Februari seringkali identik dengan Valentine’s Day. Menyingkirkan perayaan-perayaan hari yang lain. Padahal banyak hari yang beragam dan lebih menarik untuk dibincangkan. Salah satunya adalah hari Radio Sedunia yang diperingati pada 13 Februari. Terinspirasi dari hari-hari di bulan Februari tersebut beserta daftar putar yang dibuat oleh berbagai stasiun radio, tim musik Revius membuat sebuah mixtape yang memadukan perasaan cinta, kerinduan, rasa sesak, keterasingan bahkan kebencian tentang kota.

Kami merangkum lima lagu dari lima grup musik/musisi dari Makassar dengan eksplorasi bebunyian hingga lirik yang layak untuk dinikmati. Lagu-lagu tersebut juga merupakan rilisan terbaru dari band masing-masing. Mixtape ini pun secara genre adalah yang paling beragam di antara semua mixtape yang pernah kami buat sejauh ini. Secara variasi terhadap alternatif pilihan musik, ini merupakan kabar gembira bagi mereka yang mengaku penikmat musik. Namun secara musikalitas, kami biarkan anda yang menentukan. Dan yang paling menggembirakan: semua kelompok musik di mixtape ini adalah para penggiat skena musik di kota Makassar, kota yang menjengkelkan sekaligus sangat kami cintai.

Selamat mendengarkan dan selamat menikmati Revius Mixtape February 2017 beserta ulasannya.

 

Achmad Nirwan

Jelaga Kota – Clementine

Jelaga Kota merupakan lagu pertama dari Clementine, kuartet synthpop asal Makassar yang terbentuk sejak 2015 dan berawal dari proyek kolaborasi dengan Ruang Baca. Nita Qonitah (vokal), Dhihram Tenrisau (synth), Irwan Setiawan (synth), dan Kamil Nur (synth) telah merilis lagu berdurasi 4 menit ini sejak Oktober 2016. Jelaga Kota secara musikal menurut saya sebenarnya biasa saja, tidak punya kejutan sama sekali dalam aransemennya dan memiliki kemiripan dengan para musisi yang lebih dulu memainkan musik seperti ini, misalnya trio electropop Chvrches.

Namun, tiga hal yang menjadi pengecualian bagi saya. Pertama, Jelaga Kota alih-alih menjadi pemecah dahaga dari beragam grup musik dengan vokalis perempuan di Makassar yang belum mengeluarkan karya terbarunya dalam satu hingga dua tahun terakhir ini, seperti Theory of Discoustic, Bonzai, Insidia, HILITE, Valuenary, atau 51st Avenue. Hal kedua, Jelaga Kota menurut saya pada umumnya masih jarang diambil sebagai judul lagu oleh grup musik pop. Karena berdasar pengalaman saya mengamati judul lagu milik sebuah band pop, menjadi keunikan tersendiri bagi band pop tersebut bisa saja punya wawasan lebih luas, tak hanya urusan asmara.

Hal ketiga yang perlu diamati dengan seksama adalah lirik yang dinyanyikan Nita Qonitah. Sila mendengarkan larik pada reff lagunya yang menyerupai sebuah pengisahan tentang kelas pekerja dan kegeraman dengan dinamika kehidupan di kota: “Kini tak ada suara/ mesin dan paksa teriak /jalan bersesak/ para pekerja di pagi buta” atau bagian bridge-nya: Di sana hujan deras genangi tubuh/ Di sana racun berebut hirup/ Mural sampah mewarna-warni. Larik yang justru membawa saya berandai-andai sejenak bila lagu ini dinyanyikan dalam cover version di atas panggung oleh band-band hardcore seperti Frontxside asal Makassar atau Sombaside asal Sungguminasa.

Clementine (ki-ka): Irwan Setiawan (synth), Nita Qonitah (vokal), Dhihram Tenrisau (synth), dan Kamil Nur (synth).

Lirik Jelaga Kota yang ajaib ini rupanya ditulis oleh Dhihram Tenrisau ketika waktu awal perantauan di Jakarta. Dan, menjadi interpretasi Dhihram tentang kota besar di Indonesia termasuk kota Makassar pada 5 tahun kemudian. Jelaga Kota menurut Dhihram—yang juga merupakan penulis buku Imagine John, bersumber lewat beberapa riset bacaannya. Dhihram lalu menyampaikan kepada saya melalui messenger app tentang sisi optimis dari lirik lagu ini, “Intinya, sebenci-bencinya kita pada kota dan kampung halamanta’, kita bakalan rindu dan ingin pulang ke sana, kan?”

