Oleh: Pratiwi Hamdhana ( @pratiwiham )

Saya mendengar nama Verona pertama kali ketika menyaksikan akting Amanda Seyfried dalam Letters to Juliet di tahun 2010. Siapa sangka dua tahun kemudian, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi kota kecil di Italia ini. Verona tidak masuk dalam daftar kunjungan saya, namun karena dipertemukan oleh seorang teman baru ketika berada di Munich, kami lalu sepakat untuk bertemu di Verona beberapa hari kemudian.

Menempuh perjalanan selama lima jam dengan kereta, saya sampai di stasiun Verona pada siang hari. Sempat kebingungan hingga akhirnya si teman baru, perempuan Turki yang sedang menempuh program pertukaran di sebuah kota yang tak jauh dari Verona, datang menghampiri saya. Kami pun berjalan bersama menuju pusat kota.

Verona bukanlah kota yang besar, sehari cukup untuk menjelajahinya. Sama seperti kebanyakan kota di Eropa yang sangat instagramable, setiap sudut Verona menawan untuk diabadikan dalam foto.

Shakespeare menjadikan Verona sebagai saksi kisah cinta tragis antara Romeo dan Juliet di tahun 1500-an. Lalu di 2010, nama Verona melejit lewat film Letters to Juliet. Diceritakan bahwa di sana ada sebuah rumah di mana para perempuan, siapa saja, bisa menuliskan kisah mereka di sebuah surat lantas meletakkannya di dinding rumah yang diyakini sebagai rumah Juliet, yang selanjutnya akan dibaca dan dibalas oleh para sekretaris Juliet.

Pertama-tama, untuk para remaja yang mungkin belum pernah tahu bahwa kisah Romeo dan Juliet hanyalah fiksi belaka. Yap, there is no Romeo and Juliet, or in this case called Giulietta (Juliet di Italia lebih dikenal dengan nama Giulietta). Tapi, penduduk Verona berhasil mengambil keuntungan dari kisah ini. Dibuatlah Tomb of Giulietta (Makam Juliet), Casa di Romeo (Rumah Romeo) dan tentu saja the infamous Casa di Giuleitta (Rumah Juliet), tempat para turis datang dan memenuhi halaman rumah.

Casa di Giuleitta (Rumah Juliet) yang dibuat berdasarkan roman Shakespeare, Romeo and Juliet.

Penampakan luar Casa di Giuleitta (Rumah Juliet) yang dibuat berdasarkan roman Shakespeare, Romeo and Juliet.

Inilah makam fiktif Juliet yang berada di pekarangan rumahnya.

Inilah makam fiktif Juliet yang berada di Verona.

Jika dalam Letters to Juliet, para perempuan datang dan menyelipkan surat di sela-sela bebatuan dinding, maka dalam realita yang terjadi dan nampak sepanjang mata memandang, surat-surat atau apapun itu yang berbentuk kertas dan berisi catatan, ditempelkan di sepanjang dinding, menggunakan permen karet. Seluruh tembok di kanan kiri rumah penuh dengan permen karet bekas, eewww, dan coretan-coretan yang saya yakini dibuat oleh para Romeo dan Juliet masa kini, atas nama cinta.

catatan yang ditempelkan dengan permen karet di sepanjang dinding luar rumah Juliet.

Catatan yang ditempelkan dengan permen karet serta coretan dari Romeo dan Juliet masa kini di sepanjang dinding luar rumah Juliet.

Gembok adalah simbol yang wajar untuk mengikat cinta di Eropa, maka selain permen karet yang mungkin diharapkan sebagai simbol agar selalu mengeratkan, gembok pun bertebaran di sepanjang pagar yang ada di Rumah Juliet.

Kotak surat yang katanya milik Juliet.

Kotak surat di rumah Juliet yang mungkin saja berisi aneka surat yang penuh untaian kata-kata cinta.

Sebagai penggemar hal romantis, saya memilih untuk tidak menghabiskan waktu lama di Rumah Juliet. Tak ada yang dapat dinikmati selain turis-turis yang kebanyakan Asia, antri untuk naik ke balkon dan berfoto bersama patung yang diyakini sebagai sosok Juliet, sembari memegang dada si patung. Ah, andai patung tersebut dapat berbicara, pastilah ia akan melaporkan tindakan asusila para turis-turis ini. Selain antrian panjang untuk berfoto bersama patung, juga antri untuk naik dan berfoto di teras/balkon, seperti Juliet yang berdiri di balkon mengharapkan Romeo datang. Belum lagi keriuhan mereka jika dalam kelompok, disertai bendera warna-warni atau payung yang dipegang oleh para tour guide. Saya dan teman baru saya memutuskan untuk keluar dan mencari makan siang saja.

Jika ingin merasakan sensasi saat Juliet menunggu Romeo datang, naiklah ke balkon rumah Juliet.

Jika ingin merasakan sensasi saat Juliet menunggu Romeo datang, naiklah ke balkon rumah Juliet.

Andai patung tersebut dapat berbicara, pastilah ia akan melaporkan tindakan asusila para turis-turis ini.

Andai patung tersebut dapat berbicara, pastilah ia akan melaporkan tindakan asusila para turis-turis ini.

Terlepas dari kebohongan yang dijual oleh Verona untuk memikat turis, yang mungkin akan menjadikan Shakespeare kaya raya jika ia masih hidup hingga saat ini, Verona adalah kota kecil yang indah. Banyak sudut-sudut cantik di tiap gang-gang kecil. Bahkan, di Verona ada amphitheater yang menyerupai Colosseum dalam ukuran yang lebih kecil. Juga ada teater terbuka yang dulunya dipakai para penduduk.

Di Verona kita bisa menyaksikan konser dan pertunjukan seni. Bangunan-bangunan bersejarah tersebut kemudian menjadikan Verona sebagai salah satu UNESCO World Heritage Centre. Cara terbaik untuk menikmati Verona adalah dengan berjalan kaki menyusuri tiap sudut dan jalanan setapak yang membawa kita ke sungai. Dan satu lagi, dengan menerima dan menikmati kebohongan yang disajikannya. Bukankah terkadang menyenangkan untuk mendengarkan kebohongan dan tetap memilih diam sambil menikmatinya? []

*Foto-foto di atas merupakan dokumentasi pribadi dari Pratiwi Hamdhana


Baca artikel City Review lainnya

Laneway Music Festival dan Fenomena Kampung Sebelah

Perintis dalam Tatapan Sinis

5 Hal Unik yang Dapat Ditemukan di Taiwan

Lima Warung Bakso Paling Syahdu

Kita dan Kota Perlu Berteman dengan Lebih Banyak Taman

Kampung Melayu yang Dijaga Santo Petrus