Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Semakin populernya kebiasaan menonton video di internet melalui Youtube, Vimeo dan situs video lainnya, mulai menjadi kegemaran banyak penikmat musik sekarang dalam mencari video musik lawas, yang sedang hits, kreatif bingits bahkan lucu sampai aneh tapi nyata. Seringkali beberapa video musik sampai ditonton berulang-ulang kali untuk mencari inspirasi dan melepas jenuh saat menghadapi rutinitas yang padat.

Tim redaksi Revius yang lebih sering berhadapan dengan monitor komputer daripada layar kaca televisi, juga punya beberapa video musik favorit untuk menghibur di kala senang, ingin tertawa atau ehem, galau karena cinta. Jika boleh diizinkan, kami para editor, penulis dan ilustrator, fotografer, dan tukang sapu-sapu Revius yang soleh dan solehah ini ingin merekomendasikan beberapa video musik favorit untuk kamu, yang mungkin saja belum pernah ditemukan di acara-acara video musik tiap pagi milik stasiun televisi negeri ini. 🙂  


Langgo Farid

John Scatman – “Scatman” (1994)

Why do I love it?  I have three reasons for you:

1. I really enjoy that song!

2. I don’t know the main idea of his video. Tetapi Scatman dengan gaya menyanyi scat (gagap) jadi pembuktian bahwa dengan menghapal lagunya maka kegugupan akan hilang. Terutama kegugupan yang bermasalah dengan PDKT ke cewek.

3. He is the real Eminem than Eminem himself!

Enjoy, Gais!

 


Novidia

Samwell – “What What (In the Butt)” (2007)

Sebagai penikmat goyangan pinggul, saya merasa harus merekomendasikan goyangan pinggul Samwell kepada kamu. Video ini adalah cara saya untuk melakukannya. Mungkin kamu tidak suka goyang pinggul untuk alasan-alasan yang saya tidak mengerti, tapi tidak ada salahnya memutar video ini, terlebih jika mood kamu sedang berantakan.

Bagian favorit saya? Samwell menari bahagia dengan kembang api yang meledak-ledak di belakangnya ketika dia berada di (yang seolah-olah) luar angkasa. Love it!


Rieski Kurniasari

Yuki – “Sentimental Journey” (2003)

Salah satu video musik one-shot yang kreatif menurut saya adalah “Sentimental Journey”. Video ini merupakan kolaborasi antara musisi YUKI dengan seniman Nagi Noda.

Alur cerita dalam video ini sangat sederhana. Seorang gadis muda yang sedang jalan-jalan, kehujanan, berteduh di rumah neneknya, ternyata sesampainya di rumah nenek… Maaf, saya tidak bisa melanjutkan. Takut spoiler.

Namun penyajian ceritanya tidak biasa. Si karakter cewek ini diperankan oleh penyanyinya sendiri, YUKI, beserta puluhan talent yang bergaya menyerupai dirinya. Hasilnya: semacam adegan slow motion yang unik dan menarik.

Nagi Noda (1975 – 2008) juga dikenal sebagai sutradara dan desainer. Konsep video “Sentimental Journey” juga dia gunakan dalam iklan Coca Cola. Anda mungkin tidak menyukai tipe penyanyi Jepang dengan karakter suara anak-anak yang cempreng, tapi sebetulnya asyik juga mengamati talent mana yang matanya berkedip.

Andi Wasilah Yusra
Sia – “Chandelier” (2015)

Siapa yang tidak mengenal Sia Kate Isobelle Furler sekarang. Penyanyi yang biasa dipanggil Sia ini memulai karirnya tahun 1997 dengan album Only See. Popularitasnya begitu mencuat semenjak merilis album terbarunya pada tahun 2014 yang berjudul 1000 Forms of Fear.

Mungkin Sia Furler mulai familiar sejak single “Chandelier” meledak, namun ternyata Sia telah menciptakan begitu banyak lagu hits yang dibawakan artis-artis ternama seperti Rihanna, Beyonce, David Guetta, dan lain lain.

Sejujurnya saya bukan penikmat musik, saya menonton video musik pun sangat jarang. Namun saat menemukan video-nya Sia, saya jadi tertarik untuk melihat video Sia yang lain. Dalam hal musik saya jelas adalah orang awam, apa lagi dengan teknik pengambilan gambar ataupun efek sebuah video.

Suatu sore saya sedang streaming nama Sia di situs Youtube. Tentu saja “Chandelier” menempati tempat teratas dengan jumlah viewers yang melimpah. Saya penasaran dan terus melihat ke bawah dan menemukan sebuah lagu berjudul Soon We’ll Be Found.

