Setelah menikmati tahun lalu, kalau boleh jujur, Musik Hutan adalah salah satu event yang saya tunggu sepanjang 2016. Kami sekeluarga ikut atas nama Kedai Buku Jenny (KBJ), seperti biasa menggelar lapakan buku dan beberapa CD. Namun, Musik Hutan bagi KBJ dan khususnya keluarga kecil kami, bukanlah tentang doing business. Musik Hutan adalah tiga hari ketika kami diberi kesempatan menyerap dua energi positif dalam hidup: Nada dan Alam Semesta.

Seingat saya, tulisan tahun lalu tentang Musik Hutan lebih banyak tentang “siapnya” teman-teman menggelar acara mereka, mulai dari publikasi, aturan main, fasilitas, dan pengisi acara. Konsepnya digagas serius dan persiapannya membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit. Saya kira, tahun ini pun sama. Sejak jauh-jauh hari, event ini sudah ditunggu banyak orang. Lalu apa yang baru?

Seperti yang dijanjikan tahun lalu, Musik Hutan berinovasi dengan mencoba tempat lain setelah dua tahun berturut-turut dilaksanakan di Hutan Pendidikan Unhas, Bengo-Bengo. Kali ini, warga Musik Hutan bermukim di Desa Bissoloro, desa yang cukup jauh dari hiruk-pikuk kota di Kabupaten Gowa. Medannya  berhasil membuat saya dagdigdugser, apalagi kami berangkat dari Tamalanrea saat senja menua. Lokasi baru, membuat kami tidak bisa mengira-ngira waktu yang kami butuhkan, tepatnya jauh lebih lama dibanding dengan penanda yang dipasang tim Musik Hutan di beberapa spot tertentu.

Perjalanan dengan track menanjak, menurun, bergelombang, menikung, dan 30%-nya masih belum tersentuh aspal, membuat kami cukup kelelahan. Namun, terbayar lunas saat kami disambut suasana khas Musik Hutan. Puluhan tenda sudah terpasang rapi, booth makanan di bagian kiri, check sound sedang berlangsung, cahaya-cahaya kecil dari panggung utama, typografi-typografi manis sebagai penanda, dan tentu saja udara dingin yang mulai menyapa. Batang-batang pohon pinus yang berdiri gagah seperti merengkuh kami dalam pelukan yang menyejukkan. Wajah baru pertama.

Aktivitas memasang tenda dan segenap hal yang membuat kami nyaman telah usai dikerjakan, sayang sekali teman yang sudi membawa kami tidak bisa menghabiskan malamnya di sana. Saat MC mulai memanaskan hutan, kami sepenuhnya siap meresapi nada. Sanggar Seni Kaktus dari Palu berhasil membuka Musik Hutan dengan apik. Aransemen musiknya yang bersemangat, didominasi bebunyian tabuh membuat Hutan Bissoloro mulai bersenandung. Eddington, The Jokes, dan Gyant Hidayah tidak kalah kerennya. Mereka mengantar malam berakhir.

Wajah baru kedua adalah musisi yang terlibat sangat variatif. Dari berbagai genre musik. Mulai dari pop, reggae, ska, rock, hingga postrock, jelasnya komplit. Bukan hanya itu, kali ini menghadirkan 3 musisi dari luar Kota Makassar dari Sanggar Seni Kaktus dari Palu, Gos Blues dari Bandung, dan duo-folk Pigmy Marmoset dari Bali. Ada juga Barru Positive dari kabupaten Barru yang membuka Sabtu pagi dengan manis.

Sabtu yang lumayan panjang, tim Musik Hutan juga menawarkan wajah baru. Mereka menginisiasi program jalan-jalan. Kalau tidak salah, namanya KuWis. Kunjungan Wisata. Ada dua destinasi air terjun yang bisa dikunjungi di sekitar Bissoloro. Difasilitasi oleh panitia. Sayangnya, kami tidak sempat ikut. Sabtu berjalan pelan, sendu, dan matahari bersinar sesekali lewat celah pinus. Siang datang dan pertunjukan beralih ke panggung kecil, saya lupa nama panggungnya (Panggung Macaca, red) Panggung yang diisi ornamen payung warna-warni ini dibuat bagi siapa saja yang ingin melampiaskan hasrat bermusiknya. Lagi-lagi serius, musik hutan membawa konsep perkemahan karnaval, semua boleh punya panggung, semua bahkan boleh membuka lapak di depan tendanya. Saat sore menjelang, sebelum panggung utama beraksi, tim dari Trans Studio memeriahkan suasana. Peri bunga, Peri hutan, dan Manusia kaca keluar. Mereka mengitari perkemahan dan memberi ruang bagi warga untuk berfoto. Itu wajah baru ketiga.