Dhihram Tenrisau

You – Makassar Rocksteady

Pada tahun 1962, Jamaika mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris. Masa itu ditandai dengan selebrasi, optimisme, perbaikan ekonomi, dan peluang hidup yang lebih layak. Hal itu berimbas dengan gerakan budaya yang mereka miliki yaitu lahirnya musik yang mewakili euforia sebuah negara baru bernama rocksteady. Genre yang menggapai ketenarannya di era 1966-1968 ini adalah turunan genre musik Ska dan pendahulu reggae. Rocksteady tidak perlu menguras energi dan perlunya pendengar untuk terlalu tenggelam pada esensi yang berlebih. Beberapa pemusiknya memfokuskan pada sisi harmoni. Ya, rocksteady adalah jenis musik hepi-hepi dan “nina bobok” awal kemerdekaan di kepulauan Karibia itu—sekalipun nyatanya di era itu penduduk Jamaika masih terjerat dalam kemiskinan.

Apa yang disuguhkan Makassar Rocksteady, mewakili semua itu. Single “You” dari debut album mereka, Shake Your Body yang telah dirilis secara digital pada awal Februari 2017, merupakan jenis lagu move on: sekali didengarkan dapat langsung diingat dan dapat dengan mudah berlalu begitu saja. Lagu ini juga mengingatkan kita akan eksotisme pantai dan senja yang berlabuh, juga lantai dansa sebuah cafe. Kesemuanya terbungkus dalam kesederhanaan entakan side stick drum dan vokal yang tanpa beban.

Makassar Rocksteady yang telah merilis albumnya Shake Your Body dalam versi digital.

Gabungan brass section, organ, kocokan gitar, walking bass, dan perkusi membuat nuansa eksotis pada lagu ini. Gitar dan keyboardnya  kadang berlapis. Komposisi ini mengingatkan pada lagu-lagu yang biasa dibawakan oleh begawan genre ini: The Slackers, The Skatalites, The Specials, Hepcat, hingga yang dari Indonesia sendiri: The Authentics. Optimisme yang disajikan pada musik rocksteady tercermin pada liriknya, Coz everything is okay baby/Just you are in my way/Forever and never let you go/And everything is okay baby/Just you are in my heart/And I’ll fly with you into the sky. Jenis lirik yang ketika dialihbahasakan, sering menjadi jargon para kandidat yang ingin maju di Pilkada atau perlehatan politik lainnya.

Lagu ini menunjukkan keseriusan Makassar Rocksteady sebagai perintis rocksteady di kota Daeng. Kualitas rekaman dan skill mereka yang mumpuni mampu menjadikan lagu ini dapat menjadi sarapan penuh nutrisi saat mengawali hari atau pelengkap saat berlibur.

Dan, dengan ini saya dapat mengatakan bahwa Makassar memiliki seorang rude boy lagibernama Makassar Rocksteady.

Brandon Hilton

Lost in Civilization – Speed Instinct 

Siapa yang tidak mengenal Black Sabbath? Konyol rasanya jika tidak ada yang mengenal mereka. Kalau saya tidak salah, pada tanggal 5 Februari 2017 yang lalu, mereka telah menuntaskan rangkaian tour The End mereka di Birmingham, Inggris, sekaligus menyudahi perjalanan panjang nan melelahkan mereka dengan band yang terkenal akan riff-riffnya berbahaya yang dieksekusi oleh The owner of The Hands Of Doom, the one and only, Mr. Tony Iommi. Dengan berakhirnya Black Sabbath tidak serta merta menyudahi karir bermusik Ozzy Osbourne. Kabarnya, ia tetap meneruskan karirnya sebagai solois legenda musik metal hingga ajal menjemput.

Black Sabbath sudah beristirahat dengan tenang, tapi, karya-karya yang mereka hasilkan selama berpuluh-puluh tahun akan terus hidup, meneror sekalian menginspirasi. Sebagai salah satu contoh dari dampak karya-karya Black Sabbath adalah Speed Instinct, amunisi Alternative Rap-Rock asal Makassar yang digawangi oleh KevinX_Leo, Dennis, dan Yudha. Beberapa waktu lalu, band ini merilis single yang diberi judul Lost In Civilization pada bulan Januari 2017.

Speed Instinct dengan formasi terbarunya: Dennis (gitar), Kevinx_Leo (vokal), dan Yudha (bass).

Lirik yang mempertanyakan eksistensi kita sebagai manusia, apa yang kita punya, untuk apa kita diciptakan, bahkan apa itu sebuah kebenaran. Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang bisa menjerumuskan kita kepada sebuah kegilaan walau tidak separah “Paranoid”nya Black Sabbath. Semua lirik tersebut ditambahkan dengan ‘orasi’ ala Kevinx_Leo sebagai frontman yang membuat lagu ini semakin “menggigit”.

Dengan Black Sabbath, Rage Against The Machine, sampai ke Metallica sebagai bahan ramuan instrumen, dan diracik dengan karakter Speed Instinct dimana karakter vokal yang khas ditambah raungan gitar dengan suara overdrive yang berat, juga bass yang menghipnotis, rasanya tepat untuk mengatakan bahwa band ini adalah korban dari lagu “God Is Dead?”-nya Black Sabbath dengan cita rasa yang Maknyus! Tapi, akan lebih mak-to-the-nyus jika drum dimainkan dengan ditambahkan power yang manusiawi dan beberapa pola atau pattern atau apapun itu namanya, agar terdengar lebih variatif, menggairahkan, dan tentunya maknyus!