Video ini dibuat dengan cara yang berbeda, lagu Sia yang tidak melulu tentang cinta di ceritakan melalui American Sign Languange, atau bahasa isyarat. Bahasa Isyarat yang digunakan di ekspresikan dengan tidak biasa, dikombinasikan dengan pemanfaatan warna pada tangan dan pendefenisi gerak melalui bayangan membuat gerak bahasa isyarat menjadi menarik dan sangat menonjol.

Saya jatuh cinta dengan ide video musik yang disutradarai Claire Cerre ini, idenya sangat sederhana. Namun dieksekusi dengan apik sehingga menjadi begitu harmonis menyampaikan pesan dari lagunya seperti permainan efek bayangan yang saya jamin akan mengundang decak kagum, lagi lagi ide yang sangat sederhana. Begitu terkonsepnya ide tersebut sehingga tidak bisa dibayangkan kalau sebuah bayangan dari gerakan tangan bisa menjadi sesuatu yang sangat layak dipertontonkan.

Dengan bahasa isyarat Sia Furler meyampaikan “I’ve always been obsessed with the beauty of sign languange. To ignorant hearing me, the movement and expression appears as a dance – a beautiful emotive dance. But the real beauty is the communication hidden these perfect shapes”

Kadang kadang suatu komunikasi terjalin dengan baik tanpa perlu di katakan, keluhan bahkan tidak mampu lagi tersuarakan, tapi tidurlah nyenyak. Karena semuanya pasti akan baik-baik saja.

Shut your eyes, there are no lies in this world we call sleep. Let’s desert this day of hurt, tomorrow we’ll be free.


Ifan Adhitya

twenty one pilots – “Car Radio” (2013)

Konsep yang sederhana tapi sangat rumit untuk diaplikasikan menurut saya untuk video ini. Seperti pada adegan pembuka dimana sang vokalis, Tyler Joseph tiba-tiba menggunduli dirinya sendiri dan seluruh crowd konser Twenty One Pilots bisa terhipnotis untuk mematung sejenak pada salah satu adegan konser mereka. “Car Radio” tersebut semakin keren dengan penghayatan akting Tyler Joseph yang epic.


Aisyah Azalya

The Family Crest – “Make Me A Boat” (2014)

Sesungguhnya saya bukan penggandrung (?) musik video, saya lebih senang dengar musik sebagai musik. Kadang saya tidak tahu band yang saya lagi gandrungi musik videonya kayak gimana. Haha.

Sebetulnya saya ingin merekomendasikan “Chandelier”-nya Sia yang ternyata sudah direkomendasikan oleh editor lain lebih cepat sepersekian detik dari saya. Oleh karena itu, saya akhirnya memilih “Make Me A Boat” dari The Family Crest karena itu yang bisa saya ingat dan baru-baru ini saya lihat, mereka pun piawai dalam bermusik dan membuat video sendiri. Video yang ini unik sekali, direkam semuanya dengan kamera GoPro.

Yang kedua mungkin “Loud Like Love” dari Placebo yang sangat oke untuk didengar pagi-pagi agar menghilangkan kantuk. Tapi jangan nonton video klipnya di Youtube di depan keluarga, walaupun konsepnya keren tapi ada sedikit unsur NSFW-nya. Haha

Tapi kalau ditanya band apa yang sedang on repeat di playlist–yang ini saya tidak tahu ada video klipnya atau apa dan saya pun sedang malas youtube-ing– I’m gonna say The Paperkites ! FTW, Their songs really help me building the mood in both my coding and drawing life.

Sepertinya sudah terlalu panjang, arrivederci!

 


Chairiza

Oren Lavie – “Her Morning Elegance” (2011)

Saya tidak tergolong dalam orang yang menikmati video klip dalam sebuah lagu. Saya hanya memanfaatkan benar-benar indera pendengaran saya dalam sebuah lagu. Dan saat pertama kali melihat video klip ini diruang kelas saat sekolah dulu, saya langsung suka. Konsepnya unik dan tidak biasa. Video klip ini menggunakan teknik stop motion. Terbayang tingkat kerumitan dari pembuatan video ini. Dan berapa banyak frame foto yang digunakan. Itu saja. Hehehehe.


Herman Pawellangi

Girls’ Generation – “Love & Girls” (2013)

Saya suka sekali video musik ini karena suasananya ceria sekali, penuh warna warni. Sepertinya sulit untuk tidak bosan, karena selalu ada semangat tersendiri kalau menonton video musik cewek-cewek dari Negeri Ginseng ini. Slurp!


Joem Pelenkahu

Kang Maman – “Separuh Aku” (NOAH Cover Version) (2013)

Bagi saya, lagu ini sepenuhnya melekat dengan sosok Kang Maman, sang videografer DIY. Setiap mendengar lagu ini, dimana pun, kapan pun, dalam kondisi mental seperti apapun, yang saya ingat bukan lah band NOAH, melainkan wajah polos dan datar Kang Maman.

