestarikan karena merupakan hutan paling krusial di Bantaeng. Selain itu, dia pun memiliki nilai historis tersendiri dengan Hutan Desa Cempaga ini, karena beliau yang pertama mengajukan Hutan Desa Cempaga ini sebagai hutan desa percontohan.

Acara  Pekan Depan termasuk istimewa dengan kehadiran langsung Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah yang memang punya pengalaman historis tersendiri dengan Hutan Desa Campaga.

Acara Pekan Depan termasuk istimewa dengan kehadiran langsung Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah yang memang punya pengalaman historis tersendiri dengan Hutan Desa Campaga.

Berikutnya serta sepatah dua kata dari pihak Kedai Buku Jenny dan Balang Institut, Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi pun digelar. Penampilan musik serta puisi dari beberapa komunitas baik yang berdomisili di Makassar maupun Bantaeng pun disuguhkan. Selain itu, dipamerkan foto dan data dari Balang Institut  berupa peta ekowisata dan hasil hutan dari Hutan Desa Campaga. Di sekitar tempat pelaksanaan kegiatan akan disediakan perpustakaan mini dari Kedai Buku Jenny dan diperbolehkan membawa kaos polos untuk mendapatkan layanan sablon gratis. Dan acara ini pun dipandu oleh MC multitalent, Viny Mamonto.

Adam Kurniawan dari Balang Institut memberi kata sambutan untuk acara Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi ini.

Ahmad Kurniawan dari Balang Institut memberi kata sambutan untuk acara Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi ini.

Acara Pekan Depan ini dipandu oleh MC multitalent, Viny Mamonto yang lihai bercuap-cuap.

Acara Pekan Depan edisi pertama ini dipandu oleh MC multitalent, Viny Mamonto yang lihai bercuap-cuap.

Dipamerkan pula foto dan data dari Balang Institut  berupa peta ekowisata dan hasil hutan dari Hutan Desa Campaga.

Dipamerkan pula foto dan data dari Balang Institut berupa peta ekowisata dan hasil hutan dari Hutan Desa Campaga.

Penampilan Kelompok Musik Gambus 41 (Appa’ Sere’) Simoko Bantaeng pun mengawali penampilan panggung seni Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi dengan memukau banyak orang-orang yang hadir termasuk saya untuk merapat ke dekat panggung yang diatur sederhana dengan beralaskan karpet biru yang langsung menyentuh tanah. Tidak henti-hentinya kelompok musik gambus ini dengan beberapa orang yang memegang semacam sendok untuk dijadikan alat perkusi menggoyangkan badannya untuk mengikuti irama petikan gambus, seolah-olah menjadi penyemangat dalam rutinitas matapencaharian mereka.

Penampilan Kelompok Musik Gambus 41 (Appa' Sere') Simoko Bantaeng pun mengawali penampilan panggung seni Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi dengan memukau banyak orang-orang yang hadir termasuk saya untuk merapat ke dekat panggung yang diatur sederhana dengan beralaskan karpet biru yang langsung menyentuh tanah.

Penampilan Kelompok Musik Gambus 41 (Appa’ Sere’) Simoko Bantaeng pun mengawali penampilan panggung seni Pekan Depan #1: Hutan Bernyanyi dengan memukau banyak orang-orang yang hadir termasuk saya untuk merapat ke dekat panggung yang diatur sederhana dengan beralaskan karpet biru yang langsung menyentuh tanah.

Selepas penampilan memukau tersebut, panggung musik pun diisi oleh penampilan musik folk akustik dari Titik Bias. Tanpa kehadiran Nisa, sang vokalis utama yang berhalangan hadir, Titik Bias tetap bisa tampil memikat hari itu. Amin dan Rijal yang merupakan dua dari tiga personil Titik Bias, membawakan dua lagu karya mereka sendiri, salah satunya “Sajak Harapan” dan membawakan ulang lagu milik Kings of Convenience,”Mrs. Cold”.

Tanpa kehadiran Nisa, sang vokalis utama yang berhalangan hadir, Titik Bias tetap bisa tampil memikat hari itu. Amin dan Rijal yang merupakan dua dari tiga personil Titik Bias, membawakan dua lagu karya mereka sendiri, salah satunya "Sajak Harapan" dan membawakan ulang lagu milik Kings of Convenience,"Mrs. Cold".