Lalu, sore datang. Kami menikmatinya bersama Titik Bias dan diantar menikmati sunset oleh Surgir.  Saya lupa bilang, di hutan pinus ini, kita bisa menikmati sekaligus sunrise dan sunset secara langsung.

Wajah baru selanjutnya yang membuat saya terkagum-kagum: Musik Hutan kali ini merangkul warga lokal. Sebelumnya, liburan ini digambarkan serupa liburan yang hampir eksklusif. Mungkin karena di tempat sebelumnya murni adalah tempat berkemah. Tidak ada warga sekitar yang tinggal di Hutan Pendidikan Unhas. Tahun ini, di sekitar kita yang menonton ada orang-orang juga ada penduduk lokal. Yang lebih kerennya, karena mereka terlibat. Mereka juga melakukan aktivitas-aktivitas ekonomi, menjual berbagai kebutuhan, menjual hasil bumi mereka. Madu dan gula merah.  Mereka menyambut kita sebagai tamu dan mereka menjamu dengan sangat baik. Sebagian warga Musik Hutan bersosialisasi dengan penduduk lokal, berbagi cerita tentang desa tentang hidup mereka. Poin pentingnya: Musik Hutan menggeliatkan gairah hidup mereka. Menurut cerita yang saya dengar, hutan yang dipakai mendirikan tenda sebelumnya berupa semak belukar. Tim Musik Hutan dan warga lokal yang bekerja keras untuk itu. Saya bahkan yakin, Tim Musik Hutan telah melakukan kontak yang lebih sering, lebih dalam dengan mereka. Dan menurutku itu prestasi luar biasa.

Nah, wajah baru terakhir Musik Hutan, wajah di mana sebagian besar warga Musik Hutan di dua pagi gelisah, tepatnya panik. Mungkin kesal, atau mungkin takut. Wajah yang penuh tanda tanya: “Di mana hajat ini mesti dibuang?”  Yah, bisa jadi ini pukulan berat bagi Tim Musik Hutan tahun ini. Jika dua tahun berturut-turut fasilitas MCK dipuja-puji, tahun ini tim Musik Hutan dan warganya harus pasrah kepada alam. Dua malam dan dua hari di sana, air tidak mengalir. Padahal MCK dibuat dengan sangat total. Tapi, berakhir buruk. Di sinilah, kemampuan “ketidakpedulianmu” dibutuhkan. Kalian bisa berinisiatif dengan meninggalkan “jejak” di rimbunan semak, atau bebatuan. Karena satu-satunya yang bisa diandalkan adalah WC Umum di masjid yang harus ditempuh setengah jam dengan berjalan kaki dari perkemahan, ditambah antri pula. Tapi salut, beberapa wajah masih bisa terlihat cantik dengan make up lengkap.

Selebihnya, saya menemui banyak wajah yang telah cukup saya kenali yang memilih menghabiskan pekan pertama September di desa ini.  Sepenuhnya, Musik Hutan tetaplah menyenangkan, beberapa wajah baru Musik Hutan yang sempat saya rekam, lebih banyak menceritakan tentang kemajuan-kemajuan. Catatan buruk masalah air dan turunannya, saya yakin akan dipermak tahun depan oleh tim Musik Hutan yang kece.

Terakhir, terima kasih untuk liburan yang keren ini. Kami selalu bersyukur karena masih dilibatkan di event ini.  Sampai jumpa tahun depan. Terimakasih untuk Om Ravi dan Kakak Febi  yang bersama mereka perjalanan pulang menuju Makassar lebih menggebu-gebu.

Ibumahasuar, Hari ke-9 September 2016.


Baca tulisan lainnya

Untuk Masa dan Rasa di Musik Hutan 2016

10 Jenis Liburan yang Bisa Kamu (dan Dia) Nikmati di Musik Hutan 2016

Musik Hutan 2015 – Day 1: Keteduhan dalam Keragaman

Musik Hutan 2015 – Day 2: Menemukan Makna Teduhnya Nada

Minorbebas x Wildhorse: Kami Percaya dengan Upa’

Bhulu Ayam: Membuat Lagu Parodi itu Lebih Susah dari Lagu Cinta

Aan Mansyur: Menghasilkan Tulisan yang Bagus Memang Tidak Pernah Mudah

Didit Palisuri: Dengan Musik Hutan, Kita Bisa Sejenak Beristirahat dari Hiruk Pikuk Kota