Belakangan ini isu orientasi seksual hangat dibicarakan di mana-mana. Dari pihak yang dekat dengan LGBTQ sampai pihak yang jauh sekali. Tiga tahun lalu, tepatnya tahun 2013, saya bersama beberapa teman kuliah seringkali mencari wanita-pria yang masih berseliweran di kota Makassar. Waktu itu kami hanya melakukan riset kecil-kecilan soal waria, yang akhirnya membawa saya ke dalam riset yang lebih mendalam dan serius soal mereka. Pembicaraan mengenai waria juga tidak dapat dipisahkan dari pembahasan LGBTQ. Dan ada beberapa hal yang ingin saya bagi kepada teman-teman yang belakangan aware dengan isu ini.

Pertama, apa salahnya jika beberapa anak kuliah dengan maksud dan tujuan bersama membentuk sebuah perkumpulan? Apa bedanya dengan mahasiswa-mahasiswa yang hobi bermain bola lalu membuat klub bola atau mereka yang merasa peduli dengan lingkungan lalu membuat sebuah perkumpulan pecinta alam atau komunitas perduli lingkungan? Beberapa tahun lalu saya mendapatkan beasiswa ke Sydney. Ada satu hal yang cukup membuka pemikiran saya. Ketika saya menemukan sebuah tulisan dan tanda panah yang mengarah ke sebuah lorong kecil di kampus yang bertuliskan ‘queer space’, saya harus berjalan melalui lorong yang agak panjang untuk benar-benar tahu seperti apa queer space itu. Ada dua hal yang terpikir saat itu, begitu sulitnya untuk mereka terbuka dan dekat dengan masyarakat umum hingga akhirnya ruangannya harus dibuat sejauh itu dari koridor umum, dan ternyata mereka butuh ruang, entahlah untuk apa karena hanya mereka sendiri yang tahu seperti apa tepatnya hal-hal yang mereka butuhkan. Masuk akal kok, semua orang butuh ruang, tempat, dan teman untuk berbagi. Begitupun mereka.

Saya jadi ingat dengan beberapa orang homoseksual dan waria yang pernah saya temui, banyak di antara teman sebaya mereka adalah korban bullying karena tingkah dan perilaku mereka yang dianggap tidak seperti laki-laki atau perempuan pada umumnya. Banyak dari mereka adalah orang yang terbuang atau dibuang oleh keluarga, karena sudah tidak dianggap lagi. Akhirnya mereka meninggalkan keluarga, hidup tanpa keluarga, tidak sedikit yang akhirnya mencari uang untuk hidup dengan berdiri di pinggir jalan atau dekat kuburan. Ada satu waria bercerita pada saya, saat ia come out untuk sepenuhnya menjadi waria, ia diasingkan dari tempatnya kuliah hingga terpaksa berhenti, juga tidak pernah bertemu keluarganya lagi.

Kedua, saya selalu ingat dengan cerita seorang waria yang usianya sekitar 50-an tahun ketika saya melakukan riset soal mereka di Jogjakarta. Waktu saya tanya sejak kapan ia memutuskan menjadi waria, jawabannya adalah sejak SMP. Karena itu ia terpaksa lari dari rumah, dan tidak pernah lagi bertemu dengan keluarganya. Saat ini ia aktif di organisasi yang memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi kaumnya. Ya, mungkin ada yang tidak dirawat jenazahnya, tapi yang saya ketahui sejauh ini di organisasi mereka banyak teman-teman waria yang meninggal dunia tanpa keluarga dan akhirnya mayatnya diurus oleh orang.

Ketiga, apa pula dengan para pejabat yang minta dilindungi (atau rakyat yang merasa perlu melindungi pejabat). Apa para pejabat ini kekurangan pengawal, sampai perlu kita lindungi. Saya sebagai masyarakat kadang-kadang heran dengan kehidupan bangsa ini. Bukannya para pejabat itu, dengan segala kekuasaannya, yang seharusnya melindungi kita? Haduh, really? Petisi sana dan sini pula, mau sejauh apa negara ini masuk ke dalam rumah kita? Negara seperti orang yang punya kekuasaan masuk ke rumah manapun dan ke ruang manapun di dalam rumah kita dan sekarang tiba-tiba si negara mau masuk ke kamar tidur dan membuka-buka lemari pakaian dan buku diary kita, lalu meninggalkan pesan ‘jangan suka sama ini, karena kelaminnya sama dengan kamu’. Sebegitu control freak-nya kah negara sampai harus mengatur ranah paling privat rakyatnya?

Keempat, saya tidak habis pikir di antara sekian maraknya kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan kita ternyata dalam beberapa persoalan mendasar kita masih sulit untuk memajukan pikiran kita. Banyak pihak yang selalu mengaitkan perjuangan organisasi atau kaum homoseksual dengan keinginan mereka untuk mengesahkan pernikahan sesama jenis. Sempit sekali ketika kita hanya dapat melihatnya dari situ. Kelompok waria yang saya ketahui tidak pernah terdengar mengajukan tuntutan kepada pemerintah agar pernikahan sesama jenis disahkan oleh negara. Alih-alih mengurusi pernikahan sesama jenis, mereka lebih disibukkan dengan bagaimana caranya menyambung hidup dan menyejahterakan kehidupannya sebagai waria yang susah mendapat kerja dan diasingkan sejak dalam pikiran oleh pihak pencari kerja, tanpa dinilai dari kemampuan yang mereka miliki. Untuk kesekian kalinya, sayang sekali masyarakat yang hidup secara heterogen itu tidak mampu melihat masyarakat yang homo sebagai manusia yang juga mengalami kerugian ketika hak-haknya tidak dipenuhi dan korban tindak-tindak yang lebih buruk seperti korupsi besar-besaran di negara ini.

Ada satu dua orang (mungkin lebih banyak lagi) di luar sana yang tidak dapat menerima bahkan me’wabah’kan hal ini. Tidak apa-apa, itu sah-sah saja, karena semua orang berhak beropini dan berpendirian terhadap suatu hal. Namun, sayang sekali banyak di antara kita, bahkan orang-orang di sekitar kita, malah mempertontonkan kedangkalannya dengan memaki, mencaci, menertawai, dan me-meme-kan apapun yang ‘bukan’ mereka.

Enough!

Mereka yang muak pada LGBTQ dan mengekspresikannya dengan cara-cara yang menyakitkan, justru memuakkan. Karena pada akhirnya bukan dari orientasi seksual seorang manusia layak dinilai. Namun dari kemampuan yang ia miliki. []

*Foto di atas merupakan dokumentasi pribadi dari Mega Irawan.


Baca tulisan lainnya dari Mega Irawan

Waria Berhak Bahagia

What Men and Women Want

Parade Empati Merah Muda di Bulan Oktober

Makan Siang di Dalam Mesin Waktu