Tanpa kehadiran Nisa, sang vokalis utama yang berhalangan hadir, Titik Bias tetap bisa tampil memikat hari itu. Amin dan Rijal yang merupakan dua dari tiga personil Titik Bias, membawakan dua lagu karya mereka sendiri, salah satunya “Sajak Harapan” dan membawakan ulang lagu milik Kings of Convenience,”Mrs. Cold”.

Selanjutnya penampilan musisi-musisi dari Komunitas Komplen pun mampu memberikan suasana yang berbeda setelah penampilan Titik Bias. Mereka pun tampil cukup komplit, selain gitar akustik yang selalu ada, beberapa personilnya yang tampil memainkan biola, suling dan jimbe. Walau saya tidak sempat mencatat lagu apa saja yang mereka bawakan, mereka sepertinya mampu membawa pesan anti-korupsi dan pelestarian hutan di dalam liriknya.

Penampilan musisi-musisi dari Komunitas Komplen pun mampu memberikan suasana yang berbeda. Mereka pun tampil cukup komplit, selain gitar akustik yang selalu ada, beberapa personilnya yang tampil memainkan biola, suling dan jimbe.

Penampilan musisi-musisi dari Komunitas Komplen pun mampu memberikan suasana yang berbeda. Mereka pun tampil cukup komplit, selain gitar akustik yang selalu ada, beberapa personilnya yang tampil memainkan biola, suling dan jimbe.

Yang cukup seru di panggung Pekan Depan ini adalah penampilan teman-teman SMP Negeri 2 Tompobulu yang menampilkan pembacaan puisi dan pementasan drama. Pembaca puisi yang membacakan puisinya bertajuk “Bantaeng Butta Toa” sangat memukau para hadirin yang menyaksikannya. Terlebih lagi, pementasan drama sederhana yang mengangkat tema pelarangan untuk menebang pohon di hutan desa, mengundang riuh rendah tepuk tangan para penonton. Kemudian dilanjutkan pembacaan puisi oleh salah satu penggiat komunitas Komplen yang membawakan puisi berjudul “Sampah”.

Yang cukup seru di panggung Pekan Depan ini adalah penampilan teman-teman SMP Negeri 2 Tompobulu yang menampilkan pembacaan puisi dan pementasan drama. Pembaca puisi yang membacakan puisinya bertajuk "Bantaeng Butta Toa" sangat memukau para hadirin yang menyaksikannya.

Yang cukup seru di panggung Pekan Depan ini adalah penampilan teman-teman SMP Negeri 2 Tompobulu yang menampilkan pembacaan puisi dan pementasan drama. Pembaca puisi yang membacakan puisinya bertajuk “Bantaeng Butta Toa” sangat memukau para hadirin yang menyaksikannya.

Pementasan drama sederhana dari siswa-siswa SMP Negeri 2 Tompobulu yang mengangkat tema pelarangan untuk menebang pohon di hutan desa, mengundang riuh rendah tepuk tangan para penonton.

Pementasan drama sederhana dari siswa-siswa SMP Negeri 2 Tompobulu yang mengangkat tema pelarangan untuk menebang pohon di hutan desa, mengundang riuh rendah tepuk tangan para penonton.

Pembacaan puisi oleh salah satu penggiat komunitas Komplen yang membawakan puisi berjudul "Sampah".

Pembacaan puisi oleh salah satu penggiat komunitas Komplen yang membawakan puisi berjudul “Sampah”.

Ternyata cuaca yang sejak pagi cerah harus berkalut mendung menjelang siang hari, hingga turun hujan yang cukup deras. Segala aktivitas dalam acara yang digelar di luar ruangan ini mau tidak mau harus segera dipindahkan ke dalam tenda biru. Sambil menyimak rintik hujan yang cukup deras, saya sempat menyantap beberapa kue yang dihidangkan untuk mengisi kekosongan perut.

Yah, harus berteduh dulu dari hujan yang cukup deras.

Yah, harus berteduh dulu dari hujan yang cukup deras.

Setelah hujan cukup reda, panggung seni yang sedianya menjadi tempat berkreasi para penampil pun harus dipindahkan ke dalam tenda tersebut. Yang tampil selanjutnya, ternyata teman-teman yang tergabung dalam komunitas seni dari SMP Negeri 2 Tompobulu. Kali ini mereka unjuk suara dengan menyanyikan beberapa lagu serta pembacaaan puisi yang beriringan.