Panjang umur Speed Instinct! Kapan-kapan kita featuring di lagu ini.

Fami Redwan

City of Shit – Kerklink 

Lagu berdurasi dua menit dan empat puluh sekian detik ini, berhasil mengembalikan segala romansa yang pernah saya miliki tentang bagaimana punk rock seharusnya berbunyi. Dimulai dengan introduksi tumpukan suara-suara bising yang saling menggulung, dilanjutkan dengan satu detik harmoni ala kaum crusty, kemudian adu balap klasik antara drums dan bass yang dari jaman batu selalu terdengar seperti hamparan karpet merah penuh darah buat telingaku, sebelum akhirnya lagu ini masuk ke inti cerita: Kemarahan. Kemarahan. Dan kemarahan. Sampai selesai. Tanpa tedeng aling-aling. Tanpa skill yang berlebihan.

Kerklink adalah kura-kura ninja asal Makassar yang lewat lagu ini mencoba melakukan kudeta, mengambil alih kekuasaan, dari satu perempatan ke perempatan lainnya. Dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya. Suara regenerasi yang dengan senang hati mengantarkan para punk rocker tua ke kuburan mereka. Dan bagi saya, lagu ini sangat cocok untuk latar olahraga. Mungkin suatu saat nanti saya bisa berolahraga dengan band ini. Karena di balik tebalnya kemarahan mereka di lagu yang dirilis pada Januari 2017 ini, saya mendengar keposo-posoan.

Nugraha Pramayudi

Stertorous – Theogony

Selalu menarik jika berbicara tentang perkembangan musik di Makassar, terkhusus musik metal di skena Underground. Di Makassar sendiri, sekitar tahun 2003-2013 tercatat sebagai tahun kejayaan perkembangan musik metal. (Walaupun tak sedikit juga band-band metal di tahun 2002 ke bawah yang masih eksis sampai sekarang).

Hal ini terlihat dari banyaknya band-band baru yang hadir, gigs yang rutin, rilisan-rilisan baik itu berupa lagu/single, album cross-over-split (seperti Killer Instinct x Himura dari Spanyol), ataupun rilisan album penuh, tapi juga menjadi headliner di gigs di luar sulawesi, sebut saja seperti Critical Defacement, Miraculous, Unremains dan banyak lagi. Yang menariknya, hal ini berimbas juga ke beberapa Kota-kota lain seperti Bone atau Palu yang seraya merayakan akibat dari perkembangan tersebut (terlihat dengan terbentuknya berbagai komunitas dan gigs rutin di daerah masing-masing). Namun semakin ke sini, biasnya seakan mulai meredup. Perkembangan tak secepat dan sebesar dari waktu sebelumnya, walau tetap produktif untuk beberapa Band. Kurangnya gigs yang berkala, venue yang mulai sulit ijin dan mahal, band-band bubaran, serta pengaruh-pengaruh lainnya yang tak kasat mata mungkin menjadi beberapa penyebabnya. Entahlah.

***

Theogony, kuintet death metal asal Makassar yang beranggotakan Wira (vokal), Amal (bass), Ian Hamzah (gitar), Asrul (gitar) dan Gilang Dhafir (drum). Terdengar dari materi-materi mereka yang telah direkam dan diperdengarkan bebas di laman SoundCloud mereka. Sila mendengar Stertorous yang dirilis pada semester kedua tahun 2016, seakan menegaskan bahwa mereka memainkan technical death metal, pada 2 bar awal terdengar pola yang rumit tapi cukup ringan untuk dicerna, riff-riff gitar dan bass yang sejalan tak hanya berperan sebagai “pengatur” ritmik tetapi melodi sekaligus. Dan selalu menyenangkan jika pada drum terdengar pola blast-beat ketukan ganjil, tak hanya hyper-beat yang terkesan monoton. Pola drum yang lebih variatif. Bukan pola kesatuan yang baku antara bass dan drum.

Theogony (dari ki-ka): Asrul (gitar), Ian Hamzah (gitar), Wira (vokal), Gilang (drum), dan Amal (bass).

Untuk vokal, terdengar kegeraman yang cukup nyata. Dan satu lagi yang menarik, terselip beberapa baris bait lirik berbahasa Latin:
“…Todos os desejos devem ser cumpridas
sentiu-se a ser adorado por seu povo
como um deus que construiu o que nao
Necessariamente viver…”

Bagian interlude di beberapa bar terakhir, terdengar kembali pola technical yang lebih ringan, staccato-scale dgn beat twin-pedal pengatur tempo.  Mereka memainkan porsi technical Death Metal dengan sederhana tapi cukup rumit, tanpa memaksa untuk menjadi seperti A Loathing Requiem ataupun The Faceless-nya Makassar.