Video ini berhasil menghipnotis sekaligus menjadi panutan bagi saya, semangat Kang Maman sangat menginspirasi. Sebagai seorang videografer, Kang Maman melakukan segalanya sendirian, mulai dari pengambilan gambar, proses editing, bahkan sampai pemasaran jasa videografinya sekalipun. Video ini biasa saya tonton saat saya butuh semangat dan inspirasi.

Terima kasih, Kang Maman. Lap you.


Barzak

Memilih video musik favorit ternyata bukan hal mudah, apalagi kalau bapak Managing Editor, Achmad Nirwan, menekankan untuk memilih satu video saja. Setelah menonton ulang belasan video klip yang beberapa bulan terakhir ini membuat saya kagum, tertawa, sedih, hingga menganga. Saya pun menyimpulkan bahwa mustahil untuk memilih satu saja. Daripada pusing, akhirnya saya membuat daftar yang terdiri dari lima video untuk diserahkan pada bapak Nirwan (biar beliau saja yang pusing memilih, hahaha).

  1. Sia – “Chandelier” Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan lagunya, tapi koreografi yang mempesona oleh Maddie Ziegler yang berbakat sulit untuk tidak dinikmati. Lately, the song grows on me. 
  2. Duke Dumont – “I Got U” Video ini unik, karena POV (point of view) shots-nya, saya jadi lebih mudah membayangkan apa yang dilihat oleh teman-teman saya bila sedang liburan ke pantai.
  3. DJ Snake feat. Lil Jon – “Turn Down for What” Ini sebenarnya video yang luar biasa absurd, tapi juga luar biasa lucu!
  4. OK Go – “The Writing’s On The Wall” Eksperimentasi ilusi optik yang playful, in one long take. Saya berani bertaruh, banyak dari anda yang sudah pernah melihat video ini tertarik untuk mengintip video dibalik layarnya.
  5. Weird Al Yankovic – “Word Crimes” Kalau video DJ Snake dan Lil Jon lucu dan absurd, video (dan lirik) Weird Al Yankovic ini lucu dan pintar. Hmm, mungkin sok pintar buat mereka yang membenci para Grammar Nazi.

Cheers!


Achmad Nirwan

Paniki Hate Light – “Survival” (2015)

Karena beberapa editor dan staf lebih banyak memilih dan merekomendasikan video musik karya musisi mancanegara, maka saya lebih memilih video musik yang diproduksi oleh para penggiat bidang film di Makassar. Ya, karena  mereka punya daya kreatif yang luar biasa untuk kota ini dan wajib diapresiasi oleh penggiat maupun penikmat musik di kota ini. Mereka punya semangat baja menghadirkan karya video musik dari musisi Makassar yang masih sedikit jumlahnya.

Impresi pertama saya dengan videoklip musisi lokal sepertinya berasal dari saat saya sempat menyaksikan videoklip milik Harakiri untuk lagu “Anger of An Angel” di sebuah rumah produksi bernama Rumah Media sekitar tahun 2007. Namun saya mulai lebih intensif lagi menyimak kembali semangat dan geliat videoklip buatan asli teman-teman penggiat kreatif di Makassar ini sejak tahun 2011. Beberapa yang sempat saya saksikan di antaranya Iip – Hukum Kekekalan Tawa, The Hotdogs – “Ganjasmara” yang disutradarai oleh Deli Luhukay, Bad Wolves – “Freedom”, Melismatis – “Autisme” dan Dead of Destiny – “Close to Death” yang keduanya diproduksi oleh Timur Pictures.

Salah satu videoklip musik terbaru dari musisi Makassar yang saya simak sejak bulan Januari lalu adalah video musik “Survival” milik Paniki Hate Light,unit post-hardcore Makassar, yang diproduksi bersama Bhamboe Films tahun ini. Videoklip ini tentunya memiliki scene paling lumrah ditemukan di videoklip musik band post-hardcore, dimana band memainkan lagunya, lengkap dengan alat musik mereka masing-masing.

Memang scene bermain alat musik paling mendominasi di video musik ini. Namun di sela-sela scene tersebut, terselip banyak adegan-adegan  yang membuat saya harus siap-siap kecele karena videoklip juga memiliki intrik yang jika ditonton berulang-ulang baru bisa ditebak apa yang ingin dihadirkan untuk memaknai lagu “Survival” tersebut . Terlihat Agil, sang vokalis berperan sebagai sandera dari pemeran wanita tersebut. Sekujur mukanya seperti babak belur. Sepanjang lagu dimainkan, saya cukup penasaran dengan yang dilakukan dari pemeran wanita di dalam videoklip tersebut, memegang rantai besi, mengepalkan bersama tangannya dan terlihat raut kekecewaan di mukanya. Sampai akhirnya saya pun tersadar menjelang akhir video, oh..ternyata ini toh maksudnya!

Penasaran? Silahkan disimak langsung video musiknya di atas cess 🙂