 Yang tampil selanjutnya, ternyata teman-teman yang tergabung dalam komunitas seni dari SMP Negeri 2 Tompobulu. Kali ini mereka unjuk suara dengan menyanyikan beberapa lagu serta pembacaaan puisi yang beriringan.

Yang tampil selanjutnya, ternyata teman-teman yang tergabung dalam komunitas seni dari SMP Negeri 2 Tompobulu. Kali ini mereka unjuk suara dengan menyanyikan beberapa lagu serta pembacaaan puisi yang beriringan.

Ruang Baca, duo folk akustik yang rupawan dari Makassar pun akhirnya menjadi penampil selanjutnya. Ruang Baca yang terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, mengundang rasa penasaran saya untuk melihat penampilan mereka untuk pertama kalinya. Selain lihai memainkan alat musik, keduanya merupakan penggiat aktif di Katakerja, sebuah perpustakaan yang asyik di bilangan Wesabbe. Lewat musik, Ruang Baca berusaha mengampanyekan gemar membaca lewat lirik yang ditulis di lagunya. Beberapa lagu yang mereka bawakan antara lain “Di Balik Jendela”,”Disleksia”, “Diam-diam” yang merupakan musikalisasi puisi Ibe S Palogai, serta “Terbangnya Burung”  yang juga merupakan Musikalisasi puisi dari penyair termasyhur, Sapardi Djoko Damono.

 

Ruang Baca, duo folk akustik yang rupawan dari Makassar pun akhirnya menjadi penampil selanjutnya. Ruang Baca yang terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, mengundang rasa penasaran saya untuk melihat penampilan mereka untuk pertama kalinya.

Ruang Baca, duo folk akustik yang rupawan dari Makassar pun akhirnya menjadi penampil selanjutnya. Ruang Baca yang terdiri dari Saleh Hariwibowo dan Viny Mamonto, mengundang rasa penasaran saya untuk melihat penampilan mereka untuk pertama kalinya.

Ruang Baca, duo folk akustik rupawan ter-gres yang juga merupakan penggiat aktif di Katakerja.

Ruang Baca, duo folk akustik rupawan ter-gres yang juga merupakan penggiat aktif di Katakerja.

Sebagai penutup dari panggung seni Pekan Depan, Next Delay pun didapuk untuk tampil. Band shoegaze asal Tamalanrea ini pun tampil secara akustik dan tanpa kehadiran Riri, sang gitaris yang biasanya mengambil porsi lead. Saya yang pada malam sebelumnya ditodong bermain bersama mereka, akhirnya ikut tampil membawakan empat lagu di antaranya “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” dari Melancholic Bitch, “Menantang Ke Awan” karya Next Delay sendiri dan lagu wajib dengar anak indie Indonesia, “Kosong” dari Pure Saturday.

Sebagai penutup dari panggung seni Pekan Depan, Next Delay pun didapuk untuk tampil. Band shoegaze asal Tamalanrea ini pun tampil secara akustik dan tanpa kehadiran Riri, sang gitaris yang biasanya mengambil porsi lead.

Sebagai penutup dari panggung seni Pekan Depan, Next Delay pun didapuk untuk tampil. Band shoegaze asal Tamalanrea ini pun tampil secara akustik dan tanpa kehadiran Riri, sang gitaris yang biasanya mengambil porsi lead.

Penampilan masing-masing grup musik dari komunitas maupun warga desa bisa memberikan pesan secara tersirat bahwa pelestarian hutan desa di Cempaga ini harus terus digalakkan tidak hanya untuk penduduk lokal saja, tetapi bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Pelestarian hutan bukanlah pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan, karena kita harus terus terlibat secara intensif seperti yang dilakukan teman-teman dari Balang Institut. Jikalau mau berkunjung untuk mengetahui kondisi pelestarian Hutan Desa Cempaga selengkapnya, bisa langsung klik balanginstitut.org.

Saya yang bisa berakhir pekan dalam suasana yang cukup istimewa kali ini, merasa beruntung bisa hadir menyaksikan seluruh kegiatan di sana. Kebahagiaan bisa berpartisipasi mengajak untuk melestarikan hutan dan alamnya, walaupun dalam skala yang kecil. Karena bahagia itu sederhana 🙂

Sampai jumpa di Pekan Depan berikutnya!

Sampai jumpa di Pekan Depan berikutnya!

 


Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise