Oleh: Gabriella Dwiputri (@gabby_X_gabby)|Ilustrasi: Andi Wirangga L. ( @andiwirangga )

Lidah tidak bertulang. Kata-kata yang kau ucapkan, menguap. Bersama udara bisa jadi ia lewat ke telingamu, singgah sebentar untuk menjadi listrik di girus-girus otakmu. Lalu apa? Ia kembali menguap bersama ruang hampa untuk kemudian terlupakan seiring dengan waktu.

Sementara kata-kata yang kau tuliskan, entah di pasir atau kau ukir di batang pohon atau di batu, akan selalu membantumu ingat, apa yang pernah terjadi. Tulisanmu bisa membuat jejakmu abadi. Tulisanmu bisa membuat idemu mendahului realitas. Atau realitas yang mendahului ide? Sudahlah, itu urusan Plato, Socrates, Aristoteles dan filsuf lainnya. Tapi benar, spoken words fly away, written words remain.

Saya suka menulis, karena itu berarti kita sedang meninggalkan sebuah warisan. Tanpa menulis, saya sering hilang dengan isi kepala yang tidak mau diam. Lalu apa yang akan kita tulis? Apa saja. Menulis itu gampang, semua orang bisa. Tapi untuk menulis hal yang akan dibaca orang lain, itu lain perkara. Itu seperti berbicara di depan publik, ada sesuatu yang ingin kita sampaikan di sana. Ada ide yang hadir dalam berbagai bentuk, dengan simbol-simbol atau segala kemasannya yang bisa jadi indah.

Ada masanya ketika saya ingin berhenti menulis karena merasa tulisan saya tidak pernah seindah tulisan Andrea Hirata, Dewi Lestari, atau sepuitis Aan Mansyur, atau sepenting karya Pramoedya atau Chairil Anwar atau seliar imajinasi J.R.R Tolkien maupun J.K. Rowling. Saya putus asa.

Hingga di suatu hari yang random, ketika sedang berada di toko buku saya menemukan buku yang bercerita tentang suami yang terlambat pulang ke rumahnya, yang menyebabkan si istri marah karena tak ada kabar. Lalu berceritalah si suami alasan kenapa ia terlambat pulang, kalau di jalan dia dihadang monster. Monster pencari suami setia, katanya. Monster yang banyak, yang diajaknya berkelahi di tengah jalan raya tengah malam buta. Monster yang kalah, yang tidak bisa menghentikan si suami pulang ke istrinya. Buku itu berjudul Drunken Monster karya Pidi Baiq.

Itu buku yang asal, cetakan pertama, dengan EYD yang berantakan dan berisi catatan harian penulis. Saya senang dan dibuat tertawa olehnya. Saya tercengang, buku yang jauh dari indah, puitis, dan penting itu bisa ada di bumi. Terlebih lagi, bahwa saya toh bisa terhibur membacanya, bahwa saya terinspirasi, dan saya bisa menemukan pesan penting yang mendalam di balik kemasan yang sederhana dan menyenangkan.

Saya salah untuk berputus asa dan berhenti menulis. Saya menulis bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Surayah Pidi Baiq mengajari saya bahwa menulis tidak melulu untuk mencurahkan isi hati, melainkan menulis adalah untuk mendengarkan apa yang hatimu ingin sampaikan yang tidak bisa diucapkan oleh lidahmu sehingga tak sampai ia pada pikiranmu. Maka, menulis adalah upaya untuk menemukan diri sendiri.

Tapi menulis juga butuh tahu dan berani, kata Andreas Harsono, wartawan senior Indonesia yang juga aktivis HAM. Maka kita harus membaca, membaca, dan terus membaca, untuk membantu merangsang dan mengemas ide kita sehingga lebih apik, sistematis, dan mudah dimengerti. Berani itu penting, berani tulisan kita dibaca orang lain. Karena apa gunanya meninggalkan warisan untuk diri sendiri?

Jadi itulah sebabnya saya suka menulis. Menulis itu adalah salah satu cara untuk mengisi kehidupan. Hidup kita singkat, terbatas ruang dan waktu. Berbeda dengan kehidupan, energi tidak pernah mati, ia hanya berubah bentuk. Sehingga dengan menulis, energi tidak hanya akan kekal, tapi ia akan tetap setia dengan bentuknya; yaitu sebuah ide. Maka melalui tulisan, kita akan hidup abadi.

Jadi, mari tersesat dalam membaca hanya untuk menemukan diri kita sendiri dengan menulis. []


Baca tulisan lainnya dari Gabriella Dwiputri

Film Hitam Putih yang Bukan Sekadar Hitam dan Putih

Solidaritas Muslim Musiman

Pengakuan Seorang Pembohong

What Makes a Life Worth Living

Perjalanan Waktu yang Penuh Kejutan

Bahagia Berkarya a la Pidi Baiq

The (Not So) Fun Facts About World AIDS Day

Seperti Cokelat di Etalase Toko